Copyright 2021 - Custom text here

Silahkan Masuk atau Login mengunakan Akun Website Anda Untuk Mendapatkan Materinya. Jika Belum Silahkan Registrasi. Untuk Mendaftar atau Registrasi Silahkan Klik Tombol Ini Kembali >>>>

PrakPerlintan 0804IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA: Modul-08

KOMPETENSI DASAR

  1. Mengenal dan mengidentifikasi spesies gulma yang bersaing bersaing dan mengganggu tanaman budidaya, serta mengidentifikasi populasi gulma secara kuantitatif.
  2. Melakukan analisis vegetasi tersebut dengan menggunakan metode yang umum dipakai.
  3. Menentukan komposisi jenis atau spesies gulma dan dominansinya untuk pengambilan keputusan pengendalian gulma secara tepat sesuai prinsip PHT.

DASAR TEORI

Gulma sering menimbulkan berbagai masalah dalam lahan pertanian. Kerusakan tanaman atau penurunan produksi pertanian akibat gulma, pada umumnya, memiliki korelasi yang searah dengan populasi gulma itu sendiri. Dalam hal ini, faktor yang paling tampak adalah perebutan penguasaan sarana tumbuh, ruang gerak dan nutrisi antara tanaman dan gulma. Posisi gulma sebagai tumbuhan yang tidak diinginkan menyebabkan pengendalian gulma mendapat perhatian lebih. Salah satu cara untuk mengetahui cara tepat dalam pengendalian gulma adalah dengan analisis vegetasi.

Vegetasi dapat diartikan sebagai komunitas tumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Komposisi vegetasi sering kali berubah seiring dengan berjalannya waktu, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Perubahan vegetasi ini mendorong perlu dilakukannya analisi vegetasi. Analisis vegetasi merupakan suatu cara untuk menemukan komposisi jenis vegetasi dari yang paling dominan hingga tidak dominan. Keadaan vegetasi yang diamati berupa bentuk vegetasi seperti rumput, semak rendah, tumbuhan menjalar, herba, maupun tumbuhan dalam hamparan yang luas. 

Dalam kaitannya dengan gulma, analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma- gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Populasi gulma yang bersifat dominan ini nantinya dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengendalian gulma.

Tujuan Analisis Vegetasi Gulma

Analisis vegetasi bertujuan sebagai berikut (Prawoto, dkk, 2008):

  1. Untuk mengetahui komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan. Biasanya hal ini dilakukan untuk keperluan perencanaan, misalnya untuk memilih herbisida yang sesuai.
  2. Untuk mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi. Hal ini penting misalnya untuk membandingkan apakah terjadi perubahan komposisi vegetasi gulma sebelum dan setelah dilakukan pengendalian dengan cara tertentu. 

Konsep Analisis Vegetasi Gulma

Konsepsi dan metode analisis vegetasi gulma sangat beragam dan ditentukan oleh:

  1. Keadaan vegetasi. Terdiri dari struktur dan komposisi vegetasi (semak rendah, menjalar, rumput herba, saling berjalin atau bertumpuk, bergerombol atau berpencar, hamparan yang luas atau sempit).
  2. Tujuan analisis vegetasi. Apakah untuk mempelajari tingkat suksesi gulma atau evaluasi hasil pengendalian. Yang termasuk dalam evaluasi hasil pengendalian misalnya perubahan komposisi jenis gulma akibat penerapan metode pengendalian tertentu atau evaluasi percobaan herbisida untuk menentukan pergeseran jenis gulma yang terjadi di lapangan.

Data yang diperoleh melalui analisis vegetasi dapat berupa data kualitatif, misalnya penyebaran, stratifikasi, periodesitas, maupun data kuantitatif berupa jumlah, ukuran, bobot, luas daerah yang ditumbuhi (tingkat penutupan gulma), dan lain-lain sebagai penjabaran dari pengamatan petak contoh di lapangan.

