Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Respon Petani Sayuran terhadap Aplikasi Pupuk Bio Urin pada Kelompok Tani Petra di Desa Noelbaki Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang

Response of Vegetable Farmers to Application of Bio-urine Fertilizer in Petra Farmers Group, Noelbaki Village, Kupang Tengah District, Kupang Regency

Anisden Baru Bangngu1, Rupa Matheus2, Abdul Kadir Djaelani2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Dalam budidaya tanaman, petani selalu mengandalkan pupuk kimia, sementara limbah pertanian potensial tidak dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, penelitian respon petani sayuran dalam aplikasi pupuk Bio Urin dilakukan di Kelompok Tani Petra, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Penelitian betujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap pemanfaatan pupuk Bio Urin dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap petani. Metode dalam penelitian ini adalah desiminasi atau kaji terap aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan korelasi rank Sperman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plot perlakukan pupuk Bio Urin meningkatkan hasil bawang merah sebesar 78,94% dari tanpa Bio Urin (dari 9,45 t/ha menjadi 16,95 t/ha). Secara umum, pengetahuan petani pasca desiminasi pupuk Bio Urin berada pada kategori tinggi dan sikap petani berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor sebesar 2,60, artinya bahwa petani menerima dan mengakui keunggulan dari pupuk Bio Urin. Terdapat hubungan signifikan antara faktor-faktor pengganggu terhadap pengetahuan petani, yaitu karakteristik teknologi, biaya saprodi, dan pendidikan petani. Sedangkan, sikap petani berhubungan signifikan dengan biaya saprodi, karakteristik teknologi, kemudahan, dan pendidikan petani.

Kata Kunci: Bio Urin, respon, demplot

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. In crop cultivation, farmers always rely on chemical fertilizers, while potential agricultural waste is not utilized properly. Therefore, study on the response of vegetable farmers to the application of Bio Urine fertilizer was carried out at the Petra Farmer's Group, Noelbaki Village, Kupang Tengah District, Kupang Regency. This study was to determine the knowledge and attitudes of farmers to the use of Bio Urine fertilizer and to determine the factors related to the knowledge and attitudes of farmers. The method in this study was the dissemination or study of the application of Bio Urine fertilizer on shallot plants. Data analysis used descriptive analysis and Sperman rank correlation. The results showed that the Bio Urine treatment increased the yield of shallots by 78.94% from without Bio Urine or from 9.45 t/ha to 16.95 t/ha. In general, the knowledge of farmers after the dissemination of Bio Urine fertilizer was in the high category and also the attitudes of farmers with mean score of 2.60, meaning that farmers accepted and acknowledged the advantages of Bio Urine fertilizer. There was a significant relationship between the confounding factors on the knowledge of farmers, namely the characteristics of technology, production costs, and farmers' education. Meanwhile, production costs, technological characteristics, convenience, and farmers' education were significantly related to farmers' attitudes.

Keywords: Urine Bio, response, demonstration plot


PENDAHULUAN

Desa Noelbaki merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Desa ini memiliki potensi air yang cukup untuk mendukung kegiatan usahataninya terutama dalam budidaya sayuran. Jenis sayuran yang ditanam antara lain : bawang merah, sawi, kangkung, bayam, mentimun dan sebagainya. Sehingga desa ini menjadi sentra produksi sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kota Kupang (Profil Desa Noelbaki, 2019). Berdasarkan hasil wawancara dengan Petani sayuran di desa Noelbaki, khusunya di kelompok tani Petra, 90% masih mengandalkan pupuk kimia sebagai sarana produksi, dan baru sekitar 10% sudah menggunakan pupuk organik (pupuk kandang dan bokasi) sebagai pupuk dasar, namun dosis yang diberikan masih sangat rendah. Jenis pupuk kimia yang yang digunakan oleh petani sayuran di desa Noelbaki antara lain Urea, SP36 dan NPK.

Penggunaan pupuk kimia, kadang mengalami hambatan seperti kelangkaan dan mahalnya harga pupuk. Sehingga menjadi masalah bagi petani pada umumnya terlebih kususnya petani sayuran di desa Noelbaki. Salah satu komoditas unggulan yang banyak diusahakan oleh petani sayuran di Kelompok Tani Petra adalah bawang merah. Budidaya bawang merah sangat menguntungkan petani kerana harga jualnya yang tinggi. Data kementrian pertanian Produksi bawang merah rata-rata masih dibawah produktitivitas nasional yaitu 9,24 t/ha, jauh dibawah potensi produksi 20 ton/ha (Susanti, dkk, 2018). Rendahnya produksi bawang merah di tingkat petani disebabkan oleh pola budidaya dan juga pemupukan yang belum berimbang. Umumnya petani hanya mengandalkan pupuk makro (N, P, K) dengan dosis yang rendah karena harga pupuk kimia yang terus meningkat.

