Copyright 2021 - Custom text here

Line 006

PRINSIP-PRINSIP UMUM EJAAN & DIKSI BAHASA DALAM KARYA ILMIAH

Bahasa Indonesia karya ilmiah merupakan bahasa yang digunakan untuk menulis laporan hasil penelitian atau pengkajian. Sesuai dengan sifat karya ilmiah yang objektif, bahasa karya ilmiah harus objektif. Objektivitas bahasa karya ilmiah tersebut dapat diwujudkan melalui ejaan yang tepat, diksi yang cermat, bentukan kata yang sempurna, kalimat yang berstruktur lengkap, dan paragraf yang lengkap dan padu. Kesemua karakter bahasa Indonesia karya ilmiah tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut.

1. Prinsip-prinsip Umum Ejaan Bahasa Indonesia Karya Ilmiah

Prinsip-prinsip umum pemakaian ejaan dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) ditulis rapat dengan huruf akhir dari kata yang mendahului.
  2. Setelah tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) harus ada satu spasi kosong.
  3. Tanda petik ganda (”...”), petik tunggal (’...’), kurung () diketik rapat dengan kata, frasa, kalimat yang diapit.
  4. Tanda hubung (-), tanda pisah (—), garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan yang akan mengikutinya.
  5. Tanda perhitungan: sama dengan (=), tambah (+), kurang (-), kali (x), bagi (:), lebih kecil (<), lebih besar (>) ditulis dengan jarak satu spasi dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.

Penulisan jarak antarkata berspasi tunggal. Tepi kanan teks tidak harus rata oleh karena itu kata pada akhir baris tidak harus dipotong. Jika terpaksa harus dipotong, tanda hubungnya ditulis setelah huruf akhir, tanpa disisipi spasi, bukan diletakkan di bawahnya. Tidak boleh meletakkan spasi antarkata dalam satu baris yang bertujuan meratakan tepi kanan.

2. Diksi dalam Bahasa Indonesia Karya Ilmiah

Diksi yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus sesuai dengan karakter karya ilmiah yang ditulis karena kata merupakan sumber daya dalam bahasa yang memiliki kekuatan yang berbeda dalam mempengaruhi orang lain. Dalam pemilihan kata, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu pertama, ketepatan pilihan kata dalam mengungkapkan sebuah gagasan, hal, atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua, kesesuaian atau kecocokan penggunaan kata.

Ketepatan pilihan kata terkait dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh penulis atau pembicara. Sebab itu, persoalan ketepan pemilihan kata akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosa kata seseorang. Perbendaharaan kata yang kaya akan memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat mewakili pikirannya. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya. Apakah bentuk yang dipilih sudah cukup lengkap untuk mendukung maksud penulis, atau apakah diperlukan penjelasan-penjelasan tambahan? Demikian pula masalah makna kata yang tepat meminta pula perhatian penulis atau pembicara untuk tetap untuk mengikuti perkembangan makna tiap kata dari waktu ke waktu, karena makna sebuah kata mengalami juga perkembangan, sejalan dengan perkembangan waktu.

Bila kita mendengar seseorang menyebut kata bibit, maka orang akan bisa berpikir tentang akar, benih, biji, kecambah, semaian, dan tunas. Melihat perbedaan tersebut, maka ketika menulis karya ilmiah, penulis harus mampu memilih kata secara cermat. Apabila kata sudah dipilih dengan cermat dan tepat diharapkan muncul kesamaan persepsi antara penulis dan pembaca.

Dalam pandangan Keraf (1984), sepuluh hal yang perlu diperhatikan penulis agar pilihan kata yang tepat sesuai dengan konteks dan tujuannya. Kesepuluh hal tersebut dapat adalah sebagai berikut.

  • Bedakan secara Cermat Kata yang Bermakna Denotasi dan Konotasi. Dalam menulis karya ilmiah, penulis harus memperhatikan konteks penulisannya sehingga tidak terjadi kesalahan pemilihan kata. Jika penulis hanya menginginkan pengertian dasar, ia harus memilih makna yang denotatif; kalau penulis menghendaki reaksi emosional tertentu, ia harus memilih kata konotatif sesuai dengan sasaran yang akan dicapainya itu.
  • Bedakan secara Cermat Kata-kata yang Hampir Bersinonim. Kata-kata yang bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Karena itu, penulis atau pembicara harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan.
  • Hindari Kata-kata Ciptaan Sendiri. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa terutama tampak dari penambahan kosakata baru namun hal itu tidak berarti bahwa setiap orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk pertama kali karena dipakai oleh orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila anggota masyarakat lain menerima kosakata itu, maka kata itu lama-kelamaan akan menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini.
  • Bedakan Kata-kata yang Mirip dalam Ejaan. Bila penulis sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, maka akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya: bahwa—bawah—bawa, interferensi—inferensi, karton—kartun, preposisi—proposisi, korporasi—koperasi, dan sebagainya.
  • Waspada terhadap Penggunaan Akhiran Asing. Perhatikan penggunaan: favorable—favorit, idiom—idiomatik, progres—progresif, kultur—kultural, dan sebagainya.
  • Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatik: ingat akan bukan ingat terhadap; berharap, berharap akan, mengharapkan bukan mengharap akan; berbahaya, berbahaya bagi, membahayakan sesuatu bukan membahayakan bagi sesuatu; takut akan, bukan menakuti sesuatu (lokatif).
  • Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat dalam menggambarkan sesuatu daripada kata umum.
  • Mempergunakan kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.
  • Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
  • Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

