Kutu Dompolan (Planococcus citri Risso)

Kutu dompolan 01Taxonomic Position
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Hemiptera
Suborder : Sternorrhyncha
Superfamily : Coccoidea
Family: Pseudococcidae
Sumber gambar : IPM Images Program
Gambar A,B,C adalah kutu dompolan (citrus mealybug, Planococcus citri) dewasa 

Morfologi/Bioekologi

  • Kutu dewasa berbentuk oval, datar, berwarna kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, panjang 3- 4 mm, lebar 1,5- 2 mm. Tubuh serangga ditutupi lapisan lilin. Di sepanjang tepi badan kutu terdapat duri-duri dari bahan semacam lilin sebanyak 14- 18 pasang dan duri pada bagian pangkal panjangnya dua kali dari panjang duri lainnya.
  • Telur berwarna kuning dan diletakkan di dalam kantong yang terbuat dari bahan menyerupai benang-benang lilin halus yang berada di belakang tubuh kutu betina. Ukuran kantong-kantong ini kadang-kadang lebih besar dari ukuran kutu betina. Seekor kutu betina mampu bertelur 300 butir, telur diletakkan pada bagian tanaman dan berlangsung antara 2 - 17 hari.
  • Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda atau kuning pucat, atau merah tua tergantung stadiumnya, bergerak meninggalkan induknya dan mencari tempat di bagian tanaman lain. Perkembangan nimfa jantan telah sempurna ditandai dengan adanya sekresi puparium yang berlilin di akhir instar kedua. P. citri betina mengeluarkan sex-feromon yang khas yang dapat menarik kutu jantan pada jarak dekat.
  • Populasi kutu dompolan meningkat selama musim kemarau, terutama bila kelembaban nisbi pada siang hari di bawah 75 %. Ledakan populasi akan terjadi bila kelembaban nisbi turun di bawah 70 % dan berlangsung terus menerus selama 3 - 4 bulan, dan hari hujan di bawah 10 hari. Penyebaran kutu dibantu oleh angin, hujan dan semut gramang. Kutu ini memproduksi embun madu yang sangat disukai oleh semut. Bila produksi embun madu berlebihan biasanya timbul jamur jelaga pada daun, tangkai atau buah sehingga pertumbuhan bagian-bagian tersebut tidak normal dan kualitas buah turun. Kutu ini menyukai tempat yang agak teduh tetapi tidak terlalu lembab.
  • P. citri sangat menyukai buah jeruk yang masih muda dan dapat pula menyerang pucuk-pucuk. Populasi akan meningkat di musim kemarau dan akan menurun pada musim hujan. Pada musim hujan cendawan Entomophthora fresenii akan menyebabkan kutu-kutu ini mati.
  • Tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, banyak dijumpai di rumah kaca serta menyukai berbagai tanaman.

Gejala serangan

  • Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas.

Tanaman inang lain

  • Kopi, pupuk hijau seperti Desmodium sp., Tephrosia sp.,Indigo sp., lamtoro (Leucaena glauca), Castilloa, Loranthus dan beberapa gulma.
  • Cara pengendalian
  • Pengendalian secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan, pengamatan sekitar 20 % populasi tanaman khususnya pada buah (10 buah/tanaman secara acak) yang mengandung kutu.
  • Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dengan mengadakan sanitasi gulma, cabang-cabang dan buah terserang berat dan memusnahkannya.
  • Pengendalian biologi, dengan memanfaatkan musuh alami :
    • Predator dari famili Coccinelidae, Scymnus apiciflavus Mits., S. Roepkei DeFl., Brumus saturalis F., Coccinella repanda (C. Transversalis F.) dan Cocodiplosis smithi De Mey.
    • Parasitoid Anagrus greeni How. dan Leptomastix trilongifasciatus Gir.
  • Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai rekomendasi, khususnya yang sistemik, bila buah terserang 5 %.

Sumber:  Direktorat Perlindungan Hortikultura. 2020. Kutu Dompolan (Planococcus citri Risso). Website : http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/

BELALANG KAYU (Valanga nigricornis)

Gejala Serangan

Hama ini menyerang tanaman muda dan tua dengan merusak tanaman pada bagian daun dan pucuk. Kadang-kadang pada musim kering dapat menyebabkan kerusakan parah. Daun yang dimakan menjadi berlubang-lubang, tulang daun dan urat-urat daun tidak dimakan. Gejalanya kadang-kadang sulit dibedakan dengan gejala lubang-lubang kerusakan daun oleh serangan ulat daun. Lubang akibat serangan belalang tepinya bergerigi kasar tidak beraturan, sedangkan akibat serangan ulat lebih halus. Tanaman inang lainnya, antara lain adalah kapas, jati, kelapa, kopi, cokelat, jarak, wijen, ketela, waru, kapuk, nangka, karet, jagung, dan pisang.

Pengendalian

Pengendalian secara mekanis dan fisik dengan mengumpulkan kelompok-kelompok telur. Penangkapan belalang dewasa serta nimfa-nimfanya dilakukan setelah musim penghujan pada malam hari atau pagi hari dengan menggunakan jaring. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan parasit, seperti parasit telur Scelia javanica, parasit imago dari famili Sarcophagidae. Pengendalian dengan menggunakan predator seperti burung pemakan serangga, dapat juga dengan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae yang dapat mengendalikan nimfa dan imagonya. Pengendalian dengan penyemprotan pestisida disesuaikan dengan rekomendasi untuk hama belalang.

ULAT CROSI (Crocidolomia binotalis Zeller)

Ulat Crosi (Crocidolomia binotalis Zeller)

Ulat Crosi (Crocidolomia binotalis Zeller) adalah salah satu hama penting bagi beberapa komoditas hortikultura di Indonesia.  Jika tidak dikontrol dengan baik, serangan ulat crosi terutama di musim kemarau, dapat menyebabkan kerusakan hingga 100% pada tanaman yang dibudidayakan.

