Copyright 2021 - Custom text here

Silahkan Masuk atau Login mengunakan Akun Website Anda Untuk Mendapatkan Materinya. Jika belum, silahkan registrasi. Untuk mendaftar atau registrasi Silahkan Klik Tombol Ini Kembali >>>>

BEBERAPA HAL PENTING DALAM PENERAPAN PHT

Hal yang penting diperhatikan dalam penerapan PHT adalah mempelajari ekosistem pertanian, menetapkan Ambang Ekonomi (AE), waktu, dan cara PHT.

A. Ekosistem Pertanian (Agroekosistem)

Lingkungan lahan pertanian dapat dikelompokkan menjadi dua kom-ponen besar, yaitu "komponen biotik" dan "komponen abiotik". Komponen biotik terdiri atas tanaman budi daya, gulma, musuh alami, organisme pengganggu tanaman, dan organisme lain yang hidup pada lingkungan tersebut. Adapun yang termasuk ke dalam komponen abiotik, di antaranya, adalah tanah, air, dan iklim. Suatu sistem yang terbentuk oleh interaksi dina-mik antara komponen biotik dan komponen abiotik disebut "ekosistem".

Tanaman dapat tumbuh dengan baik bila keadaan unsur hara dalam ta¬nah cukup dan seimbang, tidak ada saingan (bebas gulma, tidak ada organ¬isme pengganggu (bebas hama dan penyakit), serta iklimnya mendukung. Populasi hama dapat berkembang pesat bila tanaman sebagai makanannya tersedia, iklimnya cocok, dan tidak ada musuh alami. Musuh alami bisa berkembang biak dengan baik bila ada hama tanaman sebagai mangsanya, dan iklimnya cocok. Agroekosistem seperti ini perlu dipelajari secara seksama agar dapat diketahui lebih jauh faktor-faktor apa saja yang dapat menyebab-kan timbulnya ledakan populasi hama, serta bagaimana sebaiknya mengelola lingkungan pertanian yang sesuai dengan prinsip-prinsip PHT.

B. Ambang Ekonomi (AE)

Ambang ekonomi ialah kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah peningkatan populasi mencapai tingkat yang merugikan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai ambang ekonomi suatu hama, di antaranya adalah jenis tanaman, jenis hama, agroekosistem, pandangan konsumen terhadap komoditas, waktu, dan lain-lain. Setiap hama memiliki perbedaan sifat, daya reproduksi, keinginan terhadap kondisi ling-kungan yang optimal, juga kesenangannya terhadap jenis tanaman. Ada ta¬naman yang amat disukai, yang kurang disukai; ada pula jenis tanaman yang sama sekali tidak disenangi.

Perhitungan prakiraan kerugian amat dipengaruhi oleh pandangan konsumen terhadap komoditas tersebut. Bila minat konsumen terhadap komoditas ter¬sebut rendah, kehilangan sedikit hasil saja sudah merupakan kerugian.Usaha mengetahui nilai ambang ekonomi suatu hama dapat ditempuh atas beberapa dasar sebagai berikut:

  1. Atas dasar pengalaman setempat yang diperoleh dalam jangka waktu lama sehingga pengalaman tersebut dapat diyakini kebenarannya bahwa tingkat kepadatan populasi tertentu, bila tidak dikendalikan, akan menimbulkan kerugian ekonomi
  2. Atas dasar ketetapan di daerah atau negara lain jika memang nilai ambang ekonomi untuk daerah tersebut belum ada
  3. Atas dasar penelitian: nilai ambang ekonomi hasil penelitian ini diang-gap paling baik karena didasarkan atas analisis faktor-faktor penentu daerah tersebut, yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah-langkah penetapan nilai ambang ekonomi adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan hama utama
  2. Menentukan kepadatan populasi hama
  3. Menetapkan besarnya kerugian tanaman (bagian tanaman atau hasilnya)
  4. Mencari hubungan antara kepadatan dan kerusakan
  5. Memperkirakan kerusakan dalam nilai uang
  6. Mencari hubungan antara populasi dengan nilai uang
  7. Memperhitungkan biaya pengendalian per unit area (bahan, alat, tenaga)
  8. Menetapkan kepadatan populasi hama (yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi) setara dengan biaya pengendalian: tingkat kepadatan yang diperoleh merupakan nilai ambang ekonomi (Sudarwohadi, 1985).

