Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Pengetahuan dan Sikap Petani terhadap Teknologi Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat Di Desa Biloto Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan

Knowledge and Attitude of Farmers toward Shoot Pruning Technology on Tomato Plants in Biloto Village, South Mollo District, South Central Timor Regency

Jefri Yanto Baitanu1, Maria K. Salli, Donatus Kantur - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian dengan judul Pengetahun dan sikap Petani Terhadap Teknologi Pemangkasan Pucuk Pada Tanaman Tomat Di Desa Biloto Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan, dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus – 27 September 2021. Penelitian bertujuan: 1) Mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. 2) Menganalisis hubungan faktor internal dan eksternal dengan pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif melalui pendekatan demontrasi plot menggunakan Analisis Scoring dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berada pada kategori tinggi. Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap petani adalah variabel tingkat kesesuaian (rs = 0,539), tingkat keuntungan (rs = 0,540) dan variabel tingkat kesesuain (rs = 0,555).

Kata kunci: Pengetahun dan sikap, Pemangkasan Pucuk, Tomat.

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The research entitled Knowledge and Attitudes of Farmers toward Pruning Technology for Tomato Plants in Biloto Village, South Mollo district, south central timor regency, was carried out from 2 August 2021 to27 September 2021. The research aims: 1) knowin farmers knowledge and attitudes towards shoot pruning technology on tomato plants. 2) Analyzing the relationship between internal and external factors with knowledge and attitudes of farmers towards shoot pruning technology on tomato plants. The research method used is descriptive method through a demonstration plot approach using scoring and rank spearman analysis. The results showed that the knowledge and attitudes of farmers towards shoot pruning technology in tomato plants were in the high category. The factors that influence the level of knowledge and attitudes of farmers are the level of conformity variable (rs = 0.539), the level of profit (rs = 0.540) and the level of conformity variable (rs = 0.555).

Keywords: Knowledge and attitude, Pruning, Tomato.


PENDAHULUAN

Desa Biloto merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki luas wilayah 39,05 ha, dengan topografi datar hingga berbukit dengan ketinggian tempat 650 mdpl, suhu udara 24°C dan curah hujan rata-rata ±200-300 mm/tahun. Adapun potensi yang dimiliki Desa Biloto dalam bidang pertanian, peternakan dan kehutanan. Berdasarkan rencana kegiatan tahunan penyuluh (RKTP Desa Biloto, 2020), salah satu potensi yang paling unggul dibidang hortikultura yakni tanaman tomat dengan luas tanam sebesar 2 Ha dengan jumlah produksi sebesar 400Ku (BPS Kecamatan Mollo Selatan 2020). Desa Biloto memiliki 13 kelompok tani dan salah satunya adalah kelompok tani Bersaudara dan kelompok wanita tani (KWT) Kasih.

Berdasarkan observasi dilapangan, umumnya petani di Desa Biloto masih menggunakan teknik budidaya secara konvensional dimana untuk meningkatkan produktivitas buah tomat petani lebih banyak menggunakan dosis pupuk kimia yang tinggi, selain itu produktivitas tanaman tomat masih rendah dibandingankan dengan Kecamatan Kota Soe dengan produksi luas panen tomat adalah 2 ha dengan total produksi adalah 500Ku (BPS Kota Soe 2020). Produktivitas rendah disebabkan karena teknik budidaya yang kurang baik seperti tindakan pemangkasan jarang atau tidak dilakukan dan pemupukan yang kurang tepat yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Dalam hal ini kurangnya informasi petani tentang teknologi-teknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi tanaman tomat, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Budidaya tanaman tomat merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh petani Desa Biloto dan khususnya kelompok tani Bersaudara dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasih. Tanaman tomat merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek kurang lebih 60-100 hari. Tanaman tomat merupakan tanaman yang tumbuh hampir di seluruh indonesia baik dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk meningkatkan produksi dilakukan teknik budidaya yang tepat dan manipulasi kegiatan budidaya antara lain pemangkasan pucuk. Pemangkasan pucuk pada tanaman tomat merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan kualitas buah. Waktu pemangkasan pucuk apical 7hari setelah tanam memberikan pengaruh terbaik terhadap jumlah cabang produktif (6,791 cabang), jumlah buah pertanaman (36,8333 buah), pada tanaman tomat Varietas Betavila (Maria Klara Salli dkk,2015).

