2.5. Interpretasi Naratif Lintas Tabel
Dari perspektif petani, cerita tentang pengendalian hama diawali dari ketidaktahuan—terutama karena keterbatasan akses informasi dan pelatihan teknis. Praktik yang lazim dilakukan adalah penyemprotan pestisida sebagai tindakan cepat, meskipun tidak selalu efektif dalam jangka panjang. Narasi mereka mengungkap siklus berulang:
Serangan → Penyemprotan → Hasil Mengecewakan → Frustrasi → Ketergantungan.
Di balik ini, analisis kritis menunjukkan adanya bias struktural dalam penyuluhan: informasi yang disampaikan cenderung teknosentris dan top-down, tanpa mempertimbangkan konteks sosial atau daya serap petani. Secara sistematis, diskursus pro-pestisida masih mendominasi, sementara pendekatan ekologis seperti PHT kurang disosialisasikan dan diinternalisasi.
Petani yang mulai mengikuti pelatihan mencerminkan pergeseran narasi: dari “keraguan dan kebiasaan lama” menuju “kesadaran dan keinginan belajar.” Struktur cerita mereka berubah menjadi lebih reflektif dan berorientasi masa depan. Ini memberi gambaran bahwa intervensi edukatif yang tepat tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk ulang cara mereka memaknai risiko, keberhasilan, dan teknologi.
Visualisasi Hubungan Antar Tema (Deskriptif)
Gambar 2. Alur Transformasi Praktik Petani Padi: Dari Ketergantungan Pestisida Menuju Adopsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Rasional: menekankan perjalanan (alur) perubahan perilaku., menyorot dua kutub utama: ketergantungan kimiawi vs adopsi PHT, menegaskan peran pelatihan sebagai turning point dalam skema. narasikan
Diagram ini menggambarkan dua skenario setelah petani mengalami frustrasi akibat penggunaan pestisida kimia secara berulang: tanpa adanya intervensi pelatihan, mereka terperangkap dalam siklus stagnasi penggunaan pestisida, sedangkan ketika pelatihan diberikan, terbentuk “jembatan naratif” yang memecah pola lama, memicu refleksi kritis dan keinginan belajar, hingga akhirnya memunculkan harapan adopsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT).