Nilai ambang ekonomi merupakan patokan kepadatan populasi dalam monitoring mingguan, untuk mewaspadai perkembangan hama. Hal ini merupakan taktik ampuh untuk menghindari kerugian ekonomi karena perkembangan kepadatan populasi hama dapat dideteksi seawal mungkin. Perkiraan nilai ambang ekonomi beberapa hama tanaman disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Ambang Ekonomi Beberapa Hama Tanaman (sewaktu-waktu bisa berubah)

Jenis Tanaman
Jenis Hama
Nilai Ambang Ekonomi
Padi Penggerek batang  1 kelompok telur/m2 pada stadium vegetatif di petak sampel
 5-10% tunas mati (sundep)
 2 ekor ngengat /m2
 5 massa telur/100 m2 pada pesemaian
Wereng hijau  10 ekor serangga dewasa/ 4 kali ayunan jaring di petak sampel
 2 ekor serangga dewasa/1 kali ayunan jaring di petak sampel
Wereng cokelat  1 ekor imago/tunas di petak sampel
 10 ekor nimfa/rumpun
 5 ekor imago/rumpun pada stadium vegetatif
 10 ekor imago/rumpun pada stadium generatif
Ulat grayak  2 ekor/m2 di petak sampel
Tikus  5% tanaman sampel muda(sebelum bunting) terpotong
Jagung Penggerek tongkol  3 tongkol rusak/50 tanaman sampel pada saat baru terbentuk buah
Penggerek batang  1 kelompok telur/30 tanaman
Hama bubuk  3 ekor/kg biji
Kedelai Lalat kacang  1% intensitas serangan pada stadium vegetatif
Penggerek polong  2% intensitas serangan
Perusak daun  12,5% intensitas serangan pada stadium generatif
Kepik hijau  3 ekor/5 tanaman sampel umur 45 hari
Kacang tanah Perusak daun  12,5% intensitas serangan
Kentang Kutu daun persik  10 ekor nimfa/35 daun sampel
Penggerek umbi  2 ekor larva/tanaman sampel
Kubis   Ulat plutella   1 larva/10 tanaman sampel
 40% intensitas serangan
Ulat croci   1 larva/10 tanaman sampel
 40% intensitas serangan
Kopi Penggerek buah  5% atau 10 buah dari 200 butir buah sampel yang diamati, terserang
Kutu dompolan  10 ekor kutu pada tangkai kuncup bunga, kuncup, dan cabang sampel
Tebu Penggerek pucuk  5% intensitas serangan
Kapas Wereng kapas  2 ekor/lembar daun muda
Cengkeh Penggerek batang  1 lubang gerekan basah/pohon sampel
Kakao Penggerek buah  1 buah terserang/5 pohon sampel
Kelapa  Ulat artona  5 ekor larva/pelepah/pohon sampel di daerah pengamatan
Kumbang brontispa  20 ekor stadium larva atau pupa atau imago/pucuk pohon sampel
Ulat Hidari irava  5 ekor larva/pohon sampel
Kumbang oryctes   15-25% daun kelapa sampel terserang
 Lebih dari 1 ekor lundi di bawah pohon kelapa sampel
Kelapa sawit Ulat api (Darna trima)  30 larva/pelepah daun tanaman muda
 60 larva/pelepah daun tanaman dewasa
Ulat api (Setora nitens)  5 larva/pelepah daun tanaman muda
 10 larva/pelepah daun tanaman dewasa

 

C. Waktu dan Cara Pengendalian Hama Terpadu

Komponen teknik budi daya tanaman, sejak pemilihan benih atau bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, pemberian air secara teratur, pemupukan seimbang sesuai dengan dosis, penyiangan, dan seterusnya sudah merupakan rangkaian kegiatan pengendalian hama terpadu, yang ditujukan untuk menciptakan kondisi tanaman budi daya yang sehat dan kuat. Sejalan dengan prinsip dasarnya, waktu pelaksanaan PHT harus dimulai dari awal persiapan tanam sampai hasil tanaman tersebut disimpan dalam gudang penyimpanan. Adapun keserasian komponen yang dipadukan tergantung pada jenis hama utama yang ada di lahan pertanaman. Di bawah ini contoh perpaduan komponen taktik pengendalian pada beberapa hama tanaman.

