Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Tingkat Adopsi Petani Di Dusun Fatubesi. Desa Manulea, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka terhadap Teknologi Ammoniasi Jerami Jagung sebagai Pakan Ternak Sapi

Adoption Level of farmers in Fatubesi Hamlet, Manulea Village, Sasitamean District, Malaka Regency on Corn Straw Ammoniation Technology as Cattle Feed

Ferdinandus Seran1, Endeyani V. Muhammad2, Antonius Jehemat3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi petani terhadap teknologi Ammoniasi jerami jagung danfaktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini di laksanakan di Dusun Fatubesi Desa Manulea, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka. Responden dalam penelitian ini sebanyak 30 petani. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara berdasarkan kuesioner yang telah disusun. Analisis data menggunakan rumus skala Likert dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat adopsi petani terhadap teknologi Ammoniasi jerami jagung pada tahap sadar berada pada kategori sedang dengan rata rata skor 2,61, tahap minat berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,81, tahap menilai berada pada kategori rendah dengan rerata skor 2,67, tahap mencoba berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,78, dan tahap menerapkan berada pada kategori tinggi dengan rata rata skor 2,82. Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi Ammoniasi Jerami jagung yaitu pengalaman beternak dan karakteristik teknologi.

Kata Kunci: adopsi, Ammoniasi, jerami jagung, pakan ternak

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The study aimed determine the level of farmer adoption of corn straw ammoniation technology and to determine the factors influencing the level of farmer adoption. This research was carried out in Fatubesi Hamlet, Manulea Village, Sasitamean District, Malacca Regency. Respondents in this study were 30 farmers. Data were collected using interview and questionnaire techniques, analyzed using a Likert scale formula and multiple linear regression analysis. The results showed that the level of farmer adoption was awareness in the medium category with an average score of 2.61, interest was in the high category with an average score of 2.81, evaluation was in the low category with an average score of 2.67, trial in the high category with an average score of 2.78, and adoption in the high category with an average score of 2.82. Factors affecting the level of adoption were the experience of raising livestock and the characteristics of the technology.

Keywords: adoption, ammoniation, corn straw, animal feed


PENDAHULUAN

Desa Manulea merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka. Secara geografis Desa Manulea berpusat pada kecamatan Sasitamean dengan luas wilayah 1745 m2 dan jumlah penduduk 2.777 jiwa. Secara keseluruhan matapencaharian penduduk desa Manulea adalah petani,peternak yang masih menganut sistem pertanian tradisional. Desa ini memiliki tanaman pangan terutama tanaman jagung seluas 300 Ha sehingga potensi Jerami jagung yang tersedia sangat melimpah. Menurut Sariubang,et al (2007) bahwa potensi jerami jagung perhektar rata-rata 3,2 t/ha/panen. Sedangkan jumlah populasi ternak di desa ini sebanyak 350 ekor, (Profil Desa Manulea, 2019). Pola pemeliharan ternak sapi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Manulea masih menggunakan pola tradisional yaitu siang diikat di tempat yang banyak tersedia hijauan dan malamnya diikat ditempat yang dianggap aman.

Permasalahan yang dihadapi oleh petani ternak di Desa Manulea yaitu terjadi kekurangan pakan selama musim kemarau baik kualitas maupun kuantitas sehingga perlu dicari solusi alternatif yang dapat dilakukan untuk masalah ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan peternak adalah pemanfaatan Jerami jagung sebagai pakan ternak sapi. Kendala yang berkaitan dengan penggunaan jerami secara langsung tanpa pengolahaan adalah keadaan fisik yang kasar sehingga tingkat palatabilitasnya rendah dan kandungan serat kasar yang tinggi mengakibatkan tingkat kecernaan yang rendah. Salah satu cara untuk mengatasi kendala pemanfaatan jerami secara langsung yaitu dengan mengolah Jerami menggunakan teknologi amoniasi. Teknologi amoniasi merupakan pengolahan jerami jagung dengan cara fermentasi menggunakan bahan utama yang mengandung nitrogen dan bahan pendukung sebagai sumber energi. Teknologi ini belum pernah diterapkan oleh peternak di Desa Manulea.