Dalam pelaksanaan penerapan teknologi baru, ada beberapa metode penyuluhan yang dapat digunakan salah satunya adalah metode penyuluhan pendekatan melalui penyuluhan dan demonstrasi plot (Demplot). Demplot adalah suatu metode penyuluhan yang mempraktik langsung di lapangan untuk memperlihatkan secara nyata hasil penerapan teknologi pertanian. Kelebihan dari metode demonstrasi demplot adalah teknologi spesifik lokasi dan petani dapat melihat langsung proses inovasi teknologi. Hal penting yang perlu diukur dengan keberhasilan penyebaran informasi adalah pengetahuan dan sikap masyarakat penerima. Yang diukur meliputi pengetahuan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat serta sikap petani terhadap teknologi yang didesiminasikan. Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian sudah dilakukan tentang “Pengetahuan Dan Sikap Petani Di Desa Biloto Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Terhadap Teknologi Pemangkasan Pucuk Pada Tanaman Tomat”

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.
  2. Menganalisis hubungan faktor internal dan eksternal dengan pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

Kembali ke Beranda 02

METODOLOGI PENELITIAN

Materi Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini menggunakan materi dan instrumen penelitian yaitu berupa kuesioner (daftar pertanyaan), Lembaran Persiapan Menyuluh (LPM), sinopsis dan leaflet serta alat yang akan digunakan dalam demonstrasi plot pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berupa, alat tulis menulis, laptop dan kamera dan  bahan yang digunakan gunting dan alkohol.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriprif, melalui pendekatan demontrasi plot untuk menerapkan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Demontrasi plot merupakan suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani,dengan membuat plot percontohan agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan. Teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat yang dicobakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Plot A : Pola petani yaitu budidaya tanaman tomat tanpa melakukan pemangkasan pucuk.
  2. Plot B : Pola introduksi budidaya tanaman tomat dengan penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat

Plot A yang merupakan pola petani, lahan/kebun tanaman tomat dibiarkan tanpa ada perlakuan khusus (pemangkasan pucuk) dan plot B, yang merupakan pola introduksi dengan penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Bedengan dibuat dengan lebar 1 m, panjang 10 m dan tinggi ± 30-50 cm dengan jumlah bedengan masing-masing 2 buah. Plot A yaitu kebiasaan atau teknik budidaya petani tanpa pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dan pada plot B dilakukan introduksi penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.Dengan teknik pengumpulan data, sebagai berikut:

  1. Metode observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap obyek yang di teliti. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan melakukan pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan kegiatan penelitian.
  2. Wawancara merupakan teknik mengumpulkan data secara langsung dari informan melalui tanyajawab tentang hal yang diteliti, berdasarkan pedoman yang telah disiapkan peneliti.
  3. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2016).
  4. Merupakan pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan, transkip, buku, gambar, dll.
  5. Studi Pustaka. Kepustakaan merupakan pengumpulan data dari berbagai sumber seperti buku, laporan penelitian, jurnal penelitian, artikel dan melalui internet yang sesuai dengan masalah yang diteliti.

 Jenis dan Sumber Data Penelitian.

Data adalah bahan mentah yang perlu diolah untuk menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta. Sesuai sumbernya, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sasaran lokasi penelitian melalui: Observasi, wawancara, dokumentasi dan penyebaran kuesioner.
  2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari informan dan instansi terkait mengenai potensi aktual meliputi kondisi geografis tempat penelitian, profil tempat penelitian, dan jumlah anggota kelompok masyarakat.

Instrument Penelitian

  1. Demonstrasi plot pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.
  2. Materi penyuluhan, yang disiapkan dalam bentuk LPM, sinopsis dan leaflet.
  3. Instrumen yang terakhir adalah kusioner, berupa daftar pertanyaan dalam bentuk pilihan jawaban yang disiap oleh peneliti untuk mengetahui perilaku petani, yang meliputi pengetahuan dan sikap petani setelah melihat dan melaksanakan pemangkasan pucuk. Apakah dapat diterima oleh petani atau tidak.

Penentuan Populasi dan sampel

Menurut Arikunto (2013) populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh anggota Kelompok Tani Bersaudara berjumlah 13 orang dan KWT kasih berjumlah 16 orang sehingga total jumlah 29 orang. Menurut Sugiyono (2013) sampel jenuh yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden atau sampel. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Kelompok Tani Bersaudara berjumlah 13 orang dan KWT kasih berjumlah 16 orang dengan jumlah 29 orang.

Metode Analisis Data

00 Tabel Acuan Kategori Rerata SkorPengetahuan dan Sikap terhadap teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dianalisis menggunakan rumus scoring menurut Umar (1999), dengan langkah-langkah sebagai berikut (klik disini).

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel yang diamati dengan tingkat pengetahuan dan sikapi petani dilakukan dengan menggunakan analisa statistik non parametrik dengan menggunakan Korelasi Rank Spearman (rs) dalam Siegel (1999). Rumus Korelasi rank Spearman (klik disini).

Tingkat signifikan hubungan kedua variabel yang diuji, ditentukan menggunakan nilai probabilitas (P) atau nilai signifikan hasil analisis menggunakan program SSPS versi 16 dibandingkan dengan taraf kepercayaan yang digunakan (0,05 atau 0,01). Kaidah pengujian sebagai berikut:

  1. Jika nilai probabilitas (P) > 0,01: Sangat Signifikan
  2. Jika nilai probabilitas (P) > 0.05: Signifikan
  3. Jika nilai probabilitas (P) < 0,05: Tidak signifikan

Untuk dapat memberikan tafsiran terhadap korelasi yang ditemukan tersebut maka dapat berpedoman pada Tabel 2.

HASIL PENELITIAN

Hasil Demontrasi Plot Pemangkasan Pucuk Tanaman Tomat

Gedung MPLK 000Hasil penerapan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat yang diterapkan pada lahan kelompok tani bersaudara dan kelompok wanita tani kasih dengan jumlah 2 bedengan, dimana masing-masing bedeng memiliki panjang 10 meter dan lebar 1 meter dengan jarak tanaman 50 cm X 50 cm. Jumlah lubang tanam per bedeng sebanyak 32 lubang tanaman, sehingga banyaknya tanaman tomat yang di tanam ialah 64 tanaman.

Kegiatan pemangksan pucuk dilakukan pada saat tanaman tomat berumur 7 hari setelah tanam (HST) menurut (salli dkk 2015). Kegiatan pemangkasan dimulai dari pemotongan pucuk tanaman, setelah itu pucuk tanaman tomat yang dipotong dioles menggunakan alkohol agar tanaman tomat tidak terinveksi olah jamur atau bakteri. Hasil yang didapatkan dari pemangkasan pucuk adalah satu tanaman menghasilkan paling banyak 6 cabang dimana 1 cabang menghasilkan 6 buah tomat jadi 36 x 32 = 1.152 buah dari 32 tanaman. Sedangkan tanaman tomat yang tidak di lakukan pemangkasan pucuk menhasilkan paling banyak 3 cabang dengan masing-masing cabang menghasilkan 4 buah tomat jadi 12 x 32 = 384 buah dari 32 tanaman.

Dari Tabel 3 di atas menunjukan bahwa hasil demplot yang dilakukan pemangkasan pucuk tanaman tomat sudah ada perbedaannya dimana demplot A yang dilakukan pemangkasan dengan jumlah cabang produksi setiap tanaman menghasilkan 6 cabang dan jumlah buah percabang menghasilakan 6 buah tomat sedangkan demplot B tidak melakukan pemangkasandengan jumlah cabang produksi setiap tanaman menghasilkan 3 cabang dan jumlah buah percabang menghasikan 4 buah tomat. Varietas yang digunakan yaitu servo buahnya besar dibandingkan dengan betavila.

