Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Penerapan Konsep Zero Waste Farming dalam Sistem Pola Integrasi Tanaman Pangan dan Ternak Kambing terhadap Pengetahuan dan Sikap Petani di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata

Aplication of the Concept of Zero Waste Farming in the System of Integration Patterns of Food Crops AND Goat Livestock On the Knowledge and Attitude of Farmers in Katakeja Village, Atadei District, Lembata

Fransiska A. Kewa1, Masria2, Cokorda B.P.D. Mahardika2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap penerapan zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing serta untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap tingkat pengetahuan dan sikap petani di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata. Penelitian ini menggunakan metode demonstrasi plot dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, kuisoner, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan petani berada di kategori tinggi dengan rataan skor 2,38 dan sikap petani berada di kategori tinggi dengan rataan skor 2,46. Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan petani dalam menerapkan konsep zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing dan jumlah tanggungan petani mempengaruhi sikap petani dalam menerapkan konsep zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing.

Kata kunci: zero waste farming, integrasi, pengetahuan, dan sikap

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the level of knowledge and attitudes of farmers towards the application of zero waste farming through the integration pattern of food crops and goats and to determine the influence of internal and external factors on the level of knowledge and attitudes of farmers in Katakeja Village, Atadei District, Lembata Regency. This study uses a plot demonstration method with data collection techniques used are observation, interviews, questionnaires, documentation and literature studies. The data is presented descriptively to see the average score and frequency distribution, the data were analyzed using multiple linear regression test. The results showed that the level of knowledge of farmers was in the high category with an average score of 2.38 and farmers' attitudes were in the high category with an average score of 2.46. The level of education affects the knowledge of farmers in applying the concept of zero waste farming through the integration pattern of food crops and goats and the number of dependents of farmers affects the attitude of farmers in implementing the concept of zero waste farming through the integration pattern of food crops and goats

Keywords: zero waste, integration, knowledge, attitude

PENDAHULUAN

Integrasi tanaman dan ternak telah mengakar pada pola pertanian rakyat dan menjadi bagian budidaya dari usahatani di pedesaaan. Penerapan sistem pertanian tersebut memungkinkan usaha tani bisa berdampingan sejalan dengan usaha pertenakan. Pengembangan model usaha tani integrasi tanaman pangan semusim dan ternak ruminansia memiliki keterpaduan sistem karena saling mendukung, saling memperkuat dan saling menguntungkan (sinergis) antar komponen. Dalam sistem integrasi ini seluruh potensi sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing komponen dimanfaatkan secara optimal dengan prinsip zero waste, dengan kata lain tidak ada limbah atau hasil samping dari setiap komponen penyusun yang terbuang (Matheus dkk, 2019).

Zero waste farming merupakan konsep pertanian yang di rancang untuk petani agar memanfaatkan pengolahan lahan pertanian sekaligus peternakan tanpa limbah (Sulaiman, 2008). Model pertanian ini berorientasi pada sistem keterpaduan tanaman dan ternak dengan siklus penguraian dan pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk, pestisida organik atau pakan ternak serta mengurangi penggunaan senyawa kimia dalam mengolah lahan pertanian. Limbah pertanian berupa Jerami atau bagian tanaman dengan sebagian besar mengandung selulosa, pati dan bahan organik lainnya yang dapat digunakan sebagai ransum pakan sapi, kambing, dan itik. Di sisi lain ternak menghasilkan kotoran yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk organik dapat menyuburkan tanaman, mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah serta mengoptimalisasi penggunaan limbah.

Secara umum masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur bermata pencaharian sebagai petani dan peternak (Matheus, 2019). Kedua jenis usahatani ini tidak dapat dipisahkan dalam sistem usahatani lahan kering. Permasalahannya sistem usaha tani bersifat parsial, yaitu usaha tani tanaman pangan diusahakan secara terpisah dengan ternak dan unit lahan untuk pakan ternaknya. Dampaknya adalah usaha tani lahan kering tidak efektif dan efisien, yang terlihat dari rendahnya produktifitas uasahatani lahan kering. Hasil survey di lima kabupaten di wilayah Timor Bagian Barat NTT, dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemanfaatan sumber daya pertanian pada agroekosistem lahan kering masih jauh dari optimal (Matheus et al, 2016). Pada satu sisi, potensi agroekosistem lahan kering yang tersedia belum terdaya gunakan secara optimal, dan pada sisi yang lain pola usaha tani lahan kering juga tidak sesui dengan prinsip-prinsip efisiensi dan keberlanjutan (Matheus 2019).

