Selamat Datang di Halaman PERLINTAN - Perlindungan Tanaman - Website Jurusan MPLKMateri Praktek Perlindungan TanamanParasitoid Hama TanamanOPT Tanaman PertanianMateri Kuliah Perlindungan TanamanPredator Hama TanamanMusuh Alami HamaPerlindungan Tanaman adalah usaha untuk melin­dungi tanaman dari ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses hidupnya yang normal, sejak pra-tanam sampai pasca tanam (Djafaruddin, 1996)
Banner UC IPM
Banner Biological Control
Banner Dirjen Pangan
Banner Diren Perkebunan
Banner Dirjen Hortikultura

Yosefus F. da-Lopez, Nina J. Lapinangga, & Jacqualine A. Bunga. (2020). Bahan Ajar Perlindungan Tanaman (MLK22203/2(1-1)) untuk Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering. Website Jurusan MPLK

Burung Pemakan Padi Lonchura sp & Lainnya

Spesies:

Dari lebih dari 70 spesies burung yang ditemukan di sawah, hanya lima spesies di Filipina (dan sekitar 14 di Asia Tenggara) yang diketahui memakan padi. 

Burung pemakan padi mengunyah butiran padi, dan dapat menyebabkan whitehead atau malai tidak terisi. 

Mereka memeras biji-bijian selama fase susu, atau memakan seluruh biji-bijian setelah matang. Kerusakan menunjukkan zat putih susu yang menutupi biji-bijian.

Burung menjadi masalah mulai dari fase pemasakan—saat tanaman padi sudah tumbuh dan mengisi bulir—hingga panen.

Beberapa spesies akan memakan malai dengan cara mendarat di atasnya, dengan bertengger di objek terdekat (seperti pagar atau tiang) atau dengan memakan biji-bijian yang jatuh di tanah saat ladang dipanen. Spesies hama burung paling melimpah selama ini.

Identifikasi

Periksa keberadaan zat seperti susu pada biji-bijian yang dimakan, dan whiteheads dengan biji-bijian yang dibuang. 

Komedo putih juga bisa disebabkan oleh penggerek batang. Untuk memastikan penyebab kerusakan:

  • Dalam kerusakan burung, tidak semua biji-bijian menjadi sekam
  • Pada kerusakan penggerek batang, semua bulir dalam malai menjadi sekam dan malai dapat dicabut dengan mudah

Burung memakan biji pada tahap tanaman seperti susu. Kerusakan yang disebabkan oleh burung yang hinggap di malai menyebabkan beberapa kerugian panen.

Dampak dan Pengendalian Hama Tikus pada Sistem Produksi Padi Irigasi Intensif di Jawa Barat, Indonesia

Pendahuluan

Padi merupakan komoditas pangan utama di Indonesia, baik untuk ketahanan pangan maupun alasan budaya. Namun, produksi padi menghadapi berbagai tantangan, termasuk alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan serangan hama. Di antara semua hama, tikus sawah (Rattus argentiventer) menempati posisi sebagai hama paling merusak. Data tahun 2008 menunjukkan, luas serangan tikus mencapai 138.740 hektar, dengan 1.631 hektar di antaranya mengalami puso. Provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan merupakan daerah yang paling sering mengalami kerusakan parah akibat tikus.

Faktor Pemicu Ledakan Populasi Tikus

Ledakan populasi tikus tidak terjadi secara acak, melainkan dipicu oleh sejumlah faktor:

  1. Peristiwa Iklim yang Tidak Biasa:

    • Kekeringan yang menyebabkan tanam tidak serempak. Contohnya pada El Niño 1997-98 di Karawang, Jawa Barat, yang memperpanjang musim tanam dari biasanya 4-6 minggu menjadi 12 minggu. Hal ini memperpanjang masa reproduksi tikus yang sangat terkait dengan fase pertumbuhan padi.

    • Curah Hujan Tinggi di Luar Musim yang memicu pertumbuhan padi ratun (ratoon) setelah panen. Padi ratun ini menyediakan makanan dan tempat berlindung yang memperpanjang kelangsungan hidup dan reproduksi tikus.

    • Banjir yang memaksa tikus bermigrasi secara massal ke area persawahan yang tidak terdampak, seperti yang terjadi di Desa Citarik, Jawa Barat pada 2007.

  2. Peningkatan Intensitas Tanam:
    Program peningkatan produksi seperti IP Padi 300 (tiga kali tanam setahun) atau IP Padi 400 (empat kali tanam setahun) yang dicanangkan pemerintah, meski bertujuan baik, justru dapat memperparah masalah tikus. Ketersediaan padi yang hampir terus-menerus sepanjang tahun menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan populasi tikus.

  3. Ketidakserempakan Tanam:
    Perbedaan jadwal tanam lebih dari dua minggu antar petak sawah dalam satu hamparan luas merupakan faktor kunci pemicu ledakan tikus. Ketidakserempakan ini memperpanjang "window of opportunity" bagi tikus untuk berkembang biak. Kasus di Lahan Penelitian Pusat Penelitian Padi Indonesia (ICRR) Sukamandi adalah contoh nyata, di mana perbedaan jadwal tanam dengan lahan seed farm di sebelahnya menyebabkan migrasi ribuan tikus setiap tahunnya.