Anisden Baru Bangngu 2021 Dokumentasi 3Kebutuhan akan pupuk yang sedemikian tinggi dan harga yang semakin mahal menjadi masalah. Sekaligus menjadi peluang untuk memanfaatkan bahanbahan yang kurang berguna seperti limbah peternakan maupun pertanian menjadi pupuk organik baik organik padat maupun cair dengan cara membuat sendiri. Seperti dengan cara memanfaatkan kotoran sapi, urin sapi, dan limbah pertanian lainnya (Matheus, dkk., 2020). Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan urin sapi sebagai pupuk cair yang sering disebut dengan nama “Bio Urin”. Bio Urin merupakan pupuk cair yang berbahan dasar urin yang mengandung unsur hara yang lengkap yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium dan unsur mikro yang lain. Juga mengandung hormon tertentu yang bermanfaat untuk tanaman (Aisyah et al., 2011). Menurut Sudana dkk (2013) Bio Urin banyak mengandung unsur hara Makro dan Mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, selain itu Bio Urin juga mengandung hormon pertumbuhan Auxin, Cytokinin dan, Giberelin yang cukup tinggi sehingga memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan urin sapi sebagai pupuk organik akan memberikan keuntungan diantaranya harga relatif murah, bahan bakunya mudah didapat dan diaplikasikan, serta memiliki kandungan hara yang dibutuhkan tanaman. Kandungan Bio Urin antara lain: pH: 6,75; C-organik: 17,25%; Nitrogen: 2,25%; Fosfor; 0,42% dan Kalium: 1,26%, juga mengandung mikroba unggul yaitu Trchoderma, Rhyzopus (Matheus et al, 2020).

Menurut Hadisuwito (2012) kelebihan Bio Urin dapat berfungsi sebagai unsur hara yang dapat diserap tanaman secara cepat. karena unsur hara didalamnya sudah tersedia, dan tidak menimbulkan dampak negatif meskipun digunakan secara terus menerus. Namun keunggulan Bio Urin sebagai pupuk organic cair yang murah dan mudah, tidak serta merta membuat petani memutuskan untuk menggunakannya. Hal ini kerena pengetahuan dan pemahaman petani tentang pupuk organik masih sangat minim. Untuk itu, diperlukan strategi pendekatan penyuluhan melalui desiminasi penerapan teknologi pupuk organik cair Bio Urin, sebagai langkah ujicoba bersama petani. Desiminasi teknologi bersama petani, ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya petani dalam hal ini perilaku petani, yang meliputi: pengetahuan, sikap dan ketrampilan dapat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan. Menurut Padmanagara (2012) menyatakan bahwa tujuan penyuluhan adalah upaya membantu dan memfasilitasi para petani beserta3 keluarganya untuk mencapai tingkat usahatani yang lebih efisien/produktif, taraf kehidupan keluarga dan masyarakat yang lebih memuaskan melalui kegiatankegiatan yang terencana untuk mengembangkan pengertian, kemampuan, kecakapan mereka sendiri sehingga mengalami kemajuan ekonomi.

Selain melakukan penyuluhan, pembuatan kebun percontohan melalui demonstrasi plot teknologi budidaya juga merupakan metode penyuluhan yang efektif untuk memberikan bukti nyata kepada petani, agar mereka yakin bahwa pupuk Bio Urin yang bersumber dari urun sapi bisa meningkatkan hasil tanaman sayuran lebih kususnya tanaman bawang merah per satuan luas. Demonstrasi plot berkaitan dengan tata cara mempraktekan, mempertunjukan dan memperagarakan secara baik dan benar, sehingga orang menjadi tertarik untuk memanfaatkan produk tersebut. Menurut Ismael (2019), metode demonstrasi merupakan salah metode yang paling efektif dan efisien untuk menyakinkan petani, metode ini mengandung konsep “seeing is believe” yang berarti “percaya karena melihat dan menyaksikan serta membandingkan hasilnya. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Respon Petani Sayuran Terhadap Aplikasi Pupuk Bio Urin Pada Kelompok Tani Petra di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang “.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui hasil demplot bawang merah setelah diaplikasikan pupuk organik cair Bio Urin dan tanpa Bio Urin (pola petani)
  2. Mengetahui respon petani (pengetahuan dan sikap) sayuran di kelompok tani Petra terhadap desiminasi pemanfaatan pupuk Bio Urine sapi pada tanaman bawang merah di desa Noelbaki.
  3. Mengetahui hubungan antara faktor karakteristik petani, interaksional, biaya sarana produksi, kemudahan dan ketersediaan sarana pupuk Bio Urin, dan karakteristik teknologi terhadap respon petani sayuran di kelompok tani petra dalam pemanfaatan pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah di desa Noelbaki.