Jefri Yanto Baitanu 2021 Hasil Lit Gambar 1 2

Pengetahuan Petani terhadap Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat

Gedung MPLK 000Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa pengetahuan didapat seseorang melalui pengalaman, intusi, logika, atau mencoba-coba (trial dan eror), tingkat pengetahuan petani disajikan pada Tabel 4. 

Berdasarkan Tabel 4, pengetahuan petani terhadap pemangkasan pucuk pada tanaman tomat setelah melakukan penyuluhan dan demonstrasi plot berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 2,74.Hal ini dapat diketahui bahwa petani melihat secara langsung kegiatan demontrasi plot pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Hal ini sejalan dengan pendapat Levis, (2013) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu komponen perilaku petani yang turut menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengan usaha taninya. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa dalam mengadopsi sesuatu yang baru atau inovasi atau teknologi atau program pembangunan petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek pengetahuan praktis dari inovasi tersebut. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan sesorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.

 Sikap Petani terhadap Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat

Gedung MPLK 000Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaaan, Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak, sikap petani disajikan pada Tabel 5.

Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa sikap petani dalam menerima teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Dengan nilai rata-rata 2,90 yang berada pada kategori menerima. Hal ini dikarenakan produktivitas lebih banyak menghasilkan dibandingkan dengan tanpa melakukan pemangkasan pucuk pada tanaman tomatserta proses yang dilakukan juga sangat mudah dan tidak mengeluarkan biaya yang banyak. Berdasarkan hasil lapangan petani merasa dari hasil pemangkasan pucuk pada tanaman tomat mudah dilakukan alat dan bahan yang digunakan mudah didapatkan maka muncul keinginan dalam diri petani untuk menerima teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat sehingga terjadinya perubahan sikap dimana petani mau menerima teknologi ini di dalam lahan usahataninya. Hal ini sejalan dengan (Ahmadi, 2007). Apabila sikap yang ditunjukan petani negatif maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkankarena bagi petani teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat memiliki nilai dan manfaat untuk menambah pendapatan petani dilihat dari banyaknya cabang dan buah tomat yang dihasilkan.

 Hubungan Faktor Internal dan Eksternal terhadap Teknik Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat

Faktor-faktor yang diduga memiliki hubungan dengan tingkat pemangkasan pucuk pada tanaman tomat terdiri dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusaha tani dan luas lahan sedangkan faktor eksternal terdiri dari karakteristik teknologi yang meliputi tingkat keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dapat diamati dan dapat dicoba. Hasil analisis faktor internal dan eksternal terhadap persepsi etani sebagai berikut.

Hubungan Faktor Internal dan Eksternal terhadap Pengetahuan Petani tentang Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat

Gedung MPLK 000Untuk mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani secara rinci disajikan pada Tabel 6.

Berdasarkan Tabel 6, analisis Rank Sperman menunjukan bahwa tingkat hubungan faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan memiliki tingkat hubungan yang berbeda-beda yang mana terdiri dari tingkat hubungan sangat rendah, tingkat hubungan rendah dan sedang. Dari tabel juga diketahui bahwa hanya terdapat satu faktor saja yang memiliki nilai signifikan yakni tingkat kesesuaian dengan nilai signifikan 0,003 (p > 0,05), dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,539 dan memiliki tingkat hubungan yang sedang. Tingkat kesesuaian teknologi memiliki hubungan terhadap pengetahuan petani disebabkan oleh teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat sudah sesuai dengan kebutuhan yang ada dikelompok tani bersaudara dan kelompok wanita tani kasih, yang mana dengan menerapkan teknologi ini maka dapat meningkatkan produksi buah tomat dapat dilihat pada jumlah cabang produksi dan jumlah buah pertanaman. Hasil yang diperoleh sejalan dengan pendapat Rogers dan Shoemaker (1971) dalam studi Tornatzky dan Klein (1982) menjelaskan compatibility mengacu pada kesesuaian dengan nilai-nilai atau norma-norma pengadopsi potensial atau mungkin mewakili kesesuaian dengan praktek yang sudah ada pada pengadopsi. Definisi pertama berimplikasi pada macam-macam keseuaian normatif atau kognitif (kesesuaian dengan apa yang dirasakan atau dipikirkan orang tentang sebuah teknologi), sedangkan yang kedua pada kesesuaian yang bersifat praktis dan operasional (kesesuaian dengan apa yang dikerjakan orang).

