Inovasi Biocar dan Biopori: Solusi Cerdas Politani Kupang Tingkatkan Produktivitas Lahan Kering di NTT
Kupang, 21 Juli 2020 - Dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering di Nusa Tenggara Timur, Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang menggelar pelatihan inovatif pembuatan biocar dan biopori bagi petani Desa Tuapukan, Kecamatan Kupang Timur. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan implementasi nyata transfer teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal untuk mengatasi tantangan pertanian di wilayah dengan karakteristik tanah spesifik.
Kolaborasi Strategis Multi-Pihak
Pelatihan ini menghadirkan konvergensi expertise dari berbagai pemangku kepentingan. Hadir sebagai narasumber utama Dr. Masria, didukung tim dosen termasuk Welly Boboy, SP, M.Sc dan Nimrot Neonufa, S.TP, M.Si. Partisipasi aktif pimpinan institusi seperti Ketua Prodi MPLK Anton Jehemat, SPt, M.Si dan Ketua Jurusan MPLK Jamseng Charles Abineno, STP, M.Sc memperkuat aspek kelembagaan. Dukungan politis diwujudkan melalui kehadiran anggota DPRD Kabupaten Kupang Mesak Mbura, AMD, sementara implementasi di lapangan melibatkan secara langsung Kelompok Tani Sahabat Berkebun Desa Tuapukan.
Biochar: Teknologi Modifikasi Tanah Vertisol
Dr. Masria memaparkan konsep scientific biocar (biochar) sebagai material karbon hasil pirolisis yang mampu memodifikasi sifat fisika-kimia tanah vertisol. "Tanah vertisol di Tuapukan memiliki karakteristik swelling-shrinking yang unik, dengan kemampuan water retention tinggi namun permeabilitas rendah. Biochar berfungsi sebagai soil amendment yang meningkatkan porositas dan aerasi tanah melalui pembentukan agregat yang stabil," jelasnya. Mekanisme kerja biochar dalam meningkatkan ketersediaan air tanah melalui peningkatan water holding capacity hingga 20-30% menjadi poin kunci dalam pelatihan.
Edukasi Holistik Berbasis Evidence Based Practice
Kurikulum pelatihan dirancang mencakup spektrum pengetahuan yang komprehensif, dimulai dari protokol kesehatan Covid-19 sebagai bentuk adaptasi new normal, hingga teknik budidaya sayuran dan tanaman rimpang dengan pendekatan integrated farming system. Materi irigasi efisien menggunakan prinsip water productivity, praktik pembuatan biopori berdasarkan perhitungan infiltrasi rate, dan pengendalian hama terpadu dengan basis ecological pest management menjadi highlight dalam proses transfer knowledge.
Implementasi Berkelanjutan dan Monitoring Evaluasi
JEmseng Charles Abineno menekankan pentingnya sustainability program melalui mekanisme monitoring dan evaluasi berkelanjutan. "Rencana tindak lanjut mencakup asessment kebutuhan sarana produksi berbasis analisis gap, disusul dengan penjadwalan intervensi teknis periodik," tegasnya. Dari aspek teknis, Yos menambahkan tips praktis optimalisasi biopori dengan mempertimbangkan faktor soil compaction dan surface runoff coefficient.
Dampak jangka panjang dari program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan melalui improvement soil health, tetapi juga membentuk model pemberdayaan masyarakat berbasis technological innovation yang replicable untuk wilayah lain di NTT. Keberhasilan implementasi teknologi sederhana namun berbasis scientific evidence ini menjadi bukti nyata kontribusi pendidikan vokasi pertanian dalam pembangunan berkelanjutan di daerah lahan kering.