METODELOGI PENELITIAN

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desiminasi atau kaji terap melalui pendekatan demonstrasi plot. Pupuk yang didesiminasikan adalah pupuk organik cair Bio Urin sapi yang diaplikasikan pada tanaman bawang merah. Sebagai pembandingnya juga akan diaplikasikan juga pola budidaya bawang merah oleh petani (pola petani) dengan menggunakan pupuk kimia. Paket teknologi ini akan diterapkan dalam bentuk demonstrasi polot, yang terdiri dari dua plot yaitu plot untuk penerapan pupuk Bio Urin plot petani yang menggunakan pupuk kimia NPK majemuk. Luasan lahan untuk masing-masing demplot seluas 130 m2 (26 x 5 m), yang dibuat dalam dua ulangan. Pengukuran perilaku petani sasaran (petani responden) dilakukan setelah panen hasil demplot dengan menyebarkan kuisioner dan mengumpulkannya kembali untuk dianalisis deskriptif kuantitatif.

Sumber dan Jenis Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ada dua yaitu, data sekunder yang bersumber dari profil desa dan data kelembagaan kelompok tani yaitu data potensi desa dan karakteritik petani. Data yang kedua adalah data primer yang merupakan data pengukuran langsung dilapangan yaitu, data hasil tanaman bawang merah, yang diukur pada masing-masing plot, data perilaku petani yang diukur melalui penyebaaran kuisioner kepada petani responden yang terlibat langung dalam penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara, pengisian kusioner, maupun dengan cara diskusi, untuk mengetahui perilaku petani setelah mereka mendapatkan materi penyuluhan, melakukan demplot serta mengamati dan membandingkan hasil demplot.

Instrumen Penelitian

00 Tabel Acuan Kategori Rerata SkorInstrumen dalam peneltian ini ada empat yaitu

  1. Lahan Demplot untuk aplikasi pupuk organic cair Bio Urin, sebagai media pembelajaran dan pengamatan bagi petani sayuran yang terlibat sebagai responden dalam penelitian.
  2. Materi penyuluhan yang disiapkan dalam bentuk LPM, sinopsis,
  3. Petani responden yang tergabung dalam kelompok tani Petra yang berjumlah 30 orang, dan
  4. Kuisioner, berupa daftar pertanyaan dalam bentuk pilihan jawaban yang disiapkan oleh peneliti untuk mengetahui perilaku petani, yang meliputi pengetahuan dan sikap petani setelah melihat, melaksanakan, membandingkan, dan menganalisis terhadap aplikasi pupuk Bio Urin yang diperkaya mikroba, apakah petani responden dapat menerima, ragu-ragu atau menolak.

Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini, adalah petani sayuran yang tergabung dalam kelompok Tani Petra yang ada di Desa Noelbaki, dengan kriteria inklusi adalah petani yang selama ini mengusahakan tanaman sayuran secara terus menerus dalam satu hamparan, baik laki-laki maupun perempuan tanpa membatasi usia. Populasi petani hartiklutra di Kelompok Tani Petra berjumlah 30 orang. Mengingat populasi petaninya kecil, maka sampel penelitian, diambil dengan sensus, dimana semua petani sayuran dijadikan sebagai petani sampel.

Metode Analisis Data

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Data hasil penelitian, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan alat analisis statistik, sesuai dengan tujuan penelitian, Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:

  1. Analisis Deskriptif. Alat analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan sesautu fenomena atau gejala sebagai dampak dari adanya stimulus yang diberikan. Alat ananlisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan frekuensi relative dan skala likert. Skala likert menggunakan ukuran ordinal, dengan tiga kategori skala (Nazir, 2005). Kategori tinggi diberi skor: 3; kategori: sedang diberi skor : 2 dan kategori rendah diberi skor: 1. Tabel 2. Interfal skala likert sebagai acuan penentuan nilai dan kategori
  2. Uji rata-rata. Merupakan alat analisis statistik untuk mengatahui rata-rata hasil bawang pada masing-masing plot, untuk selanjutnya dibandingkan antar plot perlakuan. Jika nila rata-rata hasil antar plot berbeda, dan ditunjukkan oleh salah satu plot yang lebih tinggi maka disimpulkan bahwa plot teknologi tersebut yang lebih baik.
  3. Uji Korelasi. Ditujukan untuk mengatahui kuat lemahnya hubungan antar variable penelitian, yang di amati dengan hubungan perubahan respon petani sayuran maka, di lakukan dengan menggunakan analisa statistik non parametrik yaitu analisis Korelasi Rank Spearman (rs). Menurut Sugiyono (2014), korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikansi hipotesis asosiatif bila masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antar variabel tidak harus sama.

