Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Evaluasi Hasil Penyuluhan Partisipatif terhadap Sikap Petani Menggunakan Teknologi Pilihan dalam Budidaya Tomat di Desa Nian Kecamatan Miomafo Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara

Evaluation of Participatory Extension Results on Farmers' Attitudes in Using Selected Technology for Tomato Cultivation in Nian Village, Miomafo Tengah District, Timor Tengah Utara Regency

Maria Lavenia Tfaitob, Maria Klara Salli, Endeyani V. Muhammad

Maria Lavenia Tfaitob1, Maria K. Salli, Endeyani V. Muhammad - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2020

INTISARI. Penelitian tentang evaluasi hasil penyuluhan partisipatif terhadap sikap petani menggunakan teknologi pilihan dalam budidaya tomat di Desa Nian Kecamatan Miomaffo Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara telah dilakukan pada Februari sampai Maret 2020. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap petani terhadap penyuluhan partisipatif, sikap petani menggunakan teknologi pilihan dan hubungan penyuluhan partisipatif terhadap teknologi pilihan. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, partisipatif, kuisioner, dokumentasi dan kepustakaan, dan metode analisis yakni scoring dan rank spearman. Hasil analisis menunjukan responden menunjukan sikap setuju pada tahapan perencanaan dengan rerata skor 2,56, tahapan pelaksanaan 2,47, tahapan monitoring 2,44 dan tahapan evaluasi 2,46 terhadap metode penyuluhan partisipatif, perilaku petani yakni sikap terhadap teknologi pilihan pupuk bokashi berada pada kategori setuju dengan nilai rerata skor 2,49, serta memiliki hubungan yang signifikan antara penyuluhan partisipatif dengan teknologi pilihan pupuk bokashi.

Kata Kunci: evaluasi, penyuluhan partisipatif, teknologi pilihan, sikap

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Research about the evaluation of participatory extention results to the attitude of farmers using selected technology for tomato cultivation in Nian, Miomafo Tengah, Timor Tengah Utara was conducted from February to March 2020. The purpose of this study was determined the attitude of farmers towards participatory extension, the attitude of farmers using selected technology and the relationship between participatory extension towards selected technologies. This research uses observation, interview, participatory, quisioner, documentation and literature methods, and analysis methods is scoring and rank spearman. Results of the analysis showed the respondents an agreed attitude at the planning stage with a mean score of 2.56, the implementation stage was 2.47, the monitoring stage was 2.44 and the evaluation stage was 2.46 towards the participatory extension method, the attitude of farmers towards selected technology of bokashi fertilizer. Was at the category agrees with a mean score is and significant relationship between participatory extention with selected technology of bokashi fertilizer.

Keywords: evaluation, participatory extention, selected technology, attitude


PENDAHULUAN

Desa Nian merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Miomafo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara. Desa Nian memiliki potensi sumber daya alam di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan sumber air bersih. Salah satu potensi sumber daya alam pertanian adalah tanaman hortikultura yaitu tomat. Tomat merupakan salah satu komoditas yang menjadi sumber pendapatan perekonomian masyarakat Desa Nian sehingga sebagian besar masyarakat melakukan budidaya tomat. Dalam melakukan budidaya tomat jumlah produksi tomat tidak mencapai hasil yang optimal.

Berdasarkan data Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Miomafo Tengah, 2019 Jumlah produksi rata-rata tanaman tomat mencapai 4,49 ton/ha sedangkan berdasarkan Badan Pusat Statistik Tanaman Sayuran dan Buah-buahan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2018 Jumlah produksi rata-rata tanaman tomat mencapai 5,46 ton/ha. Berdasarkan perbandingan jumlah produksi tomat yang tidak mencapai hasil yang optimal diduga karna teknik budidaya petani yang kurang memadai sehingga diperlukan suatu adopsi inovasi teknologi pertanian melalui teknologi pilihan.

Teknologi pilihan adalah teknologi yang dipilih berdasarkan hasil identifikasi masalah bersama petani yang berkaitan dengan teknik budidaya tomat. Teknologi pilihan dalam hal ini yaitu pengolahan lahan, pengaturan jarak tanam, pemupukan dan pengendalian hama. Dengan adanya beberapa teknologi pilihan yang berkaitan dengan teknik budidaya tomat diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi khususnya persatuan tanaman tomat. Agar teknologi pilihan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan petani dan dapat menjawab permasalahan petani maka perlu dilakukan metode penyuluhan yang tepat melalui penyuluhan partisipatif.

