Selamat Datang di Halaman PERLINTAN - Perlindungan Tanaman - Website Jurusan MPLKMateri Praktek Perlindungan TanamanParasitoid Hama TanamanOPT Tanaman PertanianMateri Kuliah Perlindungan TanamanPredator Hama TanamanMusuh Alami HamaPerlindungan Tanaman adalah usaha untuk melin­dungi tanaman dari ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses hidupnya yang normal, sejak pra-tanam sampai pasca tanam (Djafaruddin, 1996)
Banner UC IPM
Banner Biological Control
Banner Dirjen Pangan
Banner Diren Perkebunan
Banner Dirjen Hortikultura

Yosefus F. da-Lopez, Nina J. Lapinangga, & Jacqualine A. Bunga. (2020). Bahan Ajar Perlindungan Tanaman (MLK22203/2(1-1)) untuk Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering. Website Jurusan MPLK

Lissachatina fulica (Giant African snail)

Lissachatina fulica1Nama umum: Bekicot atau Bekicot Afrika raksasa (Giant African snail)
Nama ilmiah: Lissachatina fulica, sebelumnya dikenal sebagai Achatina fulica

Status Taksonomi dan Distribusi

Lissachatina fulica (sinonim: Achatina fulica) merupakan spesies gastropoda darat yang sangat invasif. Spesies ini telah menyebar secara global dari wilayah asalnya di Afrika ke hampir semua kawasan tropis dan subtropis, termasuk Asia, Amerika, dan Oseania, dengan distribusi yang tercatat meliputi lebih dari 20 negara kepulauan Pasifik.

Morfologi dan Identifikasi

Ciri-ciri morfologi yang mencolok meliputi:

  • Ukuran: Sangat bervariasi, dengan individu terbesar dapat mencapai panjang 15 cm dan lebar 5-8 cm.
  • Cangkang: Berwarna coklat muda dengan pola pita bergantian berwarna coklat tua dan krem, meskipun variasi warna lain dapat ditemukan.
  • Telur: Berwarna krem, diameter sekitar 5 mm, diletakkan dalam kelompok besar.

Siklus Hidup dan Perilaku

Siklus hidup dan adaptasinya sangat mendukung keberhasilannya sebagai spesies invasif:

  • Reproduksi: Bersifat hermafrodit namun tetap memerlukan perkawinan silang. Satu individu dapat menghasilkan hingga 1000 butir telur per tahun, dengan masa hidup mencapai 5 tahun.
  • Oviposisi: Telur diletakkan di dalam tanah atau di bawah batang kayu dalam kelompok 200-300 butir, menetas dalam 1-2 minggu.
  • Aktivitas: Nocturnal dan aktif pada kondisi lembap (saat hujan atau mendung). Dapat melakukan estivasi dengan menutup operkulum selama kondisi kering.
  • Dispersi: Bergerak aktif hingga 50 m per malam. Penyebaran jarak jauh melalui manusia: dalam media tanam, sebagai hewan peliharaan, atau untuk konsumsi.
Keterangan (dari kiri ke kanan): Gambar 1. Bekicot Lissachatina fulica, dalam hal ini cangkangnya berwarna coklat dengan garis-garis coklat muda; Gambar 2. Bekicot Lissachatina fulica, berlindung di bawah batu pada siang hari untuk mencegah dehidrasi; Gambar 3. Bekicot Lissachatina fulica, pada pisang; Gambar 4. Telur bekicot Lissachatina fulica.  (Foto: Pacific Pests, Pathogens, Weeds & Pesticides. The Australian Centre for International Agricultural Research under project HORT/2016/185 implemented by the University of Queensland and the Secretariat of the Pacific Community).

