Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Respon Petani Desa Narasaosina Kabupaten Flores Timur terhadap Introduksi Teknologi Budidaya Bawang Merah Asal Biji

Response of Farmer in Narasaosina Village, Flores Timur Regency to the Introduction of Seed-Originated Shallot Cultivation Technology

Tarsisius Kopong Bunga1, Maria Salli2, Herlyn Djunina2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian tentang respon petani terhadap introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji dilakukan di Desa Narasaosina Kabupaten Flores Timur.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon petani terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyuluhan menggunakan demontrasi plot dengan pendekatan desiminasi dan introduksi teknologi  budidaya bawang merah asal-biji. Respon petani diukur melalui indikator i.e. pengetahuan dan sikap petani pasca demplot. Untuk mengumpulkan data, dilakukan wawancara dan penyebaran kuesioner kepada responden sebanyak 44 orang setelah penyuluhan. Data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif menggunakan Skala Likert dan secara inferensial melalaui analisis Regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan berada pada kategori tinggi (rerata skor = 2,79, dalam rentang skor 2,34 - 3,00) dan sikap petani dalam kategori setuju atau menerima teknologi yang disuluhkan (rerata skor = 2,66, dalam rentang skor 2,34 - 3,00). Faktor – faktor yang mempengaruhi respon (pengetahuan + sikap petani) adalah umur (X1; B = 1,072; p < 0,05), pengalaman berusaha tani (X2; B = -0.961; p < 0,05), dan karakteristik teknologi (X3; B = -1.047; p < 0,05), dengan model regresi: Y = 7,399 + 1,072X1 – 0,961X2 – 0,047X3.

Kata kunci: bawang merah asal-Biji, respon, sikap, pengetahuan

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT.  Study on farmer responses to the introduction of seed-origined shallot cultivation technology was conducted in Narasaosina Village, Flores Timur Regency. The study was to determine the response of farmers to the technology of seed-origined shallot cultivation and to find out the factors affecting the response of the farmers. The method used in this study was counseling through a demonstration plot with a dissemination approach and the introduction of seed-originated shallot cultivation technology. Response of farmers was measured through indicators i.e. knowledge and attitudes after the extension using demonstration plot. To collect data, interviews and questionnaires were distributed to 44 respondents after counseling. Data collected were analyzed descriptively using Likert Scale and inferentially through multiple regression analysis. The results showed that knowledge of farmers was in the high category (mean score = 2.79, in the score range 2.34 - 3.00) and the attitude of farmers was in the category of agreeing or accepting (mean score = 2.66, within a score range of 2 ,34 - 3.00). Factors that influence the response (knowledge + attitude of farmers) of farmers were age (X1; B = 1.072; p < 0.05), farming experience (X2; B = -0.961; p < 0.05), and technological characteristics ( X3; B = -1.047; p < 0.05), with the regression model: Y = 7.399 + 1.072X1 – 0.961X2 – 0.047X3.

Keywords: seed-originated shallot, response, attitude, knowledge


PENDAHULUAN

Desa Narasaosina merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Adonara Timur  Kabupaten Flores Timur. Daerah ini merupakan daerah dataran rendah yang memiliki luas wilayah 3.150 Ha, dengan jumlah penduduk 1.234 jiwa yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Desa Narasaosina memiliki potensi di bidang pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura (khususnya bawang merah dengan produktivitasnya mencapai 18,8 ton / ha) dan juga sektor peternakan (Profil Desa Narasaosina Tahun 2019). Selama  ini budidaya bawang merah di desa ini  adalah budidaya dengan menggunakan sistem umbi padahal ada teknologi pengembangan bawang merah asal biji yang memiliki keuntungan. Pengangkutan TSS lebih mudah dan lebih murah, menghasilkan tanaman yang lebih sehat karena TSS bebas patogen penyakit, dan menghasilkan kualitas umbi yang lebih baik. Umur panen bibit TSS 19-26 hari lebih lama dibanding umbi bibit tradisional, namun bobot hasil bawang merah TSS secara signifikan dua kali lipat lebih tinggi dengan ukuran umbi lebih besar dibandingkan hasil dari umbi bibit tradisional (Basuki, 2009). Budidaya bawang merah asal biji atau TSS (true shallots seed) merupakan suatu inovasi untuk petani di NTT khususnya Flores Timur.