Metode Analisis Vegetasi Gulma

Metode analisis vegetasi yang lazim digunakan ada 4 macam yaitu estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik (Tjitrosoediro dkk. 1984), yaitu metode kuadrat, metode estimasi visual, metode garis, dan metode titik

A. Metode Kuadrat

PrakPerlintan 0806Kuadrat adalah luas yang dihitung dalam satuan kuadrat (m2, cm2, dan sebagainya). Bentuk kuadrat bermacam-macam seperti lingkaran, segi empat, segi tiga dan bujur sangkar. Dalam pelaksanaan di lapangan, lebih sering digunakan bujur sangkar.

Besaran atau peubah yang dapat diukur menggunakan metode ini adalah Kerapatan dan Dominansi (JND) atau SDR (summed dominance ratio), dengan batasan sebagai berikut: 

  1. Kerapatan Mutlak (KM): jumlah individu jenis gulma tertentu dalam petak contoh
  2. Kerapatan Nisbih (KN): kerapatan mutlak jenis gulma tertentu dibagi total kerapatan mutlak semua jenis gulma 
  3. Dominansi Mutlak (DM): tingkat penutupan, luas basal, bobot kering, atau volume jenis gulma tertentu dalam petak contoh 
  4. Frekuensi Mutlak (FM): jumlah petak contoh yang memuat jenis gulma tertentu 
  5. Frekuensi Nisbih (FN): frekuensi mutlak jenis gulma tertentu dibagi total frekuensi mutlak semua jenis gulma 
  6. Nilai Penting (NP): jumlah nilai semua peubah nisbih yang digunakan
  7. SDR: nilai penting dibagi jumlah peubah nisbih

NP dan SDR dapat dihitung berdasarkan dua atau tiga peubah di atas, misalnya dominansi dengan frekuensi, kerapatan dengan frekuensi, atau dominansi, kerapatan, dan frekuensi. Makin banyak peubah yang digunakan makin mendekati nilai kebenaran yang akan diduga.

SDR menggambarkan kemampuan suatu jenis gulma tertentu untuk menguasai sarana tumbuh yang ada. Semakin besar nilai SDR maka gulma tersebut semakin dominan. Apabila nilai SDR diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah, semua gulma harus diberi nomor urut walaupun nilai SDR-nya sama, maka urutan SDR tersebut menggambarkan komposisi jenis gulma yang ada pada areal pengamatan.

PrakPerlintan 0803B. Metode Estimasi Visual

Estimasi visual dilakukan berdasarkan pengamatan visual atau dengan cara melihat dan menduga parameter gulma yang diamati, misalnya tingkat penutupan, kelimpahan, dan distribusi gulma. Peubah tersebut dikelompokkan dalam dominansi dan frekuensi. Perhitungan dapat dilakukan seperti contoh pada metode kuadrat. Cara ini berguna apabila vegetasi gulma yang diamati cukup merata dan seragam serta waktu yang tersedia terbatas. Karena metode ini hanya mengandalkan penaksiran secara visual, maka akan dijumpai beberapa kelemahan yaitu:

  1. Pengamat cenderung menaksir lebih besar terhadap gulma yang menyolok pandangan mata, misalnya karena warna daun atau bunga yang cerah atau tekstur daun besar/lebar akan dinilai lebih dominan.
  2. Pengamat cenderung menilai jenis gulma yang sulit dikenali atau kurang menarik penmpakannya dengan nilai taksiran yang lebih rendah, misalnya karena tekstur daun yang halus atau sempit.
  3. Hasil yang diperoleh kurang mewakili populasi yang diamati, baik jenis gulma maupun penyebarannya, karena pengamatan atau penaksiran dilakukan dari “jauh”.

Oleh karena banyaknya kelemahan cara ini, maka metode ini hanya layak dilakukan oleh orang yang telah berpengalaman.

