PBL MPLK-II 2023
Budidaya Tanaman Pare dengan Sistem Irigasi Tetes - Integrasi Mata Kuliah Agroekosistem Lahan Kering, Pengelolaan Air Pertanian, Kesuburan Tanah, Klimatologi, dan Kimia.
Perhitungan Kebutuhan Lubang Tanam untuk Budidaya Pare
![]() |
|
|
|
|
Keterangan Gambar: Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare dengan Sistem Irigasi Tetes. Lahan yang disiapkan P x L = 17 meter x 6 meter = 102 m2 atau 1,02 are atau 0,01 ha. Lahan selanjutnya dibuat bedeng dengan ukuran bedeng P x L = 16 meter x 1 meter (16 m2) dan tinggi bedeng sekitar 20 - 30 cm. Jarak antar bedeng sekitar 50 cm.
Dalam persiapan budidaya tanaman pare, dilakukan perhitungan kebutuhan lubang tanam secara detail berdasarkan parameter teknis yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan jarak tanam standar yaitu 70 cm antar baris dan 40 cm antar tanaman dalam setiap baris, serta mempertimbangkan dimensi bedeng berukuran 16 m × 1 m per unit dengan total 4 bedeng, diperoleh luas area tanam efektif sebesar 64 m².
Perhitungan dimulai dengan menentukan jumlah lubang tanam per baris, dimana panjang bedeng 16 m dikonversi menjadi 1600 cm dan dibagi dengan jarak tanam 40 cm, menghasilkan 40 lubang tanam untuk setiap barisnya. Karena setiap bedeng memuat dua baris tanaman, maka jumlah lubang tanam per bedeng menjadi 80 lubang. Dengan memperbanyak nilai ini terhadap jumlah bedeng yang tersedia, yaitu 4 unit, didapatkan total kebutuhan lubang tanam sebanyak 320 lubang pada seluruh area budidaya.
Secara matematis, perhitungan ini dapat dirumuskan sebagai perkalian antara panjang bedeng dalam meter yang dikonversi ke centimeter, dibagi jarak tanam, kemudian dikalikan dengan jumlah baris per bedeng dan total jumlah bedeng. Hasil perhitungan ini tidak hanya memberikan informasi kuantitas lubang tanam, tetapi juga menunjukkan kepadatan tanam sebesar 5 tanaman per m² yang merupakan kerapatan optimal untuk pertumbuhan pare. Untuk implementasi di lapangan, disarankan menyediakan cadangan benih sekitar 10-15% di atas kebutuhan teoritis untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan perkecambahan.
![]() |
|
Kegiatan Pembuatan Lubang Tanam dan Pemberian Pupuk Dasar (Bokhasi). |
![]() |
Pemberian Pupuk Dasar pada Budidaya Pare
Sebagai bagian dari persiapan lahan, penerapan pupuk dasar merupakan tahap krusial dalam budidaya pare. Pada kegiatan ini, digunakan pupuk bokashi sebagai pupuk dasar dengan takaran aplikasi sebesar 250 gram per lubang tanam, yang setara dengan approximately dua genggaman tangan orang dewasa. Berdasarkan total jumlah lubang tanam sebanyak 320 lubang pada luas area tanam 64 m², dapat dihitung kebutuhan total pupuk dasar dan dosis aplikasinya per satuan luas.
Perhitungan dosis pupuk dasar menunjukkan bahwa untuk seluruh area tanam diperlukan total 80 kg pupuk bokashi (250 gram × 320 lubang). Ketika dikonversi ke dalam satuan luas, diperoleh dosis aplikasi sebesar 1,25 kg/m². Dalam satuan are, dosis ini setara dengan 125 kg/are, sementara dalam satuan hektar mencapai 12,5 ton/ha.
Nilai dosis 1,25 kg/m² ini termasuk dalam kisaran yang dianjurkan untuk budidaya tanaman merambat seperti pare, mengingat kebutuhan nutrisi yang relatif tinggi selama periode pertumbuhan vegetatif. Aplikasi pupuk bokashi sebagai pupuk dasar tidak hanya berfungsi sebagai sumber nutrisi organik, tetapi juga berperan dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, dan mendukung perkembangan mikroorganisme tanah yang menguntungkan.
Implementasi di lapangan dilakukan dengan cara mencampurkan pupuk bokashi secara merata dengan tanah pada setiap lubang tanam sebelum penanaman benih atau bibit. Teknik aplikasi ini memastikan ketersediaan nutrisi yang optimal bagi pertumbuhan awal tanaman pare, sekaligus menciptakan lingkungan perakaran yang mendukung untuk perkembangan tanaman yang sehat dan produktif.