Berdasarkan masalah dan potensi tersebut, perlu dilakukan kegiatan penyuluhan bagi petani tentang pemanfaatan jerami jagung sebagai pakan ternak sapi melalui teknologi amoniasi. Tujuan dari kegiatan penyuluhan adalah untuk mengukur kesadaran, minat, menilai, mencoba dan menerapkan agar dapat membantu petani dalam menyediakan pakan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak pada musim kemarau. Teknologi pembuatan amonasi ini sesungguhnya sederhana dan mudah dilakukan oleh petani. Namun penerapannya sangat tergantung dari kesadaran dan minat petani. Untuk itu akan dilakukan penelitian tentang “ Tingkat Adopsi Petani di Dusun Fatubesi Desa Manulea Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka terhadap Teknologi Amoniasi Jerami Jagung Untuk Pakan Ternak sapi”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui tingkat adopsi berdasarkan tahapan adopsi petani terhadap teknologi amoniasi jerami jagung.
  2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi dalam penerapan teknologi amoniasi jerami jagung.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah metode survei. Metode survei merupakan penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejalah-gejalah yang ada dan mencari keteranganketerangan secara faktual baik tentang institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok atau satu daerah (Masyhuri, dkk. 2008). Dalam hal ini, akan diadakan penyuluhan tentang tingkat adopsi petani tentang pemanfaatan Jerami jagung untuk paka ternak sapi (amoniasi) di Desa Manulea Kecamayan Sasitamean terhadap penyuluhan tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

  1. Metode Observasi. Obsevasi merupakan teknik yang digunakan untuk menggumpulkan data penelitian lewat pengamatan. Peneliti kemudian membuat laporan berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama observasi.
  2. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab antara peneliti dan narasumber. Instrumen yang digunakan berupa pedoman atau panduan wawancara.
  3. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan tertulis kepada subjek peneliti terkait dengan topik yang akan diteliti. Jenis pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci dan lengkap dan biasanya sudah menyediakan pilihan jawaban (kuesioner tertutup dan terbuka).
  4. Studi Pustaka. Studi pustaka merupakan teknik yang digunakan untuk melengkapi semua tulisan ini dimana peneliti mengambil dari berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, dan memlalui internet terkait dengan masalah yang akan diteliti.
  5. Demonstrasi cara. Demonstrasi cara merupakan metode dan teknik penyuluhan yang dilakukan dengan cara peragaan. Kegiatan demonstrasi dilakukan dengan agar memperlihatkan suatu inovasi baru kepada sasaran secara nyata dan konkrit. Melalui demonstrasi, sasaran (audience) diajarkan mengenai keterampilan, memperagakan cara kerja teknik-teknik baru termasuk keunggulannya.
  6. Metode dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku,arsip,dokumen, tulisan angka dan gambar yang dapat mendukung peneliti. Metode ini dilakukan dengan mengambil gambar (foto) selama kegiatan penelitian berlangsung.

Jenis dan Sumber Data

Data ialah bahan mentah yang perlu diolah untuk menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuatitatif yang menunjukkan fakta. Sesuai sumbernya, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

  1. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari lokasi penelitian melalui hasil pengamatan, angket dan wawancara yang diambil sendiri oleh peneliti tersebut atau bisa dibantu oleh orang lain.
  2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari berbagai referensi berupa hasil dokumentasi maupun literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

Instrumen Penelitian

  1. Kuesioner atau Daftar Pertanyaan. Kuesioner disusun dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap petani sesudah dilakukan penyuluhan dengan metode demonstrasicara. Kuesioner ini akan disebarkan ke setiap responden untuk diisi. Daftar pertanyaan yang dibuat berpatok pada variabel tingkat pengetahuan dan sikap petani.
  2. Pengujian Validitas Kuesioner. Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukan bahwa variable yang diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti (Cooper & Schindler dalam Zulganef, 2006).
  3. Alat dan Bahan. Alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah semua peralatan yang dapat membantu melancarkan proses kegiatan penelitian ini. Mulai dari penggunaan laptop, kamera, alat tulis-menulis, daftar pertanyaan (kuesioner), buku referensi yang berkaitan dengan penelitian ini. Media penyuluhan yang digunakan yaitu leaflet. Pemilihan menggunakan media leaflet karena mudah dibawah kemana-mana karena ringan dan ukurannya yang relatif kecil serta materinya dapat mudah dipahami. Selain itu penggunaan alat dan bahan untuk melakukan teknologi amoniasi yaitu: parang, terpal, karung dan urea.

Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya (Sugiyono, 2012 dalam Habibullah, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di Dusun Fatubesi Desa Manulea yang hanya berprofesi sebagai petani dan peternak dengan jumlah 30 orang. Karena jumlah populasi < 100 maka populasi yang ada sekaligus menjadi sampel penelitian.

Metode Analisis Data

Berdasarakan hasil penelitian, selanjutnya akan dilakukan analisis dengan menggunakan alat analisis statistik, yang sesuai dengan tujauan penelitian.

Untuk mengetahui tahapan adopsi masyarakat di Desa Manulea terhadap teknologi amoniasi jerami jagung maka, penelitian ini dalam mengubah data kualitatif menjadi kuantitatif, penulis menggunakan Skala Likert, seperti yang dikemukakan oleh Levis (2013) bahwa Skala Likert digunakan untuk mengukur adopsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Pembobotan jawaban atas pernyataan pada kuesioner dengan menggunkan skala likert yang paling tinggi dengan nilai skor 3 sampai skala paling rendah dengan nilai skor 1 sesuai dengan alternatif-alternatif jawaban yang dipilih dari masing-masing pernyataan. Ketiga skor tersebut diberi bobot sabagai berikut:

  • Tinggi: 3 dengan rentang skala 2,34 -3,00
  • Sedang: 2 dengan rantang skala 1,67 -2,33
  • Rendah: 1 dengan rentang skala 1,00-1,66

Rentang Skala Likert: (Skor Tertinggi – Skor Terendah) ÷ Jumlah kategori = ((3 – 1) ÷ 3) = 0,66

Analisis data deskriptif ditunjukkan untuk memberikan gambaran atau deskriptif empiris atas data yang dikumpulkan dalam penelitian. Metode statistic deskriptif yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah statistik indeks yang dihitung berdasarkan jawaban responden dari setiap item pertanyaan untuk mengetahui tingkat capaian indikator. Formula capaian indikator yang digunakan sebagai berikut :

CI = (∑JR ÷ SI) × 100%

Dimana: CI = Capaian Indikator, ∑JR = Total  Jawaban Responden, SI = Skor Ideal

Penjelasan kondisi setiap indikator empiris dari variabel penelitian yang digunakan, maka kriteria interpretasi skor dikelom pokkan dengan bobot sebagai berikut:

  • Angka 66,67-100 % = Tinggi
  • Angka 33,34-66,6 % = Sedang
  • Angka 0-33,3 % = Rendah

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tahapan adopsi dalam penerapan teknologi amoniasi jerami tanaman jagung di Desa Manulea kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka, digunakan analisis regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + … + baXa

Dimana: Y = Variable dependen (nilai yang di perdiksikan) tingkat adopsi; Xa = Variabel dependen/faktor iternal dan eksternal, a = Konstanta, b = Kooefisien regresi (nilai pningkatan atau penurunan)

HASIL PENELITIAN

Tingkat Adopsi Petani Terhadap Tekonologi Amoniasi

Gedung MPLK 000Tingkat adopsi petani sesudah penyuluhan serta peningkatan berdasarkan tingkat adopsi tahap sadar, minat, menilai, mencoba, dan menerapkan dapat disajikan pada Gambar 1.

Tahap Sadar

Berdasarkan Gambar 1. Dapat diketahui bahwa tingkat adopsi petani responden pada tahap sadar sesudah penyuluhan teknologi amoniasi sebagai pakan ternak sapi berada pada kategori tinggi dengan nilai rerata skor 2,67. Kesadaran petani responden berada pada kategori tinggi karena informasi yang diperoleh petani tentang teknologi amoniasi sebagai pakan ternak sapi masi terbatas, sehingg dengan adanya informasi yang diperoleh maka petani responden mulai sadar akan manfaatnya limbah tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi sehingga dapat mengatasi kekurangan pakan ternak sapi pada musim kemarau. Tingkat partisipasi petani yang baik dalam mengikuti kegiatan penyuluhan tentang teknologi amoniasi. Kesadaran (awareness), merupakan tahap dimana sasaran mulai sadar akan adanya suatu inovasi baru yang ditawarkan oleh penyuluh (Mardikanto, 2009).

