Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Persepsi Petani di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap Teknologi Amoniasi Jerami Padi sebagai Pakan Ternak Sapi

Perception of Farmers in Linamnutu village, Amanuban Selatan Districts, Timor Tengah Selatan Regency on Ammonia Technology for Rice Straw as Cattle Feed

Imelda Boimau1, Antonius Jehemat2, Herlyn Djunina3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang -2021

INTISARI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi petani di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, terhadap teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani. Penelitian berlangsung selama bulan Agustus sampai bulan November 2020dengan jumlah responden 34 orang yang diambil secara acak dari total populasi 52 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode wawancara, metode kuesioner, metode dokumentasi dan metode demonstrasi cara. Data-data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis Skala Licker dan Rank Sperman. Dari analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa petani di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Selatan, menunjukan respon yang berkategori tinggi (persepsi positif) terhadap penerapan teknologi amoniasi jerami padi untuk makanan ternak sapi. Adapun faktor internal dan faktor ekternal yang berpengaruh terhadap persepsi peternak dalam penerapan teknologi amoniase jerami padi yaitu umur dengan nilai rs (0,863), karakteristik teknologi dengan nilai rs (0,475) dan pendidikan dengan nilai rs (0.395).

Kata kunci: persepsi petani, teknologi amoniase, ternak sapi

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. This study aims to determine the perceptions of farmers in Linamnutu village, Amanuban Selatan Districts,Timor Tengah Selatan Regency on ammonia technology for rice straw as cattle feed and to find some factors influence farmers’ perceptions about the technology. This research was conductedfrom August until November 2020 with 34 respondents that randomly chosen from total population 52 farmers. The method used in this research were the observation method, the interview method, the questionnaire method, the documentation method and the method demonstration method. The data obtained were analyzed using Likert Scale analysis and Rank Spearman. From the analysis and discussion, it can be concluded that the farmer's in Linamnutu Village, Amanuban Selatan Districts, Timor Tengah Selatan Regency, showed the high level category (positive perception) perception on ammonia technologi for rice straw as cattles feed.The internal and external factors that influence farmers’ perceptions in the application of rice straw ammonia technology are age with a value of rs (0,863), technological characteristics with a value of rs (0,475) and education witha a value of rs (0,395).

Keywords: perception of farmers, ammonia technology, cattle

PENDAHULUAN

Desa Linamnutu merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timurmemiliki potensi yang cukup besar di bidang pertanian dan peternakan. Luas wilayah Desa Linamnutu 1.976 Ha dan jumlah ternak sapi mencapai 400 ekor, (Profil Desa Linamnutu 2019). Dalam bidang peternakan kondisi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkanmusim hujan, menyebabkan ketersediaan pakan selalu menjadi kendala pengembangan peternakan di wilayah Desa Linamnutu. Karena itu, diperlukan upaya pengembangan teknologi pengolahan dan pengawetan makanan bagi ternak untuk meningkatkan jaminan ketersediaannya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pengolahan jerami padi melalui teknologi amoniasi. Dalam hal ini teknologi yang dimaksudkan adalah teknologi pengawetan hijauan. Karena makanan pokok dari ternak sapi adalah bahan-bahan berserat kasar seperti rumput-rumputan, jerami padi, baik dalam bentuk segarmaupun dalam bentuk kering atau olahannya. Jerami padi merupakan bahan berkualitas rendah. Karena itu pemberiannya kepada ternak sebaiknya dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Dari pengolahan ini, diharapkan dapat memberikan manfaat biologis bagi pertumbuhan ternak. Sejuah ini limbah hasil pertanian, termasuk jerami padi, belum dimanfaatkan secara maksimal. Biasanya hasil limbah tersebut dibuang begitu saja bahkan dibakar. Teknologi amoniasi dapat memecahkan ikatan serat kasar pada Jerami yang kering sehingga dapat meningkatkan kecernaannya oleh ternak sapi. Teknologi ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan kekurangan pakan di Desa Linamnutu.Selanjutnya dapat berdampak pada peningkatan produktivitas ternak sapi dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Berdasarkan teknologi amoniasi jerami padi diatas, bahwa teknologi amoniase jerami padi belum diketahui oleh petani di Desa Linamnutu sehingga peneliti memberikan penyuluhan yang berkaitan dengan penggunaan teknologi amoniase dari limbah hasil pertanian yaitu jerami padi yang dilakukan dengan pengolahan jerami padi menjadi pakan ternak sapi karena dilihat dari potensi yang ada di Desa Linamnutu tersebut mendukung dalam proses pengolahan dan teknologi amoniasi jerami padi dapat pula membantu mengatasi kekurangan pakan. Dengan adanya input teknologi tersebut maka diharapkan adanya persepsi yang baik dari para petani, karena persepsi petani terkait baik buruknya teknologi dapat mempengaruhi tujuan dari input teknologi. Sehingga adanya keberlanjutan dari input teknologi tersebut dalam bentuk penerapannya dilapangan. Selain itu adapula faktor lain dari dalam dan luar yang dapat mendukung persepsi petani. Berdasarkan pemaparan potensi dan masalah yang ditemukan dilapangan serta kebutuhan para petani tersebut, maka peneliti mengambil judul penelitian yakni “Persepsi Petani Di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Terhadap Amoniasi Jerami Padi Sebagai Pakan Ternak Sapi”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui persepsi petani di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi
  2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi petani di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Dan Sumber Data Penelitian

