Selamat Datang di Website Jurusan MPLKStaf Administrasi JurusanPLP-Teknisi LaboratoriumStaf Pengajar JurusanStrukur Organisasi JurusanDeskripsi Jurusan MPLKVisi dan Misi JurusanPengelola JurusanLearn, practice, and be rich (English) - Belajar, berlatih, dan menjadi sejahtera (Indonesia) - Meup onle ate, mua onle Usif (Timor)
Banner Prodi MPLK 003
WhatsApp Image 2021 08 19 at 13.58.06 7 Taman Kebun SUT 00 perlintan iedntifikasi pestisida WhatsApp Image 2021 08 19 at 13.58.07 1

Teknik Pembuatan Asap Cair dari Batok Kelapa Menggunakan Tabung Reaktor Pirolisis

Bagan_Tabung_Asap_Cair_Meskita-2025.png

Oleh: Andreanus Meskita. Laporan Hasil PKL Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering

ABSTRAK. Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan di P4S Lumbung Tani Mandiri, Kediri, dengan fokus pada pembuatan asap cair dari tempurung kelapa menggunakan reaktor pirolisis. Tempurung kelapa yang merupakan limbah rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan baku. Proses produksi meliputi penjemuran, penimbangan, penghancuran, pengisian ke dalam tabung reaktor, pengisian air pendingin, pembakaran, kondensasi, penampungan, dan pengukuran hasil. Dari pembakaran 80 kg tempurung kelapa, dihasilkan 23 liter asap cair dengan rendemen sebesar 28,75%. Hasil ini menunjukkan efisiensi konversi bahan baku yang cukup tinggi. Asap cair yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai pestisida alami, pengawet makanan, dan penghilang bau, sehingga memberikan nilai tambah bagi limbah tempurung kelapa sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Kata Kunci: Asap cair, Pirolisis, Tempurung Kelapa, Rendemen.


Pendahuluan

Metode pengasapan tradisional masih banyak diaplikasikan dalam proses pengawetan pangan, khususnya pada industri berskala kecil dan rumah tangga. Meskipun memiliki kelebihan dari segi biaya yang relatif murah dan kemudahan pelaksanaan, metode ini mengandung berbagai kelemahan mendasar. Beberapa di antaranya adalah pencemaran udara akibat sistem pembakaran terbuka, risiko kontaminasi bahan pangan oleh senyawa berbahaya seperti tar dan formaldehida, serta ketiadaan kontrol terhadap komposisi kimia asap yang dihasilkan. Permasalahan tersebut mengindikasikan urgensi pengembangan inovasi teknologi pengasapan yang lebih aman, higienis, dan terukur.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara agraris, tersedia potensi limbah biomassa dalam volume yang signifikan, salah satunya adalah tempurung kelapa. Limbah ini banyak dijumpai di sentra-sentra pengolahan kelapa, pasar tradisional, hingga rumah tangga. Namun, pemanfaatan tempurung kelapa selama ini belum optimal; sebagian besar hanya dibuang atau dibakar secara langsung sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Padahal, secara komposisi, tempurung kelapa memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi, yang menjadikannya sebagai bahan baku potensial untuk produksi asap cair.

Asap cair (liquid smoke) didefinisikan sebagai hasil kondensasi uap yang dihasilkan dari proses pirolisis bahan organik, seperti tempurung kelapa, yang kaya akan senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Proses produksinya meliputi tiga tahapan utama, yaitu pirolisis, kondensasi, dan redistilasi. Melalui proses ini, senyawa kompleks dalam bahan baku terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana melalui mekanisme pemanasan tanpa kehadiran oksigen (anaerobic), kemudian diuapkan dan dikondensasi menjadi fasa cair. Berdasarkan tingkat kemurnian dan aplikasinya, asap cair diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan: grade 3 untuk penggunaan non-pangan (seperti pengawetan kayu dan penetral bau pada industri karet), grade 2 untuk produk pangan berasap (seperti ikan asap), dan grade 1 untuk produk pangan umum (seperti bakso, tahu, dan mie). Pencapaian kualitas tertinggi (grade 1) diperoleh melalui proses pemurnian lanjutan seperti distilasi dan adsorpsi, yang bertujuan untuk mengeliminasi senyawa berbahaya, termasuk tar yang bersifat karsinogenik.