Budidaya bawang merah asal biji ini akan diperkenalkan kepada petani di Desa Narasaosina khususnya pada dusun dua, dimana kelompok ini yang  memiliki jumlah anggota 80 orang dengan komuditas unggulannya yaitu bawang merah, maka perlu dilakukan pengkajian terkait teknologi dimaksud untuk mengetahui respon kelompok tani terhadap teknologi yang diperkenalkan dan faktor - faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap teknologi budidaya bawang merah dengan menggunakan biji. 

Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat dikenal di Indonesia sebagai bumbu penyedap masakan. Umbi bawang merah mengandung minyak atsiri yang diketahui mampu menimbulkan aroma khas dan memberikan rasa gurih pada masakan (Suriani, 2011). Umbi bawang merah mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Permintaan dan kebutuhan bawang merah yang terus meningkat setiap tahunnya belum dapat diikuti oleh peningkatan produksinya. Hal ini disebabkan oleh faktor bebas dalam hal budidaya tanaman seperti keragaman jenis tanah, pengendalian hama, penyakit dan gulma, pemupukan serta penanganan pascapanennya yang belum tepat (Ambarwati & Prapto, 2003). Hal lain yang menjadi penyebab rendahnya hasil bawang merah adalah belum banyak tersedia varietas atau kultivar unggul yang sesuai dengan lingkungan setempat serta belum menyebarnya paket teknologi pertanian ke tingkat petani. Perbanyakan bawang merah dengan umbi masih disukai petani karena lebih fleksibel. Namun bahan tanam dari umbi membutuhkan biaya pengangkutan dalam penyediaan, rentan terhadap penyakit busuk umbi dan juga penurunan produksi karena penanaman dari generasi ke generasi masih menggunakan umbi.

Budidaya bawang merah selain menggunakan umbi, dapat juga menggunakan benih botaninya atau true shallots seed (TSS). Budidaya bawang merah asal biji memiliki beberapa kelebihan dibandingkan menggunakan umbi, yaitu volume kebutuhan TSS lebih rendah (3-4 kg/ha) dari pada bibit umbi (1-1,5 ton/ha), pengangkutan TSS lebih mudah dan lebih murah, menghasilkan tanaman yang lebih sehat karena TSS bebas patogen penyakit, dan menghasilkan kualitas umbi yang lebih baik (Sumarni, 2012). Umur panen bibit TSS 19-26 hari lebih lama dibanding umbi bibit tradisional, namun bobot hasil bawang merah TSS secara signifikan dua kali lipat lebih tinggi. Kegiatan ini akan di lakukan di Dusun dua Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Pendampingan kawasan hortikultura BPP Narasaosina ini fokus pada budidaya bawang merah asal biji yang memiliki beberapa kelebihan di bandingkan menggunakan umbi. Merujuk pada permasalahan di atas maka penulis akan melakukan penelitian terkait “Respon Petani Desa Narasaosina Kabupaten Flores Timur Terhadap Introduksi Teknologi Budidaya Bawang Merah Asal Biji ”.

Kembali ke Beranda 02

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui Respon petani terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji di Desa Narasaosina
  2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji di Desa Narasaosina

METODOLOGI PENELITIAN

Materi dan Metode

Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: bibit bawang merah asal biji, pupuk kandang, Alat yang digunakan adalah cangkul, parang, garu, ember, timbangan, gembor, kertas label, meteran, tali plastik, dan alat- alat tulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode demonstrasi plot (demplot), dengan pendekatan desiminasi teknologi dengan melibatkan petani responden yang di mulai dari tahap awal persiapan, penyuluhan ketrampilan, penerapan teknologi dalam bentuk demplot, sampai pada pengukuran hasil.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data primer adalah data yang didapat langsung dari lokasi penelitian melalui penyebaran kuisioner dan wawancara pada petani/responden.
  2. Data sekunder adalah data yang didapat dari instansi pemerintah baik di tingkat kecamatam maupun di tingkat desa yang menjadi lokasi penelitian.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, berupa daftar pertanyaan dalam bentuk pilihan jawaban yang disiapkan oleh peneliti untuk mengetahui perilaku petani dalam hal ini respon petani terhadap introduksi teknologi bawang merah asal biji, apakah mereka akan menerima teknologi ini atau tidak.