C. Metode Garis Atau Rintisan

Metode ini sebetulnya mirip dengan metode kuadrat, hanya saja petak contoh yang digunakan berukuran memanjang berupa mistar/meteran atau tali berskala diletakkan di atas vegetasi gulma. Meteran atau tali tersebut disebut garis atau rintisan. Metode ini sesuai untuk diterapkan pada vegetasi dengan corak populasi rapat, rendah, dan berkelompok dengan batas yang jelas.

Apabila di bawah kelompok vegetasi jenis tertentu ditemui jenis gulma yang lain, maka masing- masing kelompok dihitung sendiri-sendiri. Dan apabila dalam suatu rintisan terdapat beberapa kelompok gulma sejenis, maka panjang rintisan gulma tersebut adalah penjumlahan dari panjang rintisan masing-masing kelompok gulma sejenis tersebut.

Besaran atau peubah yang dapat diukur dan dihitung pada analisis vegetasi dengan metode garis adalah:

  • Kerapatan Mutlak (KM): jumlah individu jenis gulma tertentu dalam kelompok yang dilalui rintisan
  • Dominansi Mutlak (DM): jumlah panjang rintisan yang melalui jenis gulma tertentu
  • Frekuensi Mutlak (FM): jumlah rintisan yang memuat jenis gulma tertentu

Catatan: Kerapatan Nisbi (KN), Dominansi Nisbi (DN), Frekuensi NIsbi (FN), Nilai Penting (NP), dan Summed Dominance Ratio (SDR) dapat dihitung seperti pada metode kuadrat.

D. Metode Titik

Metode titik merupakan variasi dari metode kuadrat yang diperkecil hingga tak terhingga. Metode ini efektif digunakan untuk analisis vegetasi gulma dengan corak vegetasi rendah, rapat, membentuk anyaman/jalinan sehingga tidak jelas batas gulma yang satu dengan yang lainnya. Ujung titik berperan sebagai penunjuk secara tepat untuk tiap jenis gulma. Alat yang digunakan berupa kerangka dengan deretan jarum-jarum berjarak sama antara 5-10 cm. Jika jarum ditekan ke bawah, maka hanya jenis gulma yang bagian batangnya terkena jarum itu yang dihitung. Jumlah jarum yang mengenai batang suatu jenis gulma menggambarkan tingkat dominansi gulma tersebut. Cara ini praktis dan cepat.

Untuk memudahkan aplikasi di lapangan, ukuran kerangka yang biasa digunakan adalah panjang 1 m dan jarak antara jarum 10 cm. dengan demikian, dalam suatu kerangka terdapat 10 jarum yang terbuat dari baja atau jeruji sepeda.

Peubah yang dicatat dengan metode ini adalah DM (jumlah jarum yang mengenai gulma tertentu) dan FM (jumlah kerangka yang memuat jenis gulma tertentu). Kerapatan gulma tidak dapat diukur dengan metode ini.

Catatan: DN, FN, NP, dan SDR dapat dihitung seperti perhitungan pada metode kuadrat.

ALAT DAN BAHAN

Lahan sawah dan lahan kering, alat Square method ukuran 50 x 50 cm, panduan bergambar deskripsi gulma, kantong plastik, alat tulis, kantong kertas, oven, timbangan analitis, kertas label, lem kertas, tali rafia, patok, scientific calculator, lembar kerja atau panduan praktikum.

ORGANISASI PRAKTIKUM

  1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil (setiap kelompok 3-5 orang, tergantung jumlah mahasiswa).
  2. Tiap-tiap kelompok mengisi form yang ada pada lembar kerja dan mendiskusikannya.
  3. Dosen/teknisi membantu dalam melaksanakan praktek ini.

