Selamat Datang di Website Jurusan MPLKStaf Administrasi JurusanPLP-Teknisi LaboratoriumStaf Pengajar JurusanStrukur Organisasi JurusanDeskripsi Jurusan MPLKVisi dan Misi JurusanPengelola JurusanLearn, practice, and be rich (English) - Belajar, berlatih, dan menjadi sejahtera (Indonesia) - Meup onle ate, mua onle Usif (Timor)
Banner_Jurusan_MPLK-2025.pngLine 001

Perubahan Iklim: Ancaman Nyata bagi Ladang dan Ternak Petani NTT

KUPANG – Dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global, melainkan ancaman nyata yang sudah merambah hingga ke ladang dan kandang ternak petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peningkatan suhu, pola hujan yang tidak menentu, dan konsentrasi karbon dioksida (CO2) yang berubah membawa konsekuensi langsung terhadap ketahanan pangan daerah ini.

Hal ini diungkapkan oleh Magfira Syarifuddin, seorang ahli klimatologi pertanian, dalam sebuah diklat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pertanian di Kupang, akhir April 2011 lalu.

"Yang kita hadapi adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, peningkatan CO2 bisa menyuburkan tanaman, tetapi di sisi lain, dampak ikutannya justru menghancurkan," papar Magfira, menyederhanakan kompleksitas perubahan iklim.

Paradoks CO2: Sahabat atau Musuh?

Secara teori, CO2 ibarat "makanan" bagi tanaman. Peningkatan konsentrasinya di atmosfer dapat memacu laju fotosintesis, membuat tanaman seperti padi dan kedelai (golongan C3) tumbuh lebih cepat dan efisien dalam menggunakan air. Namun, manfaat ini tidak berjalan sendiri.

Peningkatan CO2 ternyata memicu peningkatan suhu global. Suhu yang lebih panas mempercepat penguapan air dari tanah dan memendekkan umur tanaman. "Akibatnya, waktu untuk tanaman menimbun hasil fotosintesis menjadi lebih singkat. Bukannya hasil panen meningkat, justru berpotensi menurun," jelas Magfira.

Siklus Hidrologi Kacau, La Nina & El Nino Semakin Ganas

Salah satu dampak paling terasa adalah perubahan siklus hidrologi yang dimanifestasikan melalui fenomena La Nina dan El Nino yang semakin sering dan intens.

  • El Nino membawa musim kemarau panjang dan kering. Data menunjukkan, pada tahun-tahun El Nino (1991, 1994, 1997, 2003), ratusan ribu hektar sawah mengalami kekeringan. Di Kupang, produktivitas jagung dan padi bisa anjlok masing-masing hingga 42% dan 20%.
  • La Nina sebaliknya, membawa hujan dan banjir. Selain merendam tanaman hingga gagal panen, kondisi lembab ini menjadi surga bagi hama dan penyakit tanaman. Pada periode 1988-2000, banjir telah merusak ratusan ribu hektar lahan pertanian.

"Yang mengkhawatirkan, siklus ini sekarang terjadi setiap 2-3 tahun sekali, bukan lagi 5-6 tahun sekali. Artinya, petani harus menghadapi cuaca ekstim lebih sering," tambahnya.

Dampak pada Peternakan: Stres Panas dan Wabah Penyakit

Sektor peternakan juga tidak luput dari imbasnya. Dampaknya terbagi menjadi langsung dan tidak langsung.

  • Dampak Langsung: Saat suhu meningkat, ternak mengalami stres panas. Sapi perah, misalnya, akan mengurangi produksi susunya. Pada kondisi La Nina yang lembab, wabah penyakit seperti Avian Influenza (Flu Burung) dan Newcastle Disease pada unggas juga lebih mudah merebak.
  • Dampak Tidak Langsung: Kekeringan dan banjir mengganggu ketersediaan hijauan dan bahan baku pakan. "Jika tanaman pangan gagal panen, otomatis pakan untuk ternak juga menjadi langka dan mahal," tegas Magfira.

Kesimpulan: Adaptasi adalah Kunci

Magfira menegaskan bahwa dampak positif peningkatan CO2 hampir seluruhnya terkikis oleh efek negatif kenaikan suhu dan kekacauan siklus hujan. Oleh karena itu, upaya adaptasi dan mitigasi menjadi kunci utama.

"Petani dan peternak di NTT perlu didorong untuk mengadopsi varietas tanaman tahan kering, sistem irigasi yang lebih efisien, serta manajemen kandang yang mengurangi stres panas pada ternak. Semua pihak harus bergerak bersama sebelum dampaknya semakin parah," pungkasnya.

*Naskah asli disajikan dalam Diklat Penyuluh Pertanian Se-Indonesia Timur, Kementerian Pertanian RI, Kupang, 28 April - 5 Mei 2011.*





Galleri Kebun SUT
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Penanaman Tanaman Cabai
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Pare, Mentimun & Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemasangan Tali Ajir Untuk Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Pemasangan Ajir untuk Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Hortikultura (Kangkung & Buncis)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pengukuran pH Tanah
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Aplikasi Pupuk Daun Gandasil-D pada Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Sawi (Kegiatan Pemeliharaan)
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Persiapan Lahan Untuk Budidaya Tanaman Pare
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering © 2026 Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Alamat: Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes, Lasiana, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Telepon: +62380881600 Fax: +62380881601 Email: ppnk@politanikoe.ac.id. Designed By JoomShaper