Data adalah bahan mentah yang perlu diolah untuk menghasilkan informasi atau keterangan baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukan fakta sesuai sumbernya. Data yang di kumpulkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data primer adalah data yang dapat langsung dari lokasi penelitian melalui observasi, wawancara dan pembagian kuesioner.
  2. Data sekunder adalah data yang dapat dari pihak lain yang dilakukan dengn studi pustaka dengan datayang relefan dan berhubungan dengan penelitian ini.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini petani di Desa Linamnutu dengan jumlah 52 orang yang memiliki ternak sapi dengan menggunakan sampel acak sederhana. Salah satu cara untuk menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian agar data representatif adalah dengan menggunakan tingkat kesalahan baku yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan tenaga dan waktu yang tersedia. Dalam21 penelitian ini menggunakan rumus Slovin (Ummar 2001), untuk mengetahui jumlah sampel yang akan diambil menggunakan rumus sebagai berikut:

n = N ÷ (Nd2 + 1)

Dimana: n = jumlah sampel; N = jumlah populasi; d² = presesi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 90%). Berdasarkan rumus tersebut di peroleh jumlah sampel sebagai berikut: n = N ÷ (Nd2 + 1) = 100 ÷ (100 × 0,12 + 1) = 34 responden.

Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data peneliti melakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

  1. Metode Observasi. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran (Fatoni, 2006).
  2. Metode Wawancara. Wawancara adalah pertemuan dua orang bertukar informasidan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam topik tertentu (Sugiyono, 2011).
  3. Metode Kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis pada responden untuk dijawab (Sugiyono 2011).
  4. Metode Demonstrasi Cara. Demonstrasi Cara adalah pembuatan amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak dengan cara memperagakan alat bahan dan cara pembuatan amoniasi jerami padi secara langsung.
  5. Metode Dokumentasi. Dokumentasi adalah metode pengumpulan data berupa dokumendokumen, literatur, peta atau gambar dengan objek-objek yang mengenai dengan penelitian.
  6. Metode Studi Pustaka. Studi Pustaka adalah metode ini digunakan untuk mengumpulkan dan mempelajari beberapa literatur berupa buku-buku yamg berkaitan dengan masalah penelitian.