Fakta yang sering terjadi menunjukan bahwa adanya peningkatan pengetahuan petani disebabkan bahwa karena petani telah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang teknologi amoniasi kemudian mempraktekannya secara bersama-sama sehingga petani benar-benar mengetahui tentang teknologi yang diperkenalkan. Sejalan dengan hal tersebut, SoekidjoNotoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Selanjutnya Notoatmodjo (2007) juga mengemukakan bahwa salah faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yaitu ketersediaan informasi. Seseorang yang banyak memiliki informasi tingkat pengetahuannya akan semakin lebih baikdan lebih jelas.

Tahap Minat

Berdasarkan Gambar 1, dapat dilihat bahwa tingkat adopsi petani responden pada tahap minat, sesudah penyuluhan teknologi amoniasi sebagai pakan ternak sapi, dengan nilai rerata skornya adalah 2,81 berada pada kategori tinggi. Maka dengan demikian petani responden mulai berminat untuk membuat pakan dari limbah tanaman jagung sebagi pakan alternative bagi ternak pada saat musim kemarau, karena petani sama sekali belum pernah memperoleh informasi tentang teknologi amoniasi. Hal ini menunjukan bahwa keinginan petani untuk mengetahui lebih jelas tentang teknologi amoniasi sangat tinggi karena petani memiliki jerami jagung dalam jumlah banyak yang belum dimanfaatkan secara baik untuk dijadikan sebagai pakan ternak pada musim kemarau. Timbulnya minat, ditandai dengan adanya keinginan untuk bertanya atau unyuk mengetahui lebih jauh tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh (Mardikanto, 2009).

Berdasarkan hal tersebut maka Winkel (1996) mendefenisikan minat sebagai kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hasil tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam hal ini. Sejalan dengan hal tersebut Crow (1986) juga berpendapat bahwa, mimat adalah suatu yang menunjukan kemampuan untuk memberi stimulasi yang mendorong kita untuk memperhatikan seseorng, suatu barang atau kegiatan, sesuatu yang dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimulus oleh kegiatan itu sendiri, dan minat tersebut dapat menjadi suatu kegiatan dan hasil dari serta dalam kegiatan itu.

Tahap Menilai

Berdasarkan Gambar 1. Menunjukan bahwa tingkat adopsi petani responden terhadap teknologi amoniasi pada tahap menilai sesudah penyuluhan memiliki nilai rerata skor 2,67 berada pada acuan kategori tinggi. Penilaian petani terhadap teknologi amoniasi berada pada kategor tinggi karena petani responden yakin dengan keberhasilan suatu inovasi baru yang diterapkan atau yang dibawa oleh penyuluh yang berkaitan dengan teknologi ammoniasi amoniasi itu sendiri. Tahap penilaian (evaluasion) merupakan tahap dimana sasaran mulai melakukan penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi yang telah diketahui informasinya secara lengkap. Pada penilaian ini, petani responden tidak hanya melakukan penilaian terhadap aspek teknisnya saja, tetapi juga aspek ekonomi, maupun aspek aspek sosial budaya (Mardikanto, 2009).

Berdasarkan hal tersebut Haryati (2009), mengemukakan bahwa penilaian adalah suatu proses memperoleh informasi dan melakukan analisis terhadap informasi tersebut, untuk dijadikan pertimbangan penilaian atau hal yang sifatnya baru untuk diselidiki. Dilain pihak penilaian adalah kegiatan dengan sungguhsungguh mengamati, mengoreksi, menimbang baik buruknya suatu masalah yang dilakukan perorangan dengan dasar-dasar tertentu, selanjunya memberikan bobotnya, kualitas atau kemampuannya.

Tahap Mencoba

Berdasarkan Gambar 1, tingkat adopsi petani terhadap teknologi amoniasi pada tahap mencoba sesudah penyuluhan memperoleh nilai rerata skor sebesar 2,78 berada pada acuan kategori tinggi. Hal ini menunjukan bahwa pada umumnya petani responden sudah mulai mencoba untuk membuat amoniasi jerami jagung dalam skala kecil untuk diberikan pada ternak sapi. Tahap mencoba merupakan tahap dimana seseorang mulai dalam skala kecil untuk lebih meyakinkan penilaian, sebelum menerapkan untuk skala yang lebih besar (Mardikanto, 2009).

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hawkins (1996) yang menyebutkan petani bahwa petani akan lebih cenderung mengadopsi inovasi yang dapat dicoba sendiri dalam skala kecil. Pernyataan tersebut menunjukan semakin dapat dicoba suatu inovasi dalam skala kecil maka inovasi tersebut memiliki kecenderungan lebih besar untuk diadopsi oleh petani.

