Penggunaan Kapur untuk Meningkatkan pH Tanah
Penggunaan kapur akan meningkatkan pH tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman. Tanah bagian atas harus dijaga pada pH tanah di atas 5,0 (CaCl2) tetapi untuk memungkinkan variabilitas lahan, jenis tanaman dan pengambilan sampel tanah sebaiknya berada pada atau di atas pH 5,5 (CaCl2).
Sumber Kapur
Kapur (kalsium karbonat) dan sumber pengapuran lainnya seperti dolomit (magnesium karbonat) mengurangi keasaman tanah dengan menetralkan reaksi asam di dalam tanah. Komponen karbonat bereaksi dengan ion hidrogen dalam larutan tanah dan dengan demikian meningkatkan pH tanah. Ada beberapa sumber kapur seperti:
- Batu kapur pertanian: batu kapur yang dihancurkan dan diayak – terutama kalsium karbonat;
- Pasir kapur: ditambang dari endapan alami dan terutama kalsium karbonat;
- Dolomit: dolomit seringkali merupakan campuran magnesium dan kalsium karbonat;
- Produk sampingan dari produksi soda abu: Sebagian besar mengandung kalsium karbonat dengan beberapa kalsium oksida dan hidroksida.
Kualitas Kapur
Saat menggunakan kapur, aspek kualitas kapur perlu diperhatikan. Ini termasuk Nilai Penetral (Neutralizing Value, NV) dan ukuran partikelnya. Karena karbonat adalah agen utama untuk menetralkan asam dalam tanah, jumlah karbonat dalam sumber pengapuran menjadi penting. NV adalah indikator untuk ini. Semakin tinggi NV semakin besar kapasitas sumber pengapuran untuk menetralkan keasaman tanah. Bahan pengapuran yang berkualitas baik harus memiliki NV lebih besar dari 80%.
Semakin halus bahan pengapuran, semakin cepat kapur bereaksi di dalam tanah. Namun, partikel yang lebih halus seringkali sulit untuk menyebar karena cenderung tersumbat di alat penyebar dan melayang di udara. Campuran partikel halus dan kasar akan mengatasi kesulitan penyebaran tetapi partikel yang lebih kasar akan bereaksi lebih lambat. Untuk efek terbaik, partikel kapur tidak boleh lebih besar dari 0,3 mm. Kapur dengan NV tinggi dan ukuran partikel kecil akan memberikan respon tercepat.
Pemasok kapur pertanian diharuskan menyediakan analisis laboratorium NV dan ukuran partikel bahan pengapuran mereka.
Tingkat Aplikasi
Jumlah kapur yang dibutuhkan untuk menetralkan keasaman tanah tergantung pada sejumlah faktor seperti pH tanah yang ada; pH tanah yang diinginkan atau target; tekstur tanah; dan kualitas kapur. Untuk tujuan praktis, tujuannya adalah untuk menjaga tanah bagian atas di atas pH 5,5 (CaCl2).
Persamaan berikut memberikan panduan untuk kebutuhan kapur:
-
Kebutuhan kapur (t/ha) = (pH target – pH saat ini) × faktor tekstur tanah
Faktor tekstur: lempung sampai lempung berliat = 4; Lempung berpasir = 3; Pasir = 2
Contoh:
- Untuk menaikkan pH 4,8 (CaCl2) tanah berpasir menjadi pH 5,5 (CaCl2), kebutuhan kapur = (5,5 – 4,8) x 3 = 1,4 ton/ha
- Untuk menaikkan pH 4,8 (CaCl2) tanah lempung berpasir menjadi pH 5,5 (CaCl2), kebutuhan kapur = (5,5 – 4,8) x 3 = 2,1 ton/ha
- Untuk menaikkan pH 4,8 (CaCl2) tanah lempung sampai lempung berliat menjadi pH 5,5 (CaCl2), kebutuhan kapur = (5,5 – 4,8) x 3 = 2,8 ton/ha
Seperti dapat dilihat dari faktor tekstur, kapur lebih banyak dibutuhkan untuk menaikkan pH tanah pada lempung daripada pasir sehingga penting untuk mengetahui tekstur tanah. Tidak lebih dari 3 t/ha kapur harus diterapkan pada satu waktu karena hal ini dapat mengganggu pasokan unsur hara tanah. Tingkat penyebaran yang merata sangat penting. Jika diperlukan lebih dari 3t/ha maka pisahkan permohonan selama beberapa tahun. Perhitungan kebutuhan kapur didasarkan pada NV kapur lebih besar dari 80%. Jika NV lebih rendah dari ini, kadar kapur yang lebih tinggi dapat digunakan (Harding, 2020).