Metode Analisis Data

Analisis Persepsi Petani Terhadap Teknologi Pembuatan Amoniasi Jerami Padi

00 Tabel Acuan Kategori Rerata SkorUji Skala Likert merupakan alat analisis deskriptif yang digunakan untuk mendeskripsikan persepsi petani/peternak terhadap teknologi pembuatan amoniasi jerami padi yang ada di desa Linamnutu dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi petani/peternak. Setiap skor jawaban dari semua variabel yang diukur dijumlahkan untuk memperoleh skor kumulatif. Skor kumulatif dari responden kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan yaitu: tinggi, sedang dan rendah dengan rentang interval sebagai berikut (Levis, 2013) :

ὶ = (R – r) ÷ n

Dimana: ὶ = nilai interval, R = skor kumulatif tertinggi, r = skor kumulatif terendah, n = jumlah kategori.

ὶ = (R – r) ÷ n = (3-1) ÷ 3 = 0,66.

Hasil analisis persepsi petani terhadap pengunaan teknologi amoniasi jerami padi sebagai ternak sapi memiliki pencapaian skor dapat dilihat pada Tabel 1.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel yang diamati dengan pengetahuan dan sikap anggota kelompok tani dilakukan dengan menggunakan analisa statistik non parametik dengan menggunakan korelasi Rank Sperman (rs) dalam Siegel (1999).

ρ (rs)  = 1 – {(6∑bi2) ÷ (n (n2 – 1))}

Dimana: rs = koefisien korelasi sperman, bi =  perbedaan setiap pasang Rank, n = jumlah pasang Rank, i = nomor responden (1,2,3....).

Untuk pengujian tingkat signifikan hubungan digunakan nilai probabilitas (p) atau nilai signifikan hasil analisis menggunakan program SSPS dibanding dengan taraf nyata (α) = 0,05 dengan kaidah keputusan dalam penarikan kesimpulan

  • Jika nilai probabilitas (P) < 0,01 = sangat signifikan (**)
  • Jika nilai probabilitas (P) < 0,05 = signifikan (*)
  • Jika nilai probabilitas (P) > 0,05 = tidak signifikan

Untuk dapat memberikan tafsiran terhadap korelasi yang ditemukan tersebut maka dapat berpedoman pada ketentuan Tabel 2.

HASIL PENELITIAN

Persepsi Petani Terhadap Penerapan Teknologi Amoniasi Jerami Padi

Persepsi merupakan pengalaman belajar tentang objek peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Admin dkk, 2102). Persepsi juga diartikan pandangan seseorang dalam melihat dan memahami hubungan diri dengan masyarakat. Persepsi juga akan dapat melahirkan rangsangan yang baik untuk mengetahui atau melakukan sesuatu yang dapat diperoleh melalui alat indera, fakta atau pengelaman. Persepsi tentang adopsi teknologi adalah pandangan yang dimiliki seseorang dalam melihat dan memahami manfaat dari teknologi yang diadopsi bagi usahanya (Fristado, 2009)

Gedung MPLK 000Pengukuran persepsi petani terhadap pengetahuan umum pakan ternak dan penerapan teknologi Amoniasi Jerami Padi dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan diikuti dengan kegiatan demonstrasi cara secara langsung pada petani responden. Tujuan penggunaan metode demonstrasi cara ini diharapkan agar petani responden bisa memahami lebih cepat dan dapat melihat cara-cara atau proses penbuatan sehingga penyaluran informasi mengenai teknologi fermentasi pakan ternak bisa cepat dipahami dan dimengerti. Persepsi yang dilihat merupakan tanggapan para peternak terhadap pembuatan teknologi amoniasi dari jerami padi, yang dilihat dari tingkat pengetahuan peternak yaitu pengetahuan umum pakan ternak dan pengetahuan teknologi amoniasi jerami padi sebagai suatu inovasi bagi mereka. Hasil analisis persepsi petani terhadap teknologi amoniasi jerami padi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Secara umum pada Tabel 3, menunjukan bahwa dalam indikator yang dibuat dalam 23 pertanyaan untuk diajukan sesudah dilakukan penyuluhan dan penerapan teknologi. Pengetahuan petani terhadap teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi tergolong tinggi, yang ditunjukan oleh hasil skala likert pengetahuan dengan rata-rata 2,90. Setelah kegiatan penyuluhan dan melalui analisis data kuesioner diketahui bahwa pengetahuan petani berada pada kategori tinggi. Artinya petani menyadari bahwa dengan memanfaatkan limbah pertanian (jerami padi) yang selama ini tidak digunakan dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan mengatasi kekurangan pakan selama musim kemarau.