3. Menulis Kalimat yang Tidak Utuh

Bahasa karya ilmiah Bahasa Indonesia yang baku menurut standar ilmiah yang mengacu pada Kamus Umum Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan suplemen-suplemen terbaru. Menulis karya ilmiah yang komunikatif sangat penting agar tujuan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan jelas dan jernih.

Beberapa kesalahan kalimat, yang disebabkan karena menulis kalimat yang tidak utuh, pemakaian bentuk kata yang rancu, pemakaian keterangan yang tidak lengkap, urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia, pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat, dan pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.

4. Menulis Kalimat yang Rancu

Kesalahan kalimat dimungkinkan karena penulis (pemakai bahasa) mengacaukan dua macam pengungkapan kalimat atau lebih, misalnya:

Meskipun Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Yang dirancukan dalam kalimat tersebut adalah pemakaian sekaligus kata meskipun dan tetapi dalam sebuah kalimat. Seharusnya kalimat, di atas ditulis seperti berikut ini:

Meskipun Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

Atau:

Negara itu merupakan penghasil kapas nomor satu di dunia, tetapi harga tekstil untuk keperluan rakyatnya sangat tinggi.

5. Kesalahan Urutan Kata

Kesalahan menulis kalimat dapat juga terjadi karena urutan katanya tidak sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia.

Contohnya:

  1. Di sekolah-sekolah sering kita mendengar lagu “Indonesia Raya”. 
  2. Diajarkan kepada mereka hal-hal baru mengenai dunia botani. 
  3. Bisa juga guru membiarkan murid-muridnya berkembang sendiri. 

Kalimat tersebut di atas seharusnya ditulis seperti berikut ini:

  1. Kita sering mendengar lagu “Indonesia Raya” di sekolah-sekolah.
  2. Hal-hal baru mengenai dunia botani diajarkan kepada mereka.
  3. Guru bias juga membiarkan murid-muridnya berkembang sendiri.

6. Pemakaian Ungkapan Penghubung

Yang dimaksud dengan kata atau penghubung dalam hal ini adalah semua kata atau ungkapan yang digunakan oleh penulis untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan kalimat satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung antar bagian kalimat yang lazim digunakan, yaitu: supaya, meskipun, sebagai, karena, dan bahwa

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, beberapa kesalahan sering ditemukan, yaitu semakin kaburnya batas pemakaian penghubung antar kalimat.

Contoh:

  1. Pak Susilo sedang menghadapi persoalan besar di kantornya. Tapi ia dengan sabar menyelesaikannya.
  2. Kabupaten Gunungkidul dikenal dengan musik campur sarinya. Yaitu musik tradisional yang diaransemen dengan alat musik modern.

Kata tapi dan yaitu yang seharusnya berfungsi sebagai penghubung antar bagian kalimat, dapat juga sebagai penghubung antarkalimat. Dengan demikian, kalimat di atas seharusnya:

  1. Pak Susilo sedang menghadapi persoalan besar di kantornya tetapi ia dengan sabar menyelesaikannya.
  2. Kabupaten Gunungkidul dikenal dengan musik campur sari, yaitu musik tradisional yang diaransemen dengan alat musik modern.

Ungkapan penghubung yang berfungsi menghubungkan antarkalimat tidak banyak jumlahnya. Yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, antara lain: oleh, karena itu, namun, kemudian, setelah itu, bahkan, selain itu, sementara itu, walaupun demikian, sehubungan dengan itu.

Kesalahan pemakaian ungkapan penghubung antarkalimat sama halnya dengan kesalahan pemakaian kata penghubung antar bagian kalimat yaitu pemakaian kedua jenis penghubung yang kurang jelas.

Contoh:

  1. Saya tidak sependapat dengan mereka, namun demikian saya tidak akan menentangnya.
  2. Yovie Widianto piawai menciptakan lagu bahkan ia sering mendapat penghargaan dalam bidang musik.

Kalimat di atas seharusnya ditulis sebagai berikut:

  1. Saya tidak sependapat dengan mereka. Namun, saya tidak akan menentangnya.
  2. Yovie Widianto piawai menciptakan lagu. Bahkan ia sering mendapat penghargaan dalam bidang musik.
29 Okt 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT
01 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SENIN
02 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SELASA
03 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-RABU
04 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-KAMIS
05 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT