Bekicot Achatina fulica

Bekicot Achantina fulica 01

Kingdom:Animalia
Subphylum : Avertebrata
Phylum : Moluska
Kelas : Gastropoda
Sub kelas : Pulmonata
Ordo : Stylomatophora
Family : Achatinidae
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica

Morfologi

Bekicot termasuk keong darat yang pada umumnya mempunyai kebiasaan hidup di tempat lembab dan aktif di malam hari (nocturnal). Sifat nocturnal bekicot bukan semata-mata ditentukan oleh factor gelap di waktu malam tetapi ditentukan oleh factor suhu dan kelembaban lingkungannya. Di waktu siang setelah hujan, banyak ditemukan bekicot berkeliaran dimana-mana.

Keterangan Gambar: A. Dewasa bekicot Achatina (giant East African snail, Achatina fulica). B. Telur bekicot Achatina (giant East African snail, Achatina fulica)

Gejala serangan

Kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan siput adalah cukup besar. Akar-akar muda, tunas baru, dan kuncup bunga adalah makanan paling lezat bagi siput ini. Anggrek bulan merupakan tanaman anggrek yang paling sering diserang oleh siput ini. Biasanya melancarkan serangannya pada malam hari. Pengendaliannya mengunakan Moluskisida berbahan aktif fentin acetatefentin acetate atau metaldehida (metaldehyde).

Sumber serangan dan cara penyebaran: Terbawa benih, media tanam, tanaman inang lainnya di sekitar pertanaman.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi : Kelembapan yang tinggi dan lingkungan kotor di sekitar pertanaman.

Pengendalian: Predator Siput Achatina fulica : Gonaxis sp., Euglandina sp., Lamprophorus sp., dan bakteri Aeromonas liquefacicus. Keong besar atau yang kecil dengan mudah dapat ditangkap pada malam hari dan dimusnahkan. Dengan membersihkan sampah dan gulma, maka keong tidak mempunyai kesempatan untuk bersarang dan bersembunyi.

Siput Semak Bradybaena similaris (Ferussac)

Siput semak 01

Siput dewasa berukuran 10-12 mm, diameter 14-18 mm dengan 5-6 alur-alur lingkaran, solid, buram, berwarna cokelat kemerahan atau hijau kekuningan, kadang-kadang mempunyai strip cokelat kemerahan sekeliling bagian luarnya. Siput memiliki cangkang yang kecil dan sedikit menonjol, berukuran panjang 5 cm, berwarna cokelat kekuningan atau cokelat keabuan. Pada siang hari, siput bersembunyi di tempat yang teduh, dan aktif mencari makan pada malam hari.

Gejala serangan: Siput merusak seluruh bagian tanaman dengan memakan daun dan aktif mencarri makan pada malam hari.

Sumber serangan dan cara penyebaran: Tanaman inang lain di sekitar pertanaman dan semak belukar.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi: Kelembapan yang tinggi dan lingkungan yang kotor di sekitar pertanaman.

Keong Mas Pomacea canaliculata

Keong Mas 01

Bioekologi Keong mas

Populasi keong mas Pomacea canaliculata hingga saat ini sulit dikendalikan, sifatnya yang merupakan herbivora sering dianggap hama bagi tanaman padi di sawah-sawah tempat hidupnya. Keong mas dengan pertumbuhan populasi yang relatif cepat cukup mengganggu aspek pertanian dan perikanan di Indonesia. Keong mas juga mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dan mampu berkompetisi dengan jenis keong maupun tanaman lokal.

Cara merusak dan tanda kerusakan

Tanaman padi yang baru ditanam sampai 15 hari setelah tanam mudah dirusak siput murbai, untuk padi tanam benih langsung (tabela) ketika 4 sampai 30 hari setelah tebar. Siput murbai melahap pangkal bibit padi muda. Siput murbai bahkan dapat mengkonsumsi seluruh tanaman muda dalam satu malam. Serangan siput menyebabkan adanya rumpun padi yang hilang dan potongan daun yang mengambang dipermukaan air.

Siklus hidup

Telur. Telur diletakkan pada malam hari pada tumbuhan, galengan dan barang lain (seperti ranting, ajir, batu dan lain-lain) di atas permukaan air Kelompok telur berwarna jambon kemerah- merahan cerah dan menjadi jambon muda ketika akan menetas. Telur mentetas dalam 7 sampai 14 hari.