Dampak dan Risiko

  1. Dampak Ekonomi dan Pertanian:
    • Menyerang lebih dari 500 jenis tanaman, dengan preferensi pada sukun, singkong, kakao, pepaya, dan tanaman budidaya lainnya.
    • Ledakan populasi awal setelah introduksi dapat menyebabkan kerusakan parah, terutama pada bibit dan stek tanaman.
  2. Dampak Ekologis:
    • Berkompetisi dengan dan menggantikan spesies siput asli, leading to hilangnya keanekaragaman hayati.
    • Bangkai siput yang mati dapat menjadi tempat berkembang biak lalat.
  3. Dampak Kesehatan Masyarakat:
    • Berperan sebagai inang perantara cacing parasit Angiostrongylus cantonensis. Konsumsi siput yang tidak dimasak sempurna dapat menyebabkan meningitis pada manusia.

Strategi Pengelolaan Terpadu

  1. PENGENDALIAN HAYATI (Dengan Kehati-hatian Tinggi):
    • Itik Pelari India dapat dimanfaatkan sebagai predator alami.
    • Peringatan Kritis: Introduksi predator generalis seperti Euglandina roseaGonaxis quadrilateralis, atau cacing pipih Platydemus manokwari tidak direkomendasikan karena telah menyebabkan bencana ekologi dan kepunahan spesies siput endemik di banyak kepulauan Pasifik.
  2. PENGENDALIAN MEKANIS DAN KULTUR TEKNIS:
    • Sanitasi dan Modifikasi Habitat: Menciptakan area perimeter selebar 1.5 m yang bersih di sekeliling lahan budidaya. Pembuatan barrier dari pasir dapat menghambat pergerakan.
    • Pengumpulan Manual Skala Besar: Mengorganisir kampanye pengumpulan involviing masyarakat, khususnya sekolah-sekolah, untuk memungut siput secara rutin. Siput yang dikumpulkan harus dikubur atau direbus (minimal 1 jam) sebelum diberikan sebagai pakan babi.
    • Edukasi dan Kesadaran Masyarakat: Kampanye publik tentang bahaya memelihara bekicot sebagai hewan peliharaan, risiko kesehatan, dan pentingnya partisipasi komunitas dalam pengendalian.
  3. PENGENDALIAN KIMIAWI (Sebagai Opsi Tambahan):
    • Penggunaan Terbatas: Metaldehid (1.5-1.8%) dapat digunakan secara sangat hati-hati karena toksisitasnya yang tinggi. Aplikasi harus terlokalisir (dalam wadah) untuk meminimalkan risiko terhadap ternak, hewan peliharaan, dan manusia.
    • Alternatif Lebih Aman: Umpan berbahan aktif besi fosfat atau sodium ferric EDTA lebih direkomendasikan karena efektif dan memiliki profil keamanan yang lebih baik.
    • Integrasi: Pengendalian kimia hanya efektif jika dikombinasikan dengan metode mekanis dan kultur teknis.

Pengelolaan L. fulica merupakan tantangan jangka panjang yang memerlukan strategi berkelanjutan. Pendekatan terpadu yang menekankan pengumpulan manual berkelanjutan, modifikasi habitat, dan edukasi masyarakat terbukti paling efektif dan ramah lingkungan. Kunci keberhasilan terletak pada konsistensi tindakan dan koordinasi antar wilayah untuk mencegah rebound populasi.


Sumber: Helen Tsatsia & Grahame Jackson. Giant African snail (050)Pacific Pests, Pathogens, Weeds & Pesticides. The Australian Centre for International Agricultural Research under project HORT/2016/185: Responding to emerging pest and disease threats to horticulture in the Pacific islands, implemented by the University of Queensland and the Secretariat of the Pacific Community.


Keong Mas Pomacea canaliculate (Golden apple snail)

Keong Mas Pomacea canaliculate4Nama yang umum: keong mas (Golden apple snail)
Nama ilmiah: Pomacea canaliculata . Spesies Pomacea lainnya serupa, misalnya Pomacea maculate.

