PENGENALAN PESTISIDA KIMIA DAN SENYAWA SEMIOKIMIA: Modul-14
Kompetensi Dasar
- Mengenal beberapa jenis pestisida dan senyawa semiokimia berdasarkan nama dagang, formulasi, dan nama bahan aktifnya, bahaya, penggunaanya pada organisme sasaran dan cara aplikasinya.
- Mengetahui atau membandingkan kesesuaian jenis-jenis pestisida tersebut dengan Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan Pestisida di Indonesia.
Dasar teori
Istilah pengendalian kimiawi merujuk pada pemakaian pestisida (pest = hama; sida = pembunuh) dan senyawa-senyawa semiokimia (bahan-bahan kimia atau campurannya yang mengandung “pesan” atau “sinyal” komunikasi antar organisme/serangga). Contoh senyawa semiokimia adalah feromon, kairomon, allomon yang dapat berfungsi sebagai penarik (attractant) maupun pengusir (repellent).
Pestisida yang beredar di pasaran banyak dan dapat digolongkan menurut beberapa cara. Berdasarkan target sasaran, pestisida digolongkan menjadi fungisida (pembunuh jamur), insektisida (pembunuh serangga), rodentisida (pembunuh rodensia, termasuk tikus), moluskisida (pembunuh moluska, termasuk bekicot), nematisida (pembunuh nematoda), dan sebagainya. Berdasarkan mode of action-nya, pestisida digolongkan menjadi racun perut (melalui sistem pencernaan), kontak (melalui kulit), dan fumigan (melalui pernapasan). Berdasarkan sifat senyawa kimia penyusunnya, pestisida dibedakan menjadi pestisida anorganik (tidak mengandung unsur karbon), dan organik (mengandung unsur karbon). Pestisida organik dibagi lagi menjadi organik sintetik dan organik alami.
Ada beberapa istilah yang digunakan pada produk pestisida, yaitu bahan aktif, bahan pembantu, dan formulasi. Bahan aktif adalah bahan inti (bahan terpenting) dari pestisida, misalnya Bacillus thuringiensis, carbaryl, acephate, chlorpyriphos, deltamethrin, dan sebagainya. Bahan aktif ini, dengan bantuan bahan pembantu (misalnya perekat, pengemulsi, dan bahan pelarut) akan di-formulasi-kan menjadi bentuk yang siap dipasarkan.
Formulasi pestisida dapat berupa EC (Emulsifiable concentrates), WP (Wettable powders), S (Solution), D (Dust), G (Granules), A (Aerosols), B (Baits), dan sebagainya. Informasi jenis formulasi pestisida ini biasanya digunakan untuk memilih alat pengaplikasi (aplikator) yang tepat. Misalnya, insektisida aerosol harus dilarutkan dahulu menggunakan pelarut minyak, sebelum diaplikasikan menggunakan semprotan bertekanan tinggi yang menghasilkan droplet berukuran sangat halus (kabut).
Senyawa semiokimia umum digunakan untuk program pemantauan (monitoring populasi hama di lapangan), atau memang untuk menangkap (dan membunuh hama), atau mengusir hama. Minyak citronella (dari tanaman genus Cymbopogon), minyak nimba, dan lavender adalah beberapa contoh senyawa semiokimia yang digunakan sebagai pengusir serangga, sedangkan metil-eugenol (ME) lazim digunakan untuk menarik (memerangkap dan membunuh) beberapa spesies lalat buah.
Setiap pestisida harus diberi pembungkus/wadah dan label, sesuai dengan SK Mentan No. 429/Kpts/Um/9/1973 yang secara umum adalah bahwa setiap pestisida harus terdapat didalam wadah dengan ukuran dan dibuat dari bahan sebagaimana yang ditetapkan dalam pembarian izin. Dengan demikian setiap jenis pestisida yang resmi tempat/wadahnya sudah ditentukan sejak pestisida tersebut didaftarkan. Artinya membuat kemasan baru tidaklah dapat dilakukan oleh sembarang pihak karena alasan peraturan yang berkaitan dengan keamanan dari pestisida tersebut.
Keterangan-keterangan mengenai pestisida dalam bentuk label ditempelkan pada wadah dengan kuat. Seluruh keterangan pada label harus dicantumkan dalam bahasa Indonesia, tanda peringatan harus dicetak dengan jelas, mudah dilihat serta tidak dapat dihapus. Keterangan dalam label terdiri dari antara lain: nama dagang formulasi, nama umum atau nama kimia dan kadar bahan aktif, jenis pestisida, nomor izin pendaftaran dan alamat pemengang izin, kalimat “ BACALAH PETUNJUK PENGGUNAAN”, tanda peringatan bahaya berikut keterangannya, kalimat peringatan dan petunjuk bagi keamanan pemakai, konsumen dll, gejala dini keracunan, petunjuk pertolongan pertama, antidote dan petunjuk perawatan dokter, dan Penggunaan ( nama jasad sasaran, tanaman, dosis, fitotoksisitas dsb)
Organisasi Praktikum
- Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil (setiap kelompok 3-5 orang, tergantung jumlah mahasiswa).