Pengukuran pH Tanah sebagai Dasar Evaluasi Kesuburan Lahan
![]() |
Hasil Pengukuran dan Interpretasi
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di lahan budidaya, diperoleh nilai rata-rata pH tanah sebesar 6,08. Nilai ini menunjukkan bahwa kondisi tanah berada dalam kisaran netral yang sangat ideal bagi pertumbuhan tanaman pare (Momordica charantia L.). Menurut literatur dari BPP Wundulako (2019) dan Cybex Pertanian, pare dapat beradaptasi dengan baik pada rentang pH tanah yang cukup luas, yaitu antara 4 hingga 7. Karakteristik unik tanaman pare adalah lebih menyukai tanah yang cenderung masam hingga netral, dengan kisaran optimal pada pH 5–6. Bahkan pada kondisi tanah dengan derajat keasaman di bawah pH 5, tanaman pare masih dapat tumbuh dengan cukup baik.
Rekomendasi dan Implikasi bagi Budidaya
Dengan kondisi pH tanah sebesar 6,08 yang sudah termasuk dalam kategori optimal, maka tidak diperlukan tindakan pengapuran untuk menaikkan pH tanah. Hal ini merepresentasikan kondisi yang menguntungkan secara teknis dan ekonomis, karena petani dapat mengalokasikan biaya dan tenaga untuk aspek budidaya lainnya. Keasaman tanah pada level ini juga mendukung ketersediaan unsur hara mikro esensial seperti Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) yang lebih mudah diserap oleh tanaman pare. Langkah selanjutnya yang disarankan adalah mempertahankan kondisi pH ini melalui pemberian pupuk organik secara berkala, seperti pupuk bokashi yang telah diaplikasikan sebagai pupuk dasar, karena bahan organik memiliki kemampuan penyangga (buffering capacity) yang dapat menstabilkan fluktuasi keasaman tanah.
Desain Perlakuan
Perlakuan direncanakan dalam kegiatan budidaya pare adalah sebagai berikut:

Penanaman Tanaman Pare: Perhitungan Kebutuhan dan Teknis Penanaman
Berdasarkan perencanaan budidaya yang telah disusun, proses penanaman tanaman pare diawali dengan penyiapan benih dan perhitungan kebutuhan yang tepat. Benih pare yang digunakan adalah varietas Raden F1, sebuah varietas unggul hibrida yang dikenal memiliki ketahanan terhadap penyakit dan produktivitas yang tinggi.
Perhitungan Kebutuhan Benih
Perhitungan kebutuhan benih dilakukan secara matematis berdasarkan jumlah lubang tanam yang tersedia. Dengan total 320 lubang tanam dan menggunakan sistem 2 biji per lubang tanam (untuk mengantisipasi kemungkinan kecambah yang tidak tumbuh), diperoleh kebutuhan total benih sebanyak 640 biji. Apabila benih pare Raden F1 dikemas dalam kemasan standar berisi 50 biji per bungkus, maka kebutuhan kemasan benih adalah 640 biji ÷ 50 biji/bungkus = 12,8 bungkus. Angka ini kemudian digenapkan menjadi 13 bungkus untuk memastikan ketersediaan benih yang mencukupi, termasuk cadangan untuk penyulaman jika diperlukan.
Teknis Penanaman
Penanaman dilakukan secara langsung (direct seeding) ke dalam lubang tanam yang telah dipersiapkan dan diberi pupuk dasar sebelumnya. Setiap lubang tanam diisi dengan 2 biji benih pada kedalaman approximately 1-2 cm. Benih kemudian ditutup dengan tanah halus secara tipis dan merata tanpa dipadatkan berlebihan, untuk memastikan sirkulasi udara yang baik sekaligus mempertahankan kelembaban yang optimal untuk perkecambahan. Penyiraman awal dilakukan secara hati-hati menggunakan gembor dengan pancuran halus untuk menghindari pergeseran benih dan menjaga struktur tanah.
Dengan menggunakan varietas unggul Raden F1 dan perhitungan benih yang presisi, diharapkan diperoleh tingkat perkecambahan dan keseragaman pertumbuhan yang tinggi, yang menjadi fondasi penting untuk menuju produktivitas optimal dalam budidaya pare.
Perhitungan kebutuhan benih
Instalasi Irigasi Tetes
![]() |
On schedule
Prinsip irigasi tetes atau yang sering disebut dengan Trickle Irrigation atau Drip Irrigation adalah irigasi yang menggunakan jaringan aliran dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Jaringan irigasi tetes terdiri dari pipa utama, pipa sub utama dan pipa lateral. Pada ujung pipa lateral terdapat pemancar (emitter) yang digunakan untuk mendistribusikan air secara merata pada tanaman sesuai kebutuhan. Pemancar diletakkan di dekat perakaran sehingga tanah yang berada di daerah perakaran selalu lembab.
