Selamat Datang di Website Jurusan MPLKStaf Administrasi JurusanPLP-Teknisi LaboratoriumStaf Pengajar JurusanStrukur Organisasi JurusanDeskripsi Jurusan MPLKVisi dan Misi JurusanPengelola JurusanLearn, practice, and be rich (English) - Belajar, berlatih, dan menjadi sejahtera (Indonesia) - Meup onle ate, mua onle Usif (Timor)
Banner UC IPM
Banner Biological Control
Banner Dirjen Pangan
Banner Diren Perkebunan
Banner Dirjen Hortikultura

Defisiensi Kalium (K)

Kekurangan Kalium (K) mempengaruhi fotosintesis tajuk, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kekurangan kalium  pada tanaman padi lebih sering terjadi pada praktik pengelolaan tanaman berikut:

  • Penggunaan pupuk Nitrogen (N) atau N dan P yang berlebihan dengan aplikasi K yang tidak mencukupi
  • Padi dibibit langsung pada tahap pertumbuhan awal, ketika populasi tanaman besar dan sistem perakaran dangkal
  • Perbedaan kultivar dalam kerentanan terhadap kahat K dan respon terhadap pemupukan K.
Kahat Kalium 1 Kahat Kalium 2 Kahat Kalium 3
Tanaman padi yang kekurangan unsur hara K sebagian akarnya membusuk, tanaman kerdil (Gambar B), daun layu/terkulai, pinggiran dan ujung daun tua seperti terbakar (daun berubah warna menjadi kekuningan/oranye sampai kecoklatan yang dimulai dari ujung daun terus menjalar ke pangkal daun (Gambar A & C), anakan berkurang, ukuran dan berat gabah berkurang. Tanaman yang kahat kalium juga lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta keracunan besi.
 

Tanah yang sangat rentan terhadap kahat K:

Tanah yang pada dasarnya rendah K
  • tanah bertekstur kasar dengan kapasitas tukar kation rendah dan cadangan K kecil (misalnya, tanah berpasir di timur laut Thailand, Kamboja)
  • tanah masam yang sangat lapuk dengan CEC rendah dan cadangan K rendah, misalnya, tanah dataran tinggi masam (Ultisols atau Oxisols) dan tanah dataran rendah yang terdegradasi (misalnya, Vietnam Utara, timur laut Thailand, Kamboja, Lao PDR).
Tanah yang serapan K-nya terhambat
  • tanah lempung dataran rendah dengan fiksasi K tinggi
  • tanah dengan kandungan K besar tetapi rasio (Kalsium + Magnesium)/K sangat lebar
  • tercuci, tanah sulfat masam "tua" dengan kandungan kation basa kecil. Defisiensi K dapat terjadi pada tanah sulfat masam bahkan ketika kandungan K tanah tinggi (Thailand, Vietnam Selatan).
  • tanah berdrainase buruk dan sangat reduksi, tanah organik (Histosol) dengan cadangan K kecil (mis., Kalimantan, Indonesia)

Identifikasi

Periksa tanaman untuk perubahan warna (Gambar D, E, F)

  • tanaman hijau tua dengan tepi daun coklat kekuningan atau bercak nekrotik coklat tua yang muncul pertama kali di ujung daun yang lebih tua
  • ujung daun berwarna coklat kekuningan, bila mengalami kahat K yang parah
  • daun yang lebih tua berubah dari kuning menjadi coklat
  • garis-garis kuning dapat muncul di sepanjang ruas daun dan daun bagian bawah dapat melengkung ke bawah
Kahat Kalium 4 Kahat Kalium 5 Kahat Kalium 6
     

Perubahan warna secara bertahap muncul pada daun yang lebih muda jika defisiensi tidak diperbaiki.