- Tiap-tiap kelompok mengamati jenis-jenis pestisida yang disediakan dosen/teknisi.
- Tiap-tiap kelompok mengisi form yang ada dan mendiskusikannya.
- Dosen/teknisi membantu dalam melaksanakan praktek ini.
Bahan dan alat
- Beberapa jenis pestisida:
| Curacron 500 EC | Basmikus 66 PS | Ammate 150 EC |
| ProAxis* 15 CS | Racumin 0,75 TP | Metindo 25 WP |
| Ampligo 150 ZC | Klerat 0,005 BB | Florbac FC 1 |
| Confidor 5 WP | Roundup 486 SL | Validacin AS |
| Lannate 40 SP | Spontan 400 SL | SINOPEST 250 EC |
| Garamoxone 276 SL | Saromyl 35 SD | DHARMAFUR 3 GR |
| Rampage 100 SC | Agrept 20 WP | Antracol 70 WP |
| Petrogenol 800L | SCORE 250 EC | PROPINEB 80 TC |
| Marshal 200 SC | Snaildown 250 EC | Equation Pro 52 WG |
| Marshal 5 GR | Marshal 25 DS | Marshal 200 EC |
- Panduan Praktikum, Lembar Kerja, alat tulis menulis
- Panduan Pasal Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah tentang Pestisida.
- Gelas kimia dan tabung reaksi
Prosedur Kerja
BAGIAN 1: PENGETAHUAN PESTISIDA
Ambil minimal 5 sampel pestisida. Amati kemasan pesitisida tersebut, lalu tuliskan hal-hal berikut yang tertera pada label Pestisida yang diamati. Catat hasil pengamatan anda pada lembaran kerja yang disediakan.
| 1. Nama Dagang Pestisida | 4. Kode Formulasi | 7. Bentuk Adukan Sediaan Jadi |
| 2. Nama Bahan Aktif | 5. Jenis Pestisida | 8. Dosis atau konsentrasi penggunaan |
| 3. Kandungan Bahan Aktif | 6. Bentuk Fisik Pestisida | 9. Cara Aplikasi |
BAGIAN 2: KECOCOKAN LABEL DENGAN UNDANG-UNDANG
Periksalah ada/tidak kesesuaian hal-hal yang tertera dalam Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah dengan yang tertera pada Label Pestisida, seperti berikut ini. Catat hasil pengamatan anda dalam lembar kerja
| Nama dagang formula | Petunjuk keamanan | Piktogram |
| Jenis pestisida | Gejala keracunan | Nomor pendaftaran |
| Nama dan kadar bahan aktif | P3K | Nama/alamat/telepon pemegang nomor pendaftaran |
| Isi/ berat bersih dalam kemasan | Perawatan medis | Nomor produksi |
| Peringatan keamanan | Petunjuk penyimpanan | Petunjuk pemusnahan |
| Klasifikasi dan simbol bahaya | Petunjuk penggunaan |
BAGIAN 3: PENGUJIAN WARNA PESTISIDA
- Amati secara langsung warna dari pestisida dan cocokan kesesuaiannya dengan warna yang tertera pada label kemasan.
- Catat hasil pengamatan anda pada lembar kerja
BAGIAN 4: PENGUJIAN BENTUK ADUKAN JADI PESTISIDA
Ambil tiga sampel pestisida, dan masing-masing dicampur dengan air dalam tabung reaksi untuk mengetahui bahan adukan jadi yang terbentuk sesuai dengan yang tertera pada label atau tidak. Catat hasil pengamatan anda pada lembar kerja, yaitu: Nama Pestisida, Bentuk Adukan Jadi, Warna Hasil Uji, Warna di Label
Evaluasi
- Sebutkan jenis-jenis pestisida sesuai dengan OPT sasarannya !
- Jelaskan formulasi pestisida yang dapat diaplikasikan dengan cara disemprot !
- Mengapa pestisida kimiawi tidak boleh digunakan secara berlebihan ?
- Apa perbedaan antara pestisida kimiawi dan biopestisida ?
Daftar Pustaka
- Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.
- Untung K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
- Novizan. 2002. Petunjuk Pemakaian Pestisida. Jakarta: Agromedia Pustaka.
- Triharso. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