Tahap Menerapkan

Berdasarkan Gambar 1, tingkat adopsi petani terhadap teknologi amoniasi pada tahap menerapkan sesudah penyuluhan memperoleh nilai rerata skor sebesar 2,82 berada pada acuan kategori tinggi. Untuk itu petani reponden sudah mulai mencoba menerapkan teknologi amoniasi secara mandiri tanpa adanya bantuan dari penyuluh atau orang lain. Hal ini menunjukan bahwa petani responden sudah benar benar yakin dengan teknologi yang diterapkan oleh penyuluh, dengan demikian petani responden merasa yakin bahwa teknologi tersebut benar benar sangat membantu dalama usaha ternak mereka.

Tahap menerapkan tahap dimana seseorang mulai mempraktekkan hal-hal baru dengan keyakinan akan berhasil dan tidak ragu ragu untuk menerima informasi yang berkaitan denga teknologi baru yang di bawah oleh penyuluh atau pemerintah setempat yang dibutuh oleh petani.

Berdasarkan Gambar 1, tingkat adopsi petani pada tahap sadar sampai menerapkan sesudah penyuluhan mengalami peningkatan yang secara bervariasai.

Faktor-faktor yang mempengaruhi  Tahapan Adopsi Petani

Gedung MPLK 000Faktor-faktor yang mempengaruhi tahapan adopsi petani terhadap teknologi amoniasi meliputi umur, pendidikan, penggunaan lahan, pengelaman beternak, karakteristik teknologi. Untuk mengetahui hubungan faktor internalexternal terhadap hubungan tahapan adopsi petani dilakukan analisis regresi linear berganda. Dalam analisis yang dilakuka ada dua predikator yaitu, X4 pengalaman beternak, X5 karakteristik teknologi. Tahapan adopsi petani (Y).

Tabel 1. Hasil analisis faktor internal-external yang mempengaruhi tahapan adopsi petani.

Dari Tabel 1 diatas dapat disimpulkan hasil analisis regresi hubungan antara tahapan adopsi petani terhadap umur, tingkat pendidikan, penggunaan lahan, pengalaman beternak, karakateristik teknologi, secara bersama sama diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 18,211 – 0,093X1 + 0,045X2 – 0,602X3 – 1,704X4 + 2,646X5

Dimana: Y = tahapan adopsi petani, X1 = Umur, X2 = tingkat Pendidikan, X3 = penggunaan lahan, X4 = pengalaman beternak, X5 = karakteristik teknologi

Dari lima faktor external-internal yang memiliki hubungan signifikasi terhadap tahapan adopsi petani terhadap teknologi amoniasi jerami jagung oleh petani di Dusun Fatubesi Desa Manulea terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap tahapan adopsi petani tersebut yaitu: penggunaan lahan, pengalaman beternak, dan karakteristik teknolgi.

Hasil analisis regresi linear berganda memperlihatkan bahwa variable penggunaan lahan, pengalaman beternak, karakteristik teknologi berpengaruh terhadap tahapan adopsi petani(Y) secara similtan/bersama sama dengan nilai Fhitung adalah sebesar 8.203 dengan signifikan F sebesar .000 (Tabel Anova Model) dengan nilai R-square sebesar .000 (Tabel Sammary). Hasil ini menyatakan bahwa pengalaman beternak, karakteristik teknologi berpegaruh signifikan secara simultan terhadap tahap penerapan teknologi amoniasi bahwa Rsquare sebesar.000. nilai R-square menunjukan kontribusi pengalaman beternak, dan karakteristik teknologi terhadap tahap penerapan teknologi amoniasi adalah sebesar 32 % sisanya dipengaruhi oleh variable variable lain. Selanjutnya dijelaskan pengaruh pengalaman beternak dan karakteristik teknologi terhadap tahap penerapan teknologi amoniasi.