Berdasarkan tabel juga diketahui bahwa umur memiliki tingkat hubungan sangat rendah teradap pengetahuan petani hal ini menunjukan bahwa petani yang memiliki umur yang produktif belum tentu memahami teknologi yang dibawakan, hal ini sejalan yang dinyatakan Azwar (2011) bahwa umur tidak selamanya berhubungan nyata terhadap pengetahuan petani, semakin mudah umur petani tidak berarti pengetahuan petani tersebut semakin tinggi. Tingkat pendidikan juga memiliki hubungan sangat rendah terhadap pengetahuan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat Sejalan dengan hasil tersebut menurut Juita, (2005) yang menjelaskan bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata dengan sikap petani, dijelaskan bahwa hal ini disebabkan karena untuk menerapkan suatu teknologi dalam usaha taninya, petani tidak harus memiliki pendidikan yang tinggi. Pengalaman berusah tani memilik hubungan yang sangat rendah terhadap pengetahuan petani hal ini tidak sejalan dengan penelitian Hilman Budiyanto (2016) yang menyatakan bahwa pengalaman yang dialami sendiri oleh seseorang lebih kuat dan sulit dilupakan dibandingkan dengan melihat pengalaman orang lain. Luas lahan memilik hubungan yang sangat rendah terhadap pengetahuan petani dimana luas lahan yang besar tidak menjamin petani untuk dapat menerpakan teknologi yang di desiminasikan. Karakteristik teknologi yang terdiri dari keuntungan relatif, tingkat kerumitan dan dapat di coba memiliki hubungan yang sangat rendah sedangkan dapat diamati memiliki hubungan yang rendah terhadap pengethuan petani dalam menerpakan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

Hubungan Faktor Internal dan Eksternal teradap Sikap Petani tentang Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat

Gedung MPLK 000Untuk mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal terhadap sikap petani secara rinci disajikan pada Tabel 7.

Berdasarkan Tabel 7, analisis Rank Sperman menunjukan bahwa tingkat hubungan faktor internal dan eksternal terhadap sikap memiliki tingkat hubungan yang berbeda-beda yang mana terdiri dari tingkat hubungan sangat rendah, tingkat hubungan rendah dan sedang. Dari tabel juga diketahui bahwa terdapat dua faktor yang memiliki nila signifikan yakni tingkat keuntungan dengan tingkat hubungan rendan terhadap sikap dengan nilai signifikan 0,002 (P > 0,05) serta nilai koefisien korelasi 0,540 hal ini menunjukan bahwa teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat memiliki keuntungan dan manfaat bagi petani yakni penerapan teknologi ini tidak membutuhkan biaya yang banyak serta alat-alat yang digunakan juga mudah didapatkan, Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan Rogers, (1983) bahwa biasanya keuntungan relatif diukur dalam terminologi ekonomi, tetapi faktor prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan sering menjadi komponen yang tak kalah penting. Semakin banyak keunggulan relative yang dirasakan sebuah inovasi, maka semakin cepatlajutingkat adopsinya. Tingkat kesesuaian memiliki tingkat hubungan sedang terhadap sikap petani dalam penerapanan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dan nilai signifikan 0,002 (P >0,05), dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,555, Hal ini menunjukan bahwa teknologi yang dibawakan sudah sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan yakni dari hasil penerapan diperoleh banyakanya pertumbuhan cabang pada tanaman yang dipangkas pucuk serta setiap cabang menghasilkan paling banyak 6 buah tomat.