Desa Katakeja terletak di Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata yang terdiri dari 4 dusun dengan ketinggian > 500 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah 8,77 km² dengan jumlah rata-rata hari hujan 106 hari dan curah hujan 976 mm pertahun. Penduduk Desa Katakeja sebagian besar bermata pencahrian sebagai petani-peternak dilahan kering. Komoditas unggulan tanaman pangan adalah padi ladang dengan luas panen 1.672 Ha dan jumlah produksi pertahun 2.752 ton, tanaman jagung dengan luas panen 2.016 Ha dan jumlah produksi pertahun 3.496 ton serta tanaman ubi kayu dengan jumlah produksi pertahun 15.848 ton (BPS Kecamatan Atadei dalam Angka, 2018). Desa Katakeja memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah khususnya di bidang pertanian seperti padi ladang, jagung dan ubi kayu, ternak kambing yang cukup banyak, dan sisa dari hasil limbah pertanian dan kotoran ternak baik padat maupun cair, masih dibiarkan membusuk di tanah dan juga adanya ketersediaan air yang cukup. Berdasarkan wawancara dan observasi lapangan dengan petani di Desa Katakeja bahwa, usaha pertanian masih bersifat parsial, dan banyak limbah dari tanaman padi, jagung, ubi kayu dan juga kotoran dan urin ternak kambing yang belum di manfaatkan dan tidak ada pemberian pupuk yang berimbang untuk tanman. Sebagian besar rumah tangga di Desa Katakeja memlihara ternak kambing 1-2 ekor, dengan kebiasaan memberi pakan pada ternak kambing berupa hijauan (gamal atau kalliandra). Berdasarkan pengamatan tersebut diketahui juga bahwa masyarakat belum melakukan pengolahan limbah pertanian yakni sisa limbah pertanian seperti jerami padi dan jagung serta kotoran ternak masih dibiarkan membusuk di tanah, yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang mempengaruhi sikap petani dalam menerapkan zero waste farming. Untuk itu perlu di lakukan penerapan zero waste farming karena produksi limbah pertanian seperti padi ladang, jagung dan ubi kayu dapat di manfaatkan sebagai pakan ternak, dan kotoran ternak kambing dapat diolah menjadi pupuk pupuk organik.

Dalam akselerasi pembangunan pertanian pengetahuan petani mempunyai arti penting, karena pengetahuan petani dapat mempertinggi kemampuannya untuk mengadopsi teknologi baru. Zero waste farming merupakan salah satu konsep yang belum diterapkan oleh petani di Desa Katakeja, oleh karena itu perlu introduksi teknologi melalui penyuluhan dan demonstrasi plot untuk melihat sikap petani tentang konsep zero waste farming yang memadukan antara tanaman pangan dan ternak kambing. Perilaku yang d iamati adalah tingkat pengetahuan dan sikap petani. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian dengan judul “Penerapan Konsep Zero Waste Farming dalam Sistem Pola Integrasi Tanaman Pangan dan Ternak Kambing terhadap Pengetahuan dan Sikap Petani di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata.

TUJUAN PENELITAN

  1. Mengetahui tingkat pengetahuan petani di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata terhadap penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing
  2. Mengetahui sikap petani Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata terhadap penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing
  3. Mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap tingkat pengetahuan dan sikap petani tentang penerapan zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing

METODELOGI PENELITIAN

Materi Penelitian

Materi penelitian yang digunakan adalah lembaran persiapan menyuluh (LPM), sinopsis, dengan material lain berupa kuesioner (daftar pertanyaan), alat tulis menulis, laptop dan kamera. Bahan-bahan untuk pembuatan pupuk organic padat adalah kotoran ternak kambing, limbah dari tanaman pangan (padi, jagung dan ubi kayu) dan EM4, gula pasir, air, dedak padi, parang, sekop, cangkul, ember dan terpal.

