Gejala dan Tanda Penyakit Tanaman
Identifikasi penyakit pada tanaman didasarkan pada pengamatan terhadap dua aspek fundamental, yaitu gejala (symptom) dan tanda (sign).
- Gejala merupakan ekspresi fisiologis dan morfologis dari respons tanaman inang terhadap aktivitas patogen. Serangkaian gejala yang muncul secara berurutan seiring perkembangan penyakit dikenal sebagai sindrom, yang menjadi dasar utama diagnosis penyakit di lapangan (Agrios, 2005).
- Tanda merujuk pada struktur patogen itu sendiri yang terasosiasi dengan bagian tanaman yang terinfeksi. Tanda dapat berupa miselium, spora, tubuh buah jamur, massa bakteri, atau nematoda, yang keberadaannya seringkali bergantung pada kondisi lingkungan dan biasanya memerlukan alat bantu seperti mikroskop untuk identifikasi (Gullino et al., 2022).
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
|
Keterangan Gambar: Dari kiri ke kanan: 1 & 2 adalah gejala penyakit tanaman. 3 & 4 adalah tanda penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur Alternaria solani
|
|||
Beberapa Macam Penampilan Gejala dari Penyakit Tanaman
A. Gejala Nekrosis
Yaitu keadaan yang menunjukkan adanya kematian jaringan akibat aktifitas fisiologis dari pathogen. Gejala nekrosis terdiri dari:
- Yellowing: Menguningnya jaringan daun akibat degradasi klorofil. Contoh: potato yellow vein disease (PYVD); barley yellow dwarf virus (BYDV) (Luteovirus BYDV); Bhendi yellow vein mosaic virus (BYVMV) (BegomovirusBYVMV); Onion yellows phytoplasma (Candidatus Phytoplasmaasteris-related strain OY); dan lain-lain.
- Wilting: Melayunya tanaman akibat gangguan pada sistem pengangkutan air, baik karena penyumbatan pembuluh xilem oleh patogen seperti Ralstonia solanacearum dan Fusarium oxysporum, atau karena kerusakan sistem perakaran (Tian et al., 2021). Contoh: bacteria wilt and soft rot (Dickeya chrysanthemi); Verticillium wilt (Verticillium dahliae); Fusarium root rot and wilt (Fusarium oxysporum); Verticillium wilts (Verticillium sp.); Fusarium wilt (Fusarium oxysporum f.sp. phaseoli); dan lain-lain.
- Spot: Area nekrotik yang terlokalisir pada daun, batang, atau buah dengan bentuk dan ukuran bervariasi. Contoh: Cercospora leaf spot dan bacterial spot (Xanthomonas spp.). Contoh: bacterial spot (Xanthomonas vesicatoria); Cercospora leaf spot (Cercospora capsici); leaf spot (Cercospora arachidicola); white leaf spot (Cercospora brassicicola); white leaf spot (Cercospora brassicicola); citrus black spot (Guignardia citricarpa); dan lain-lain.
- Blight: Kematian jaringan yang cepat dan meluas pada daun, pucuk, atau bunga. Contoh: Late blight pada kentang yang disebabkan oleh Phytophthora infestans dan Early blight yang ditandai dengan bercak konsentris akibat Alternaria solani. Misalnya: Common bacterial blight of beans fuscous blight; citrus blight disease; gummy stem blight (vine decline); Phytophthora blight dan lain-lain
- Late Blight, yaitu bercak busuk pada umbi atau bagian tertentu tanaman yang disebabkan oleh jamur Phytophtora spp. Contoh: late blight Phytophthora infestans (Mont.) de Bary
- Early Blight, yaitu bercak cincin/konsentris yang disebabkan oleh jamur Alternaria spp
- Scorch, yaitu terbakar (burn) pada daun bagian luar (pinggir), warnanya coklat seperti kena suhu tinggi. Contoh: bacterial leaf scorch.