Berdasarkan tabel juga diketahui bahwa ada beberapa faktor yang tidak signifikan yakni umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusaha tani, luas lahan, tingkat kerumitan, dapat dicoba dan dapat diamati. Umur memiliki tingkat hubungan sangat rendah terhadap sikap petani, hal ini menunjukan bahwa umur petani tidak selamanya berhubungan dengan sikap dalam meneima teknologi yang dibawakan. Tingkat pendidikan juga memiliki hubungan sangat rendah terhadap sikap petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat, dimana berdasarkan observasi petani yang memiliki pendidikan rendah juga dapat melakukan kegiatan usaha tani yang sesuai dengan kaidah pertanian. Pengalaman berusah tani memilik hubungan yang sangat rendah terhadap sikap petani hal ini tidak sejalan dengan penelitian Hilman Budiyanto (2016) yang menyatakan bahwa pengalaman yang dialami sendiri oleh seseorang lebih kuat dan sulit dilupakan dibandingkan dengan melihat pengalaman orang lain. Luas lahan memilik hubungan yang sangat rendah terhadap sikap petani dimana luas lahan yang besar tidak menjamin petani untuk dapat menerpakan teknologi yang di desiminasikan. Karakteristik teknologi yang terdiri dari dapat dicoba dan diamati dimana keduanya memiliki tingkat hubungan yang sangat rendah terhadap sikap petani dalam menerima teknologi yang dibawakan.

KESIMPULAN

  1. Pengetahuan petani yang tergabung dalam kelompok tani Bersaudara dan kelompok wanita tani kasih tentang pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berada dalam kategori tinggi dengan nilai skor rata-rata sebesar 2,74.dan Sikap petani yang tergabung dalam kelompok tani Bersaudara dan kelompok wanita tani kasih tentang pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berada dalam kategori menerima dengan nilai skor rata-rata sebesar 2.90.
  2. Berdasarkan hasil analisis Rank Sperman menunjukan bahwa tingkat hubungan faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan dan sikap berbeda-beda yang mana terdiri dari tingkat hubungan sangatrendah, tingkat hubungan rendah dan sedang. Dan juga bahwa terdapat dua faktor yang memiliki nilai signifikan yakni tingkat kesesuaian dengan tingkat hubungan sedang terhadap pengetahuan dengan nilai signifikan 0,003 (p > 0,05) serta nilai koofisien korelasi 0,0539 yakni keuntungan dengantingkat hubungan sedang terhadap sikap dengan nilai signifikan 0,002 (p > 0,05) serta nilai koefisien korelasi 0,540 dan kesesuaian dengan nilai signifikan 0,002 (p > 0,05) serta nilai koofisien korelasi 0,555 hal ini menunjukan bahwa teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat memiliki keuntungan dan manfaat bagi petani yakni penerapan teknologi ini tidak membutuhkan biaya yang banyak serta alat-alat yang dugunakan juga mudah didapatkan

Kembali ke Beranda 02

E Library

1Penulis lahir Di Biane Desa Letkole Kecamatan Amfoang Barat Daya pada tanggal 4 Juni 1997. Penulis memulai studi tingkat dasarnya pada SD Inpres Letkole tahun 2003 selesai pada tahun 2009, kemudian melanjutkan studi tingkat pertama pada SMPN 2 Satu Atap Letkole pada tahun 2009 dan selesai pada tahun 2012 dan kemudian penulis melanjutkan studi tingkat menengah atas pada sekolah SMA Reformasi Plus Noelbaki pada tahun 2012 dan selesai pada tahun 2015. Pada bulan Agustus 2017 penulis diterima sebagai mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang Pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering akhirnya pada tahun 2022 penulis menghasilkan studi dan berhak memperoleh gelar serjana terapan pertanian (S.Tr.P)

No events