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini di desain menggunakan metode deskriptif, melalui pendekatan demonstrasi plot untuk menerapkan zero waste farming dalam sistem integrasi tanaman pangan dan ternak kambing yakni pembuatan pupuk organik padat dan kegiatan penanaman padi dan jagung. Demonstrasi plot merupakan suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemonstrasikan. Setelah dilakukan demonstrasi cara, tingkat pengetahuan dan sikap petani diukur dengan menggunakan teknik pengumpulan data, sebagai berikut:

  1. Metode observasi merupakan cara pengumpulan data dengang pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap objek yang akan di teliti. Observasi dilakukan peneliti dengan cara pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan kegiatan penelitian.
  2. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data secara langsung dari informan melalui percakapan atau tanya jawab tentang hal yang diteliti berdasarkan pedoman yang telah disiapkan peneliti
  3. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2016: 199).
  4. Merupakan suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumendokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan, transkip, buku, gambar, dll.
  5. Studi Pustaka. Kepustakaan merupakan cara pengumpulan data dari berbagai sumber seperti kepustakaan buku, laporan penelitian, jurnal penelitian, artikel dan melalui internet yang sesuai dengan masalah yang diteliti.

Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data adalah bahan mentah yang perlu di olah untuk menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukan fakta. Berdasarkan sumber, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekuder yang bersumber dari profil desa dan data potensi desa. Data yang kedua adalah data primer yang merupakan data pengukuran langsung dilapangan yaitu data hasil tanaman dan bobot ternak, data perilaku petani yang diukur melalui penyebaran kuesioner kepada petani. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, pengisisan kuesioner, maupun dengan cara diskusi untuk mengetahui perilaku petani setelah mereka mendapatkan materi penyuluhan dan melakukan demplot.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang di gunakan dalam penelitian adalah kuisioner atau daftar pertanyaan yang di gunakan sebagai alat untuk mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar, materi penyuluhan yang disiapkan dalam bentuk LPM, sinopsis yang terkait dengan penerapan konsep zero waste farming serta alat bantuh lain yang mendukung kelancaran dalam mentranformasikan konsep zero waste dan alat bantu lainnya seperti buku tulis, laptop dan kamera.

Populasi dan Sempel Penelitian

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini, adalah petani yang ada di Desa Katakeja dengan kriteria inklusi adalah petani yang selama ini memiliki lahan dan mengusahakan tanaman pangan dan ternak secara terus menerus, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membatasi usia. Populasi petani di desa Katakeja sesuai kriteria inklusi berjumlah 100 orang.

Sampel yaitu sebagian dari populasi yang di teliti. Jumlah sampel responden ditentukan menggunakan rumus slovin. Setelah jumlah sampel ditentukan, responden di pilih secara acak (simple random sampling). Teknik simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2001). Penentuan jumlah sampel dengan rumus slovin sebagai berikut:

n = N ÷ (Nd2 + 1)

Dimana: n = jumlah sampel; N = jumlah populasi; d² = presesi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 90%). Berdasarkan rumus tersebut di peroleh jumlah sampel sebagai berikut: n = N ÷ (Nd2 + 1) = 100 ÷ (100 × 0,12 + 1) = 100 ÷ 2 = 50 responden.

Metode Analisis Data

Gedung MPLK 000

Data hasil penelitian dilakukan tabulasi dan dilanjutkan dengan uji statistik. Alat uji statistik yang digunakan disesuaikan dengan tujuan dari penelitian ini, yaitu: mengetahui pengetahuan dan sikap petani setelah dilakukan demonstrasi plot penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing menggunakan rumus scoring menurut Umar (1999).  

Perhitungan nilai skor total atas skor tiap komponen yang diteliti yaitu dengan cara mengalikan frekuensi data dengan nilai bobot tertinggi dan terendah menggunakan rumus:

Skor terendah = bobot terendah × jumlah pertanyaan × jumlah sampel

Skor tertinggi = bobot tertinggi × jumlah pertanyaan × jumlah sampel

Rentang Skala = (Skor Tertinggi – Skor Terendah) : jumlah kategori

Nilai total = Skor × Frekuensi

Nilai rerata skor = (rerata skor indikator 1 +…..+ rerata skor indicator ke-n) ÷ (Jumlah indikator)

Penyusunan tabel distribusi nilai skor untuk kategori responden, seperti Tabel 1.

Untuk Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap petani setelah dilakukan demonstrasi plot penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing, dilakukan analisis regresi berganda (sujarweni, 2015), berfungsi untuk mencari pengeruh dua variabel atau lebih variabel independent (variabel bebas X) terhadap variable dependent (variabel terikat atau Y) dengan model matematisnya sebagai berikut:

Y= 𝑎 + β1X1 + β2X2 + 𝑏𝑖𝑋𝑖 + 𝜀

Dimana: Y : Variabel terikat atau variabel dependent, 𝛼 : Nilai konstanta yang akan diperoleh, 𝑏i : Koefisien Regresi Xi, Xi : Variabel bebas, 𝜀 : Error, i : Jumlah variabel bebas.