Siput muda yang baru menetas cepat besar dan dewasa. Mereka rakus makan. Siput kawin selama 3 sampai 4 jam pada siang hari pada tumbuhan yang rimbun (rapat) yang mendapat air sepanjang tahun. Siput bereproduksi dengan cepat. Mereka dapat bertelur 1000-1200 butir dalam sebulan. Dengan demikian, menghancurkan telur merupakan strategi pemberantasan yang efektif.

Pengendalian

Pengendalian siput dapat dilakukan dengan memanfaatkan agens pengendalian biologi yang terjadi secara alami.

  • Semut merah memakan telur.
  • Bebek memakan daging dan siput muda.
  • Orang memakan dagingnya jika telah dimasak dengan benar.
  • Tikus sawah memakan rumah siput dan dagingnya.

Pengendalian juga dapat dilakukan saat sebelum  tanam dan sesudah panen padi.

Sebelum tanam padi

  • Sebelum menggaru tanah yang terakhir, ambil siput murbai dari sawah pagi-pagi dan sore hari ketika mereka aktif dan mudah diambil.
  • Gunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi siput murbai. Misalnya daun tuba, daun eceng (Monochoria vaginalis), daun tembakau (Nicotiana tabacum L), jeruk [Citrus microcarpa Bunge], dan cabe merah.
  • Tanaman lain yang dilaporkan yaitu daun nimba [Azadirachta indica], mengandung bahan yang dapat membunuh siput murbai. Tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum tanam padi. Buatkan saluran kecil supaya siput murbai berada didalam saluran tersebut dan tempatkan diatas saluran tersebut tumbuhan yang disebut diatas.
  • Mengunakan aktraktan seperti daun talas [Colocasia esculenta], daun pisang [Musa paradisiaca L.], daun pepaya [Carica papaya ], bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan siput murbai.
  • Selama menggaru terakhir buat larikan yang dalam ( sedikitnya lebar 25 cm dan 5 cm dalamnya) di sawah dengan cara menarik karung yang berat. Jarak diantara larikan 10- 15 m. Demikian juga, buat saluran kecil ( sedikitnya lebar 25 cm dan 5 cm dalamnya) sepanjang tepi sawah.
  • Jebak siput murbai dengan saluran kecil, dimana siput murbai akan pindah kedalam saluran jika permukaan air berkurang, dan lakukan pengumpulan.
  • Kumpulkan siput murbai, masak dan dapat dimakan atau tumbuk dan berikan pada itik atau babi. Pengumpulan siput murbai akan mudah jika memakai atraktan seperti daun talas, daun pepaya dan bunga terompet.
  • Gunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti PSB, Rc36, Rc38, Rc40 and Rc 68.

Setelah Panen Padi

  • Gembalakan itik ke sawah segera setelah panen sampai masa menggaru untuk tanaman berikutnya. Gembalakan pada padi 30-35 hari setelah tanam (HST) untuk varietas yang berumur pendek dan 40-45 HST untuk varietas yang berumur panjang.

Siput Setengah Telanjang Parmarion hopularis

Siput setengah telanjang 01

Pada bagian punggung mengeras. Aktivitas siput tersebut pada malam hari, pada siang hari bersembungi di bawah pot/media tanaman. Bersifat polifag.

Gejala serangan: Daun berlubang tidak beraturan dan sering ditandai dengan adanya kotoran bekas lendir yang mengkilat. Siput juga menyerang akar dan anakan, serta memakan bahan organik yang telah merusak.

Sumber serangan dan cara penyebaran: Tanaman inang lain di sekitar pertanaman dan semak belukar.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi: Kelembapan yang tinggi dan lingkungan yang kotor di sekitar pertanaman.

Pengendalian Siput Setengah Telanjang (Parmarion sp) Rekomendasi : Siput dewasa berukuran 10 - 12 mm, diameter 14 - 18 mm dengan 5 - 6 alur-alur lingkaran, solid, buram, berwarna cokelat kemerahan, atau hijau kekuningan, kadang-kadang mempunyai strip cokelat kemerahan sekeliling bagian luarnya. Siput memiliki cangkang yang kecil dan sedikit menonjol, berukuran panjang 5 cm, berwarna cokelat kekuningan atau cokelat keabuan. Pada siang hari siput bersembunyi di tempat yang teduh, dan aktif mencari makan pada malam hari.