PrakPerlintan 0805PROSEDUR KERJA

E.1. PROSEDUR PENGAMBILAN ATAU PENGUMPULAN DATA

  1. Lemparkan kuadran sebanyak 3 kali pada lahan praktek untuk membuat petak contoh dengan ukuran 50 x 50 cm.
  2. Amati penutupan (dominansi) gulma dalam petak contoh tersebut.
  3. Tentukan dominansi (%) setiap gulma (teki, rumput, daun lebar) yang ada secara visual dan catat hasilnya dalam Lembar Pengamatan.
  4. Cabut semua gulma tersebut dan masukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label sesuai jenis lahan dan nomor petak contohnya.
  5. Cuci atau bersihkan gulma dari sisa-sisa kotoran lain atau tanah.
  6. Lakukan identifikasi jenis gulma tersebut berdasarkan ciri morfologinya, yaitu dikelompokkan berdasarkan gulma teki-tekian, gulma rumput, dan gulma daun lebar. Gunakan Buku deskripsi gulma untuk membantu dalam identifikasi.
  7. Hitung jumlah setiap jenis gulma tersebut, lalu masukkan dalam kantong kertas yang sudah diberi label berisi jenis gulma, nomor petak, dan nama anda
  8. Setiap jenis gulma yang ada dalam kantong kertas, dikeringkan dalam oven, selama dua hari, sampai kering konstan.
  9. Setelah dua hari peng-ovenan, gulma dikeluarkan, lalu ditimbang beratnya.
  10. Selanjutnya, lakukan analisis data, dimulai dengan menentukan kerapatan, frekuensi, dan dominasi masing-masing jenis gulma.

E.2. PROSEDUR PEHITUNGAN

Kerapatan Suatu Jenis Gulma

  • Kerapatan Mutlak. Ditentukan dengan menghitung banyaknya suatu jenis gulma dalam setiap petak contoh: KMn = [(Jumlah Gulma-n) ÷ (Petak Contoh)], n adalah jenis gulma yang diamati
  • Kerapatan Relatif. Ditentukan dengan membandingkan kerapatan mutlak suatu jenis gulma terhadap total kerapatan mutlak semua jenis gulma: KRn = [(KMn) ÷ (Total KMn)] × 100%, n adalah jenis gulma yang diamati

Frekuensi Suatu Jenis Gulma

  • Frekuensi Mutlak. Ditentukan dengan membandingkan banyaknya petak contoh suatu jenis Gulma ditemui terhadap seluruh petak contoh yang dibuat: FMn = [(∑ Petak Contoh Gulma-n ditemui ) ÷ (∑ Semua Petak Contoh)], n adalah jenis gulma yang diamati. 
  • Frekuensi Relatif. Ditentukan dengan membandingkan frekuensi suatu jenis gulma tertentu terhadap total frekuensi semua jenis gulma: FRn = [(FMn)/(Total FMn)] × 100%. n adalah jenis gulma yang diamati

Dominansi Suatu Jenis Gulma

  • Dominansi Mutlak. Ditentukan melalui berat kering suatu jenis gulma dalam setiap petak contoh: DMn = [(Berat kering Gulma-n)/(Petak Contoh), n adalah jenis gulma yang diamati
  • Dominansi Relatif. Ditentukan dengan membandingkan dominansi mutlak suatu jenis gulma terhadap total dominansi mutlak semua jenis gulma: DRn = [(DMn)/(Total DMn] × 100%, n adalah jenis gulma yang diamati

E.3. PROSEDUR ANALISIS DATA VEGETASI GULMA

Indeks nilai penting (INP) Gulma

  • INP digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya, atau dengan kata lain INP penting untuk menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas.
  • INP dihitung berdasarkan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif (Mueller-Dombois & Ellenberg, 1974; Soerianegara & Indrawan, 2005) dan dirumuskan sebagai berikut: INP = KR + FR + DR, dimana: KR = kerapatan relatif (%), FR = Frekuensi relatif (%), DR = Dominansi relatif (%).

Summed Dominance Ratio (SDR) atau Perbandingan Nilai Penting (PNP)

  • SDR atau PNP menunjukkan perbandingan nilai INP terhadap jumlah besaran yang membentuknya.
  • Nilai SDR tidak pernah lebih dari 100% atau antara (1 – 100) % dan dirumuskan sebagai berikut: SDRn = [(INPn)/(Jumlah Peubah relatif)], dimana: n adalah jenis gulma yang dianalisis

EVALUASI

  1. Bagaimana cara mengidentifikasi gulma dan menentukan populasi gulma?
  2. Apa saja metode yang umumnya digunakan dalam analisis vegetasi gulma?
  3. Bagaimana melakukan analisis vegetasi gulma?