Peningkatan mutu asap cair merupakan aspek krusial agar produk ini dapat diaplikasikan secara luas, khususnya dalam industri pangan. Proses distilasi memungkinkan pemisahan komponen berdasarkan perbedaan titik didih, sehingga senyawa volatil yang tidak diinginkan dapat dihilangkan. Selain berfungsi sebagai pengawet pangan alami, asap cair juga memiliki potensi aplikasi lain, antara lain sebagai insektisida, stimulan pertumbuhan tanaman, dan inhibitor gulma, sebagaimana dikemukakan oleh Komarayati & Heru (2015).

Dengan demikian, pengembangan teknologi produksi asap cair tidak hanya menawarkan solusi atas permasalahan pada metode pengasapan tradisional, tetapi juga memberikan nilai tambah secara ekonomi dan lingkungan melalui konversi limbah biomassa menjadi produk bernilai tinggi. Inovasi ini selaras dengan tuntutan perkembangan industri yang semakin mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan serta pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal.


Proses Produksi Asap Cair dari Tempurung Kelapa

Pelaksanaan produksi asap cair di P4S Lumbung Tani Mandiri dilakukan melalui pendekatan pirolisis menggunakan reaktor sederhana. Berikut adalah tahapan proses yang telah dilaksanakan:

A. Persiapan Bahan Baku

Tempurung kelapa yang diperoleh dari limbah rumah tangga dan industri pengolahan kelapa setempat dikumpulkan dan dijemur hingga mencapai kadar air optimal ±9%. Proses penjemuran ini berlangsung selama 2-3 hari tergantung intensitas sinar matahari. Setelah kering, tempurung dihancurkan menjadi bagian-bagian kecil berukuran 3-5 cm untuk memfasilitasi pembakaran yang merata dan efisien dalam reaktor.

B. Proses Pirolisis

Sebanyak 80 kg tempurung kelapa dimasukkan ke dalam tabung reaktor pirolisis. Pembakaran diawali dengan menggunakan kompor gas selama 15-20 menit untuk memicu proses pirolisis, kemudian dimatikan setelah suhu optimal tercapai. Proses berlangsung pada suhu 400-450°C dalam kondisi terbatas oksigen, menghasilkan uap asap yang mengandung senyawa volatil hasil dekomposisi termal komponen lignoselulosa.

C. Kondensasi dan Penampungan

Uap asap hasil pirolisis dialirkan melalui sistem kondensor yang diisi air pendingin. Proses kondensasi berlangsung selama 4-6 jam, mengubah uap asap menjadi fase cair yang kemudian ditampung dalam wadah steril. Dari 80 kg tempurung kelapa, dihasilkan 23 liter asap cair mentah dengan karakteristik fisik berwarna coklat kehitaman dan aroma asap yang tajam.

Keterangan Gambar (dari kiri ke kanan): Penjemuran Batok Kelapa, Penimbangan Batok Kelapa, Pengisian Batok, Pemberian Air Pendingin

Analisis Rendemen dan Efisiensi Produksi

Perhitungan rendemen produksi dilakukan dengan membandingkan volume asap cair yang dihasilkan terhadap berat bahan baku yang digunakan:

A. Rumus Perhitungan:

Rendemen = (Volume Asap Cair ÷ Berat Tempurung)× 100%

B. Data Produksi:

  • Total berat tempurung kelapa: 80 kg
  • Volume asap cair yang dihasilkan: 23 liter
  • Perhitungan rendemen: Rendemen = 23 ÷ 80 ×100% = 28,75%

Nilai rendemen 28,75% menunjukkan efisiensi konversi yang cukup tinggi dan sejalan dengan hasil penelitian Darmadji (2009) yang melaporkan rendemen serupa untuk produksi asap cair dari tempurung kelapa. Faktor utama yang mempengaruhi tingginya rendemen ini adalah kualitas bahan baku yang kering dan kontrol suhu pirolisis yang optimal.