Pengalaman beternak. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa pengalaman beternak berpengaruh terhadap tahap adopsi petani teknologi amoniasi. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi untuk pertama X4 terhadap Y adalah sebesar 1.704 (17,0 %) dengan signifikan 0.34. ini berarti bahwa pengalaman beternak berpengaruh terhadap tahapan adopsi teknologi amoniasi jerami jagung. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa setiap penambahan atau pengurangan pengalaman beternak akan menambah atau mengurangi tahap penerapan teknologi sebesar 17,0 %. Hal ini menunjukan bahwa selama bertahun tahun petani melaksanakan usahanya, mereka sudah memiliki pengalaman tentang pemberian jerami jagung kepada ternak sapi pada musim kemarau. Namun pengetahan mereka tentang teknologi amoniasi sama sekali belum ada. Artinya bahwa semakin lama setiap responden berusahatani akan memudahkan mereka dalam mengadopsi teknologi baru khusunya teknologi amoniasi.

Hal ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (1999), yang mengemukakan bahwa pengalaman seseorang dalam berusahatani berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar. Petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih mudah menerapkan inovasi dari pada petani pemula. Petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih mudah menerapkan anjuran penyuluh dari pada petani pemula, hal ini karena pengalaman lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.

Karakteristik teknologi. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa karakteristik teknologi berpengaruh terhadap tahap adopsi petani teknologi amoniasi. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi untuk pertama X5 terhadap Y adalah sebesar 2.646(26.4 %) dengan signifikan .000. ini berarti bahwa karakteristik teknologi berpengaruh terhadap tahapan adopsi teknologi amoniasi jerami jagung. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa setiap penambahan atau pengurangan pengalaman beternak akan menambah atau mengurangi tahap penerapan teknologi sebesar. Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa karateristik teknologi memberi pengaruh positif, hal ini berarti semakin sering petani menerapkan teknologi maka semakin tinggi tingkat pengetahuan petani untuk menerapkan teknologi amoniasi jerami jagung. Ini berkaitan langsung dengan dengan keuntungan bagi petani.

Tingakat adopsi dari suatu inovasi tergantung pada tahap adopter tentang karakteristik inovasi tersebut. Berdasarkan pengamat penerima, Rogers(2005) maka inovasi mempunyai lima sifat, pertama, sifat keuntungan relative yang beratri tingkatan suatu ide baru dianggap lebih baik dari pad aide sebelumnya, kedua sifat inovasi kesesuaian (kompatibilitas) merupakan tingkat sejauh mana inovasi tersebut konsisten dengan nilai nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima, sifat yang ketiga kerumitan (komleksitas), merupakan tingkat kerumitan dari inovasi tersebut, sulit dimengerti dan digunakan. Makin rumit suatu inovasi bagi seseeorang, maka akan lambat akan pengadopsiannya. Keempat yaitu kemudahan untuk dicoba (triabilitas) merupakan tingkat kemudahan untuk dapat dicob, ide baru yang dapat dicoba terlebih dahulu. Kelima observabilitas adalah tingkat hasil hasil suatu inovasi tertentu mudah dilihat dan dikomunikasikan kepada orang lain. Maka dengan demikian karakteristik teknologi sangat berpengaruh positif terhadap petani yang ada di dusun fatubesi.

KESIMPULAN

Tingkat adopsi petani di Dusun Fatubesi Desa Manulea terhadap penyuluhan teknologi amoniasi jerami jagung sebagai pakan ternak sapi sesudah dilakukan penyuluhan mengalami peningkatan dengan masing-masing skor sebagai berikut: tahap sadar dengan nilai rerata skor 2,67, tahap minat dengan rerata skro 2,81, tahap menilai dengan nilai rerata skor 2,17, tahap mencoba dengan skor 2,78 dan tahap menerapkan dengan nilai rerata skor 2,82 dari keempat tahapan tersebut berada pada kategori tinggi atau mengalami peningkatan. Secara simultan (bersamaan) faktor pengalaman beternak dan karakteristik teknologi berpengaruh signifikan terhadap tahap penerapan teknologi amoniasi di Dusun Fatubesi Desa Manulea.

E Library

1Penulis lahir di Fatubesi Desa Manulea, Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka pada tanggal 6 Februari 1996. Pada Tahun 2004 penulis masuk Sekolah Dasar Inpres Fatubesi dan berijasah pada Tahun 2010. Tahun yang sama penulis melanjutkan studi di SMP Negeri 2 Malaka Tengah dan berijasah pada tahun 2013 dan kemudian penulis melanjutkan studi tingkat menengah atas pada sekolah SMA Negeri Sasitamean dan berijasah tahun 2016. Pada bulan Agustus 2016 Penulis di terima sebagai mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang Pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering.

No events