HASIL PENELITIAN

Pengetahuan Petani

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa pengetahuan didapat seseorang melalui pengalaman, intusi, logika, atau mencoba-coba (trial dan eror). Hasil analisis deskriptif dengan menggunakan analisis skoring terhadap tingkat pengetahuan petani disajikan pada Tabel 2.

Gedung MPLK 000

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa pengetahuan petani tentang penerapan zero waste farming dari 50 petani terdapat 34 orang (68,00%) yang berada pada kategori tinggi, hal menunjukan bahwa petani mengetahui bahwa zero waste farming merupakan usaha pertanian berkelanjutan yang memanfaatkan limbah kotoran sebagai pupuk dan limbah tanaman sebagai pakan. Selain itu petani39 mengetahui teknik budidaya tanaman jagung dan padi dengan mengintegrasikan dengan ternak sesuai dengan anjuran. Namun masih ada 4 orang responden (8,00%) berada pada kategori rendah dimana petani belum sepenuhnya memahami konsep zero waste farming secara menyeluruh yang masih melakukan usaha budidaya secara parsial. Kemungkinan petani belum melihat secara nyata hasil yang diberikan dalam menerapkan pola integrasi tanaman pangan-ternak serta belum bisa meninggalkan kebiasaan budidaya konvensional/parsial yang sudah dilakukan turun temurun.

Pada Tabel 2 menunjukan bahwa pengetahuan petani tentang pengelolaan limbah tanaman pangan dan ternak kambing dari 50 responden terdapat 33 orang atau 66,00% yang berada pada kategori tinggi, hal ini menunjukan bahwa petani mengetahui bahwa kotoran ternak kambing dapat digunakan sebagai pupuk organic mengandung unsur hara esensial yang baik untuk tanaman dalam merangsang tumbuhnya bunga dan buah serta mudah dalam pengolahan menjadi pupuk dan limbah tanaman padi dan jagung juga memiliki gizi yang baik untuk ternak kambing. 11 orang responden atau 22,00% berada pada kategori sedang dan 6 orang atau 12,00% berada pada kategori rendah, dimana petani memahami bahwa kotoran ternak kambing tidak bisa dan tidak cocok dijadikan pupuk serta limbah tanaman memiliki gizi yang baik apabila limbah tersebut langsung diberikan pada ternak.

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 2 diatas, diketahui bahwa tingkat pengetahuan petani terhadap penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing berada pada kategori tinggi dengan rataan skor 2,38. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar petani sudah memahami penerapan konsep zero waste farming, serta memahami pengelolaan limbah tanaman pangan dan juga kotoran ternak kambing. Konsep ini mengarahkan petani untuk melakukan pengolahan limbah untuk dijadikan pupuk serta pakan untuk ternak kambing. Petani menyadari bahwa teknologi ini menguntungkan karena memiliki banyak manfaat yaitu pemanfaatan limbah menjadi pupuk, dan pakan untuk kambing serta dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Pengetahuan yang tinggi ini berhubungan dengan keterampilan petani dalam menerapkan konsep zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing.

Levis, (2013) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu komponen perilaku petani yang turut menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengan usaha taninya. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa dalam mengadopsi sesuatu yang baru atau inovasi atau teknologi atau program pembangunan, petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek pengetahuan praktis dari inovasi tersebut Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan sesorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.

Sikap Petani

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaaan, Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak. Hasil analisis deskriptif dengan menggunakan analisis skoring terhadap sikap petani disajikan pada Tabel 3.

Gedung MPLK 000

Hasil analisis deskriptif pada Tabel 3, menunjukan bahwa dari 50 petani responden memperlihatkan sikap yang berbeda. Dari total 50 orang petani, sebanyak 38 petani atau 76% yang menerima teknologi, hal ini dikarenakan teknologi yang disuluhkan benar-benar memberikan manfaat bagi petani dan juga tanaman yang dibudidaya serta ternak yang dipelihara dan sebanyak 8 petani atau 16% yang ragu-ragu dikarenakan teknologi yang dibawahkan merupakan teknologi baru sehingga ada sebagian petani yang belum yakin untuk menerapkan41 di lahannya karena belum memahami dengan betul tahapan-tahapan pelaksanaan penerapan teknologi dengan mengintegrasikan tanaman dan ternak serta 4 petani atau 8% yang menolak karena petani tidak setuju apabila ternak di satukan dengan tanaman pada satu lahan dan limbah dari tanaman padi dan jagung dapat dijadikan pakan untuk kambing.

