Daun Kirinyuh Sebagai Pestisida Nabati untuk Pengendalian OPT
Insektisida merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh serangga hama penganggu. Salah satu jenis insektisida yang sering digunakan adalah insektisida sintetik. Akan tetapi, penggunaan insektisida yang berlebihan dan tidak sesuai syarat 4T dapat mengganggu populasi nontarget, polusi lingkungan, dan bahkan keracunan pada manusia akibat residu yang sulit hilang.
Untuk mengurangi permasalahan tersebut, perlu adanya insektisida alternatif alternatif yang tidak membahayakan organisme non target dan kesehatan manusia atau ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk alternatif adalah pemanfaatan bahan alami yang berefek pestisida, salah satunya adalah daun kirinyuh.
Kirinyuh (E. odoratum) adalah tanaman yang tergolong dalam famili Astreaceae. Tanaman ini tidak populer di Indonesia karena merupakan tumbuhan liar, sehingga pemanfaatannya kurang optimal di kalangan masyarakat (Irma et al., 2016) dan dianggap merugikan karena menghalangi pertumbuhan dan pembentukan tanaman di sekitarnya (Nurhasbah et al., 2017). Meskipun demikian, tanaman ini juga memiliki potensi, diantaranya sebagai obat luka, infeksi kulit dan radang, juga sebagai bahan pestisida nabati.
Daun kirinyu mengandung senyawa bioaktif berupa alkaloid, fenolik, tanin, dan saponin (Siharis et al., 2018) yang bersifat racun bagi serangga tertentu dalam konsentrasi ekstrak tertentu. Ekstrak daun kirinyu dapat berperan sebagai nematisida dimana pada konsentrasi 20% dapat menyebabkan mortalitas 100% terhadap Meloidogyne sp (Huzni, 2015). Insektisida nabati ekstrak daun kirinyuh dengan pelarut etanol 70% dan penambahan ekstrak daun salam dapat menyebabkab mortalitas Aedes aegypti 77% dalam waktu 24 jam (Yulianti, 2018). Ekstrak daun kirinyuh dengan pelarut ethanol 96% juga efektif terhadap ulat grayak Spodoptera litura dengan tingkat mortalitas 80% pada konsentrasi 6% dan 92% pada konsentra 8% (Permatasasi & Asri, 2021).
Ekstrak daun tanaman kirinyuh juga berpotensi menekan perkembangan biologis ulat crop kubis Crocidolomia pavonana . Aplikasi ekstrak daun kirinyuh pada ulat krop kubis dengan konsentrasi 30-40% menimbulkan gejala keracunan yang ditandai dengan gerakan larva mulai melamban atau aktifitas makannya berkurang, kemudian perubahan warna menjadi kehitaman dan mortalitas 100% pada hari kesembilan.
Kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman kirinyuh dapat digunakan sebagai bio-pestisida untuk mengendalikan hama karena memberikan bau menusuk dan rasa pahit yang bersifat toksik bagi serangga (Saenong, 2019).
Senyawa pyrrolizidine alkaloids didalam pencernaan serangga akan direduksi menjadi amina berbahaya bersifat racun dan berperan penting dalam menekan perkembangan hama secara efektif karena memiliki toksisitas tinggi dengan cara diinduksi oleh aktivitas metabolik yang menyebabkan aktivitas makan menurun (Seremet et al., 2018).
Flavonoid bersifat sebagai penolak makan bagi serangga. Senyawa ini masuk ke saluran pencernaan melalui makanan dan mengganggu sistem pencernaan larva sehingga menyebabkan kematian (Batubara et al, 2012), senyawa tersebut juga mengakibatkan kelemahan saraf perasa pada mulut serangga sehingga larva akan kehilangan selera makan karena tidak dapat mengetahui makanannya. Senyawa flavonoid juga mempengaruhi mekanisme kerja sistem pernapasan larva melalui trakea yang berfungsi sebagai inhibitor sistem pernapasan dan menyebabkan kematian (Syah & Purwani, 2016).
Berdasarkan penelitian alkaloid dan tanin berperan sebagai racun perut serta antifeedant yang menghambat nafsu makan serangga (Febrianti dan Rahayu, 2012).
Senyawa lain seperti triterpenoid memiliki sifat sebagai penolak kehadiran serangga (repellent) dan racun perut (Fauziah et al., 2017), saponin juga termasuk racun perut bersifat sitotoksik dan hemolitik yang meningkatkan permeabilitas biomembran sehingga dapat mengiritasi mukosa saluran pencernaan (Iswadi et al., 2015). Di samping itu, saponin juga berperan sebagai racun kontak yang masuk melalui epikutikula ke dalam jaringan di bawah intergument dan menuju organ sasaran. Senyawa ini mengakibatkan kerusakan pada lapisan lilin kutikula sehingga larva akan kehilangan banyak air (Liem et al., 2013), saponin juga menghambat perkembangan larva terutama pada tiga hormon utama diantaranya hormon otak yang menganggu sistem saraf, hormon ekdison yang mengganggu pergantian kulit dan hormon juvenile yang menghambat pertumbuhan, hormon yang tidak berkembang akan menurunkan keberhasilan metamorphosis dan berujung pada kematian (Wiratno et al., 2019).