Metode Pengumpulan Data

  1. Metode observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diamati.
  2. Metode Wawancara, adalah suatu percakapan langsung dengan tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan format Tanya jawab yang terencana.
  3. Kuisioner, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden, untuk memperoleh jawaban dari responden.
  4. Dokumentasi, digunakan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi literatur, data monografi, foto dan data lainnya yang relevan dengan masalah yang diteliti.
  5. Metode kepustakaan, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah dan melalui internet yang berhubungan dengan topik penelitian
  6. Demonstrasi plot, adalah metode penyuluhan langsung kepada petani dengan membuat lahan percontohan untuk mendorong produktifitas dan hasil pertanian, penggunaan pupuk secara tepat dan berimbang sehingga hasil panen lebih maksimal.

Populasi dan Sampel Penelitian

Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah petani/masyarakat yang ada di Desa Narasaosina sebanyank 44 orang yang tergabung dalam dua dusun. Sedangkan sampel merupakan sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010). Dengan perhitungan untuk menentukan ukuran sampel penulis menggunakan rumus Taro Yamane dalam Riduwan (2013), yaitu:

n = N ÷ (Nd2 + 1)

Dimana: n = jumlah sampel; N = jumlah populasi; d² = presesi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 90%). Berdasarkan rumus tersebut di peroleh jumlah sampel sebagai berikut: n = N ÷ (Nd2 + 1) = 100 ÷ (100 × 0,12 + 1) = 100 ÷ 2 = 50 responden.

Dalam penelitian ini jumlah populasi sebanyak 80 orang dimasukkan kedalam rumus di atas dengan tingkat presisi yang ditentukan, yaitu 10%. Jadi dijabarkan sebagai berikut:

n = N ÷ (Nd2 + 1) = 80 ÷ (80× 0,12 + 1) = 44,44

Jadi n = 44,44 dibulatkan menjadi 44 sampel/responden

Variabel Penelitian

  1. Respon petani, yaitu respon petani bawang terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji, yang diukur dari pengetahuan dan sikap petani bawang pasca dilakukan penyuluhan melalui metode desiminasi.
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon adalah semua faktor baik foktor internal yang ada pada diri petani maupun eksternal yang dapat mempengaruhi petani dalam menerima atau menolak suatu teknologi baru, yang meliputi: umur, tingkat pendidikan, luas lahan uasaha tani, pengalaman berusaha tani, dan sifat/karakteristik teknologi.

Metode Analisis Data

Uji Skoring

00 Tabel Acuan Kategori Rerata SkorUji Skoring merupakan suatu standar atau dasar ukuran yang menunjukan ketetapan masyarakat/petani bawang terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji di Desa Narasaosina dan mengidentifikasi fakto-faktor yang berpengaruh terhadap respon petani bawang. Respon petani dan factor-faktor yang mempengaruhi respon terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji dianalisis menggunakan rumus skoring menurut Anzwar (2012) dengan langkah penyelesaian sebagai berikut:

Skor terendah = bobot terendah × jumlah pertanyaan × jumlah sampel

Skor tertinggi = bobot tertinggi × jumlah pertanyaan × jumlah sampel

Rentang Skala = (Skor Tertinggi – Skor Terendah): jumlah kategori

Nilai total = Skor × Frekuensi

Nilai rerata skor = (rerata skor indikator 1 +…..+ rerata skor indicator ke-n) ÷ (Jumlah indikator)

Penyusunan tabel distribusi nilai skor untuk kategori respon, seperti Tabel 1.

Uji Regresi Berganda

Uji Regresi Berganda ditujukan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap teknologi budidaya bawang merah asal biji, digunakan analisis regresi linier berganda, yaitu:

Y = a + b1.X1 + b2.X2 + b3.X3 + b4.X4 + ε

Dimana: Y: respon petani, X1: umur, X2: tingkat Pendidikan, X3: pengalaman berusaha tani, X4: luas lahan, X5: karakteristik teknologi, X6: metode penyuluhan, a: konstanta, b: koefisien regresi