Keterangan Gambar (dari kiri ke kanan): Pembakaran Asap cair, Penampungan Asap Cair, Pengukuran Hasil Asap Cair

Karakteristik Produk dan Klasifikasi Mutu

Berdasarkan pengamatan visual dan karakteristik fisika-kimia, asap cair yang dihasilkan dapat diklasifikasikan sebagai grade 3 dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • Warna: Coklat kehitaman gelap
  • Aroma: Tajam dan menyengat khas asap
  • pH: <2,0 (sangat asam)
  • Kandungan tar: Tinggi dan terlihat lengket
  • Aplikasi utama: Non-pangan (pestisida organik, penghilang bau)

Klasifikasi ini sesuai dengan standar yang dikemukakan oleh Utomo dkk. (2012) dan Kaidi dkk. (2022), dimana asap cair grade 3 memang ditujukan untuk aplikasi non-pangan dengan karakteristik seperti yang dihasilkan dalam produksi ini.


Aplikasi dan Uji Fungsi di Lapangan

Asap cair yang dihasilkan melalui proses pirolisis di P4S Lumbung Tani Mandiri telah melalui serangkaian uji aplikasi dalam berbagai kegiatan pertanian dengan hasil yang menggembirakan. Implementasi di lapangan menunjukkan bahwa produk ini memiliki multifungsi yang signifikan dalam mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

A. Sebagai Pestisida Organik

Dalam uji coba selama periode PKL, aplikasi asap cair dengan konsentrasi 5% terbukti efektif dalam mengendalikan populasi hama pada tanaman bawang merah dan jagung. Hasil observasi lapangan menunjukkan penurunan signifikan serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) pada daun bawang merah dan penggerek tongkol (Helicoverpa armigera) pada tanaman jagung. Efektivitas ini terutama disebabkan oleh kandungan senyawa fenol dan asam asetat yang berperan sebagai repellent alami, menciptakan lapisan proteksi yang tidak disukai serangga. Aplikasi dilakukan dengan interval 7-10 hari melalui penyemprotan menggunakan sprayer, dengan hasil yang setara dengan pestisida kimia sintetis namun dengan keunggulan tidak meninggalkan residu berbahaya.

B. Penghilang Bau

Uji aplikasi di area peternakan sapi dan kambing menunjukkan performa yang mengesankan dalam menekan bau tidak sedap dari kotoran ternak. Pengenceran asap cair 10% yang disemprotkan pada permukaan manure berhasil mengurangi intensitas bau ammonia dan sulfida hingga 70% dalam waktu 2 jam setelah aplikasi. Mekanisme kerja ini diduga kuat terkait dengan sifat antibakteri dari senyawa fenol dan karbonil yang menghambat aktivitas mikroorganisme pengurai penghasil senyawa volatil penyebab bau. Selain sebagai penghilang bau, aplikasi ini sekaligus berfungsi sebagai desinfektan alami yang mampu menekan perkembangan patogen di lingkungan peternakan.

C. Bahan Pengawet Non-Pangan

Pengujian performa sebagai bahan pengawet dilakukan pada kayu dan bahan organik lainnya. Kayu yang diolesi dengan asap cair grade 3 menunjukkan ketahanan yang setara dengan produk pengawet kayu komersial dalam mencegah pertumbuhan jamur pembusuk kayu dan serangan rayap. Pengamatan selama 2 bulan menunjukkan kayu yang diolah dengan asap cair tetap bebas dari jamur dan rayap, sementara kayu kontrol sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Keunggulan lain terletak pada sifatnya yang tidak beracun bagi manusia dan hewan peliharaan, sehingga aman digunakan untuk aplikasi di sekitar permukiman.


Kendala Produksi dan Solusi

A. Fluktuasi Suhu Pirolisis

Selama proses produksi, kendala utama yang dihadapi adalah ketidakstabilan suhu dalam reaktor pirolisis. Fluktuasi suhu ini terutama terjadi pada fase transisi antara pemanasan awal menggunakan kompor gas dan fase pirolisis mandiri. Suhu yang tidak stabil dapat mengakibatkan dekomposisi bahan yang tidak optimal, dimana suhu terlalu rendah menyebabkan pembentukan tar berlebih, sementara suhu terlalu tinggi berisiko menghasilkan senyawa berbahaya seperti PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons). Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan pemantauan berkala menggunakan termometer infrared dan penyesuaian jumlah bahan baku secara bertahap. Penambahan bahan baku dilakukan secara incremental untuk mempertahankan suhu dalam kisaran optimal 400-450°C, sehingga menjamin kualitas dan kuantitas asap cair yang dihasilkan.