- Scald, yaitu memutihnya epidermis pada buah atau daun. Contoh: leaf scald Monographella albescens
- Blast, yaitu kematian yang cepat di bagian pucuk atau pembungaan. Misalnya: rice blast disease Pyricularia spp. Sacc.
- Mildew, yaitu pada daun terdapat abu/tepung berwarna keputih-putihan/abu-abu/hitam, misalnya powdery mildew dan downy mildew
- Damping-off, yaitu mati terkulai, batang tanaman mudah patah
- Dieback, yaitu kematian ranting yang dimulai dari ujung
- Cancer, yaitu spot pada jaringan kulit dan jaringan korteks pada akar dan batang
- Gummosis, yaitu mengeluarkan zat semacam perekat/lender
- Resinosis, yaitu mengeluarkan zat semacam damar
-
Rot, busuk pada tanaman atau bagian tertentu tanaman yang disebabkan oleh patogen, seperti Phytophthora root rot (busuk akar Phytophthora), black root rot (busuk akar hitam), bacterial soft rot (busuk lunak bakteri), root and stem rot (busuk akar dan batang), Rhizopus soft rot (busuk lunak Rhizopus), sheath rot (busuk selubung/pelepah), ring rot of potato (busuk kentang), dan lain-lain.
B. Gejala Hipoplasia
Yaitu terhambatnya/terhentinya pertumbuhan. Gejala ini terdiri dari:
- Dwarf (stunting = kerdil), yaitu penghambatan pada seluruh organ tanaman sehingga ukurannya menjadi lebih kecil dari normal
- Albikasi, yaitu tak berhijau daun (klorosis)
- Etiolasi, yaitu tanaman pucat, relative memanjang, daunnya kecil dan sempit karena kurangnya sinar matahari
- Roset, yaitu pertumbuhan intermedia batang terhambat hingga nodia satu dengan lainnya berdempetan, sehingga daun-daun seolah-olah membentuk roset/karangan.
C. Gejala Hiperplasia
Terjadi karena pertumbuhan tanaman lebih cepat dari biasanya. Gejala ini antara lain, adalah:
- Witches broom (sapu), yaitu pertumbuhan tunas ketiak yang banyak hingga membentuk seberkas ranting menyerupai sapu
- Cecidia, gall atau tumor, yaitu pembengkakan stempat berupa bintil atau bisul yang terdiri dari jaringan tanaman dengan atau tanpa pathogennya
- Menggulung atau mengeriting
- Fasciation (fasiasi), yaitu berubahnya bentuk cabang dari lurus dan silinder menjadi bengkok dan pipih
- Antholisis, yaitu berubahnya bunga menjadi daun kembali
- Kudis, yaitu bercak kasar, terbatas dan agak menonjol, kadang-kadang ujungnya pecah.
- Rontoknya alat-alat atau organ-organ tanaman sebelum waktunya.
D. Gejala Hipertropi
Yaitu pertumbuhan sel yang luar biasa. Gejala ini antara lain:
- Gigantisme, yaitu pertumbuhan ukuran tanaman yang luar biasa
- Hipercroma, yaitu pertumbuhan warna tanaman yang luar biasa
- Metaplasia, yaitu pertumbuhan struktur tanaman yang luar biasa
Daftar Referensi
- Agrios, G. N. (2005). Plant Pathology (5th ed.). Elsevier Academic Press.
- Gullino, M. L., Bonants, P. J. M., & Stack, J. P. (2022). Detection and Diagnostics of Plant Pathogens. Springer Nature.
- Tian, L., Li, J., Huang, C., Zhang, D., & Xu, Y. (2021). Comparative transcriptome analysis of resistant and susceptible tomato lines in response to Ralstonia solanacearum infection. Physiological and Molecular Plant Pathology, 114, 101632.
- Zhao, Y., Liu, X., Liu, X., & Wang, G. (2020). Phytoplasma effector SAP54 hijacks plant reproduction by degrading MADS-box proteins and promotes insect colonization in a RAD23-dependent manner. PLOS Biology, 18(11), e3000930.