Kembali ke Beranda 02

HASIL PENELITIAN

Pengetahuan Petani

Gedung MPLK 000Pengetahuan merupakan aspek kognif yang ada pada diri manusia. Pengetahuan diawali dari proses melihat sampai dengan proses berpikir dalam diri manusia, pengetahuan terkait dengan apa yang diketahui oleh manusia. Hasil evaluasi tingkat pengetahuan dalam penyuluhan terhadap introduksi budidaya bawang merah asal biji yang dilakukan terhadap 44 petani responden disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan hasil analisi Tabel 2, menunjukan tingkat pengetahuan petani terhadap penyuluhan berada pada kategori tinggi dengan skor 2,79 tergolong kategori tinggi. Hal ini dikarenakan petani telah mendapatkan penyuluhan terhadap introduksi budidaya bawang merah asal biji yaitu petani sudah mengetahui menfaat dari budidaya tanaman bawang merah menggunakan biji dan dapat meningkatkan produktifitas bawang merah dengan kisaran 24-34 ton/ha, petani sudah mengetahui waktu yang tepat untuk menanam bibit bawang merah jenis biji pada lahan usahatani yaitu sekitar berumur 40-50 hari, petani sudah mengetahui jarak tanam bibit bawang merah asal biji yaitu musim hujan 10 x 12 cm dan kemarau 10 x 10 cm, petani sudah mengetahui waktu pemupukan yang tepat yaitu 2,4 dan 6 minggu setelah tanam, dan petani sudah mengetahui waktu panen yaitu pada umur 60 – 70 hari setelah tanam. Dimana petani dilibatkan secara langsung dalam kegiatan demplot dan berperan aktif sehingga mempermudah pemahaman petani terhadap teknologi yang diperkenalkan.

Sikap Petani

Sikap petani adalah kecenderungan petani terhadap suatu teknologi apakah petani menerima, menolak ataukah ragu - ragu terhadap teknologi tersebut. Sikap petani terhadap penyuluhan dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa sikap petani terhadap penyuluhan terhadap introduksi buadidaya bawang merah asal biji. Setelah melakukan penyuluhan sikap petani mengalami peningkatan sebesar 2,66 dengan tergolong kategori menerima. Hal ini terjadi karena penyuluhan terhadap budidaya bawang merah asal Gedung MPLK 000biji secara langsung memperkenalakan atau menerapkan petani bagaimana cara budidaya dengan baik dan petani tertarik menggunakan bawang merah asal biji, petani sudah menyetujui menggunakan bawang merah asal biji, dapat meningkatkan produksi tanaman, bawang merah asal biji dapat mengurangi kebutuhan bening bawang, adanya intoduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji dalam kegiatan budidaya tanaman.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Petani

Faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji meliputi umur, pendidikan, pengalaman berusahatani, luas lahan, karakteristik teknologi. Untuk mengetahui hubungan faktor internal-external terhadap hubungan tahapan adopsi petani dilakukan analisis regresi linear berganda. Dalam analisis yang dilakuka ada tiga predikator yaitu, X1 umur, X3 pengalaman berusahatani dan  X5 karakteristik teknologi. Respon petani (Y).

Dari Tabel 4 dapat disimpulkan hasil analisis regresi hubungan antara respon petani terhadap umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, luas lahan, karakateristik teknologi, secara bersama sama diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 7,399 – 1,072X1 + 0,043X2 – 0,961X3 – 0,097X4  – 1,047X5

Dimana: Y  = Respon petani, X1 = Umur, X2 = Tingkat Pendidikan, X3 =  Pengalaman berusahatani X4 = Luas lahan; X5 = karakteristik teknologi.

Dari lima faktor external - internal yang memiliki hubungan signifikasi terhadap tahapan adopsi petani terhadap introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji oleh petani Di Desa Narasaosina terdapat tiga faktor yang berpengaruh terhadap tahapan introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji oleh petani tersebut yaitu:  umur, pengelaman berusahatani, karakteristik teknolgi.

Hasil analisis regresi linear berganda memperlihatkan bahwa variable umur, pengalaman berusahatani, karakteristik teknologi berpengaruh terhadap introduksi teknologi bawang merah asal biji petani (Y) secara similtan/bersama sama dengan nilai Fhitung adalah sebesar 3.229 dengan signifikan F sebesar 0.016 (Tabel Model Anova). Hasil ini menyatakan bahwa pengalaman berusahatani,karakteristik teknologi berpegaruh signifikan secara simultan terhadap introduksi teknologi bawang merah. Berdasarkan Tabel 4, maka hasil uji t dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Gedung MPLK 000Umur petani reponden (x1)

