Ulat Grayak (Armyworms) Pada Tanaman Jagung
- Ulat tentara: Mythimna (= Pseudaletia) unipuncta
- Ulat grayak bit: Spodoptera exigua
- Ulat tentara bergaris kuning barat: Spodoptera praefica
Deskripsi Hama
Telur dari ulat grayak dan ulat grayak bit memiliki warna hijau pucat hingga merah muda, dengan pola garis-garis, dan biasanya ditemukan dalam kelompok yang dilindungi oleh lapisan mirip kapas berwarna putih. Setelah menetas, larva muda memakan daun secara berkelompok, meninggalkan sisa berupa kerangka daun pada bagian yang pertama kali dimakan. Saat mencapai tahap dewasa, larva ini tumbuh hingga sekitar 3,5 cm. Ulat grayak memiliki warna cokelat kehijauan dengan pola garis memanjang, sedangkan ulat grayak bit cenderung berwarna hijau zaitun dengan bintik-bintik gelap yang bisa tampak hampir hitam.
Sementara itu, telur ulat grayak bergaris kuning menyerupai telur ulat grayak bit, namun ukurannya lebih besar dan dilapisi dengan bahan mirip kapas berwarna abu-abu. Larva yang baru menetas juga menunjukkan perilaku makan berkelompok. Ketika dewasa, panjang tubuh larva berkisar antara 4,5 hingga 5 cm, dengan warna dominan hitam dan garis-garis kekuningan yang mencolok, serta beberapa garis terang di sisi tubuh. Ciri khas lainnya adalah adanya bintik hitam pekat di setiap sisi segmen pertama yang tidak memiliki kaki, tepat di belakang kepala.
Kerusakan
Larva ulat grayak yang baru menetas menunjukkan perilaku makan secara berkelompok, mengakibatkan daun hanya tersisa rangkanya. Seiring pertumbuhan, larva yang telah mencapai tahap pertengahan atau lebih lanjut mulai menyebar dan mengonsumsi bagian tanaman secara individu, termasuk daun, rumbai, dan tongkol jagung. Pola kerusakan yang ditimbulkan pada tongkol menyerupai dampak dari ulat tongkol jagung. Karena bagian rumbai dan tongkol sangat menentukan kualitas hasil, tingkat toleransi terhadap serangan ulat grayak pada jagung manis tergolong sangat rendah.
Pengelolaan
Ulat grayak cenderung tertarik ke area pertanaman yang dipenuhi gulma seperti rumput teki. Setelah menghabiskan gulma tersebut, larva akan berpindah ke tanaman jagung, sehingga pengendalian gulma menjadi langkah penting dalam mencegah serangan. Meskipun belum ada ambang batas pengendalian yang secara khusus ditetapkan untuk ulat grayak di lahan jagung, kebutuhan akan pengendalian biasanya rendah. Sebaliknya, jagung manis lebih rentan terhadap kerusakan dan mungkin memerlukan perlakuan khusus.
Hama ini dapat muncul kapan saja antara bulan Juni hingga September, namun tingkat serangannya cenderung meningkat pada akhir musim panas. Untuk jagung manis, penggunaan perangkap feromon dapat membantu menentukan waktu kemunculan ngengat dan memprediksi potensi infestasi larva. Dalam situasi tertentu yang memerlukan pengendalian, ulat grayak bit diketahui lebih sulit ditangani dibandingkan ulat grayak bergaris kuning, sehingga mungkin membutuhkan dosis atau intensitas perlakuan yang lebih tinggi dari bahan yang direkomendasikan. Penggunaan insektisida paling efektif bila diterapkan saat larva masih berukuran kecil, dan dalam banyak kasus, pengendalian secara lokal atau spot treatment sudah memadai.
Metode yang Dapat Diterima Secara Organik
Pendekatan yang sesuai dengan standar pertanian organik mencakup pengelolaan gulma—khususnya jenis rumput liar—serta pemanfaatan semprotan berbasis Bacillus thuringiensis sebagai sarana pengendalian hama yang diperbolehkan.
Penggunaan Pestisida
Tidak semua pestisida terdaftar dicantumkan dalam daftar berikut ini. Urutan yang ditampilkan berdasarkan nilai tertinggi dalam sistem Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), dimulai dari produk yang paling efektif serta paling ramah terhadap musuh alami, lebah madu, dan lingkungan. Saat memilih pestisida, penting untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas udara dan air, strategi pengelolaan resistensi, serta karakteristik dan waktu aplikasi produk. Pastikan selalu membaca dan mengikuti petunjuk pada label produk yang digunakan.