HASIL PENELITIAN

Hasil Demplot Bawang Merah

Hasil demonstrasi plot aplikasi pupuk organic cair Bio Urin yang dilakukan bersama petani responden di Kelompok Tani Petra menunjukkan hasil bawang merah yang berbeda. Pengukuran hasil demplot dilakukan pada petak ubinan yang berukuran 2x1,2 m (2,2 m2). Hasil analisis rata-rata terhadap produksi bawang merah di sajikan pada Tabel 3.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah siung per rumpun dan hasil ubinan berbeda antar plot. Plot perlakuan aplikasi Bio Urin menunjukkan jumlah siung per rumpun sebanyak 11,84 siung, lebih banyak dibanding dengan pola petani yang menggunakan pupuk kimia (NPK Majemuk) yang hanya menghasilkan jumlah siung bawang merah sebanyak 7.65 siung. Hal yang sama juga terlihat pada hasil bawang merah yang diukur pada petak ubinan masingmasing menunjukkan bahwa plot perlakuan aplikasi Bio Urin menghasilkan bawang merah sebanyak 3,73 kg/plot ubinan, lebih banyak dibanding dengan pola petani yang menggunakan pupuk kimia (NPK Majemuk) yang hanya menghasilkan umbi bawang merah sebanyak 2,08 kg/plot ubinan.

Berdasarkan hasil pengambilan ubinan pada masing-masing plot demplot, juga terlihat bahwa plot perlakuan aplikasi Bio Urin, setelah dikonversi mampu menghasilkan bawang merah, sebanyak 16,95 ton/ha lebih tinggi dibanding dengan pola petani yang menggunakan pupuk kimia (NPK majemuk) yang hanya menghasilkan umbi sebanyak 9,45 ton/ha.

Secara umum plot perlakuan yang diaplikasikan pupuk cair Bio Urin menunjukkan peningkatan hasil bawang merah yang ditujukkan oleh jumlah suing per rumpun, hasil ubinan (kg/plot ubinan) dan hasil bawang merah (ton/ha) yang40 lebih tinggi dibanding dengan plot perlakuan yang dipupuk dengan pupuk kimia (NPK majemuk). Plot perlakuan aplikasi pupuk Bio Urin secara nyata meningkatkan hasil bawang merah sebesar 78,94% (dari tanpa Bio Urin 9,45 t/ha meningkat menjadi 16,95 t/ha setelah menggunakan Bio Urin. Hal ini disebabkan karena Bio Urin yang diberikan ke tanaman disamping mengandung unsur hara makro seperti N, P, K, Ca, Mg, S, juga mengandung unsur mikro seperti Mn, Zn, Fe, Cu,Cl yang banyak dibutuhkan oleh tanaman (Musnamar, 2003). Berbeda dengan pupuk kimia (NPK majemuk) yang hanya mengandung hara makro, yaitu N, P dan K, dan minim hara mikro yang hanya bersumber dari dalam tanah.

Lebih lanjut menurut Matheus et al, (2020) menyatakan bahwa keunggulan pupuk Bio Urin yang diproduksi dan diaplikasikan pada penelitian ini, selain mengandung hara makro dan mikro, juga mengandung mikroba potensial (trichoderma) yang dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah, sehingga tanaman akan dengan mudah menyerap hara tersebut.

Respon Petani Pasca Desiminasi Pupuk Bio Urin

Respon yang dimaksud dalam penelitian ini adalah reaksi petani yang diukur melalui indikator pengetahuan dan sikap terhadap aplikasi teknologi Bio Urin pada tanaman bawang merah. Untuk itu dalam penelitian ini akan diuraikan secara mendalam tentang pengetahuan dan sikap petani yang merupakan indikator respon.