Pengetahuan petani yang tergolong rendah dikarenakan petani kurang menerima informasi yang berkaitan dengan pakan dalam hal ini penggunaan limbah pertanian (jerami padi) yang pada dasarnya dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengatasi masalah pakan pada ternak khususnya ternak sapi. Hal ini sejalan dengan pendapat Imran (2019) bahwa perubahan pengetahuan tidak hanya dengan cara penyuluhan tetapi dengan cara perbaikan metode penyuluhan seperti demonstrasi cara berpengaruh dan signifikan meningkatkan pengetahuan petani. Selain itu adanya pengetahuan yang baik tentang hal atau teknologi, akan mendorong terjadinya perubahan pengetahuan individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu inovasi menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut.

Sikap Petani Terhadap Pembuatan Amoniasi Jerami Padi

Sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negative terhadap obyek atau situasi secara konsisten. Sikap yang ditampilkan oleh petani terhadap sebuah inovasi yang menentukan penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut (Ahmadi, 1991). Apabila sifat yang ditunjukkan petani negatif maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima teknologi yang diterapkan. Berikut tabel sikap Petani Terhadap Pembuaatan Amoniasi Jerami Padi yang disajikan di bawah ini:

Gedung MPLK 000Berdasarkan Tabel 4 menunjukan bahwa dari 6 pertanyaan yang diajukan sesudah penyuluhan dan demonstarasi cara, sikap petani terhadap teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi yang ditunjukan dalam hasil analisis menggunakan skala likert dengan rata-rata sesudah melakukan kegitan yang dimaksud mencapai 2,97 yang tergolong setuju. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan penyuluhan dan demonstrasi cara terjadi respon positif dari petani dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai teknologi yang disampaikan.

Petani menyadari bahwa kegiatan usaha ternak dilakukan seperti petani biasanya membuang dan membakar jerami merupakan kegiatan yang hanya menguntungkan petani dalam jangka waktu yang sangat pendek karena dapat merusak keadaan tanah serta berpengaruh pada kesehatan manusia. Dimana kebiasaan tersebut dapat merugikan petani itu sendiri dalam jangka waktu yang panjang, seperti kekurangan persediaan pakan pada saat musim panas, pengolahan limbah jerami padi yang masih kurang, kerusakan sifat fisik, kimia dan bilogi tanah. Sebab itu kehadiran teknologi ini seperti menjawab kebutuhan petani, dimana jerami padi yang selama ini terbuang, tidak terpakai, dianggap sebagai pencemaran lingkungan akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan dan dapat mengatasi kekurangan pakan pada ternak sapi selama musim kemarau yang dialami oleh petani. Serta menurut petani teknologi ini sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi petani dalam kegiatan usaha ternaknya selanjutnya. Dengan demikian petani tersebut mau menerima dan menerapkan teknologi yang disampaikan dan mau menerapkan pada usaha ternaknya. Hal ini didukung oleh Lemana dan Wulandari (2010) yang mengemukakan bahwa perubahan sikap terhadap penyerapan dan penerapan teknologi dapat dilihat dari ketertarikan petani untuk dapat menerapkan teknologi yang diterima. Selain itu dari melihat dan melakukan demonstrasi cara sendiri membuat petani dapat mengingat kemudian memaknai keunggulan dari teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi sehingga terjadi perubahan sikap. Setelah adanya perubahan sikap barulah petani akan menerima atau menolak inovasi teknologi tersebut (Notoadmodjo, 200750