Dampak Ledakan Tikus

Dampak ledakan tikus bersifat multidimensional:

  • Tingkat Nasional: Dapat mengancam stok beras nasional dan ketahanan pangan.

  • Tingkat Petani: Menyebabkan gagal panen, pendapatan menurun, meningkatnya kemiskinan, dan ketergantungan pada pinjaman dengan bunga tinggi. Seperti yang terjadi di Desa Surantih, Sumatera Barat, di mana kepercayaan lokal yang melarang membunuh tikus ("Si Putri") membuat petani hanya mampu menghasilkan 1-2 ton/ha, jauh di bawah rata-rata nasional 4,9 ton/ha.

Strategi Pengendalian yang Efektif: Ecological Rodent Management (EBM)

Penanganan tikus yang reaktif dan tidak terkoordinasi terbukti tidak efektif. Penelitian jangka panjang melahirkan pendekatan Ecological Rodent Management (EBM) atau Pengendalian Tikus Berbasis Ekologi, yang berfokus pada pemutusan siklus hidup tikus dengan memahami ekologinya.

Strategi inti dari EBM adalah:

  1. Tanam Serempak: Menanam dan memanen padi dalam waktu yang bersamaan dalam hamparan yang luas (minimal 100 hektar) untuk mempersempit periode ketersediaan pangan bagi tikus.

  2. Pembersihan Habitat (Sanitasi): Membersihkan pematang dan saluran irigasi dari gulma dan semak yang menjadi tempat bersarang tikus.

  3. Penggunaan Teknologi Perangkap:

    • Trap Barrier System (TBS): Sistem perangkap tetap yang menggunakan tanaman perangkap (ditanam 2-3 minggu lebih awal) yang dikelilingi pagar plastik dan dipasangi bubu. Efektif menangkap tikus yang tertarik pada tanaman yang lebih tua.

    • Linear Trap Barrier System (LTBS): Pagar terpal panjang (min. 100 m) yang dipasang di jalur migrasi tikus (seperti tepi kampung atau tanggul) dan dipasangi bubu. Sangat fleksibel dan efektif menangkap tikus yang sedang berpindah.

Kesimpulan dan Implikasi

Pengalaman di Indonesia memberikan pelajaran penting:

  • Kewaspadaan terhadap Intensifikasi: Program peningkatan intensitas tanam (seperti IP 300/400) harus diiringi dengan strategi pengendalian tikus yang matang untuk mencegah ledakan populasi.

  • Koordinasi dan Aksi Bersama: Keberhasilan pengendalian tikus mutlak memerlukan koordinasi dan aksi kolektif petani dalam skala luas, didukung oleh pendampingan teknis dan manajemen irigasi yang baik.

  • Pendekatan Berkelanjutan: EBM telah terbukti tidak hanya menekan kerusakan dan meningkatkan hasil panen (dapat mencapai 6-8 ton/ha di ICRR), tetapi juga ramah lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada rodentisida.

Kombinasi antara tanam serempak, sanitasi habitat, dan penerapan TBS/LTBS secara tepat merupakan pilar utama dalam menciptakan sistem produksi padi yang berkelanjutan dan tangguh menghadapi ancaman hama tikus di masa depan, terutama dalam konteks perubahan iklim dan tekanan untuk terus meningkatkan produksi.

Sumber: 

Sudarmaji¹, Grant R. Singleton², Peter R. Brown³, Jens Jacob⁴, dan Nuraini Herawati¹

Afiliasi:
¹Indonesian Center for Rice Research, Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, 41256, Jawa Barat, Indonesia
²International Rice Research Institute, DAPO Box 7777, Metro Manila, Philippines
³CSIRO Ecosystem Sciences, GPO Box 284, Canberra, ACT 2601, Australia
⁴Julius Kuehn-Institute, Federal Research Centre for Cultivated Plants, Institute for Plant Protection in Horticulture and Forests, Vertebrate Research, Toppheideweg 88, 48161 Münster, Germany

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Galleri Kebun SUT
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Persiapan Lahan Untuk Budidaya Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Sawi (Kegiatan Pemeliharaan)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pengukuran pH Tanah
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemasangan Tali Ajir Untuk Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Pemasangan Ajir untuk Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Penanaman Tanaman Cabai
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Hortikultura (Kangkung & Buncis)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Aplikasi Pupuk Daun Gandasil-D pada Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Pare, Mentimun & Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering © 2025 Politeknik Pertanian Negeri Kupang - Alamat: Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes, Lasiana, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Telepon: +62380881600 Fax: +62380881601 Email: ppnk@politanikoe.ac.id. - We learn, practice, and be rich - Kami belajar, berlatih, dan menjadi sejahtera - Meup onle ate, mua onle Usif - Designed By JoomShaper