Pengetahuan Petani Pasca Desiminasi Teknologi Bio Urin

Indikator pengetahuan petani yang diukur dalam penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman petani pasca dilakukan penyuluhan dan penerapan demplot. Hasil analasis distribusi frekunsi pengetahuan petani pasca kegiatan penyuluhan dan demplot aplikasi pupuk Bio Urin disajikan pada Tabel 4.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Berdasarkan Tabel 4 di atas, menujukkan bahwa tingkat pengetahuan petani responden terhadap aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah berbeda beda. Tingkat pengetahuan petani responden terhadap potensi urin sapi, berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 2,80, dan total presentase tertinggi 80% dari 24 orang petani responden. Hal ini membuktikan bahwa petani mengetahui urin sapi memiliki potensi dan ikut serta dalam proses desiminasi teknologi aplikasi pupuk Bio Urin. Sehingga mereka dengan mudah mengingat dan memahami akan potensi dari urin (Bio Urin). Selain itu, masih sebanyak 6 orang perani (20%), yang masih memiliki pengetahuan sedang. Hal ini dapat di mengerti karena petani responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup heterogen dari aspek umur, pendidikan dan pengalaman berusahatani. Indikator pengetahuan petani terhadap manfaat dan keunggulang pupuk Bio Urin berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor sebesar 2,57 yang ditunjukkan sebanyak 17 orang (56,67%) dari total responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori tinggi, dan sisanya sebanyak 13 (43,33%) dari total responden orang berada dalam kategori pengetahuan sedang. Hal yang sama juga terlihat pada indikator cara aplikasi pupuk Bio Urin, menunjukkan rata-rata pengetahuan petani berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor sebesar 2,57. Jumlah responden yang memiliki tingkat pengetahuan terhadap indikator cara aplikasi berada pada kategori tinggi berjumlah 22 orang (73,33%). Sedangkan pada kategori sedang berjumlah 8 orang (26,67%) dari total responden.

Pengetahuan petani responden, pasca dilakukan penerapan teknologi pupuk Bio Urin, membuktian bahwa petani juga ikut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan demplot yang diaplikasikan pada bawang merah.

Sikap Petani Pasca Desiminasi Teknologi Bio Urin

Pengukuran sikap petani responden terhadap aplikasi teknologi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah dilakukan setelah petani melihat dan mengukur hasil panen bawang merah. Sikap petani di peroleh setelah melihat hasil bawang merah yang diperoleh dari plot perlakuan aplikasi pupuk Bio Urin dan plot perlakuan pola petani yang menggunakan pupuk kimia (NPK majemuk). Secara terperinci sikap petani responden terhadap aplikasi teknologi pupuk Bio Urin pasca demplot dapat dilihat pada Tabel 5.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Berdasarkan Tabel 5 di atas, menujukkan bahwa sikap petani responden terhadap aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah berbada pada kategori menerima dengan nilai skor sebesar 2,60. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah petani yang menerima dan mengakui keunggulan dari pupuk Bio Urin adalah 24 orang petani responden (80%) dari total petani responden dan sisanya sebanyak 6 orang (20%) dari total responden yang masih bersikap ragu-ragu.

Sikap petani responden, pasca dilakukan penerapan teknologi pupuk Bio Urin, dilandasi oleh pupuk Bio Urin yang memiliki nutrisi yang lengkap serta mudah dalam pengaplikasiannya dan tidak memberi dampak negatif terhadap tanaman dan mengindikasikan bahwa metode desiminasi yang dilakukan melalui pendekatan demonstrasi plot, mampu menggerakan petani untuk terlibat dalam aplikasi Bio Urin dan ikut menyaksikan hasil panen. Dengan keterlibatan petani selama proses demonstrasi plot, membuat petani dengan mudah merespon apa yang di lihat dan dihasilkan.

Selain itu, sikap petani responden menerima produk Bio Urin sebagai pupuk organic cair, karena melihat perbandingan hasil plot perlakuan yang diaplikasikan pupuk cair Bio Urine sapi menunjukkan peningkatan hasil tanaman bawang merah sebesar 78,94% dari tanpa Bio Urin 9,45 t/ha meningkat menjadi 16,95 t/ha setelah menggunakan Bio Urin. Hal ini yang membuat petani percaya bahwa Bio Urin adalah pupuk organik cair yang dapat digunakan selain pupuk kandang atau pupuk bokasih, dan dapat menggantikan pupuk kimia44

Hubungan Faktor-Faktor Pengganggu terhadap Pengetahuan Petani

Analisis hubungan faktor-faktor pengganggu dilakukan untuk melihat hubungan antara faktor-faktor pengganggu dengan pengetahuan petani dalam aplikasi teknologi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah. Analisis hubungan dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Uji korelasi Rank Spearman dilakukan dengan menggunakan SPSS 18 for windows disajikan pada Tabel 6.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Hasil analisis rank sperman pada Tabel 6 menunjukkan bahwa dari delapan (8) variabel yang diuji terhadap pengetahuan petani tentang pupuk Bio Urin, memperlihatkan arah hubungan yang sama yaitu positip. Namum dari aspek kekuatan hubungan, semua factor yang diuji memperlihatkan kekuatan hubungan yang berbeda, yang ditunjukkan oleh besarnya nilai koefisien korelasi45 (rs) yang berbe-bedada. Tabel 6 menunjukkan bahwa ada tiga faktor penggangu, yaitu faktor pendidikan (X2), karakteristik teknologi (X5), dan biaya saprodi (X6), memiliki hubungan yang searah (positip) dengan kekuatan hubungan sedang, yang ditunjukkan oleh nilai koefien korelasi (rs) masing-masing sebesar: 0,485, 0,543, dan 0,516. Sedangkan faktor penggangu lainnya, yaitu: umur (X1), luas lahan (X3), pengalaman berusahatani (X4), kemudahan dan ketersediaan (X7) dan fakor interaksional (X8) memiliki arah hubungan positip, namun memiliki kekuatan hubungan yang sangat lemah.