Gejala muncul pertama kali pada daun tua, kemudian sepanjang tepi daun, dan terakhir pada pangkal daun. Tanaman yang terkena juga akan memiliki daun bagian atas yang pendek dan terkulai yang memiliki warna hijau tua yang "kotor". Ujung dan margin daun juga bisa mengering.

Pola umum kerusakan tidak merata di dalam lahan, mempengaruhi satu petakan daripada keseluruhan lahan.

Tanda dan gejala defisiensi K lainnya meliputi:

  • Bintik-bintik coklat berkarat pada ujung daun tua yang kemudian menyebar ke seluruh daun menyebabkan daun menjadi coklat dan kering jika kekurangan K parah
  • Bintik-bintik nekrotik yang tidak beraturan juga dapat terjadi pada malai
  • Tanaman kerdil dengan daun lebih kecil, batang pendek dan tipis
  • Berkurangnya anakan di bawah defisiensi yang sangat parah
  • Insidensi lodging yang lebih besar
  • Penuaan daun awal, daun layu, dan daun menggulung saat suhu tinggi dan kelembaban rendah
  • Persentase besar spikelet steril atau tidak terisi
  • Sistem perakaran yang tidak sehat (akar banyak yang hitam, panjang dan kerapatan akar berkurang), menyebabkan berkurangnya serapan unsur hara lainnya
  • Rendahnya daya oksidasi akar, menyebabkan penurunan ketahanan terhadap zat toksik yang dihasilkan pada kondisi tanah anaerobik
  • Peningkatan kejadian penyakit, di mana jumlah pupuk yang tidak tepat digunakan

Kerusakan defisiensi kalium  penting sepanjang siklus pertumbuhan. Hal ini menjadi semakin penting di seluruh Asia.

Pengelolaan

  • Perkirakan input K dari sumber asli untuk menilai kebutuhan K spesifik lokasi.
  • Tingkatkan serapan K dengan memperbaiki praktik pengelolaan tanah pada kesehatan akar (misalnya, pengolahan tanah dalam untuk meningkatkan perkolasi hingga setidaknya 3-5 mm d -1 dan untuk menghindari kondisi reduksi yang berlebihan di dalam tanah).
  • Membentuk populasi tanaman padi sehat yang memadai dengan menggunakan benih bermutu tinggi dari varietas modern yang tahan hama ganda, dan pemeliharaan tanaman yang optimal (pengelolaan air dan hama).
  • Masukkan jerami padi. Jika pembakaran jerami adalah satu-satunya pilihan untuk pengelolaan sisa tanaman, sebarkan jerami secara merata di atas lahan (misalnya, seperti yang tersisa setelah panen gabungan) sebelum dibakar. Abu dari tumpukan jerami yang terbakar juga harus disebar ke seluruh lahan.
  • Terapkan dosis optimal pupuk N dan P dan defisiensi mikronutrien yang benar. Berikan pupuk K, pupuk kandang, atau bahan lain (sekam padi, abu, feses, kompos) untuk mengisi kembali K yang hilang dalam produk tanaman yang dipanen.
   
REFERENSI:
Rice Knowledge Bank. Dobermann A, Fairhurst T. 2000. Rice: Nutrient disorders & nutrient management. Handbook series. Potash & Phosphate Institute (PPI), Potash & Phosphate Institute of Canada (PPIC) and International Rice Research Institute. 191 p.
   
         
Informasi Lanjut
Galleri Kebun SUT
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemasangan Tali Ajir Untuk Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Penanaman Tanaman Cabai
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Pare, Mentimun & Bayam
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Pemasangan Ajir untuk Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pengukuran pH Tanah
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Sawi (Kegiatan Pemeliharaan)
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Persiapan Lahan Untuk Budidaya Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Aplikasi Pupuk Daun Gandasil-D pada Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Hortikultura (Kangkung & Buncis)
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering © 2026 Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Alamat: Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes, Lasiana, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Telepon: +62380881600 Fax: +62380881601 Email: ppnk@politanikoe.ac.id. Designed By JoomShaper