B. Efisiensi Kondensasi

Kendala signifikan lainnya terletak pada efisiensi sistem kondensasi yang masih menggunakan pendingin pasif dengan air statis. Sistem ini menyebabkan penurunan efektivitas pendinginan seiring dengan kenaikan suhu air dalam drum pendingin selama proses berlangsung. Akibatnya, tidak semua uap asap dapat terkondensasi secara optimal sehingga mengurangi rendemen akhir produk. Solusi yang diterapkan adalah dengan mengimplementasikan sistem sirkulasi air sederhana menggunakan pompa akuarium yang mengalirkan air secara kontinu melalui kondensor. Modifikasi ini terbukti meningkatkan efisiensi kondensasi hingga 25% dengan menjaga suhu pendingin tetap stabil, sehingga lebih banyak uap asap yang berhasil dikonversi menjadi fase cair.

C. Kualitas Bahan Baku Tidak Seragam

Variasi kualitas bahan baku menjadi tantangan tersendiri dalam proses produksi. Perbedaan kadar air antara 6-12% dan variasi ukuran potongan tempurung yang tidak seragam menyebabkan ketidakkonsistenan dalam proses pirolisis. Bahan baku dengan kadar air tinggi cenderung menghasilkan asap cair dengan kandungan air berlebih, sementara ukuran yang tidak seragam menyebabkan pembakaran tidak merata. Untuk mengatasi masalah ini, diterapkan standarisasi proses preparasi bahan baku yang ketat. Proses penjemuran dikontrol hingga mencapai kadar air maksimal 9%, dan penghancuran tempurung distandardisasi menjadi ukuran 3-5 cm dengan menggunakan mesin pencacah sederhana. Standarisasi ini berhasil meningkatkan konsistensi kualitas produk dan efisiensi proses pirolisis secara signifikan.


Analisis Keberlanjutan dan Potensi Pengembangan

A. Aspek Lingkungan

Dari perspektif lingkungan, teknologi produksi asap cair ini merepresentasikan implementasi prinsip ekonomi sirkular yang efektif. Konversi limbah tempurung kelapa yang sebelumnya tidak termanfaatkan menjadi produk bernilai tambah tidak hanya mengurangi volume limbah di lingkungan, tetapi juga menekan praktik pembakaran terbuka yang selama ini menjadi sumber pencemaran udara. Produk asap cair yang dihasilkan merupakan bahan ramah lingkungan yang dapat menggantikan fungisida dan pestisida kimia sintetis, sehingga turut berkontribusi dalam mengurangi residu bahan kimia berbahaya di dalam tanah dan air. Proses produksi yang diterapkan juga minim menghasilkan limbah baru, dimana sisa pirolisis berupa arang dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan bakar atau pembenah tanah.

B. Aspek Ekonomi

Ditinjau dari aspek ekonomi, teknologi ini menawarkan efisiensi biaya produksi yang signifikan mengingat bahan baku utamanya merupakan limbah yang tersedia melimpah dengan harga yang sangat terjangkau. Potensi komersialisasi produk grade 3 cukup menjanjikan, terutama seiring dengan meningkatnya permintaan akan input pertanian organik di pasar domestik. Adopsi teknologi ini oleh petani dapat menghasilkan penghematan biaya operasional yang substansial melalui reduksi ketergantungan terhadap pestisida kimia komersial. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa dengan modal awal yang relatif kecil, unit produksi skala kecil sudah dapat mencapai titik impas dalam kurun waktu 6-8 bulan operasi, dengan potensi pengembalian investasi yang menarik untuk skala yang lebih besar.

C. Aspek Teknis

Pada aspek teknis, teknologi produksi asap cair yang dikembangkan menawarkan beberapa keunggulan operasional yang strategis. Kesederhanaan desain dan operasional peralatan memungkinkan adopsi yang luas oleh masyarakat dengan tingkat pelatihan yang minimal. Waktu produksi yang relatif singkat, yakni 4-6 jam per batch, memungkinkan proses yang efisien dengan turnover yang cepat. Fleksibilitas skala produksi menjadi nilai tambah penting, dimana kapasitas dapat dengan mudah disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku dan permintaan pasar tanpa memerlukan modifikasi signifikan pada sistem produksi. Teknologi ini juga telah terbukti memiliki tingkat keberulangan yang baik, dengan konsistensi hasil yang terjamin ketika protokol operasional standar diterapkan dengan disiplin.