Faktor pendidikan (X2) menunjukkan hubungan yang searah (positip) terhadap pengetahuan petani tentang pupuk Bio Urin, maksudnya dengan semakin meningkatnya pendidikan responden (mayoritas berpendidikan SMA), maka dengan mudah meningkatkan pengetahuan petani akan keunggulan dari Bio Urin sebagai pupuk organic cair. Hal yang sama juga, terlihat dari nilai koefisen korelasi (Tabel 6), menujukkan bahwa factor pendidikan memperlihatkan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,543, yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap pengetahuan petani. Hasil uji signifikasi factor pendidikan, juga menunjukkan hubugan yang sangat singnifikan (p>0,001). Artinya, factor pendidikan responden (X2) memiliki hubungan yang sangat nayata dengan pengetahuan petani responden tentang pupuk Bio Urin. Hasil penelitian diperkuat oleh Hasbullah (2005) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal petani sangat berpengaruh terhadap kemampuan dalam merespon suatu inovasi. Makin tinggi tingkat pendidikan formal petani, diharapkan makin rasional pola pikir dan daya nalarnya. Lebuh lanjut Mardikanto (2003), juga menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap kapasitas kemampuan belajar seseorang, karena ada kegiatan belajar yang memerlukan tingkat pengetahuan tertentu untuk dapat memahaminya.

Selain faktor pendidikan (X2), faktor karakteristik Teknologi (X5), juga menujukkan hubungan yang searah (positip) terhadap pengetahuan petani tentang pupuk Bio Urin, maksudnya dengan semakin unggulnya produk pupuk Bio Urin, maka dengan mudah petani memahami dan mengingat, karena pupuk adalah sarana produksi utama. Factor karankeristik teknologi (X5), memperlihatkan nilai46 koefisien korelasi (rs) sebesar 0,485 (Tabel 6), yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap pengetahuan petani. Hasil uji signifikasi factor karakteristik teknologi, juga menunjukkan hubugan yang sangat singnifikan (p>0,001) tehadap pengetahuan petani. Artinya, faktor karateristik teknologi (X5) memiliki hubungan dengan pengetahuan petani responden tentang pupuk Bio Urin.

Petani responden akan lebih mudah memahami dan mengingat keunggulan dari pupuk Bio Urin. Petani respnden menyadari bahwa pupuk Bio Urine dapat menyuburkan tanah dan tanaman dan dapat menggantikan pupuk kimia, karena mengandung unsur hara yang lengkap (hara makro dan mikro). Hal ini, diperkuat oleh Rizal (2012) Bio Urin ternak memberikan manfaat sebagai penyubur tanaman, menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah, mengurangi dampak sampah organic disekitar lingkungan dan meningkatkan kualitas produksi tanaman.

Faktor Biaya Saprodi (sarana produksi) Pupuk (X6), juga merupakan salah satu factor yang memiliki hubungan yang searah (positip) terhadap pengetahuan petani tentang pupuk Bio Urin. Maksudnya semakin murah biaya saprodi pupuk, maka dengan mudah meningkatkan pengetahuan petani akan keunggulan dari Bio Urin sebagai pupuk organic cair yang murah disbanding dengan pupuk kimia.

Hal yang sama juga, terlihat dari nilai koefisen korelasi (Tabel 6), menujukkan bahwa factor factor biaya saprodi pupuk (X6) memperlihatkan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,516, yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap pengetahuan petani. Hasil uji signifikasi juga menunjukkan hubugan yang sangat singnifikan (p>0,001). Artinya, faktor biaya saprodi pupuk (X6) memiliki hubungan yang sangat nyata dengan pengetahuan petani responden tentang pupuk Bio Urin. Petani responden akan lebih mudah memahami dan mengingat keunggulan dari pupuk Bio Urin yang murah, namun mampu meningkatkan hasil tanaman bawang merah.

Hubungan Faktor-Faktor Penggangu Terhadap Sikap Petani

Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor pengganggu terhadap sikap petani telah dilakukan analisis rank sperman. Data pengukuran sikap petani dianalisis dari hasil kusioner yang diberikan oleh petani responden setelah melihat hasil bawang merah pada petak demplot penerapan Bio Urin. Uji korelasi Rank Spearman dilakukan dengan menggunakan SPSS 18 for windows, seperti disajikan pada Tabel 7.