Penyuluhan Partisipatif adalah keikutsertaan, peran serta atau keterlibatan yang berkaitan dengan keadaan lahiriahnya. Pengertian prinsip partisipatif adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program kegiatan dan pengawasannya, mulai dari tahap identifikasi masalah, perencanaan pemecahan masalah, penetapan tujuan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (Andriany, 2015). Penyuluhan partisipatif perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi dan kemandirian petani untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan partisipatif dalam mengelola usahataninya, tingkat partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan akan mempengaruhi tingkat pemahaman dan adopsi inovasi teknologi petani terhadap perkembangan baru sektor pertanian.

Evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program/kegiatan. Keberhasilan program/kegiatan itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Evaluasi dapat dilakukan terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun hasil serta dampak dari suatu program/kegiatan. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah tujuan dari program yang dibuat telah tercapai, memberikan objektivitas pengamatan terhadap perilaku hasil, untuk mengetahui kemampuan dan menentukan kelayakan serta memberikan umpan balik terhadap kegiatan yang dilakukan. Pada dasarnya tujuan akhir evaluasi adalah untuk memberikan bahan-bahan pertimbangan untuk menentukan/membuat kebijakan tertentu, yang diawali dengan suatu proses pengumpulan data yang sistematis.

Berdasarkan pertimbangan sebelumnya maka perlu dilakukan penyuluhan partisipatif agar terjadi interaksi yang aktif antara penyuluh dan petani maupun antara petani dan petani khususnya petani tomat di Desa Nian. Penyuluhan partisipatif akan dievaluasi dampak atau hasilnya terhadap sikap/kecenderungan petani menggunakan teknologi pilihan dalam melakukan budidaya tomat. Sehingga penulis membuat penelitian dengan judul “Evaluasi Hasil Penyuluhan Partisipatif Terhadap Sikap Petani Menggunakan Teknologi Pilihan dalam Budidaya Tomat di Desa Nian Kecamatan Miomafo Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui sikap petani terhadap penyuluhan partisipatif dalam menggunakan teknologi pilihan dalam budidaya tomat di Desa Nian
  2. Mengetahui sikap petani terhadap teknologi pilihan dalam budidaya tomat di Desa Nian
  3. Mengetahui hubungan penyuluhan partisipatif terhadap sikap petani dalam menggunakan teknologi pilihan.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kaji terapan. Proses kaji terapan diawali dengan penyuluhan partisipatif menggunakan teknologi pilihan untuk mengetahui perubahan sikap petani. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah :

  1. Metode Observasi. Metode observasi yaitu studi yang sistematis tentang gejala sosial yang psikis dengan cara pengamatan atau pencatatan kerja dan kejadian yang ada hubungan dengan judul penelitian.
  2. Wawancara adalah teknik yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara bebas namun masih tetap berada pada pedoman wawancara yang sudah dibuat untuk mendapatkan informasi langsung dari masyarakat yang akan dijadikan responden (Arikunto, 2013).
  3. Menurut Pidarta dalam Astuti D. (2009) partisipatif merupakan keterlibatan seseorang atau beberapa orang dalam suatu kegiatan. Keterlibatan dapat berupa keterlibatan mental dan emosi serta fisik dalam segala kemampuan yang dimiliki dan segala kegiatan yang dilaksanakan serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggung jawab atas segala keterlibatan.
  4. Kuisioner adalah kumpulan daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untuk dibagikan kepada responden agar responden dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Kuisioner yang dibuat sebelum digunakan akan dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas.
  5. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan acuan dokumen, literatur dalam bentuk gambar dari objek yang berhubungan dengan kegiatan penelitian.
  6. Metode Kepustakaan. Metode kepustakaan yaitu teknik atau cara yang digunakan untuk melengkapi semua tulisan ini dari berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaaan buku, laporan penelitian, artikel dan melalui internet yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

Jenis dan Sumber Data Penelitian

Jenis dan sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

  1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung di lapangan, pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan responden melalui kuisioner yang telah disiapkan.
  2. Data sekunder yang bersumber dari profil Desa Nian, karakteristik petani dan data kelembagaan terkait.