1. Pengendalian hama tikus adalah perpaduan komponen-komponen sebagai berikut

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Sanitasi lapangan
  • Tanam serempak (minimal dalam topografi yang sama);
  • Pemanfaatan predator
  • Pemasangan umpan beracun;
  • Pengemposan.

2. Pengendalian hama wereng cokelat pada tanaman padi adalah perpaduan komponen-komponen sebagai berikut:

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Pemilihan varietas resisten
  • Tanam serempak
  • Pergiliran tanaman (rotasi tanaman)
  • Pengamatan kepadatan populasi
  • Penyemprotan dengan insektisida selektif
  • Eradikasi tanaman yang terserang berat

3. Pengendalian hama penggerek umbi kentang adalah perpaduan kom¬ponen-komponen sebagai berikut:

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Penanaman varietas resisten
  • Rotasi tanaman
  • Pembumbunan umbi menjelang panen
  • Sanitasi umbi yang terserang
  • Penggunaan insektisida, baik di lapangan dengan Curacron 500 EC atau Ekalux 25 EC, maupun di gudang dengan Karbarill.

4. Pengendalian ulat daun kubis adalah perpaduan komponen-komponen sebagai berikut:

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Penentuan waktu tanam yang tepat (pada bulan Februari umumnya berhasil baik): hujan yang tinggi dapat menekan populasi ulat plutella
  • Tumpang sari dengan tanaman tomat, jagung, bawang
  • Rotasi dengan tanaman yang tidak sefamili
  • Pemanfaatan predator (burung gereja, prenjak, capung, dan lain-lain), parasit Diode gma eucerophaga, D. Semiclausum dan Cotesia plutella
  • Penggunaan insektisida mikrobia, seperti Dipel WP (bahan aktifnya adalah Bacillus thuringiensis var. kurstaki.

5. Pengendalian hama Artona catoxantha pada tanaman kelapa adalah perpaduan komponen-komponen sebagai berikut:

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Pemangkasan daun yang terserang (kecuali daun muda)
  • Sanitasi kebun
  • Pemanfaatan musuh alami seperti parasitApanteles Artonae, Pticnomya remota
  • Penggunaan insektisida

6. Pengendalian kumbang kelapa adalah perpaduan komponen-komponen sebagai berikut:

  • Pelaksanaan teknik budi daya yang baik
  • Pembongkaran timbunan kotoran, sampah, membinasakan larva dan kepompongnya
  • Membakar timbunan sampah atau sanitasi kebun
  • Pemanfaatan musuh alami
  • Penggunaan insektisida
  • Penebangan pohon yang terserang berat: pucuknya dibelah, lalu diberi Basudin 10 G sebagai perangkap (traping).

 Kembali >>>>

REFERENSI

Untung, K. 1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.
Untung, K. 1993. Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.
Untung, K., 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta


Referensi & Link terkait:

Informasi OPT OPT Buah Rice Knowledge Bank Managing Insect Pest Weed Photo Gallery Insect Explained
IPM Images BB-Padi Materi Penyuluhan Insects - Mites - Disease Natural Enemies Gallery AgroAltlas: Diseases-Pests-Weeds
OPT Flori Klasifikasi dan Ordo Serangga Biological Control InfoNet: Natural Enemies Pesticide Information Introduction to Insect Anatomy
OPT Sayur Balai Penelitian Tanaman Serealia Pest and Disease management Integrated Pest Management Biological Control Site Plantwise Knowledge Bank
OPT Obat Dirjen Perkebunan Biocontrol: Natural Enemies Agricultural Pests Tutorial General Entomology Aplied Entomology
29 Okt 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT
01 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SENIN
02 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SELASA
03 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-RABU
04 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-KAMIS
05 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT