Defisiensi Tembaga (Cu)
Kekurangan tembaga (Cu) mempengaruhi proses metabolisme tanaman padi, khususnya fotosintesis dan respirasi. Ini dapat menyebabkan penurunan viabilitas polen dan peningkatan sterilitas spikelet, sehingga menghasilkan banyak bulir yang tidak terisi.
Kekurangan Cu relatif jarang terutama pada sistem padi beririgasi. Ini disebabkan oleh hal-hal berikut:
- sejumlah kecil Cu tersedia di tanah
- penyerapan kuat Cu pada asam humat dan fulvat (tanah gambut)
- sejumlah kecil Cu hadir dalam bahan induk (tanah berpasir yang berasal dari kuarsa)
- kadar NPK yang tinggi, menyebabkan laju pertumbuhan tanaman yang cepat dan habisnya Cu dalam larutan tanah
- overliming tanah masam, menyebabkan peningkatan jumlah Cu terkompleks oleh bahan organik atau diserap dan tersumbat oleh hidroksida dan oksida
- Zn yang berlebihan di dalam tanah, menghambat penyerapan Cu
Kekurangan Cu terjadi pada jenis tanah berikut:
- tanah dengan status bahan organik tinggi (Histosol, tanah abu vulkanik humat)
- tanah laterit, sangat lapuk (Ultisols, Oxisols)
- tanah yang berasal dari sedimen laut (batugamping)
- tanah bertekstur pasir
- tanah berkapur