Secara umum, berdasarkan hasil analisis pada Tabel 3 diatas, di ketahui juga bahwa sikap petani tentang penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing berada pada kategori tinggi dengan skors 2,46 artinya petani di Desa Katakeja menerima teknologi yang diperkenalkan. Petani menerima teknologi konsep zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh petani menyadari bahwa limbah dari tanaman pangan dan ternak memiliki nilai sebagai pupuk dan pakan untuk ternak, yang mana pupuk untuk tanaman akan terpenuhi dan pakan dapat di peroleh langsung dari lahan serta dengan menerapkan teknologi ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi dari tanaman yang di budidaya. Sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi secara konsisten. Sikap yang ditampilkan oleh petani terhadap sebuah inovasi akan menentukan penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut (Ahmadi, 2007). Apabila sikap yang ditunjukan petani negative maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkan.

Hasil Demonstrasi Plot Penerapan Zero Waste Farming

Hasil penerapan integrasi tanaman pangan dan ternak di lahan demonstrai plot menghasilkan 80 tanaman jagung dengan jumlah lubang tanam sebanyak 40 lubang. Setiap lubang tanam terdapat 2 tanaman jagung dan setiap tanaman menghasilkan 2 tongkol jagung sehingga banyaknya tongkol jagung adalah 160 tongkol. Satu tongkol jagung rata-rata menghasilkan 200-230 biji per tongkol, dengan rata-rata berat biji jagung pipilan mencapai 150 gram per tongkol.

Tanaman jagung di panen pada saat umur 120 hari setelah tanam (HST) di mana kondisi tanaman yang daun klobotnya sudah mengering dan berwarna kekuningan. Dalam 1 lahan demplot menghasilkan produksi jagung pipilan kering sebanyak 0,15 kilo gram X 160 tongkol adalah 24 kilo gram, dan total brangkasan jagung yang diperoleh setelah masa panen adalah 6 kilogram bahan segar. Jika dikonversi dalam satu hektar, maka didapatkan produksi tanaman jagung sebanyak 1,2 ton. Kemudian produksi brangkasan mencapai 640 kilogram yang mampu mencukupi kebutuhan pakan kambing sampai dengan kurang lebih empat bulan.

Pada lahan demplot jumlah rumpun tanaman padi pada satu lubang tanam sebanyak 5 sampai 7 rumpun, dengan rata-rata tinggi tanaman padi menjelang panen adalah 150 cm. Tanaman padi di panen pada umur 120 hari setelah panen (HST) dengan kondisi tanaman yang siap di panen yaitu warna padi mulai menguning, warna daun berubah menjadi kuning kecoklatan dan butir-butir padi apabila ditekan terasa keras dan berisi. Pada lahan demplot juga menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering giling sebanyak 30 kilo gram, dengan jarak tanam yang digunakan adalah 25 cm X 25 cm dan total jerami padi yang dihasilkan setelah panen adalah 45 Kg bahan segar. Jika dikonversi dalam satu hektar, maka didapatkan produksi tanaman padi sebanyak 3 ton. Kemudian produksi brangkasan mencapai 4.900 kilogram yang mampu mencukupi kebutuhan pakan kambing sampai dengan kurang lebih 2,5 tahun.

Ternak kambing yang diintegrasikan bersama tanaman pangan pada lahan demplot berjumlah 2 ekor, dengan bobot awal ternak kambing 17 kilo gram dan 18 kilo gram. Pada masa pemeliharaan tanaman, pakan untuk ternak kambing di peroleh dari tanaman lain sambil menunggu waktu panen dalam memperoleh brangkasan jagung dan juga jerami padi yang akan di jadikan pakan. Satu ekor ternak kambing mengonsumsi hijauan sebanyak 2-5 kilo gram perhari sehingga kebutuhan pakan untuk 1 ekor kambing dalam satu bulan sebanyak 150 Kg. Jika diberikan kepada 2 ekor ternak kambing, maka kebutuhan pakan untuk satu hari adalah 10 kilo gram hijauan. Jumlah brangkasan jagung dan jerami padi pada lahan demplot seluas 1 hektar adalah 5.540 kilogra m, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk 2 ternak kambing kurang lebih 18 bulan atau 1,5 tahun. Pemberian pakan selanjutnya dilakukan pengaturan pemberian pakan komposisi dengan tanaman lain di sekitar lokasi.