Instrumen Penelitian

Instrument penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan penelitian karena dengan instrument yang baik akan diperleh data atau informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Kuisioner, berupa daftar pertanyaan dalam bentuk pilihan jawaban yang disiap oleh peneliti untuk mengetahui sikap petani setelah melakukan penyuluhan partisipatif dalam menggunakan teknologi pilihan.
  2. Model penyuluhan partisipatif yang dilakukan bersama petani.

Populasi dan Sampel Penelitian

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah petani tomat yang ada di desa Nian, dengan kriteria inklusi adalah petani yang selama ini mengusahakan tanaman tomat secara terus menerus, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membatasi usia. Polulasi petani tomat di desa Nian adalah berjumlah 102 orang. Sempel penelitian, diambil dengan menggunakan sampel acak sederhana (simple random sampling), sesuai dengan petunjuk Soekidjo (2003), dengan mengunakan rumus Slovin, sebagai berikut:

n = N ÷ (1 + N (d²))

dimana: n : ukuaran/jumlah sampel penelitian N: populasi, d: tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,1). Berdasarkan pendekatan Slovin di atas, maka      jumlah sampel dalam peneliitian ini adalah sebanyak  50 orang

Metode Analisis Data

Evaluasi Sikap petani tomat Desa Nian terhadap penyuluhan partisipatif dianalisis menggunakan rumus skoring menurut Umar (1999).  Tabel 1. Distribusi nilai skor Sikap Petani terhadap penyuluhan partisipatif. Evaluasi Sikap petani menggunakan teknologi pilihan dianalisis menggunakan rumus skoring menurut Umar, (1999). Tabel 2. Distribusi nilai skor Sikap Petani menggunakan teknologi pilihan. Uji korelasi ditujukan untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan variabel penelitian yang diamati menggunakan analisa satistik non parametrik yaitu  analisis Korelasi Rank Spearmen dan digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikan hipotesis asosiatif bila masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antar variabel tidak harus sama.

Kembali ke Beranda 02

HASIL PENELITIAN

Sikap Petani Terhadap Penyuluhan Partisipatif Dalam Penentuan Teknologi Pilihan Pupuk Bokashi

Sikap petani merupakan kecenderungan petani terhadap suatu proses inovasi atau teknologi baru, indikator sikap dalam penelitian ini yaitu setuju, ragu-ragu atau menolak proses penyuluhan untuk memilih dan menggunakan teknologi. Pengukuran sikap dilakukan pada semua tahap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi.

Tahap Perencanaan

Gedung MPLK 000

Partisipasi pada tahap perencanaan ini diukur berdasarkan tanggapan responden terhadap perencanaan pelaksanaan kegiatan, pertimbangan terhadap keputusan perencanaan dan partisipasi dalam memberikan pendapat. Distribusi sikap responden pada tahapan perencanaan dalam penyuluhan partisipatif menggunakan teknologi pilihan (pembuatan bokashi berbahan dasar kotoran sapi) disajikan pada Tabel 3.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 3, diketahui bahwa pada tahapan perencanaaan responden menunjukan sikap setuju dengan penyuluhan partisipatif untuk memilih teknologi pupuk bokashi berbahan dasar kotoran ternak sapi dengan jumlah rerata skor 2,56. Berdasarkan jumlah total responden sebanyak 50 responden rata-rata setuju dengan penyuluhan partisipatif pada tahapan perencanaan karna sebagian besar responden terlibat dalam memberikan pendapat, berdiskusi, dan mengambil keputusan dalam menyampaikan informasi tentang tahapan budidaya tanaman tomat serta kendala yang dihadapi dalam melakukan budidaya kemudian, mempertimbangkan pendapat dari semua peserta dan mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama dalam memilih teknologi pilihan yaitu pembuatan pupuk bokashi, kemudian sama-sama berdiskusi lagi dan kembali bersepakat dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pembuatan pupuk bokashi. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Ranupandojo, 1996) yang mana kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penyuluhan harus berdasarkan kesepakatan bersama yang telah ditetapkan pada saat perencanaan yang dilaksanakan sesuai dengan waktu, keterlibatan pihak-pihak terkait, proses hubungan antara perencanaan dan pelaksnaan akan berakibat pada hasil yang akan diperoleh pada saat kegiatan penyuluhan.