Alexander P Maga 2021 Hasil Lit. Tabel 2Hasil analisis rank sperman pada Tabel 7 di atas, menunjukkan bahwa dari delapan (8) variable yang uji terhadap sikap petani tentang aplikasi pupuk Bio Urin, memperlihatkan arah hubungan yang sama yaitu positip. Namum dari aspek kekuatan hubungan, semua factor yang diuji memperlihatkan kekuatan hubungan yang berbeda terhadap sikap petani, yang ditunjukkan oleh besarnya nilai koefisien korelasi (rs) yang berbeda-beda. Tabel 7 menunjukkan bahwa ada empat faktor penggangu, yang terdiri dari pendidikan (X2), karakteristik teknologi (X5), dan biaya saprodi (X6) serta Kemudahan/ketersedian saprodi (X7), yang memiliki hubungan yang searah (positip) dengan kekuatan hubungan sedang, yang ditunjukkan oleh nilai koefien korelasi (rs) masing-masing sebesar: 0,454, 0, 0,474, 0,560 dan 0,403. Sedangkan faktor penggangu lainnya, yaitu: umur (X1), luas lahan (X3), pengalaman berusahatani (X4), dan fakor interaksional (X8)48 memiliki arah hubungan positip, namun memiliki kekuatan hubungan yang sangat lemah.

Faktor pendidikan (X2) menujukkan hubungan yang searah (positip) terhadap sikap petani tentang pupuk Bio Urin, maksudnya dengan semakin meningkatnya pendidikan responden (mayoritas berpendidikan SMA), maka dengan mudah meningkatkan sikap petani akan keunggulan dari Bio Urin sebagai pupuk organic cair yang dapat meningkatkan hasil bawang merah. Nilai koefisen korelasi dari faktor pendidikan memperlihatkan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,454 (Tabel 7), yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap sikap petani. Demikian juga hasil uji signifikasi factor pendidikan, menunjukkan hubugan yang singnifikan (p>0,005). Artinya, faktor Pendidikan responden (X2) memiliki hubungan dengan sikap petani responden tentang pupuk Bio Urin. Hal ini sejalan dengan pendapat Mardikanto (2003) yang mengatakan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap sikap dan kapasitas seseorang. Jadi tingkat pendidikan petani merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi sikap dan pola pikir seseorang dalam mengambil keputusan untuk menerima inovasi tersebut.

Faktor Karakteristik Teknologi (X5), juga menujukkan hubungan yang searah (positip) terhadap sikap petani tentang aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah. Maksudnya dengan semakin unggulnya produk pupuk Bio Urin, maka dengan mudah petani mengambil sikap dalam mnengadopsi pupuk Bio Urin. Nilai koefisien korelasi (rs) dari karakteristik teknologi adalah sebesar 0,474 (Tabel 7), yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap sikap petani. Hasil uji signifikasi faktor karakteristik teknologi, juga menunjukkan hubugan yang sangat singnifikan (p>0,001) tehadap sikap petani. Artinya, petani respnden akan menerima produk pupuk Bio Urin untuk tanaman bawang merah setelah melihat dan membandingkan hasil dari masing-masing petak demplot.

Selain melihat hasil demplot, sikap petani juga dipengaruhi oleh keunggulan produk pupuk Bio Urin yang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh pupuk kimia, yaitu mengandung hara yang lengkap (hara makro dan mikro) dan mengandung mikroba unggulan yang dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi49 taaman. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Matheus et al., (2020) menyatakan bahwa keunggulan pupuk Bio Urin adalah, selain mengandung hara makro dan mikro, juga mengandung mikroba potensial (trichoderma) yang dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah, sehingga tanaman akan dengan mudah menyerap hara tersebut. Hal ini, diperkuat oleh Rizal (2012) Bio Urin ternak memberikan manfaat sebagai penyubur tanaman, menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah, mengurangi dampak sampah organic disekitar lingkungan dan meningkatkan kualitas produksi tanaman.

Anisden Baru Bangngu 2021 Dokumentasi 3Faktor Biaya Saprodi (sarana produksi) Pupuk (X6), juga merupakan salah satu factor yang memiliki hubungan yang searah (positip) terhadap sikap petani tentang aplikasi pupuk Bio Urin. Nilai koefisen korelasi (Tabel 7), menujukkan bahwa faktor faktor biaya saprodi pupuk (X6) memperlihatkan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,560 yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap sikap petani dalam mengadopsi pupuk Bio Urin. Hasil uji signifikasi juga menunjukkan hubugan yang sangat singnifikan (p>0,001). Hasil analisis di atas, menggambarkan bahwa, sikap petani responden dalam menerima pupuk Bio Urin, sangat ditentukan oleh factor biaya saprodi pupuk selain faktor lainnya. Semakin murah biaya saprodi pupuk, tentunya akan menguntungkan petani. Hal ini karena produk pupuk Bio Urin yang diaplikasikan memiliki harga yang sangat murah bila dibanding dengan pupuk kimia, sehingga dapat menekan biaya sarana produksi untuk membeli pupuk. Petani tentunya akan memilih produk pupuk yang paling murah namun memberikan hasil produksi yang maksimal, dan lebih tinggi dari pupuk kimia yang selama ini menjadi pupuk utama dalam berudahatani