Analisis Regresi Faktor Internal dan Eksternal terhadap Pengetahuan Petani

Untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap tingkat pengetahuan petani di Desa Katakeja terhadap penerapan zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing telah dilakukan analisis regresi linear berganda. Dalam analisis yang dilakukan ada delapan indikator yaitu: tingkat pendidikan (X1), umur (X2), jumlah tanggungan (X3), karakteristik teknologi (X4), luas lahan (X5), lama berusaha tani (X6), , jumlah ternak (X7), intensitas komunikasi (X8) dan variabel dependen yaitu pengetahuan petani (Y).

Gedung MPLK 000

Regresi secara parsial (Uji T) digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil uji T pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani dapat di lihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil uji T pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan

Berdasarkan Tabel 4, diperoleh model regresi pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani adalah: Y = 0,741 + 0,239X1

Berdasarkan persamaan tersebut, dapat diartikan bahwa nilai konstanta sebesar 0,741, hal ini berati jika variabel tingkat pengetahuan, umur, jumlah tanggungan, lama berusaha tani, karakteristik teknologi, luas lahan, jumlah ternak dan intensitas komunikasi memiliki nilai sama dengan nol (0), maka variabel terikat44 pengetahuan sebesar 0,741. Dan variabel tingkat pendidikan (X1) mempunyai pengaruh positif terhadap pengetahuan petani dengan koefisien regresi sebesar 0,239 menunjukan bahwa apabila tingkat pendidikan meningkat sebesar 1 persen maka pengetahuan petani akan meningkat sebesar 0,239 persen dengan asumsi variabel bebas yang lain konstan.

Pada Tabel 4, menunjukan bahwa dari 8 variabel bebas terdapat satu variabel yakni variabel tingkat pendidikan yang signifikan dimana nilai t hitung = 2,572 dengan tingkat signifikan 0,014 (P > 0,05). Pendidikan petani mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang di tempuh oleh petani maka daya serap petani akan semakin luas terhadap sesuatu informasi atau teknologi yang baru. Hal ini sesuai dengan tabel 5, bahwa dari 50 responden terdapat 31 orang atau 62,00% yang berada pada kategori sedang.

Tingkat pendidikan petani yang sedang ini dapat ditunjang dengan pendidikan non formal seperti penyuluhan atau pelatihan. Berdasarkan hal tersebut Hermanto, (2009) mengemukakan bahwa rendahnya tingkat pendidikan formal yang ada pada petani dapat diatasi dengan pendidikan non formal yang meningkatkan pembinaan penyuluhan karena penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang dapat diterapkan petani dan keluarganya dan berperan dalam memberikan pengetahuan, membangun pola pikir dan perilaku dalam usahatani.

Variabel bebas yang secara signifikan tidak memiliki pengaruh terhadap pengetahuan petani yakni: umur petani secara signifikan tidak berpengaruh terhadap pengetahuan dikarenakan umur bukan menjadi suatu faktor yang mempengaruhi pengetahuan petani dalam melakukan atau mengembangkan usaha tani hal ini sejalan dengan yang dinyatakan Azwar, (2013) bahwa umur tidak selamanya berpengaruh secara nyata terhadap pengetahuan petani, semakin mudah umur petani tidak berarti pengetahuan petani tersebut semakin tinggi, jumlah tanggungan tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani, hal ini tidak sejalan dengan yang dikatakan oleh Situngkir dkk, (2007) bahwa besarnya jumlah tanggungan mempunyai pengaruh terhadap kemauan petani untuk melakukan pekerjaan, pengalaman berusaha tani juga tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani hal ini tidak sejalan dengan penelitian.