Berdasarkan contoh diatas, dapat diketahui bahwa:
- Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 pada tanah berpasir membutuhkan kapur sebanyak = 200 kg/ha
- Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 pada tanah lempung berpasir membutuhkan kapur sebanyak = 300 kg/ha
- Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 pada tanah berpasir membutuhkan kapur sebanyak = 400 kg/ha
Dalam sistem tanpa olah tanah, kapur harus dibubuhkan pada permukaan tanah beberapa bulan sebelum menanam tanaman untuk memberikan waktu bagi kapur untuk bereaksi di dalam tanah.
Karena kapur tidak dapat bergerak dengan mudah melalui tanah, mencampurnya di tanah bagian atas dengan pengolahan tanah akan meningkatkan distribusinya di dalam tanah. Waktu yang ideal untuk mencampur kapur ke dalam tanah adalah sebelum penanaman.
Pengapuran pada Tanah Asam (Cybex Pertanian, 2019)
Pada umumnya, ph tanah yang di kehendaki untuk pertumbuhan tanaman agar optimal adalah ph tanah netral yaitu 6,5-7,0 karena pada kondisi H netral unsur hara dapat tersedia secara optimal dan mikroorganisme dapat berkambang dengan maksimal.
Untuk tanah-tanah yang bersifat asam agar pH-nya meningkat mendekati netral, maka di perlukan pengapuran. Besarnya pengapuran tergantung dari:
- Angka pH tanah yang ingin di capai
- Jenis kapur yang diberikan yang dinyatakan dengan kandungan setara CaCO3
- Besarnya ukuran partikel kapur. Semakin halus kapur, semakin sedikit kapur yang diberikan.
- Kelas tekstur tanah. Semakin tinggi kandungan liat tanah, semakin tinggi kapur yang diberikan.
Cara Mengapur Tanah Asam (Cybex Pertanian, 2019)
Cara mengapur tanah masam itu sendiri ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu:
- Persiapkan kapur sesuai dosis yang telah ditentukan.
- Bersihkan lahan yang akan dikapur dari rumput atau tanaman pengganggu lainnya.
- Cangkul/bajak tanah secara keseluruhan.
- Bagi lahan dalam beberapa petak. Misalnya lahannya adalah satu hektar, maka bagi menjadi 40 petakan, yang berarti tiap petak akan mendapat jatah 1/40 dosis kapur yang diberikan.
- Petakan-petakan tersebut dapat di tandai dengan tali atau lainnya, tanda apa sajalah pokoknya yang mau mengapur bisa tahu, terserahlah seperti apa aku nggak perduli.
- Tebarkan kapur ke seluruh lahan sesuai rencana
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengapuran tanah masam (Cybex Pertanian, 2019)
Pengapuran pada tanah asam harus memperhatikan beberapa hal yang penting, yaitu :
- Waktu pengapuran. Waktu pengapuran yang paling baik adalah pada saat penghujung musim kemarau, apabila hujan sedang giat-giatnya turun, maka sebaiknya pengapuran janganlah dilakukan.
- Dosis kapur. Sebaiknya dosis yang diberikan jangan sampai berlebihan, karena bisa menyebabkan tanah menjadi basa, jika tanah basa maka harus diberi belerang, dan hal ini sungguh sangat merepotkan. Untuk tanah yang terlalu asam, dianjurkan untuk melakukan pengapuran secara bertahap, misalnya setelah pengapuran pertama berjalan 2-3 minggu kemudian tanah dikapur lagi.







