Dari Teori ke Praktik: Mahasiswa Prodi MPLK-PPLK Pelajari Seni Kalibrasi Alat Semprot Pestisida di Kebun SUT
KUPANG, 23 September 2025 – Dalam upaya mendukung penerapan perlindungan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan, mahasiswa Semester III Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) dan Penyuluhan Pertanian Lahan Kering (PPLK) melakukan kegiatan "kalibrasi alat semprot pestisida" di Kebun SUT, belum lama ini. Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Perlindungan Tanaman ini mengajak mahasiswa untuk menguasai langkah fundamental dalam aplikasi pestisida, yakni kalibrasi.
Gambar 1. Kegiatan Penentuan Angka Curah Nosel. Dalam kegiatan ini, mahasiswa menggunakan dua jenis sprayer, yaitu Solo 4512 dan Kisuba KB16E, dengan variasi nosel yang terdiri dari full-cone, hollow cone, polijet, dan fan-flat. Setiap kelompok mahasiswa memasang jenis nosel sesuai instruksi, lalu melakukan penyemprotan ke dalam wadah penampung selama satu menit. Volume air yang keluar dari nosel selama durasi tersebut kemudian diukur untuk menentukan angka curah masing-masing nosel
Dosen Pengampu, Yos F. da-Lopez, menekankan bahwa kalibrasi bukan sekadar prosedur teknis, tetapi fondasi dari aplikasi pestisida yang efektif dan bertanggung jawab. "Tanpa kalibrasi yang benar, yang terjadi adalah pemborosan biaya, pencemaran lingkungan, dan sasaran pengendalian yang tidak tercapai. Kegiatan ini melatih mahasiswa untuk melakukan prosedur kalibrasi yang tepat dan menghitung kebutuhan pestisida secara presisi berdasarkan kondisi riil di lapangan," ujarnya.
Kegiatan diawali dengan pengenalan berbagai jenis nosel (nozzle) dan karakteristik pola semprotnya. Mahasiswa belajar membedakan nosel untuk herbisida, fungisida, dan insektisida, serta memahami bagaimana pemilihan nosel yang tepat mempengaruhi cakupan dan efisiensi penyemprotan.
Gambar 2. Kegiatan Penentuan Lebar Gawang Penyemprotan. Mahasiswa melakukan penyemprotan di atas permukaan tanah kering dengan cara mengayunkan gagang sprayer seperti pada praktik penyemprotan sesungguhnya. Setelah itu, mereka mengukur lebar cakupan semprotan dengan menentukan jarak antara kedua ujung area yang basah sebagai hasil semprotan.
Di bawah bimbingan teknisi lapangan Maria Natalia A. Lodang dan Maria Magdalena B. Luron, mahasiswa kemudian melakukan serangkaian percobaan untuk menentukan parameter kunci kalibrasi, seperti:
- Angka Curah Nosel: Mengukur volume air yang dikeluarkan nosel per satuan waktu.
- Lebar Gawang Efektif: Menentukan lebar semprotan yang homogen di lapangan.
- Kecepatan Jalan Penyemprot: Menghitung kecepatan berjalan yang konstan untuk memastikan distribusi cairan yang merata.
Dari data-data tersebut, mahasiswa kemudian menghitung Volume Aplikasi (liter per hektare) dan menentukan kebutuhan pestisida yang tepat berdasarkan dosis rekomendasi.
Gambar 3. Kegiatan Penentuan Kecepatan Jalan Aplikator. Mahasiswa melakukan penyemprotan pada bedeng atau lahan dengan panjang 10 meter, menggunakan teknik berjalan seperti dalam aplikasi pestisida di lapangan. Selama penyemprotan berlangsung, mereka mencatat waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tersebut. Data waktu ini kemudian digunakan untuk menghitung kecepatan jalan aplikator sebagai salah satu parameter penting dalam kalibrasi alat semprot.
Kegiatan ini diharapkan dapat membekali calon penyuluh dan manajer pertanian lahan kering dengan kompetensi teknis yang krusial. Dengan menguasai kalibrasi, mereka tidak hanya mampu merancang program perlindungan tanaman yang efisien, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mempromosikan praktik pertanian yang tepat, aman, dan berkelanjutan di tengah masyarakat.