Hilman Budiyanto (2016) yang menyatakan bahwa pengalaman yang dialami sendiri oleh seseorang lebih kuat dan sulit dilupakan dibandingkan dengan melihat pengalaman orang lain. Karakteristik teknologi juga tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani, hal ini dikarenakan berdasarkan observasi dilapangan teknologi yang di desiminasikan memiliki banyak manfaat dan sesuai dengan keadaan di desa, namun petani belum memahami dengan betul, luas lahan juga tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani dikarenakan dari 50 responden sebanyak 24 orang petani yang memiliki luas lahan sebesar 0,25 – 1 ha, dengan luas lahan tersebut belum mendorong petani untuk melakukan kegiatan usaha tani yang lebih besar. Jumlah ternak tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani, hal ini berdasarkan dari 50 responden terdapat 30 orang atau 60,00% yang memiliki ternak sebanyak 2-5 ternak, dan intensitas komunikasi juga tidak mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani hal ini dikarenakan beradsarkan observasi dilapangan petani jarang melakukan komunikasi atau memperoleh informasi tentang pertanian baik dari petani lain, penyuluh lapang media cetak dan juga melalui internet.

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent. Hasil uji F pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani. Dari hasil uji F menunjukan bahwa nilai F hitung sebesar 2,130 dengan angka signifikan sebesar 0,055 (P> 0,05) sehingga dapat di simpulkan faktor internal dan eksternal tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap pengetahuan petani, hal ini dikarenakan faktor internal dan eksternal yang yang diduga peneliti memiliki pengaruh terhadap pengetahuan petani tidak berhasil membuktikan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Menurut Putri (2019) informasi atau media massa, suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Informasi mempengaruhi pengetahuan seseorang jika sering mendapatkan informasi tentang suatu pembelajaran maka akan menambah pengetahuan dan wawasannya, sedangkan seseorang yang tidak sering menerima informasi tidak akan menambah pengetahuan dan wawasannya.

Analisis Regresi Faktor Internal dan Eksternal terhadap Sikap Petani

Untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap sikap petani di Desa Katakeja terhadap penerapan zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing telah dilakukan analisis regresi linear berganda. Dalam analisis yang dilakukan ada Sembilan indikator yaitu : tingkat pendidikan (X1), umur (X2), jumlah tanggungan (X3), karakteristik teknologi (X4), luas lahan (X5), lama berusaha tani (X6), jumlah ternak (X7), intensitas komunikasi (X8) dan variabel dependen yaitu sikap petani (Y).

Gedung MPLK 000

Regresi secara parsial (Uji T) digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil uji T pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani dapat di lihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil uji T pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap sikap petani

Berdasarkan Tabel 5, diperoleh model regresi pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani adalah: Y = 2,134 + 0,176X3

Berdasarkan persamaan tersebut, dapat diartikan bahwa nilai konstanta sebesar 2,134, hal ini berati jika variabel tingkat pendidikan, umur, jumlah tanggungan, lama berusaha tani, karakteristik teknologi, luas lahan, jumlah ternak dan intensitas komunikasi memiliki nilai sama dengan nol (0), maka variabel terikat sikap sebesar 2,134. Dan variabel jumlah tanggungan (X3) mempunyai pengaruh positif terhadap pengetahuan petani dengan koefisien regresi sebesar 0,176 menunjukan bahwa apabila tingkat pendidikan meningkat sebesar 1 persen maka pengetahuan petani akan meningkat sebesar 0,176 persen dengan asumsi variable bebas yang lain konstan.

Pada Tabel 5 menunjukan, jumlah dari 8 variabel bebas terdapat satu variable yang berpengaruh secara signifikan terhadap sikap petani yakni jumlah tanggungan dengan nilai t hitung = 2,732 dengan tingkat signifikan 0,009, (P > 0,05). Jumlah tanggungan petani mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan petani. Hal ini menunjukan bahwa jumlah tanggungan petani di Desa Katakeja rata-rata jumlah tanggungan petani 1-3 orang, sehingga mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Banyaknya jumlah orang yang ditanggung juga dapat mendorong petani dalam menerima penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Hal ini sejalan dengan pendapat Mapandin, (2006) bahwa jumlah tanggungan dalam suatu rumah tangga akan mempengaruhi besar konsumsi yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga tersebut karena terkait dengan kebutuhan yang semakin banyak atau kurang.