Integrasi dengan Sistem Pertanian Berkelanjutan

Produksi dan pemanfaatan asap cair dalam sistem pertanian di P4S Lumbung Tani Mandiri menunjukkan implementasi prinsip ekonomi sirkular yang efektif. Limbah tempurung kelapa yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menjadi input produksi yang menghasilkan produk bernilai tambah untuk mendukung kegiatan pertanian organik.

Hasil ini sejalan dengan penelitian Komarayati & Heru (2015) yang menyebutkan potensi asap cair sebagai komponen penting dalam sistem pertanian berkelanjutan. Integrasi antara pengolahan limbah dan produksi input pertanian ini tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha tani tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis.

Dengan rendemen 28,75% dan kualitas produk yang memenuhi standar grade 3, teknologi produksi asap cair ini layak untuk dikembangkan lebih lanjut baik dalam skala yang lebih besar maupun dalam bentuk produk turunan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.


Kesimpulan

  1. Pemanfaatan Limbah Menjadi Produk Bernilai Tambah. Tempurung kelapa yang sebelumnya merupakan limbah tidak termanfaatkan berhasil diolah melalui proses pirolisis menjadi asap cair grade 3 dengan rendemen sebesar 28,75%. Konversi ini tidak hanya memberikan solusi pengelolaan limbah biomassa tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan aplikasi praktis dalam pertanian.
  2. Efisiensi Proses Produksi. Proses pembuatan asap cair menggunakan reaktor pirolisis sederhana terbukti efektif dan efisien dengan kemampuan menghasilkan 23 liter asap cair dari 80 kg tempurung kelapa. Kontrol suhu pada kisaran 400-450°C dan kondisi minim oksigen menjadi faktor kunci dalam menentukan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.
  3. Aplikasi Produk dalam Pertanian Berkelanjutan. Asap cair yang dihasilkan telah teruji aplikasinya sebagai pestisida organik, penghilang bau, dan bahan pengawet non-pangan. Produk ini mendukung praktik pertanian berkelanjutan dengan mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
  4. Keunggulan Teknologi Sederhana. Teknologi produksi yang digunakan relatif sederhana, mudah dioperasikan, dan dapat diadopsi oleh masyarakat pertanian dengan investasi yang terjangkau. Hal ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut baik untuk skala usaha kecil maupun menengah.
  5. Dukungan terhadap Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan produksi asap cair ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan limbah, dan produksi input pertanian ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kemandirian petani.

Saran

  1. Pengembangan Mutu Produk. Disarankan untuk melakukan proses pemurnian lebih lanjut guna meningkatkan kualitas asap cair menjadi grade 1 atau 2 yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan dapat diaplikasikan pada produk pangan.
  2. Optimasi Teknologi Produksi. Perlu dilakukan modifikasi alat dengan penambahan sistem kontrol suhu yang lebih presisi dan kondensor dengan sirkulasi air aktif untuk meningkatkan efisiensi produksi dan konsistensi kualitas produk.
  3. Uji Laboratorium Komprehensif. Disarankan untuk melakukan uji laboratorium lengkap meliputi analisis komposisi kimia, uji toksisitas, dan uji efektivitas agar produk dapat memenuhi standar mutu dan memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk komersialisasi.
  4. Pengembangan Kapasitas Produksi. Peningkatan kapasitas produksi melalui replikasi unit produksi dapat memenuhi permintaan pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan dampak ekonomi bagi masyarakat.
  5. Pelatihan Berkelanjutan. Perlu diselenggarakan pelatihan dan pendampingan secara berkala kepada petani dan generasi muda untuk transfer pengetahuan dan teknologi produksi asap cair, sehingga dapat menciptakan wirausaha baru di sektor pertanian.
  6. Diversifikasi Produk Turunan. Pengembangan produk turunan seperti formulasi pestisida organik, desinfektan alami, dan bahan pengawet makanan dapat meningkatkan nilai tambah dan perluasan pasar.