Status dan Distribusi

Pomacea canaliculata tercatat dalam daftar "100 Spesies Invasif Terburuk di Dunia" oleh IUCN. Spesies ini telah menyebar secara global meliputi Asia, Afrika, Amerika, Eropa (Spanyol), dan Oseania (terutama Papua Nugini), menjadikannya ancaman serius bagi ekosistem lahan basah tropis dan subtropis.

Morfologi dan Identifikasi

Ciri-ciri morfologi yang khas meliputi:

  • Cangkang: Tinggi 35-60 mm, tipis, dengan pola lilitan ke kanan (dextral). Warna bervariasi dari kuning-coklat, hijau-coklat, hingga coklat tua, sering dengan pola pita. Terdapat juga morf albino dan emas.
  • Operkulum: Penutup cangkang (operkulum) berwarna coklat yang berfungsi menutup rapat saat siput berada di darat.
  • Tubuh: Berwarna merah muda-emas hingga oranye-kuning dengan tentakel panjang yang meruncing.
  • Massa Telur: Berwarna merah muda cerah, diletakkan di atas permukaan air pada vegetasi atau substrat keras, berfungsi sebagai tanda identifikasi utama.

Siklus Hidup dan Adaptasi

Keong mas memiliki adaptasi yang sangat baik:

  • Reproduksi: Betina dapat menghasilkan hingga 250 butir telur per kelompok yang menetas dalam sekitar 2 minggu.
  • Dormansi: Mampu bertahan hidup selama musim kemarau (hingga 6 bulan) dengan membenamkan diri dalam lumpur (estivasi).
  • Dispersi: Penyebaran jarak pendek melalui pergerakan aktif di air atau darat. Penyebaran jarak jauh terjadi melalui perdagangan akuarium, bahan tanam (seperti pucuk talas), dan sengaja sebagai sumber pangan.
Keong Mas Pomacea canaliculate1
Keong Mas Pomacea canaliculate2
Keong Mas Pomacea canaliculate3
Keong Mas Pomacea canaliculate4
Keterangan (dari kiri ke kanan): Gambar 1. Keong mas spesies Pomacea (Thailand). Perhatikan 'operkulum' yang menutup bukaan cangkang; Gambar 2. Keong mas Pomacea canaliculata, tan dengan pita coklat. Gambar 3. Bentuk keong mas emas, Pomacea canaliculata. Gambar 4. Telur keong mas, Pomacea canaliculata, pada tangkai talas (Thailand). (Foto: Pacific Pests, Pathogens, Weeds & Pesticides. The Australian Centre for International Agricultural Research under project HORT/2016/185 implemented by the University of Queensland and the Secretariat of the Pacific Community).

Dampak dan Risiko

  1. Dampak Ekonomi:
    • Kerusakan signifikan pada pertanaman padi sistem tabela (tanam benih langsung), mengakibatkan kehilangan hasil, biaya penanaman ulang, dan peningkatan penggunaan pestisida yang mencapai jutaan dolar per tahun (contoh: Filipina, Thailand, Vietnam).
    • Kerusakan pada vegetasi akuatik alami yang mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
  2. Dampak Ekologis:
    • Kompetitif menggantikan spesies siput asli.
    • Perubahan kualitas air akibat hilangnya vegetasi air.
  3. Dampak Kesehatan:
    • Berperan sebagai inang perantara cacing parasit Angiostrongylus cantonensis (cacing paru-paru tikus). Konsumsi siput mentah atau tidak dimasak dengan benar dapat menyebabkan meningitis eosinofilik pada manusia.