Analisis Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Persepsi

Gedung MPLK 000Untuk mengetahui hubungan faktor yang menpengaruhi persepsi petani responden terhadap penerapan teknologi amoniasi jerami padi maka dapat dilihat hasil analisis data korelasi range spearman pada tabel di bawah ini. Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukan bahwa dari 9 faktor yang diuji memiliki bentuk hubungan yang sama yaitu positif tetapi dengan kekuatan hubungan yang berbeda-beda. Terhadap pengetahuan dan sikap petani yaitu umur, jumlah ternak dan karakteristik teknologi dengan nilai koefisien korelasi berturutturut adalah 0,863, 0,395, dan 0,475. sebab itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Umur

Umur memiliki hubungan sangat nyata dengan kekuatan hubungan sedangterhadap pengetahuan dan sikap petani dalam menerima teknologi amoniasi jerami padi dengan nilai rs = 0,863; P = 0,000 berpengaruh nyata dan bentuk hubungannya positif tetapi kekuatan hubungannya rendah terhadap pengetahuan dan sikap petani. Umur petani mempengaruhi seseorang untuk mempelajari, memahami dan menerapkan suatu teknologi yang diperoleh dari kegiatan penyuluhan. Dengan demikian, petani mampu mengetahui dan menerima teknologi yang disuluhkan sehingga terjadi perubahan pengetahuandan sikap petani sehingga dapat mencoba dan menerapkan pada kegiatan usaha ternak. Hal ini sejalan dengan pendapat Samun, et al,. (2011) bahwa petani dengan umur produktif memiliki fisik yang potensial untuk mendukung kegiatan usaha ternak, dinamis, kreatif dan cepat dalam menerima teknologi baru.

2. Jumlah Ternak

Jumlah ternak berdasarkan hasil uji korelasi menunjukan bahwa nilai (rs = 0,395; P = 0,021) berpengaruh nyata dan bentuk hubungannya positif tetapi kekuatan hubungannya rendah terhadap pengetahuan dan sikap petani. Hal ini disebabkan karena dengan jumlah ternak yang lebih banyak maka petani memiliki kemampuan untuk membuat perbandingan teknologi mana yang lebih baik. Petani juga akan lebih cenderung mencoba hal-hal baru dalam mengembangkan usaha ternaknya, sehingga teknologi baru lebih mudah diterima dibandingkan petani pemula. Dengan jumlah ternak yang lebih banyak juga membuat petani lebih mudah dalam membandingkan dan mengambil keputusan untuk menerima teknologi dan menentukan sikap petani. Hal ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2003), yang mengemukakan bahwa pengalaman seseorang dalam berusaha ternak berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar.

3. Karakteristik Teknologi

Karakteristik teknologi berdasarkan hasil uji korelasi menunjukan bahwa nilai (rs = 0,475; P = 0,005) berpengaruh nyata dan bentuk hubungannya positif tetapi kekuatan hubungannya rendah terhadap pengetahuan dan sikap petani. Hal ini disebabkan karena teknologi amoniasi jerami padi yang disuluhkan kepada petani mudah untuk dilakukan dalam hal ini pengaplikasian, ramah lingkungan, tidak membutuhkan biaya dan tenaga yang cukup, bahan-bahannya dapat ditemukan dilingkungan setempat, teknologi tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan petani, serta teknologi tersebut memiliki keuntungan seperti dapat mengatasi masalah pakan selama musim kemarau. Keuntungan dari teknologi tersebut disampaikan kepada petani melalui penyuluhan sehingga teknologi yang disampaikan dapat diterima oleh petani dan dipahami, serta metode penyuluhan juga sangat memberikan pengaruh terhadap perubahan pengetahuan dan sikap petani seperti melakukan demonstrasi cara sehingga petani dapat melihat dan melakukan secara langsung sehingga petani mulai tertarik untuk menerima teknologi yang disampaikan dan timbul keinginan untuk dapat menerapkan teknologi tersebut diusaha ternaknya.