Tahapan Pelaksanaan

Gedung MPLK 000

Pada tahapan pelaksanaan ini, indikator yang dilihat adalah ketetapan waktu serta ketetapan cara pelaksanaan. Distribusi sikap responden pada tahapan pelaksanaan dalam penyuluhan partisipatif disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 4, diketahui bahwa pada tahapan pelaksanaan responden menunjukan sikap setuju dengan penyuluhan partisipatif untuk menggunakan teknologi pupuk bokashi berbahan dasar kotoran ternak sapi dengan jumlah rerata skor 2,47 karena pada tahapan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan pada tahapan perencanaan sebelumnya yang mana kegiatan dilaksanakan tepat pada hari minggu, 01 Maret 2020 pukul 18:30 Wita bertempat di Posyandu Beba, pada saat proses pelaksanaan kegiatan petani turut berpartisipasi aktif dalam membuat teknologi pilihan pupuk bokashi sehingga kegiatannya berjalan dengan baik, hasil dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh petani dalam pembuatan pupuk bokashi sudah sesuai dengan yang diharapkan karna para petani/peserta sangat aktif dan sangat antusias dalam mengerjakan/membuat pupuk bokashi serta selalu mengikuti petunjuk pelaksanaan yang berpedoman pada leafleat yang diberikan, namun pada indikator penyuluhan yang dilakukan bertepatan dengan kegiatan lain responden menunjukan sikap kurang setuju karena sebagian besar responden memiliki kegiatan lain yang bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan penyuluhan.

Pelaksanaan kegiatan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi tetapi memberikan peluang dan kesempatan serta bimbingan kepada petani untuk mencoba informasi dan teknologi yang dibawakan merupakan pengalaman nyata yang sangat bermanfaat bagi petani. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mahbub, 2007 pelaksanaan kegiatan penyuluhan partisipatif meliputi empat tahapan yaitu membuat penjadwalan kegiatan, membuat pembagian tugas kegiatan sehingga penyuluh hanya sebagai fasilitator, membuat rancangan teknologi dari masalah yang mendasar yang dapat dipecahkan dengan sumber daya terjangkau, pembinaan dengan model dan teknik penyuluhan yang sedang berlangsung diberikan petunjuk atau pedoman untuk kelancaran penyelenggaraan kegiatan penyuluhan.

Tahapan Monitoring

Gedung MPLK 000

Tahapan monitoring yang dilihat adalah prosedur pembuatan bokashi berbahan dasar kotoran sapi, pemantauan hasil fermentasi sampai aplikasi pada lahan. Sikap responden pada tahapan monitoring dalam penyuluhan partisipatif disajikan pada Tabel 5.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 5, diketahui bahwa tahapan monitoring kegiatan penyuluhan partisipatif berada pada kategori setuju dengan jumlah rerata skor 2,44 karena pada tahapan monitoring kegiatan penyuluhan yang dilakukan, para petani sangat aktif dalam berdiskusi, menyampaikan pendapat mereka masing-masing tentang kegiatan penyuluhan pembuatan pupuk bokashi yang akan dilakukan/dilaksanakan terutama dalam menentuntukan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, pada saat pelaksanaan kegiatan pembuatan bokasi berbahan dasar kotoran sapi para petani secara aktif bertanya dan berdiskusi tentang pupuk bokashi yang dilakukan apakah bisa menggunakan bahan-bahan lain selain kotoran sapi, jika salah satu dari bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk bokashi tidak digunakan (EM-4 Pertanian) apakah ada alternatif penggantinya.