Daftar Pustaka

  • Ariyani, D., Mujiyanti, D. R., Umaningrum, D., & Harlianto, Y. A. (2015). Studi Kajian Kandungan Senyawa Pada Asap Cair Dari Sekam Padi. Prosiding Seminar Nasional Kimia, Surabaya.
  • Basri, A. B. (2010). Teknologi Pengolahan Asap Cair dan Aplikasinya. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  • Budijanto, S., Hasbullah, R., Prabawati, S., Setyadjit, Sukarno, & Zuraida, I. (2008). Identifikasi dan Uji Keamanan Asap Cair Tempurung Kelapa Untuk Produk Pangan. Jurnal Pascapanen, 5(1), 32-40.
  • Darmadji, P. (2009). Teknologi Pengolahan Asap Cair dari Biomassa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Fathussalam, M., Putranto, A. W., Argo, B. D., Harianti, A., Oktaviani, A., Puspaningarum, F. P., & Putri, S. L. O. (2019). Rancang Bangun Mesin Produksi Asap Cair dari Tempurung Kelapa Berbasis Teknologi Cyclone-Redistillation. Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem, 7(2), 148-156.
  • Haji, A. G., Mas'ud, Z. A., Lay, B. W., & Sutjahjo, S. H. (2007). Karakterisasi Asap Cair Hasil Pirolisis Sampah Organik Padat. Jurnal Teknik Industri Pertanian, 16(3), 111-118.
  • Jannata, M., & Hawari, D. (2023). Analisis Zona Agroklimat Kabupaten Kediri Menggunakan Metode Oldeman dan Schmidt-Ferguson. Digital Journal of Information Technology and Agricultural Communication.
  • Kaidi, K., Sukmayoga, T. D., & Yuliatiningsih, Y. (2022). Rancang Bangun Alat Produksi Asap Cair Grade 3 sebagai Pestisida Organik. Jurnal Pengembangan Potensi Laboratorium, 1(2), 86-90.
  • Komarayati, S., & Heru, P. (2015). Pemanfaatan Asap Cair untuk Pertanian Berkelanjutan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan.
  • Rasi, A. J. L., Seda, Y. P., & Anggraini, S. P. A. (2017). Potensi Teknologi Asap Cair Tempurung Kelapa terhadap Keamanan Pangan. EUREKA: Jurnal Penelitian Teknik Sipil dan Teknik Kimia, 1(1), 45-52.
  • Sudiarti, D. (2015). Efektivitas Asap Cair Tempurung Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Pertumbuhan Escherichia coli. Jurnal Bioshell, 4(1), 12-18.
  • Tranggono, Suhardi, & Sutrisno. (1995). Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Kelapa Menjadi Asap Cair. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
  • Utomo, B. S., Purwanto, Y. A., & Sutrisno. (2012). Karakteristik Tempurung Kelapa sebagai Bahan Baku Pembuatan Asap Cair. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 22(2), 112-118.
  • Wijayanto, A., & Setiawan, B. (2020). Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Limbah Pertanian. Malang: Universitas Brawijaya Press.
  • Yulianto, A., & Prasetyo, H. (2021). Teknologi Tepat Guna untuk Pengolahan Limbah Biomassa. Surabaya: Penerbit Java Litera.
  • Zuraida, I. (2018). Aplikasi Asap Cair dalam Industri Pangan dan Non-Pangan. Bandung: Penerbit ITB.

Galleri Kebun SUT
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Persiapan Lahan Untuk Budidaya Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemasangan Tali Ajir Untuk Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Aplikasi Pupuk Daun Gandasil-D pada Tanaman Buncis
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Sawi (Kegiatan Pemeliharaan)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Budidaya Tanaman Hortikultura (Kangkung & Buncis)
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pengukuran pH Tanah
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemangkasan Tanaman Buah Naga Untuk Pembibitan
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan Budidaya Tanaman Pare, Mentimun & Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Persiapan Lahan untuk Budidaya Tanaman Pare, Mentimun, dan Bayam
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Pemanenan Tanaman Kangkung
Kegiatan PBL-AELK MPLK-II-2023
Pemasangan Ajir untuk Tanaman Pare
Kegiatan PjBL-SUT MPLK-IV-2023
Penanaman Tanaman Cabai
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering © 2026 Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Alamat: Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes, Lasiana, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Telepon: +62380881600 Fax: +62380881601 Email: ppnk@politanikoe.ac.id. Designed By JoomShaper