Faktor yang terakhir yang juga memiliki hubungan yang searah (positip) dengan sikap petani tentang aplikasi pupuk Bio Urin adalah factor kemudahaan/ketersediaan biourun (X7). Nilai koefisen korelasi (Tabel 7), menujukkan bahwa factor kemudahaan/ketersediaan Bio Urin memperlihatkan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,403 yang berarti memiliki kekuatan hubungan yang sedang terhadap sikap petani dalam mengadopsi pupuk Bio Urin. Hasil uji signifikasi juga menunjukkan hubugan yang singnifikan (p>0,005).

Hasil analisis di atas, menggambarkan bahwa, sikap petani responden dalam menerima pupuk Bio Urin, selain ditentukan oleh oleh factor biaya saprodi pupuk juga factor kemudahaan dan ketersediaan. Ketersediaan bahan baku urin yang mudah serta kemudahaan dalam pembuatan Bio Urin menjadi factor pendorong untuk mempengaruhi sikap petani dalam menerima produk pupuk Bio Urin yang didesiminasikan.

KESIMPULAN

  1. Aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah melalui metode demplot nyata meningkatkan hasil bawang merah. Plot perlakuan aplikasi pupuk Bio Urin meningkatkan hasil bawang merah sebesar 78,94% dari tanpa Bio Urin 9,45 t/ha meningkat menjadi 16,95 t/ha setelah menggunakan Bio Urin.
  2. Secara umum rata-rata pengetahuan petani pasca desiminasi pupuk Bio Urin berada pada kategori tinggi, baik pengetahuan tentang potensi urin sapi dengan rata-rata skor 2,80 pengetahuan petani tentang manfaat dan keunggulang pupuk Bio Urin dengan rata-rata skor sebesar 2,57 dan pengetahuan tentang cara aplikasi dengan nilai skor sebesar 2,67.
  3. Sikap petani responden terhadap aplikasi pupuk Bio Urin pada tanaman bawang merah berbeda pada kategori menerima dengan nilai skor sebesar 2,60 yang berarti petani responden menerima dan mengakui keunggulan dari pupuk Bio Urin.
  4. Hasil analisis rank sperman menujukan kekuatan hubungan antara faktorfaktor pengganggu terhadap pengetahuan dan sikap petani responden pasca desmininasi teknologi pupuk Bio Urin berbeda-beda. Terhadap pengetahuan petani terdapat tiga faktor penggangu, yaitu faktor pendidikan (X2), karakteristik teknologi (X5), dan biaya saprodi (X6), memiliki hubungan yang searah (positip) dengan kekuatan hubungan sedang, yang ditunjukkan oleh nilai koefien korelasi (rs) masing-masing sebesar: 0,485, 0,543, dan 0,516. Sedangkan terhadap sikap petani, terdapat empat faktor penggangu, yang berhubungan yaitu faktor pendidikan (X2), karakteristik teknologi (X5), dan biaya saprodi (X6) serta Kemudahan/ketersedian saprodi (X7), yang memiliki hubungan yang searah (positip) dengan kekuatan hubungan sedang,52 yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (rs) masing-masing sebesar: 0,454, 0, 0,474, 0,560 dan 0,403.

E Library

1Penulis lahir pada 19 Agustus 1995 pada tahun 2001 tamat dari pendidikan awal di taman kanak-kanak Siloam Ledemanu, dan pada tahun yang sama melanjutkan ke Sekolah Dasar GMIT Ledemanu dan tamat pada tahun 2008. Pada tahun yang samapenulis melanjutkan studi di SMP Negeri 1 Sabu Barat dan tamat pada tahun 2011. Kemudian melanjutkan ke SMTK Reformasi Pandawai dan tamat pada tahun 2014. Pada tahun 2015, penulis diterima sebagai mahasiswa PDD Sabu Raijua, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jurusan Manejemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Program studi Manejemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) dan tamat pada tahun 2017. Kemudian penulis melanjutkan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jurusan Manejemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Pada tahun 2018. Sebagai syarat untuk menyelesaikan studi maka penulis harus menyelesaikan karya ilmia tugas akhir dengan judul “Respon Anggota Kelompok Tani Sayuran Petra Terhadap Aplikasi Bio Urin Di Desa Noelbaki Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang”.

No events