Ulat crosi diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Lepidoptera, Famili Pyralidae, Genus Crocidolomia dan  Spesies Crocidolomia binotalis Zell.

Telur ulat crosi berwarna hijau terang dan biasanya terletak di sisi bawah daun tanaman yang diserang.  Sebelum menetas, warna telur crosi berubah dari oranye menjadi kuning-kecoklatan, dan akhirnya menjadi coklat tua.  Telur diletakkan oleh ngengat secara berkelompok dan berlapis (2 sampai 3 lapis) dengan rata-rata jumlah telur sebanyak 120 butir tiap kelompok dan akan menetas setelah 3-6 hari.

Larva yang baru menetas berwarna hitam kehijauan dan menyukai tempat yang agak gelap.  Larva dewasa umumnya  berukuran 15 sampai 21 mm dan memiliki corak berupa tiga garis putih membujur di bagian punggungnya.  Lama stadium larva antara 11-17 hari. Larva membentuk pupa di permukaan tanah.  Pupa berwarna coklat kekuningan dan kemudian menjadi coklat gelap.  Ukuran pupa umumnya sekitar 3 sampai 10 mm dan akan menetas setelah berumur 9-13 hari. 

Kerusakan yang disebabkan oleh ulat krosi pada tanaman dapat menjadi masalah serius karena ulat tersebut lebih suka memakan daun muda dan titik tumbuh hingga habis. Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun tanaman dan meninggalkan bercak putih pada daun yang diserang.  Larva instar ke tiga sampai ke lima memencar dan menyerang pucuk tanaman sehingga merusak titik tumbuh.  Akibatnya tanaman akan mati atau minimal batang tanaman akan membentuk cabang.  Larva menyerang secara berkelompok dan dapat menghabiskan seluruh daun dan hanya meninggalkan tulang daun saja.  Larva juga memakan batang kubis dengan cara membuat lubang sehingga terjadi pembusukan dan kubis tidak dapat dipanen sama sekali.

Cara mengendalikan ulat crosi pada tanaman budidaya hampir sama dengan pengendalian ulatgrayak, antara lain adalah :

  1. Pengendalian fisik dan mekanik dengan mengambil kelompok telur, membunuh larva dan imago atau mencabut tanaman inang yan terserang ulat crosi.
  2. Pengelolaan tanaman secara kultur teknis dengan cara menanaman varietas tahan hama, penggunaan benih sehat, pergiliran tanaman, dan melakkan sanitasi lahan.
  3. Pemanfaatan musuh alami hama (parasitoid, predator, dan patogen).

ULAT DAUN KUBIS Plutella xylostella (diamondback moth)

Nama umum: Ulat daun kubis, diamondback moth
Nama ilmiah: Plutella xylostella
Filum: Arthropoda
kelas: Insecta
Odo: Lepidoptera
Famili: Plutellidae
Inang: Tanaman dalam family Brassicaceae, termasuk  broccoli, Brussels sprouts (kubis Brussel), cabbage (kol), Chinese cabbage (kubis), cauliflower (kol bunga), collard, kale, kohlrabi, mustard, lobak dan selada air.

Keterangan Gambar: Diamondback moth, Plutella xylostella (Linnaeus): A. Telur  (Photo: Whitney Cranshaw, Colorado State University, IPM Images); B. Larva (Photo: Clemson University - USDA Cooperative Extension Slide Series, IPM Images); C. Pupa dalam kokon sutera (Photo: Jack Kelly Clark, UC Statewide IPM Project, University of California); D. Ngengat dewasa (Photo: Jack Kelly Clark, UC Statewide IPM Project, University of California); E. Pupa Plutella xylostella yang terparasit oleh Diadegma insularis (Photo: Earl R. Oatman, IPM Images)

DESKRIPSI

Larva berukuran kecil (sekitar 0,33 inci ketika tumbuh penuh). Tubuh larva melebar di bagian tengah dan meruncing ke arah anterior dan posterior dengan dua proleg pada segmen terakhir (posterior) membentuk huruf-V.  Ketika terganggu, larva bergerak  panik atau cepat menempel pada garis sutra menuju daun. Larva sebagian besar makan daun luar atau daun tua baik pada tanaman tua maupun titik-titik tumbuh tanaman muda. Larva juga akan memakan tangkai bunga dan kuncup bunga. Siklus hidup harva berlangsung 10 sampai 14 hari dan menbentuk kokon pada daun atau tangkai untuk pupasi. Telur ngengat berukuran sangat kecil, agak bulat telur, diletakkan secara tunggal pada sisi bawah daun. 

KERUSAKAN:

Infestasi ngengat Diamondback paling serius ketika mereka merusak mahkota atau titik tumbuh tanaman muda atau kubis.

PENGELOLAAN

  1. Menggunakan musuh alami dan insektisida.Musuh alami sering efektif mengendalikan ngengat Diamondback, seperti tawon ichneumonid, Diadegma insularis, telah diidentifikasi sebagai parasit yang paling umum.Trichogramma pretiosum juga dapat menyerang telur Diamondback. Berbagai predator seperti kumbang tanah, kepik predator, larva lalat syrphid, dan laba-laba dapat menjadi faktor penting dalam mengendalikan populasi. Penyakit mikroba belum diketahui menjadi faktor penyebab kematian yang signifikan.
  2. Pengendalian biologis dan penyemprotan Bacillus thuringiensis dan formulasi Entrust spinosad merupakan pengelolaan secara organic yang akseptibel.
  3. Monitoring lahan secara teratur perlu dilakukan untuk pengambilan keputusan pengendalian hama ini.