Gedung MPLK 000Hasil analisis korelasi juga menunjukan bahwa pendidikan, pendapatan, lama beternak, luas lahan, intensitas penyuluhan dan ketersediaan informasi memiliki hubungan yang positif tetapi keenam faktor tersebut yang memiliki kekuatan yang sangat rendah dimana nilai rs masing-masing secara berurutan sebagai berikut:

Pendidikan dan luas lahan memiliki hubungan tidak nyata dengan kekuatan hubungan rendah terhadap pengetahuan dan sikap petani dalam menerima teknologi amoniasi jerami padi. Meskipun Pendidikan dan luas lahan memiliki pengaruh terhadap sikap petani tetapi pengaruh tersebut tidak nyata. Hal ini disebabkan karena untuk merubah pengetahuan dan sikap petani tidak diperlukan pendidikan formal yang tinggi, tetapi petani lebih melihat lingkungan sekitarnya atau hasil yang sudah dilihat pada ternak sapi. Sama halnya dengan luas lahan secara umum dikatakan bahwa semakin luas lahan usaha tani biasanya semakin cepat mengadopsi teknologi karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik (Mardikanto, 1993). Akan tetapi petani lebih menginginkan agar memperoleh hasil produksi yang lebih, baik di lahan yang sempit maupun di lahan yang luas. Sedangkan intensitas penyuluhan juga berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap petani tetapi tidak nyata, hal ini sebabkan karena intensitas penyuluhan dalam hal ini penyuluh yang memberikan informasi tentang teknologi-teknologi baru dalam kegiatan non formal lebih banyak dalam pemberian materi tanpa diimbangi dengan metode-metode lain seperti demonstrasi cara maupun demplot sehingga petani dapat melihat dan melakukan secara langsung dilahan usaha ternaknya. Selain itu lama beternak tidak terdapat hubungan yang nyata antar lama beternak dan pengetahuan serta sikap petani, hal ini dikarenakan kegiatan usaha ternak dalam hal usaha ternak sapi dilakukan secara turun temurun sehingga petani sudah memiliki konsep atau caranya sendiri dalam berusaha ternak. Sedangkan teknologi amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi adalah teknologi baru bagi petani, sehingga petani cenderung tidak langsung menerapkan. Meskipun menerapkan hanya sebagian dari teknologi yang umum yang diterapkan oleh petani.

KESIMPULAN

  1. Persepsi Petani di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak sapi setelah melakukan penyuluhan menunjukan bahwa pengetahuan dan sikap petani setelah demonstrasi cara pembuatan amoniasi jerami padi berada pada kategori tinggi dengan skor 2,90 dan kategori setuju dengan total skor 2,97.
  2. Faktor internal dan faktor eksternal yang memiliki hubungan dengan persepsi petani terhadap demonstrasi pembuatan amoniasi jerami padi yaitu umur, jumlah ternak dan karakteristik teknologi.

Alternative terbaik dalam kekurangan pakan pada untuk ternak sebaiknya dianjurkan bagi petani atau individu untuk melakukan fermentasi Jerami padi sehingga ketersediaan jerami padi mencukupi bagi ternak. Perlu adanya pendampingan yang secara terus menerus bagi pelaku usaha terutama lembaga-lembaga terkait atau yang petugas yang berkaitan dengan pengembangan dibidang ternak sehingga kelompok ataupun petani tidak mudah putus asa dalam merintis usahanya.

E Library

1Penulis  dilahirkan di Mareda Kamou pada tanggal 5 Mei 1997. Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah Sekolah Dasar Kererobbo Desa Weelonda Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2010. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Pertama Katolik Plus Kasimo Desa Watukawula Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya dan selesai pada tahun 2013. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan Pendidikan pada Sekolah Menengah Atas Swasta Manda Elu Kelurahan Weetabula Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya dan selesai pada tahun 2016. Pada tahun 2016, penulis melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi tepatnya sebagai mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Peneliti menyelesaikan kuliah Diploma Empat (D4) pada tahun 2021.

No events