- INDOKSAKARB, dengan nama dagang Avaunt, termasuk dalam kelompok pestisida dengan Mode Aksi 22 yang bekerja mengganggu saluran sodium pada sistem saraf serangga. Produk ini direkomendasikan khusus untuk jagung manis dengan dosis aplikasi antara 182 hingga 255 mL per hektar. Petani harus memperhatikan interval masuk kembali ke lahan (REI) selama 12 jam dan masa tunggu panen (PHI) selama 3 hari untuk jagung manis serta 35 hari untuk pakan ternak. Aplikasi hanya diperbolehkan sebelum fase silking atau saat rambut jagung mulai tumbuh, dengan batas maksimum penggunaan 1,022 L per hektar per musim tanam. Selain itu, penyemprotan harus diberi jeda minimal tiga hari antar aplikasi.
- METOKSIFENOSIDA yang dikenal dengan nama dagang Intrepid 2F merupakan pengatur tumbuh serangga yang tergolong dalam Mode Aksi 18A, berfungsi sebagai akselerator pergantian kulit (moulting). Dosis aplikasi yang disarankan berkisar antara 295 hingga 590 mL per hektar. Interval masuk kembali ke lahan setelah aplikasi cukup singkat, yaitu hanya 4 jam. Masa tunggu panen bervariasi tergantung jenis tanaman: 21 hari untuk jagung lapang dan pakan kering, serta 3 hari untuk jagung manis. Pestisida ini cocok digunakan dalam sistem pengendalian terpadu dengan mempertimbangkan waktu aplikasi dan jenis tanaman sasaran.
- METHOMYL, yang dipasarkan dengan nama Lannate SP, termasuk dalam kelompok karbamat dengan Mode Aksi 1A dan memerlukan izin khusus sebelum digunakan. Dosis aplikasi yang disarankan berkisar antara 113 hingga 227 gram per hektar, dengan interval masuk kembali ke lahan selama 48 jam. Masa tunggu panen (PHI) harus merujuk pada label produk. Batas maksimum penggunaan bahan aktif per musim adalah 1,02 kg/ha untuk jagung lapang dan popcorn, serta 2,86 kg/ha untuk jagung manis. Perlu diperhatikan bahwa beberapa varietas jagung manis dapat mengalami fitotoksisitas akibat penggunaan produk ini.
- BACILLUS THURINGIENSIS SSP. AIZAWAI merupakan produk yang diterima dalam sistem pertanian organik dan tergolong dalam Mode Aksi 11.B1. Dosis penggunaannya mengikuti petunjuk label masing-masing produk. Interval masuk kembali ke lahan hanya 4 jam, dan tidak ada masa tunggu panen (PHI), sehingga aman digunakan hingga menjelang panen. Keunggulan utama produk ini adalah tidak merusak populasi musuh alami hama penggerek tongkol. Efektivitasnya akan maksimal jika disemprotkan secara menyeluruh dan diterapkan saat larva masih dalam tahap awal pertumbuhan.
- SPINETORAM, dengan nama dagang Radiant SC, termasuk dalam kelompok spinosyn (Mode Aksi 5) dan direkomendasikan dengan dosis antara 88 hingga 177 mL per hektar. Interval masuk kembali ke lahan adalah 4 jam. Produk ini efektif untuk mengendalikan ulat tentara dan ulat tentara bit, namun tidak efektif terhadap ulat tentara bergaris kuning. Masa tunggu panen bervariasi: 1 hari untuk jagung manis dan biji, 3 hari untuk pakan, serta 28 hari untuk panen biji jagung lapang.
- ESFENVALERAT, yang dikenal sebagai Asana XL, merupakan piretroid sintetik dalam Mode Aksi 3 dan juga memerlukan izin khusus. Dosis aplikasi berkisar antara 427 hingga 708 mL per hektar, dengan interval masuk kembali selama 12 jam. PHI ditetapkan 1 hari untuk jagung biji dan popcorn, serta 21 hari untuk jagung lapang. Penggunaan bahan aktif dibatasi maksimal 113 gram/ha/musim untuk jagung lapang dan 227 gram/ha/musim untuk popcorn.
- PERMETHRIN, yang dipasarkan sebagai Pounce 3.2EC, juga termasuk dalam kelompok piretroid (Mode Aksi 3) dan memerlukan izin khusus. Dosis yang disarankan adalah 295 hingga 590 mL per hektar, dengan interval masuk kembali selama 12 jam. PHI ditetapkan 1 hari untuk jagung manis dan 30 hari untuk biji atau pakan. Produk ini dapat digunakan untuk semua jenis jagung dan harus diaplikasikan sebelum rambut jagung mengering.
Secara umum, aplikasi pestisida harus dilakukan dengan pencampuran air yang cukup untuk memastikan cakupan semprotan yang merata. Petani wajib mematuhi interval masuk (REI) dan interval panen (PHI) sesuai label, serta menerapkan rotasi bahan aktif berdasarkan nomor Mode Aksi. Hindari penggunaan produk dengan kelompok aksi yang sama lebih dari dua kali dalam satu musim untuk mencegah resistensi hama dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.