Strategi Pengelolaan Terpadu

  1. BIOSEKURITI DAN PENCEGAHAN:
    • Negara yang masih bebas (seperti Australia dan sebagian besar Kepulauan Pasifik) harus menerapkan langkah karantina yang ketat untuk mencegah introduksi melalui perdagangan tanaman dan komoditas pertanian.
  2. PENGENDALIAN HAYATI:
    • Predator Alami: Semut api mempredasi telur dan siput muda. Burung, kadal, ikan, kepiting, dan tikus juga memangsa berbagai tahap hidupnya.
    • Manajemen Ekosistem: Mempertahankan populasi predator alami dengan mengurangi penggunaan pestisida yang tidak selektif.
  3. PENGENDALIAN MEKANIS DAN KULTUR TEKNIS:
    • Pra-Tanam:
      • Pengolahan tanah (bajak dan garu) serta perendaman lahan untuk mematikan siput yang dorman di dalam tanah.
      • Penggunaan sistem pindah tanam bibit padi berumur 3-4 minggu (bukan tabela) karena lebih tahan terhadap serangan.
      • Peningkatan kepadatan tanam untuk mengkompensasi kerusakan.
    • Selama Pertumbuhan:
      • Manajemen Air: Penurunan periodik permukaan air hingga 1-2 cm untuk membatasi pergerakan dan aktivitas makan keong mas.
      • Pengumpulan Manual: Pengumpulan siput dan penghancuran massa telur secara rutin. Pemasangan ajir atau tongkat sebagai tempat peneluran yang mudah diakses untuk dikumpulkan.
      • Pemanfaatan Itik: Penggembalaan itik di sawah setelah bibit padi kuat (≥4 minggu) atau sebelum tanam untuk memangsa keong mas.
      • Sanitasi Lingkungan: Menjaga pematang dan saluran agar bersih dari gulma untuk memudahkan deteksi.
    • Pasca-Panen:
      • Pembakaran jerami dan tunggul untuk memusnahkan siput yang tersisa.
      • Rotasi tanaman dengan legum penutup tanah pada pertanaman talas.
  4. PENGENDALIAN KIMIAWI (SEBAGAI UPAYA TERAKHIR):
    • Tidak Direkomendasikan: Moluskisida umumnya mahal, berpotensi toksik bagi manusia dan organisme non-target, serta dapat mencemari lingkungan.
    • Jika Terpaksa Digunakan:
      • Selalu ikuti petunjuk label mengenai dosis, waktu aplikasi, dan interval sebelum panen.
      • Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap.
      • Konsultasikan dengan otoritas pertanian setempat untuk rekomendasi yang tepat dan sesuai kondisi.

Keberhasilan pengendalian P. canaliculata bergantung pada pendekatan terpadu yang memprioritaskan metode pencegahan, mekanis, dan kultur teknis. Pengendalian kimiawi hanya dipertimbangkan sebagai opsi terakhir dengan pemantauan ketat. Koordinasi antar petani dalam suatu wilayah diperlukan untuk menekan populasi secara efektif dan berkelanjutan.


Sumber:Grahame Jackson. Golden apple snail (441).Pacific Pests, Pathogens, Weeds & Pesticides. The Australian Centre for International Agricultural Research under project HORT/2016/185: Responding to emerging pest and disease threats to horticulture in the Pacific islands, implemented by the University of Queensland and the Secretariat of the Pacific Community.


Galleri Kebun SUT
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Hortikultura (Kangkung & Buncis)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemasangan Tali Ajir Untuk Tanaman Buncis
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Pemasangan Ajir untuk Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Aplikasi Pupuk Daun Gandasil-D pada Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Pare, Mentimun & Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pengukuran pH Tanah
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Persiapan Lahan Untuk Budidaya Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Sawi (Kegiatan Pemeliharaan)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Penanaman Tanaman Cabai
Artikel Laporan PKL
More in Artikel PKL  
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering © 2026 Politeknik Pertanian Negeri Kupang - Alamat: Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes, Lasiana, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Telepon: +62380881600 Fax: +62380881601 Email: ppnk@politanikoe.ac.id. - We learn, practice, and be rich - Kami belajar, berlatih, dan menjadi sejahtera - Meup onle ate, mua onle Usif - Designed By JoomShaper