OPINI & MOTIVASI
Dilantik untuk Periode Kedua, Direktur Politani Kupang Dihadapkan pada Tuntutan Vokasi Berdampak Nyata
KUPANG – Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc. resmi dilantik sebagai Direktur Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang periode 2026–2030, Selasa (8/9/2026). Pelantikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D., di Jakarta itu menjadi sorotan bukan hanya karena menandai periode kedua kepemimpinan Jermias, tetapi juga karena pesan tegas yang menyertainya: pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada rutinitas.
Dalam sambutannya, Sekjen Kemdiktisaintek menekankan bahwa dunia pendidikan tinggi, khususnya vokasi, kini berada di tengah arus besar perubahan teknologi. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan merumuskan kebijakan. Oleh karena itu, kampus vokasi—yang paling dekat dengan dunia kerja—dituntut merespons lebih cepat, bahkan memimpin perubahan.
"Pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada rutinitas. Ia harus berdampak," demikian pesan yang disampaikan dalam momentum pelantikan tersebut.
![]() |
![]() |
Kepercayaan yang Dipertaruhkan Ulang
Pelantikan periode kedua ini bukan sekadar perpanjangan masa bakti. Dalam konteks birokrasi pendidikan tinggi, memimpin dua periode adalah pengakuan atas kinerja, tetapi sekaligus beban ekspektasi yang berlipat ganda. Publik, sivitas akademika, dan para pemangku kepentingan akan bertanya lebih kritis: apa yang berbeda dan apa yang akan ditingkatkan?
Bagi Politani Kupang, pertanyaan itu menemukan medannya di Nusa Tenggara Timur—wilayah dengan potensi pertanian yang besar namun dihantui persoalan struktural: kemiskinan, kerawanan pangan di musim kemarau panjang, regenerasi petani yang lambat, serta akses teknologi tepat guna yang belum merata.
Di tengah medan sekompleks ini, kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar pengelola administrasi kampus. Politani Kupang dituntut hadir sebagai kekuatan intelektual yang menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi petani, nelayan, dan masyarakat desa.
Kepemimpinan Tangkas dan Berorientasi Hasil
Kata kunci yang mengemuka dalam pelantikan tersebut adalah "kepemimpinan yang tangkas, kolaboratif, berintegritas, dan berorientasi pada hasil." Empat kata ini tidak boleh berhenti sebagai jargon di dinding ruang rapat. Ia harus menjadi roh dalam setiap kebijakan strategis kampus.
Kurikulum harus semakin berbasis praktik dan proyek nyata. Riset dosen harus bermuara pada inovasi terapan yang bisa diadopsi masyarakat. Lulusan tidak cukup pintar secara teori, tetapi juga harus cekatan bekerja, mampu beradaptasi dengan teknologi pertanian modern, dan memiliki mental wirausaha muda di sektor agribisnis.
Kembalinya Johanis A. Jermias memimpin Politani Kupang sejatinya membawa modal yang tidak dimiliki pemimpin baru: pemahaman mendalam tentang peta masalah, relasi yang sudah terbangun, dan kepercayaan internal yang relatif stabil. Modal ini bisa menjadi bahan bakar percepatan, asalkan tidak jatuh pada zona nyaman.
Panggilan bagi Seluruh Ekosistem Kampus
Kepercayaan yang diberikan negara kepada seorang direktur bukanlah hadiah pribadi. Ia adalah kontrak sosial antara institusi dan masyarakat. Jika Johanis A. Jermias kembali dipercaya, maka seluruh ekosistem kampus—dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni—harus ikut bertanggung jawab menjadikan periode 2026–2030 sebagai lompatan besar, bukan dalam pencitraan, melainkan dalam kualitas lulusan, riset terapan, dan kemitraan dengan industri.
Harapan besar kini tertuju pada Politani Kupang. Kampus ini diharapkan tidak hanya tampil dengan gedung rapi dan acara semarak, tetapi menjadi tempat di mana anak-anak muda NTT percaya bahwa masa depan mereka tidak harus selalu pergi ke kota atau ke luar negeri. Masa depan itu bisa dibangun di kampung sendiri dengan ilmu, teknologi, dan mental wirausaha yang kuat.
Selamat bertugas, Bapak Johanis A. Jermias. Amanah ini bukan hanya dari Kementerian, tetapi juga dari tanah dan masyarakat NTT yang menanti karya nyata. Periode kedua ini adalah momentum pembuktian—bahwa fondasi yang dibangun empat tahun sebelumnya memang cukup kokoh untuk menopang lompatan besar pendidikan vokasi pertanian di Indonesia.