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regersi berganda dapat diketahui bahwa umur berpengaruh terhadap tingkat penerapan teknologi introduksi bawang merah asal biji. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi untuk variabel X1 diperoleh nilai t hitung = 2,033 dengan tingkat signifikan 0,049. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih besar dari taraf  5% yang berarti H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya umur petani mempunyai pengaruh terhadap respon petani. Hal ini menunjukan umur menjadi suatu faktor yang mempengaruhi daya tangkap petani baik dalam merespon, melakukan atau mengembangkan budidaya bawang merah asal biji. Dari tabel 16 menunjukan bahwa persentase tertinggi umur petani tertinggi pada usia produktif di 52,27 %,  dan yang sisanya berada pada umur tidak produktif dan kurang produktif. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian dari Ar-Rasily (2016) dalam penelitiannnya menemukan bahwa umur berpengaruh pada tinggkat pengetahuan seseorang kemungkinan karena pengetahuan yang dimiliki bisa saja berasal dari pengetahuan yang dimilikinya sebelumnya, pengalaman pribadi maupun orang lain dan beberapa faktor lainnya yang dapat membentuk pengetahuan seseorang dalam jangka waktu yang lama dan akan bertahan sampai usia tua. Dalam teorinya, usia mempengaruhi perkembangan daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin tua usia seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada usia tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun.

Pengalaman berusaha tani (X3)

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regersi berganda dapat diketahui bahwa berusaha tani berpengaruh terhadap tingkat penerapan teknologi introduksi bawang merah asal biji. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi untuk variabel X3 diperoleh nilai t hitung = -2,218 dengan tingkat signifikan 0,033. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih besar dari taraf 5% yang berarti H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya pengalaman usaha tani yang mempunyai nilai pengaruh terhadap respon petani.

Karena dari hasil penelitian 50% memiliki lama usaha tani >10 tahun artinya bahwa pengalaman petani walaupun masi awal atau suda lama berusha tani sangat berpengaru terhadap reapon petani. Hal ini menunjukan bahwa respon memimiki pengelaman yang cukup baik dalam intoduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji sehingga dari pengelaman tersebutlah mereka mampu memperoleh pengetahuan yang belum pernah diterapkan.

Karakteristik teknologi (X5)

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regersi berganda dapat diketahui bahwa karakteristik teknologi berpengaru terhadap tingkat penerapan teknologi introduksi bawang merah asal biji. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi untuk variabel X5 diperoleh nilai t hitung =-2.468 dengan tingkat signifikan 0,018. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih besar dari taraf  5% yang berarti H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya karakteristik teknologi mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien regresi (R) karakteristik teknologi X5 adalah 1,047 dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 1,424%. Variabel karakteristik teknologi memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa respon petani berpengaruh positif terhadap pengetahuan petani. Sedangkan signifikansi F adalah 0,000 < 0,05, ini berarti bahwa karakteristik teknologi sangat berpengaruh secara signifikan terhadap pengetahuan petani.

KESIMPULAN

Respon petani di Desa Narasaosina terhadap penyuluhan teknologi budidaya bawang merah asal biji setelah dilakukan penyuluhan terhadap tahap pengetahuan berada pada kategori tinggi, dan sikap berada pada kategori meNerima. Secara simultan (bersamaan) faktor umur, pengelaman berusaha tani dan karakteristik teknologi berpengaruh signifikan terhadap introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji di Desa Narasaosina, yang ditunjukkan melalui model regresi: Y = 7,399 + 1,072X1 – 0,961X2 – 0,047X3, dimana X1 = umur, X2 = pengalaman, X3 = karakteristik teknlogi. Berdasarkan hasil kajian disarankan, perlu adanya pendampingan lebih lanjut bagi petani tentang introduksi teknologi budidaya bawang merah asal biji sehingga petani benar benar mengadopsi teknologi tersebut secara baik.

Kembali ke Beranda 02

E Library

1Penulis dilahir pada tanggal 15 Agustus 1994 di Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur Kabupaten Flores Timur. Pada tahun 2002 penulis masuk Sekila Dasar dan selesai studi pada tahun 2007. Pada tahun 2008 penulis melanjutkan studi di SMP Negeri Satu Lamahala dan selesai studi di tahun 2010 dan kemudian penulis mulai melanjutkan studi di tingkat menengah atas di Sekolah SMA Muhammadiyah dan penulis menyelesaikan  setudi pada tahun 2013. Penulis diterima sebagai Mahasiswa di Progran Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manejemen Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada Tahun 2016. Untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Menejemen Pertanian Lahan Kering maka penulis menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Respon Petani Desa Narasaosina Kabupaten Flores Timur Terhadap Introduksi Teknologi Budidaya Bawang Merah Asal Biji” 

No events