2.4. Analisis Kritis
Pengertian
Analisis kritis menekankan evaluasi data dengan mempertimbangkan bias, struktur kekuasaan, serta ideologi yang membentuk penyajian informasi, sehingga peneliti dapat mengungkap kepentingan tersembunyi dan dinamika sosial di balik narasi (Fairclough, 1995; Denzin & Lincoln, 2018).
Prosedur dan Langkah-Langkah
Proses analisis kritis dilaksanakan dalam lima tahap terintegrasi. Pertama, identifikasi bias dengan memeriksa kecenderungan penulis, metodologi, atau sumber data yang dapat memengaruhi objektivitas informasi (Fairclough, 1995). Kedua, nilai kekuatan dan kelemahan data dengan meninjau validitas, reliabilitas, dan representativitasnya dalam konteks lapangan (Guba & Lincoln, 1985). Ketiga, analisis struktur dan ideologi guna mengungkap asumsi, nilai, atau norma yang mendasari penyusunan konten (Fairclough, 1995). Keempat, telaah konteks sosial dan politik untuk memahami bagaimana kebijakan, relasi kekuasaan, dan agenda institusional mempengaruhi interpretasi data (Denzin & Lincoln, 2018). Kelima, susun hasil analisis secara sistematis—baik dalam bentuk narasi, tabel, maupun diagram—agar temuan kritis dapat diverifikasi dan diterapkan dalam diskusi yang lebih luas (Guba & Lincoln, 1985).
Contoh Hasil Analisis Kritis
|
Dimensi Kritis
|
Fokus Analisis
|
Temuan Kunci
|
Contoh Kutipan
|
Frekuensi
|
|
Bias Informasi
|
Orientasi dominan pada pestisida kimia
|
Penyuluhan lebih sering menekankan penggunaan pestisida kimia dibandingkan metode alternatif seperti PHT atau hayati.
|
“Sejak dulu penyuluh cuma ajarkan cara semprot, tidak pernah ada tentang PHT.”
|
9
|
|
Ketimpangan Akses
|
Distribusi pelatihan yang tidak merata
|
Pelatihan teknis hanya dinikmati sebagian kecil petani karena keterbatasan lokasi, biaya, dan waktu.
|
“Kalau pelatihan di kota, susah ikut karena jauh dan ongkos sendiri.”
|
7
|
|
Struktur Kekuasaan
|
Relasi penyuluh–petani bersifat top-down
|
Petani diposisikan sebagai penerima pasif dalam penyuluhan, bukan sebagai mitra dialogis.
|
“Penyuluh datang langsung kasih tahu cara, tidak tanya kondisi lahan saya.”
|
6
|
|
Ideologi Pro-Teknologi
|
Penekanan pada solusi modern dan instan
|
Program penyuluhan berfokus pada penggunaan alat baru tanpa memperhatikan daya dukung lokal atau pelatihan lanjutan.
|
“Disuruh pakai alat baru, tapi tidak dikasih tahu cara pakai atau cara rawatnya.”
|
5
|
|
Konteks Sosial-Politik
|
Pengaruh subsidi yang temporer
|
Bantuan pemerintah bersifat musiman dan seringkali dikaitkan dengan momen politik tertentu.
|
“Waktu mau pemilu banyak bantuan, tapi habis itu tidak pernah ada lagi.”
|
4
|
Interpretasi dan Implikasi
Analisis kritis (Fairclough, 1995; Denzin & Lincoln, 2018) menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian masih bias terhadap pendekatan kimia dan teknologi, dengan relasi kuasa top-down yang memosisikan petani sebagai penerima pasif. Akses pelatihan dan subsidi tidak merata serta kerap bersifat politis, menciptakan ketergantungan struktural. Implikasinya, diperlukan reformasi penyuluhan menuju model partisipatif dan kontekstual—menguatkan pelatihan berbasis lokal, memperluas akses yang adil, serta menjamin keberlanjutan bantuan teknis yang bebas dari kepentingan jangka pendek.


