Copyright 2021 - Custom text here

Silahkan Masuk atau Login mengunakan Akun Website Anda Untuk Mendapatkan Materinya. Jika belum, silahkan registrasi. Untuk mendaftar atau registrasi Silahkan Klik Tombol Ini Kembali >>>>

VERTEBRATA HAMA: TIKUS SAWAH

Hasil gambarVertebrata Hama adalah hewan bertulang belakang yang telah mencapai populasi yang dapat mengakibatkan kerugian secara ekonomis. Hewan Vertebrata yang biasa merugikan petani adalah tikus, tupai, landak, babi hutan, burung, dan primata. Dari hewan vertebrata tersebut, yang selalu merugikan petani akibat serangannya adalah tikus sawah.

Tikus sawah merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen). Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan.

Sumber Gambar: MITALOM.COM

A. Biekologi Tikus Sawah

Tikus sawah digolongkan dalam kelas Vertebrata (bertulang belakang), ordo Rodentia (hewan pengerat), famili Muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.

Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai.

Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.

B. Perilaku Tikus

Perilaku tikus sebagai hama tanaman pertanian dan hama gudang, diantaranya adalah:

  1. Tikus merusak bibit di pesemaian, seekor tikus sawah dapat merusak sebanyak 283 bibit padi per hari
  2. Tikus memotong atau menggigit batang tanaman padi, membentuk sudut potong kurang dari 45 derajat dan masih menyisahkan bagian batang yang tidak terpotong. Seekor tikus sawah dapat merusak sebanyak 283 bibit padi per hari atau 103 batang padi bunting per hari. Pada fase vegetatif, tikus dapat merusak 11-176 batang per malam, 11 batang padi bermalai per malam.
  3. Tikus memakan bahan simpanan dalam gudang dan merusak wadah penyimpan atau karung, serta akibat kotoran dan urine akan menurunkan kualitas bahan simpanan.

C. Gejala Serangan Tikus

Kehadiran tikus pertanaman dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/faeses, lubang aktif, dan gejala serangannya.

1. Gejala Serangan Tikus di Pesemaian

  1. Benih padi yang baru ditabur dimakannya sehingga permukaan bedengan rusak, jumlah benih berkurang, dan sisa benih tampak berserakan.
  2. Benih yang telah berkecambah atau berakar dicabut dan dimakan se­hingga bila pesemaian digenangi, akan tampak potongan akar meng-ambang di permukaan air.
  3. Bibit padi bagian tengah bedengan dipotong dan dimakan sebagian batangnya sehingga bibit tampak seperti baru disabit.

Keterangan Gambar: Gejala Serangan Tikus Sawah

2. Gejala Serangan Tikus di Pertanaman

  1. Pada tanaman muda, bagian tengah petakan tampak gundul karena batang-batang padi dipotong dan dimakan tikus.
  2. Pada fase bunting, malai muda di bagian tengah petakan dimakan melalui kelopak daun. Kadang-kadang bagian tanaman tidak diputuskan semuanya sehingga tampak dari jarak jauh daun-daun berwarna kuning kecokelatan seperti terserang sundep, wereng batang, atau terserang penyakit.
  3. Saat bulir padi mendekati masak, tikus akan memotong dan meleng-kungkan tanaman, kemudian memakan bulirnya. Bekas potongan biasa-nya bersudut ± 45° dengan sebagian kecil tanaman masih terlihat berdiri tegak dan dari jarak jauh tampak tanaman di bagian tengah petakan seperti terbakar, berwarna kecokelat-cokelatan.
  4. Gejala serangan pada tanaman umbi-umbian dan ubi-ubian, terutama ubi jalar ialah tampak adanya lubang-lubang pada guludan, dan di per­mukaan lubang tersebut biasanya berserakan serpihan ubi sisa makan.
  5. Pada buah kelapa, serangan tikus menyebabkan buah berlubang tidak rata, terutama bagian pangkal buah.

3. Gejala Serangan di Gudang

Gejala serangan tikus di tempat penyimpanan diketahui dengan ditemu-kannya lubang atau bolong-bolong pada tempat atau sarana penyimpanan (karung, peti, dan lain-lain), dan di sekitar lubang tersebut biasanya berse­rakan kulit gabah atau serpihan hasil tanaman sisa makan.

D. Pengendalian

Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain, sebagai berikut:

  1. TBS (Trap Barrier System) merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20) m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.  (Selengkapnya bacaSistem bubu TBS dan LTBS)
  2. LTBS (Linear Trap Barrier Systemmerupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap. (Selengkapnya baca: Sistem bubu TBS dan LTBS)
  3. Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunkan pada periode bera dan stadium padi awal vegetative

E. Vertebrata Hama Lainnya

Vertebrata lainnya yang juga menimbulkan kerugian bagi petani adalah: Tikus PohonTupai, Tikus Pohon, Burung (01-02-03-04-05-06), dan Babi Hutan.

Kembali >>>>

REFERENSI

  • Natawigena, H., 1993. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Trigenda Karya. Bandung. Hal: 79-89..
  • Rukmana, R., 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliannya. Kanisius. Yogyakarta. Hal: 110-13.
  • Triharso, 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal: 116-118.

Referensi & Link terkait:

Informasi OPT OPT Buah Rice Knowledge Bank Managing Insect Pest Weed Photo Gallery Insect Explained
IPM Images BB-Padi Materi Penyuluhan Insects - Mites - Disease Natural Enemies Gallery AgroAltlas: Diseases-Pests-Weeds
OPT Flori Klasifikasi dan Ordo Serangga Biological Control InfoNet: Natural Enemies Pesticide Information Introduction to Insect Anatomy
OPT Sayur Balai Penelitian Tanaman Serealia Pest and Disease management Integrated Pest Management Biological Control Site Plantwise Knowledge Bank
OPT Obat Dirjen Perkebunan Biocontrol: Natural Enemies Agricultural Pests Tutorial General Entomology Aplied Entomology
29 Okt 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT
01 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SENIN
02 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-SELASA
03 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-RABU
04 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-KAMIS
05 Nov 2021
08:00AM - 05:00PM
KP-setiap-JUMAT