Petani yang mempunyai pengalaman dalam pembuatan pupuk bokashi pada kegiatan penyuluhan yang pernah diikuti sebelumnya, antusias dalam berdiskusi menyampaikan informasi kepada para petani lain yang belum mengetahui tentang pupuk bokashi, dan juga mereka sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan serta selalu menegur dan mengingatkan para petani yang lain agar pada saat persiapan bahan-bahan yang akan digunakan serta cara pembuatannya jika ada yang tidak sesuai dengan prosedur pengerjaan pada media leafleat yang dibagikan maka segera dikoreksi agar tidak mempengaruhi hasilnya dan mampu mengontrol hasilnya. Hal ini sesuai dengan Modul Khusus Fasilitator (Monev/Monitoring Partisipatif), 2001 dalam melakukan monitoring partisipatif dalam suatu forum perlu dilakukan pengambilan keputusan bersama mengenai apa yang ingin dilakukan oleh masyarakat dalam berkegiatan dan mengembangkan program, sehingga dalam melakukan monitoring perlu dilakukan perencanaan yang jelas, harus ada kesepakatan antara semua pihak yang terlibat, bersama- sama perlu ada kesepakatan mengenai prinsip yang ingin diwujudkan dalam suatu kegiatan dan rencana atau kegiatan jelas sehingga akan melekat dan menjadi bagian dari kehidupan dalam masyarakat.

Tahapan Evaluasi

Gedung MPLK 000

Pada tahapan evaluasi yang dilihat adalah hasil kegiatan yang telah dilakukan serta hasil perencanaan yang disepakati. Sikap responden pada tahapan evaluasi dalam penyuluhan partisipatif disajikan pada Tabel 6.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 6, diketahui bahwa tahapan evaluasi tentang penyuluhan partisipatif berada pada kategori setuju dengan jumlah rerata skor 2,46. Hal ini terjadi karna karna pada tahapan perencanaan, pelaksanaan serta monitoring responden setuju terhadap penyuluhan partisipatif. Pada indikator kegiatan yang dilakukan berdasarkan prosedur atau petunjuk pelaksanaannya masuk dalam kategori kurang setuju karena ada beberapa responden yang membuat bokashi tidak sesuai prosedur pada media leafleat sedangkan pada indikator kegiatan penyuluhan dalam penggunaan teknologi pilihan dan hasil perencanaan kegiatan penyuluhan yang disepakati masuk dalam kategori setuju, pada tahapan evaluasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Suharsimi Arikunto (2003), evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu program atau kegiatan.

Sikap Petani Dalam Menggunakan Teknologi Bokashi

Gedung MPLK 000Menurut Gerungan (2004), sikap atau attitude merupakan suatu reaksi pandangan atau perasaan seorang individu terhadap objek tertentu. Walaupun objeknya sama, namun tidak semua individu mempunyai sikap yang sama, hal itu dapat dipengaruhi oleh keadaan individu, pengalaman, informasi dan kebutuhan masing-masing individu berbeda. Sikap seseorang terhadap objek akan memebentuk perilaku individu terhadap objek. Sikap yang diukur dalam penelitian ini yaitu ; teknologi pupuk bokashi terus diterapkan, teknologi pupuk bokashi mudah dilakukan, teknologi pupuk bokashi dapat berkelanjutan. Hasil penelitian tentang sikap petani disajikan pada Tabel 7.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 7 diatas, diketahui bahwa sikap petani berada pada kategori setuju dengan jumlah rerata skor 2,49. Hal ini berarti dari segi sikap petani ingin agar teknologi pilihan (bokashi berbahan dasar kotoran sapi) terus diterapkan, mudah dilakukan karena secara ekonomis bahan-bahan mudah didapatkan serta tidak menggunakan alat/mesin tertentu dalam proses pembuatannya, dan teknologi pupuk bokashi dapat berkelanjutan dalam budidaya tanaman tomat. Sikap petani yang menunjukan kategori setuju terhadap teknologi pupuk bokashi berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan dalam memilih teknologi ini dengan metode penyuluhan partisipatif dapat membantu petani dalam meningkatkan hasil produksi tanaman tomat.

Sikap pada umumnya sering diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap individu untuk memberikan tanggapan pada suatu hal. Menurut Sarlito dan Eko 2009, sikap adalah suatu objek. Objek yang disikapi individu dapat berupa benda, manusia atau informasi. Proses penilaian seseorang terhadap suatu objek dapat berupa penilaian positif dan negatif.

Hubungan Antara Penyuluhan Partisipatif Dengan Sikap Petani

Hubungan antara penyuluhan partisipatif (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi) dengan sikap petani dalam penyuluhan partisipatif menggunakan teknologi pilihan (pembuatan bokashi berbahan dasar kotoran sapi) dalam budidaya tomat di Desa Nian dengan menggunakan alat uji Korelasi Rank Spearman, yang dihitung menggunakan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi (α) 0,05. Hubungan penyuluhan partisipatif dengan sikap petani menggunakan teknologi pilihan (pembuatan bokashi pupuk kandang) dapat disajikan pada Tabel 8.