Sistem irigasi tetes mempunyai cara pengontrolan yang baik sejak air dialirkan sampai diserap tanaman. Di samping itu sistem irigasi tetes mengurangi proses penguapan (evaporasi), di mana nutrisi dapat langsung diberikan ke tanaman melalui irigasi. Sistem irigasi cocok digunakan untuk tanaman yang ditanam secara berderet yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga dapat menutupi biaya penyusutan perangkat irigasi tetes.
Kandungan air tanah merupakan salah satu hal penting pada produksi tanaman. Pengaturan jumlah dan waktu pemberian air akan mendukung keberhasilan penanaman. Air menjadi media pengangkut nutrisi/hara dari tanah ke seluruh bagian tanaman. Namun kelebihan dan kekurangan air mengganggu tanaman karena dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta memengaruhi produksi tanaman.
Penggunaan irigasi tetes mampu menekan penggunaan tenaga kerja penyiraman. Oleh karena itu untuk pekarangan yang luas dibutuhkan tenaga kerja cukup banyak. Setelah menggunakan irigasi tetes, waktu yang diperlukan untuk menyiram relatif singkat dan petani bisa melakukan kegiatan pemeliharaan atau cabang usaha lainnya. Sedangkan bila penyiraman dilakukan secara manual memakan waktu lama tergantung dari luas pertanaman. Dengan demikian menurunkan tenaga kerja penyiraman berarti menurunkan biaya usaha tani.
Manfaat Irigasi Tetes
Manfaat irigasi tetes antara lain ialah penghematan air, waktu, tenaga kerja, dan biaya tenaga kerja. Penghematan air karena diberikan ke tanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penyiraman dengan irigasi tetes menghemat waktu karena penyiraman dilakukan secara otomatis dengan hanya membuka kran. Penggunaan tenaga kerja menjadi berkurang karena penyiraman dilakukan secara serentak. Pada irigasi tradisional (kocor), petani membutuhkan banyak air dan banyak alokasi tenaga kerja karena dilakukan secara manual dan satu per satu tanaman.
Sistem irigasi tetes (drip irrigation) budidaya tanaman paprika pada smart digital green house Baca Disini
Sistem Fertigasi (Fertilizer dan Drip Irrigation)
Dengan teknik ini biaya tenaga kerja untuk pemupukan dapat dikurangi karena pupuk diberikan bersamaan dengan penyiraman air. Keuntungan dari sistem ini yaitu pemberian nutrisi sesuai dengan ukuran dan umur tanaman, terjamin nya kebersihan dan terhindar dari penyakit. Selain itu, hasil panen dari sistem ini juga lebih banyak. Kekurangan dari sistem ini antara lain yaitu modal awal yang relative tinggi, pengetahuan yang mendalam perihal tanaman, dan kerusakan sistem pengairan berpengaruh pada hasil panen.
Contoh desain Irigasi Tetes |
|
![]() |
![]() |
| Sumber: Edwin Saragih, Yayasan Binatani Sejahtera. Webinar Horticulture and Climate Change: Adapting to the Challenge August 16, 2021. | |
Pemberian Pupuk Kimia
Selain penggunaan pupuk organik, budidaya pare memerlukan suplementasi pupuk kimia yang diterapkan secara bertahap sesuai fase pertumbuhan tanaman. Pada fase vegetatif (1 bulan setelah tanam), dapat digunakan pupuk NPK dengan dosis 2-3 kg/100 m² lahan atau kombinasi TSP, KCl, dan Urea dengan perbandingan 2:2:1 (6 gram : 6 gram : 3 gram per tanaman). Pemupukan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan.
Memasuki fase generatif (umur 1,5-2 bulan) dimana tanaman mulai berbunga dan membentuk buah, dilakukan pemupukan menggunakan NPK Pelangi 16-16-16 dengan dosis 20 gram/liter air. Berdasarkan data yang diberikan, dengan jumlah lubang tanam 376 lubang dan volume aplikasi 0,5 liter per tanaman, maka kebutuhan larutan pupuk untuk setiap kali pemupukan adalah 0,5 liter/lubang tanam × 376 lubang tanam = 188 liter larutan. Kebutuhan pupuk NPK setiap kali pemupukan adalah 20 gram/liter × 188 liter = 3,76 kg yang dilarutkan dalam 188 liter air. Pupuk diaplikasikan dengan metode kocor secara merata di sekitar pangkal tanaman dengan frekuensi satu minggu sekali selama periode pembungaan dan pembuahan.