Variabel bebas yang secara signifikan tidak memiliki pengaruh terhadap sikap petani yakni: tingkat pendidikan secara signifikan tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani dalam menerima teknologi yang di desiminasikan, sejalan dengan hasil tersebut menurut Juita, (2005) yang menjelaskan bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata dengan sikap petani, dijelaskan bahwa hal ini disebabkan karena untuk menerapkan suatu teknologi dalam usaha taninya, petani tidak harus memiliki pendidikan yang tinggi. Umur petani secara signifikan tidak berpengaruh terhadap sikap dalam menerapkan teknologi yang didesiminasikan dikarenakan umur bukan menjadi suatu faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam melakukan atau mengembangkan usaha tani, pengalaman berusaha tani juga tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani hal ini sesuai dengan penelitian Hilman Budiyanto, (2016) yang menyatakan bahwa pengalaman yang dialami sendiri oleh seseorang lebih kuat dan sulit dilupakan dibandingkan dengan melihat pengalaman orang lain. Karakteristik teknologi juga tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani, hal ini dikarenakan berdasarkan observasi dilapangan teknologi yang di desiminasikan memiliki banyak manfaat dan sesuai dengan keadaan di desa, namun petani belum memahami dengan betul, luas lahan juga tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani dikarenakan bahwa dari 50 responden sebanyak 24 orang petani yang memiliki luas lahan sebesar 0,25 – 1 ha, dengan luas lahan tersebut belum mendorong petani untuk melakukan kegiatan usaha tani yang lebih besar. Jumlah ternak tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani, hal ini berdasarkan tabel 10, bahwa dari 50 responden terdapat 30 orang atau 60,00% yang memiliki ternak sebanyak 2-5 ternak, dan intensitas komunikasi juga tidak mempunyai pengaruh terhadap sikap petani hal ini dikarenakan beradsarkan observasi dilapangan petani jarang melakukan komunikasi atau memperoleh informasi tentang pertanian baik dari petani lain, penyuluh lapang media cetak dan juga melalui internet.

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent. Dari hasil uji F menunjukan bahwa nilai F hitung sebesar 2,143 dengan angka signifikan sebesar 0,053. Angka signifikan P > 0,05 sehingga dapat di simpulkan faktor internal dan eksternal tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap pengetahuan petani, hal ini dikarenakan faktor internal dan eksternal yang yang diduga peneliti memiliki pengaruh terhadap sikap petani tidak berhasil membuktikan hubungan antara variabel X dan variabel Y. Menurut Azwar (1995) berbagai bentuk media massa seperti surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Adanya informasi mengenai sesuatu hal yang dimuat oleh media memberikan landasan bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.

Simpulan Analisis Regresi Faktor Internal Dan Eksternal terhadap

Tingkat pendidikan mempengaruhi penegtahuan petani dalam menerima teknologi yang didesiminasikan, dikarenakan dengan pengetahuan yang sedang petani diberikan pemahaman melalui kegiatan penyuluhan dan demonstrasi plot terkait penerapan zero waste farming, hal ini mengakibatkan dengan perlahan akan membantu membangun pola pikir petani untuk melakukan kegiatan usahataninya kedepan. Jumlah tanggungan mempengaruhi sikap petani dalam menerima teknologi penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing, dimana semakin banyak jumlah tanggungan yang dimiliki oleh satu kepala rumah tangga, dapat mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk menerima suatu tekonogi penerapan zero waste farming dalam pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing.

KESIMPULAN

  1. Pengetahuan petani tentang penerapan konsep zero waste farming dalam sistem integrasi tanaman pangan dan ternak kambing di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata berada di kategori tinggi dengan rataan skor 2,46.
  2. Petani menerima teknologi penerapan konsep zero waste farming dalam sistem integrasi tanaman pangan dan ternak kambing di Desa Katakeja Kecamatan Atadei Kabupaten Lembata dengan kategori tinggi dan rataan skor 2,46
  3. Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan petani dalam menerapkan konsep zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing dan jumlah tanggungan petani mempengaruhi sikap petani dalam menerapkan konsep zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap petani terhadap penerapan konsep zero waste farming melalui pola integrasi tanaman pangan dan ternak kambing perlu dilakukan pendampingan oleh penyuluh lapangan agar teknologi ini bisa berlanjut.

E Library

1Penulis lahir di Kalikasa Desa Katakeja, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata pada tanggal 11 Januari 1999.  Penulis memulai studi tingkat dasarnya pada SD Katolik Kalikasa tahun 2006 selesai pada tahun 2011, kemudian melanjutkan studi tingkat pertama pada SMPN 1 Atadei pada tahun 2011 dan selesai pada tahun 2014 dan kemudian penulis melanjutkan studi tingkat menengah atas pada sekolah SMAN 2 Nubatukan pada tahun 2014 dan selesai pada tahun 2017. Pada bulan Agustus 2017 penulis di terima sebagai mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang Pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering.

No events