Gedung MPLK 000

Berdasarkan analisis dan tabulasi data pada Tabel 8 diatas, menunjukan bahwa indikator perencanaan memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap sikap petani menggunakan teknologi pupuk bokashi dengan nilai signifikansi atau signifikansi (2-tailed) 0,006 < α 0,01 artinya adanya hubungan signifikan antara indikator perencanaan pada penyuluhan partisipatif terhadap sikap petani menggunakan teknologi bokashi dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dikarenakan pada proses penyuluhan partisipatif petani secara aktif memberikan pendapat pada saat menyampaikan informasi, diskusi, curah pendapat dan pengambilan keputusan dalam mengidentifikasi masalah. Sedangkan berdasarkan analisis data pada tabel 18 diatas, menunjukan nilai signifikansi atau signifikansi (2-tailed) pada indikator pelaksanaan, monitoring dan evaluasi memiliki nilai probability > 0,05. Maka artinya tidak ada hubungan signifikan antara indikator pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dengan sikap petani menggunakan teknologi pilihan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa pertimbangan lain yang bertepatan/ bersamaan pada saat melaksanaan kegiatan yang tidak dapat dihindari/ ditinggalkan oleh petani serta kurangnya konsistensi petani dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan prosedur/ petunjuk yang diberikan.

Penyuluhan partisipatif merupakan pendekatan penyuluhan dari bawah ke atas (bottom up) untuk memberikan kekuasaan kepada petani agar dapat mandiri, yaitu kekuasaan dalam peran, keahlian, dan sumberdaya untuk mengkaji desanya sehingga tergali potensi yang terkandung, yang dapat diaktualisasikan termasuk permasalahan yang ditemukan (Suwandi, 2006). Partisipasi juga merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang dalam suatu kegiatan dimana adanya kerja sama antara petani responden mulai dari merencanakan, melaksanakan, memonitoring serta mengevaluasi kegiatan pembuatan bokashi berbahan dasar kotoran sapi sebagai pupuk dasar dalam budidaya tomat.

KESIMPULAN

  1. Petani menunjukan sikap setuju dengan semua tahapan metode penyuluhan partisipatif yaitu perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, hal ini karena metode penyuluhan partisipatif merupakan suatu metode pembelajaran yang melibatkan petani dalam berdiskusi, menyampaikan pendapat terkait masalah yang dihadapi dalam budidaya tomat dan mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama yang sesuai dengan kebutuhan petani.
  2. Petani menunjukan sikap setuju terhadap teknologi pupuk bokashi berbahan dasar kotoran ternak sapi dalam budidaya tanaman tomat, hal ini karena teknologi pilihan pupuk bokashi sangat dibutuhkan petani responden sehingga dapat membantu meningkatkan produksi tanaman tomat.
  3. Hasil penyuluhan partisipatif memiliki hubungan yang signifikan pada tahapan perencanaan terhadap sikap petani dalam memilih teknologi bokashi karena petani responden sangat aktif dalam memberikan pendapat, melakukan diskusi pada saat penyampaian informasi dan pengambilan keputusan dalam mengidentifikasi masalah sedangkan pada tahapan penyuluhan partisipatif untuk pelaksanaan, monitoring dan evaluasi tidak memiliki hubungan yang nyata dengan sikap petani dalam memilih teknologi karena ada beberapa pertimbangan lain yang bertepatan pada saat melaksanakan kegiatan yang tidak dapat dihindari atau ditinggalkan oleh petani dan petani kurang konsisten dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan prosedur atau panduan yang diberikan.

Kembali ke Beranda 02

E Library

Penulis  dilahirkan di Kupang pada  tanggal 30 Oktober tahun 1997. Pada tahun 2003 penulis masuk Sekolah Dasar Inpres Palsatu Kupang dan lulus pada tahun 2009. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke  SMP  Negeri  6  Kupang  dan  lulus  pada  tahun  2012. Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 3 Kupang dan lulus pada tahun 2015. Pada tahun 2016 penulis masuk ke Perguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima sebagai mahasiswa aktif pada Program Studi Penyuluhn Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering di Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

No events