Yosefus F. da-Lopez, Nina J. Lapinangga, & Jacqualine A. Bunga. (2020). Bahan Ajar Perlindungan Tanaman (MLK22203/2(1-1)) untuk Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering. Website Jurusan MPLK
Parmarion martensi merupakan spesies siput setengah telanjang (semi-slug) yang bersifat invasif. Spesies ini berasal dari Asia dan telah menyebar ke kawasan Oseania (termasuk Hawaii dan Fiji) melalui aktivitas perdagangan internasional. Keberadaannya menjadi ancaman biosekuriti serius bagi wilayah-wilayah yang belum terinfestasi.
Morfologi dan Identifikasi
Ciri morfologi khas spesies ini meliputi:
Ukuran Tubuh: Dapat mencapai panjang 45 mm.
Warna Tubuh: Bervariasi dari abu-abu pucat hingga coklat tua.
Cangkang: Berukuran kecil (sekitar 8 x 5 mm), berwarna kekuningan, dan sering tertutup sebagian atau seluruhnya oleh mantel, sehingga menyerupai piring di punggungnya.
Ciri Pembeda: Adanya bubungan (lunas) berwarna krem pucat yang memanjang dari tepi mantel sepanjang ekor.
Tentakel: Pasangan tentakel atas memiliki mata berwarna coklat tua hingga hitam, sedangkan pasangan bawah berwarna coklat/krem.
Gambar 1 (kiri): Tampak samping siput Parmarion martensi, memperlihatkan cangkang yang sebagian tertutup oleh mantel. Kontras warna abu-abu dengan Gambar 2; Gambar 2 (tengah): Siput Parmarion martensi, coklat, dan memperlihatkan cangkang sebagian tertutup oleh mantel, bubungan krim (lunas) di sepanjang ekor, dan antena hitam. Diagram (kanan): Anatomi siput.
Gambar 3 (kiri): Siput Parmarion martensi, memperlihatkan sedikit cangkangnya, tetapi bubungan krim (lunas) di sepanjang ekornya terlihat jelas. Gambar 4 (tengah): Siput Parmarion martensi dengan warna tubuh gelap, dan cangkang tertutup mantel (mirip dengan Gambar 5). Gambar 5 (kanan): Siput Parmarion martensi dengan warna tubuh gelap, cangkang tertutup mantel, dan garis lunas berwarna krem.
Pomacea canaliculata atau yang dikenal sebagai keong mas merupakan spesies gastropoda akuatik yang bersifat herbivora. Populasinya yang berkembang dengan cepat dan kemampuan adaptasinya yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan menjadikannya organisme invasif yang signifikan. Kemampuannya dalam berkompetisi dengan spesies siput lokal serta mengganggu keseimbangan ekosistem perairan menyebabkan spesies ini dianggap sebagai hama utama pada tanaman padi, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi sektor pertanian dan perikanan di Indonesia.
Mekanisme dan Gejala Kerusakan
Keong mas menyebabkan kerusakan pada fase pertumbuhan padi muda, yaitu sejak masa tanam hingga 15 hari setelah tanam (HST) untuk sistem pindah tanam, atau 4 hingga 30 HST untuk sistem tabela (tanam benih langsung). Organisme ini merusak tanaman dengan memotong dan memakan bagian pangkal batang bibit padi. Intensitas serangan yang tinggi dapat mengakibatkan kehilangan tanaman dalam jumlah besar hanya dalam satu malam. Gejala serangan ditandai dengan adanya rumpun tanaman yang hilang serta potongan-potongan daun padi yang mengapung di permukaan air.
Siklus Hidup
Siklus hidup keong mas dimulai dari fase telur. Telur diletakkan secara berkelompok di malam hari pada substrat seperti tanaman, pematang, atau benda lain yang berada di atas permukaan air. Massa telur berwarna merah muda cerah saat baru diletakkan dan akan memudar seiring mendekati waktu menetas. Masa inkubasi telur berkisar antara 7 hingga 14 hari sebelum menetas. Siput muda yang menetas menunjukkan pertumbuhan yang cepat dan mencapai dewasa dengan singkat, ditandai dengan nafsu makan yang tinggi. Perkawinan terjadi pada siang hari selama 3-4 jam pada vegetasi yang rimbun di habitat perairan permanen. Kemampuan reproduksinya sangat tinggi, dimana satu individu dapat menghasilkan 1000-1200 butir telur per bulan. Oleh karena itu, strategi pengendalian dengan memusnahkan telur dinilai sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan populasi.
Strategi Pengendalian
Pengendalian hayati dapat memanfaatkan musuh alami keong mas, seperti:
Semut merah (Solenopsis spp.) yang mempredasi telur.
Itik (Anas platyrhynchos domesticus) yang memakan siput muda dan dewasa.
Tikus sawah (Rattus argentiventer) yang mengkonsumsi cangkang dan tubuh siput.
Pemanfaatan oleh manusia melalui konsumsi setelah proses pemasakan yang tepat.
Selain itu, tersedia beberapa metode pengendalian yang dapat diterapkan pada fase pra-tanam dan pasca-panen:
A. Fase Pra-Tanam
Pengumpulan Manual: Dilakukan pada pagi dan sore hari ketika keong mas aktif, memudahkan pengambilan langsung dari sawah sebelum pengolahan tanah terakhir.
Aplikasi Tanaman Beracun: Menggunakan ekstrak atau bagian tanaman yang bersifat moluskisida, seperti daun tuba (Derris elliptica), eceng (Monochoria vaginalis), tembakau (Nicotiana tabacum L.), jeruk (Citrus microcarpa), cabai merah, dan nimba (Azadirachta indica). Aplikasi disarankan sebelum tanam dengan penempatan di saluran kecil yang dibuat sebagai perangkap.
Pemasangan Perangkap dan Atraktan: Memanfaatkan atraktan seperti daun talas (Colocasia esculenta), daun pisang (Musa paradisiaca L.), daun pepaya (Carica papaya), bunga terompet, atau koran bekas untuk mengumpulkan keong mas secara efektif.
Rekayasa Lingkungan: Membuat alur-alur dalam (minimal lebar 25 cm, kedalaman 5 cm) dengan jarak 10-15 m di dalam petakan sawah dan sepanjang tepinya selama pengolahan tanah terakhir. Alur ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keong mas ketika permukaan air diturunkan, sehingga memudahkan pengumpulan.
Penggunaan Varietas Tahan: Penanaman varietas padi yang kurang disukai keong mas dan memiliki kemampuan anakan tinggi, seperti PSB, Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc68.
B. Fase Pasca-Panen
Penggembalaan Itik: Melepas itik ke areal persawahan segera setelah panen hingga masa pengolahan tanah untuk periode tanam berikutnya. Pada periode budidaya, itik dapat digembalakan pada umur 30-35 HST untuk varietas berumur pendek dan 40-45 HST untuk varietas berumur panjang.