Kembali >>>>

DAFTAR PUSTAKA

  • Adriadi Ade, Chairul, Solfiyeni. Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais quineensis jacq.) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 1(2): 108-115.
  • Alimuddin La Ode. 2010. Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan Produksi Terbatas di Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. AGRIPLUS 20: 114-125.
  • Azmi M. 2002. Weed succession as affected by repeated applications of the same herbicide in direct-seeded rice field. J. Trop. Agric. and Fd. Sc. 30 (2): 151–161.
  • Cholid Mohammad. 1987. Pengaruh Jarak Tanam dan Cara Pengendalian Gulma terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Giycine max ( L. ) Merrill ). Laporan Karya Ilmiah Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  • Dessy Natalia, Slamet Budi Yuwono, Rommy Qurniati. 2014. Potensi Penyerapan Karbon pada Sistem Agroforestri di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Jurnal Sylva Lestari 2 (1): 11—20.
  • Devasenapathy P, T. Ramesh, B. Gangwar. 2008. Efficiency Indices for Agriculture Management Research. New India Publishing Agency. All Rights Reserved www.bookfactoryindia.com
  • Indah Asmayannur, Chairul, Zuhri Syam. 2012. Analisis vegetasi dasar di bawah tegakan Jati Emas ( Tectona grandisL.) dan tegakan Jati Putih (Gmelina arboreaRoxb.) di Kampus Universitas Andalas. Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 1 (2): 173-178
  • Ipori Isa, Sharifah Mazenah Wan Yusuf, Idris AS, Cheksum Tawan, Maizatul SM, Ismail Jusoh. 2013. Diversity and Carbon Stock of Herbaceous Plants in Newly Planted Oil Palm Area in Belaga, Sarawak. Work Paper. Universiti Malaysia Sarawak, 94300 Kota Samarahan, Sarawak, Malaysia.
  • Juraimi Abdul Shukor, A. H. Muhammad Saiful, M. Kamal Uddin, A. R. Anuar, M Azmi. 2011. Diversity of weed communities under different waterregimes in bertam irrigated direct seeded rice field. Australian Journal of Crop Science (AJCS) 5(5):595-604.
  • Kanui Mary. 2014. Variety for security: A case study of agricultural, nutritional and dietary diversity among smallholder farmers in Western Kenya. LCIRAH Seminar, 10th January 2014.
  • Kastanja Ariance Y. 2011. Identifikasi Jenis dan Dominansi Gulma pada Pertanaman Padi Gogo (Studi Kasus di Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera Utara). Jurnal Agroforestri 4(1): 40-46.
  • Kawada Kiyokazu, Mayu Kurosu, Yunxiang Cheng, Tsagaanbandi TsSabuekhuu, Wuyunna, Toru Nakamura, Ichiroku Hayashi. 2008. Floristic Composition, Grazing Effects and Above-ground Plant Biomass in the Hulunbeier Grasslands of Inner Mongolia, China. J. Ecol. Field Biol. 31 (4): 297-307.
  • Moenandir J. 1996. Ilmu Gulma Dalam Sistem Pertanian. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
  • Rohman Fatchur, I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA, Malang
  • Syafei Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB
  • Sebayang H.T. 2005. Gulma dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. Unit Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang
  • Setiadi D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.
  • Sukman Y., Yakup, 1995. Gulma dan Tehnik Pengendaliannya. Rajawali Press, Jakarta.
  • Tjitrosoedirdjo S., H. Utomo, J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT Gramedia, Jakarta. 

 

29 Okt 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT
01 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SENIN
02 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SELASA
03 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-RABU
04 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-KAMIS
05 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT