Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Analisis Tingkat Kepuasan Petani terhadap Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan di Pulau Semau Kabupaten Kupang (Studi Kasus Ketahanan Sosial Ekologis Pulau Kecil Semau Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila)

Analysis of Farmer Satisfaction on Optimizing the Utilization of Environmentally Friendly Yards on Semau Island, Kupang Regency (A Case Study of Socio-Ecological Resilience in Semau Small Island, Uitiuhtuan Village and Onansila Village)

Andry T. Anakay¹, Endeyani V. Muhammad², Noldin M. Abolla² - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pendekatan dan pola pelaksanaan program, serta untuk mengetahui tingkat kepuasan petani terhadap program “Ketahanan Sosial Ekologis Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan”. Penelitian ini telah di laksanakan di Kelompok Tani Suka Hati Desa Uitiuhtuan Dan Kelompok Tani Nuleka Desa Onansila, Kecamatan Semau Selatan, Kabupaten Kupang, pada bulan Februari 2021. Populasi dan sampel penelitian ini adalah anggota kelompok tani dengan total 50 orang responden. Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan metode analisis data secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pola pendekatan dan pola pelaksanaan program yang digunakan adalah pola pendekatan yang bersifat persuasif, dan pola pelaksanaan program secara fisik/non-fisik. Kemudian berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa tingkat kepuasan petani terhadap program masuk dalam kriteria “Sangat Baik”.

Kata Kunci: pola pendekatan, pola pelaksanaan program, tingkat kepuasan

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. This study aims to determine the pattern of approach and pattern of program implementation, as well as to determine the level of farmer satisfaction with the program "Social Ecological Resilience in Optimizing the Utilization of Environmentally Friendly-Based Yards". This research was carried out at the Suka Hati Farmer's Group, Uitiuhtuan Village and the Nuleka Farmer's Group, Onansil Village, Semau Selatan District, Kupang Regency, in February 2021. The population and sample of this study were members of a farmer group with a total of 50 respondents. This research uses survey method, with descriptive data analysis method. The findings of this study show that the program "Social Ecological Resilience in Optimizing the Use of Environmentally Friendly Yards" used a pattern of persuasive tactics and physical/non-physical implementation patterns. The level of satisfaction with the program among farmers is then factored into the "Verry Better" criteria.

Keywords: approach pattern, program implementation pattern, level of satisfaction.


PENDAHULUAN

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di bagian timur Negara Indonesia. NTT merupakan provinsi kepulauan yang terdiri atas 566 pulau besar dan kecil, iklim di provinsi ini termasuk iklim tropis yang berkisar dari semilembab ke semi-kering. Mayoritas penduduk di NTT rata-rata mata pencahariannya sebagai petani, sehingga jumlah masyarakat tani di provinsi ini sebanyak 1.271.534 jiwa dari total 2.320.061 jiwa yang telah bekerja pada tahun 2017 (NTT Dalam Angka, 2017). Keterkaitan iklim dengan usaha pertanian di NTT terletak pada variabilitas curah hujan khususnya variabilitas awal dan akhir musim hujan yang secara langsung mempengaruhi jangka waktu musim tanam bagi para petani dan sekaligus mengancam usaha pertanian itu sendiri.

Faktor utama dari variabilitas curah hujan ini disebabkan oleh fenomena ElNino dan La-Nina yang terhitung telah terjadi sebanyak masing-masing sebelas kali sejak tahun 1954. Dampak dari fenomena El-Nino dan La-Nina atau lebihdikenal dengan fenomena perubahan iklim ini justru sangat besar dampaknya terhadap wilayah-wilayah kecil atau pulau-pulau kecil, salah-satunya yaitu Pulau Semau. Pulau Semau yang juga termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini terdiri atas 2 kecamatan yaitu; Kecamatan Semau dan Kecamatan Semau Selatan. Pulau Semau juga dikelilingi oleh wilayah perairan atau laut lepas diantaranya Laut Sawu dan Selat Puku Afu yang terhubung langsung dengan Samudra Hindia (Indonesia), hal ini jugamenyebabkan dampak perubahan iklim sangat dirasakan oleh pulau ini.

Perubahan iklim dan peningkatan kepadatan penduduk di Pulau Semauberdampak juga pada peningkatan kebutuhan yang semakin bertambah. Kondisisaat ini masyarakat mulai kesulitan mengkonsumsi pangan asli daerah (panganlokal), akibatnya kecenderungan terus meningkatnyan degradasi lingkungan yang tanpa disadari mengganggu kehidupan masyarakat Semau sendiri sebagai pengelolah sumber daya alam dan lingkungan. Salah satu bentuk degradasi lingkungan yang cenderung terus meningkat setiap tahun utamanya di daerah yang dominan oleh iklim kering adalah menurunnya keanekaragaman hayati. Menurunnya keanekaragaman hayati ini terjadi sebagai akibat kecenderunganberubahnya pola makan masyarakat Pulau Semau untuk memanfaatkan jenisvegetasi yang sangat menguntungkan, baik untuk kebutuhan pangan dan atauuntuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

Masyarakat di Pulau Semau dalam memenuhi kebutuhannya, melakukan aktifitas pertanian di beberapa kawasan salah-satunya yaitu; pekarangan. Rata-rataluas kepemilikan lahan setiap keluarga disana ± 100 m2 dengan total pemanfaatan lahan pekarangan seluas 19,03 Km2 atau 7,65% dari total luas dan persentase penggunaan lahan di pulau tersebut (Bappeda Kab. Kupang, 2003). Masyarakat Pulau Semau biasanya memanfaatkan pekarangan dengan menanam beberapa jenis tanaman yang dapat dijual atau untuk dikonsumsi dalam rumah tangga mereka, seperti bawang merah, sawi, kangkung, atau tanaman untuk makanan ternak mereka seperti lamtoro. Selain itu aktifitas bertenak juga mereka lakukan dipekarangan mereka seperti memelihara ternak babi, kambing, dan sapi.

Pertanian pekarangan (atau budidaya tanaman di pekarangan) bukan merupakan hal baru. Aktifitas ini sudah lama dilakukan oleh masyarakat terutama di daerah pedesaan. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut semakin ditinggalkan dan banyak pekarangan saat ini justru tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terlantar. Pengertian pekarangan adalah sebidang tanah yang berdekatan atau berada di sekitar bangunan.

Berdasarkan potensi pekarangan ini dan sebagai respon atas isu perubahan iklim, maka Global Environmental Facility–Small Grants Programmen (GEFSGP) Indonesia bersama masyarakat Desa Uitiuhtuan dan Onansila di Kecamatan Semau Selatan, sejak bulan Juni 2018 sampai saat ini telah menjalankan program “Ketahanan Sosial Ekologis Pulau Kecil Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan”. Diharapkan nantinya potensipekarangan masyarakat di dua desa tersebut dapat berfungsi penuh sebagai dapur hidup untuk menunjang kedaulatan pangan dengan pemanfaatan limbah rumah tangga dan potensi-potensi lokal lainnya.

Sebagai tahapan berkelanjutan dari program ini diharapkan juga semua petani yang terlibat dalam program pertanian pekaranga ini merasa puas, sebab tingkat kepuasan mereka juga merupakan nilai tersendiri bagi fasilitator untuk bahan evaluasi program serta menjadi harapan untuk keberlanjutan program sampai pada tahap mandiri. Informasi tersebut dapat disimpulkan dari empat tahapan dalam program yaitu; 1) Sosialisasi Program, 2) Transfer Teknologi, 3) Pendampingan, 4) Monitoring, sehingga hasil akhir atau output yang didapatkan dari program ini adalah petani atau penerima program dapat berdaulat produksi, konsumsi, dan pasar dari pekarangan rumah mereka (Pertanian Pekarangan).

Mengacu pada pemaparan teori dan data tentang permasalahan serta potensi yang ada pada masyarakat Pulau Semau khususnya di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila, maka penelitian ini mengambil judul “Analisis Tingkat Kepuasan Petani Terhadap Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan Di Pulau Semau Kabupaten Kupang (Studi Kasus Ketahanan Sosial Ekologis Pulau Kecil Semau Desa Uitiuhtuan Dan Desa Onansila)”.

Kembali ke Beranda 02

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui pola pendekatan dan pola pelaksanaan program “Ketahanan Sosial Ekologis Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan Di Pulau Semau Desa Uitiuhtuan Dan Desa Onansila Kabupaten Kupang”.
  2. Menganalisis tingkat kepuasan petani terhadap hasil dari program “Ketahanan Sosial Ekologis Pulau Kecil Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan Di Pulau Semau Desa UitiuhtuanDan Desa Onansila Kabupaten Kupang.”

METODELOGI PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

  1. Data primer yaitu data yang diperoleh dari lokasi penelitian melalui: observasi, pembagian kuesioner dan wawancara;
  2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak lain dilakukan dengan studi pustaka atau literatur yang relevan dengan penelitian ini.

Metode Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode sebagai berikut:

  1. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan (Hendri, 2009). Penyebaran daftar pertanyaan kepada responden dimana isi pertanyaan sesuai dengan apa yang akan diteliti.
  2. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2010). Ciri utama wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dan sumber informasi. Dalam wawancara sudah disiapkan berbagai macam pertanyaanpertanyaan tetapi muncul berbagai pertanyaan lain saat meneliti.

Instrumen Penelitian

Tabel Acuan Kategori Rerata SkorInstrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan oleh peneliti dalam proses pengumpulan data atau informasi yang dapat mendukung hasil penelitiannya. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini diantara lain; Kuesioner atau Angket daftar pertanyaan, Wawancara atau observasi langsung terhadap narasumber.

Metode Analisis Data

Dalam menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian digunakan beberapa alat analisis untuk menggali informasi sesuai dengan yang dibutuhkan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis Skoring. Metode Deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu set konsidi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Nazir, 2003). Tujuan dari penelitian Deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Analisis deskriptif digunakan untuk mengolah informasi dan data yang berasal dari kuisioner. Data dan informasi ini akan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel-tabel dan dikelompokkan berdasarkan jawaban yang sama. Penyusunan dan realisasi program dapat dianalisis menggunakan rumus skoring menurut Umar (1999).

HASIL PENELITIAN

Tingkat Kepuasan Petani

Tingkat kepuasan petani dapat diukur berdasarkan kinerja pelayanan fasilitator dalam pelaksanaan program. Tingkat kepuasan petani terhadap hasil program ketahanan sosial ekologis pulau kecil dalam optimalisasi pemanfaatan pekarangan berbasis ramah lingkungan dapat dilihat secara rinci dalam Tabel 2Tabel 2 menunjukan rerata tingkat kepuasan petani terhadap

Tabel Acuan Kategori Rerata Skor

setiap tahapan pelaksanaan program masuk pada kriteria sangat baik (2,99). Kepuasan menurut Rangkuti (2006), didefinisikan sebagai respon konsumen/ pelanggan terhadap kesesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang dirasakan setelah pemakaiannya. Kepuasan konsumen ditentukan oleh berbagai jenis pelayanan yang didapatkan oleh konsumen selama menggunakan beberapa tahapan pelayanan tersebut. Kinerja pelayanan fasilitator dapat diukur melalui tingkat kepuasan petani penerima program dalam memperoleh pelayanan dari fasilitatornya. Apabila penyelenggaraan program tersebut dilaksanakan secarabenar, kontinyu, dan konsisten, maka tingkat kepuasan petani penerima program juga akan tinggi yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup petani sendiri.

Keberhasilan suatu program dapat tercapai tentu didukung dengan tahapantahapan pelaksanaan program dan output program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses penyelenggaraan program pertanian pekarangan memiliki dua tahap yaitu, tahap pelaksanaan program dan output program.

Tabel Acuan Kategori Rerata SkorSosialisasi Program

Pengertian sosialisasi dalam KBBI, kegiatan sosialisasi berarti upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, dan dihayati oleh masyarakat. Sedangkan menurut Zanden (dalam Damsar, 2011) mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses interaksi sosial dimana orang memperoleh pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku esensial untuk keikutsertaan (partisipasi) efektif dalam masyarakat. Masyarakat atau petani responden di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onasila sangat berpartisipasi dalam kegiatan program pertanian pekarangan ini.

Berdasarkan Tabel 2, menunjukan bahwa tingkat kepuasan petani responden di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila masuk pada kriteria sangat baik dilihat dari rata-rata/kriteria 3.00. Total 50 petani responden tingkat kepuasannya sangat baik atau tinggi, hal ini mencakup dari segi proses sosialisasi program dan intensitas pengenalan awal program pertanian pekarangan yang dilakukan oleh fasilitator.

Sosialisasi program merupakan langkah pertama yang penting bagi berjalannya program sampai tujuan program nantinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyana (2000), yang mengemukakan bahwa sosialisasi program merupakan suatu fungsi komunikasi, yaitu fungsi persuasif dimana sosialisasi berfungsi memberitahukan atau menerangkan muatan persuasif, dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang di sampaikan akurat dan layak untuk diketahui.

Menurut Effendi (2013), komunikasi yang berjalan dengan baik ditentukan oleh strategi komunikasi. Maka strategi komunikasi yang salah, bukan tidak mungkin akan menimbulkan pengaruh negatif. Strategi adalah siasat yangdigunakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan yang di inginkan. Hakikatnya, strategi adalah suatu perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mecapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah, melainkan mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.

Tabel Acuan Kategori Rerata SkorTransfer Teknologi

Pengertian transfer menurut Retnowati (2014), kegiatan transfer atau diseminasi teknologi adalah kegiatan yang menitik beratkan pada “penyampaian informasi dan demonstrasi teknologi”, sehingga dengan penyebaran informasi dan teknologi menjadikan adanya perubahan sikap terhadap komunikan. Perubahan sikap ini terjadi dikarenakan komunikan mendapatkan pengetahuan, pengalaman serta pola baru atau budaya baru didalam komunitasnya.

Berdasarkan Tabel 2, menunjukan bahwa tingkat kepuasan pada tahap transfer teknologi dari 50 petani responden di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onasila masuk pada kriteria sangat baik, hal ini dilihat dari rata-rata/ kriteria 3.00. Tingkat kepuasan petani responden ini mencakup dari segi transfer teknologi-teknologi sederhana yang dibagikan oleh fasilitator tentang pertanian pekarangan, metode penyuluhan, dan intensnya intervensi yang dilakukan oleh fasilitator baik melalui media, serta memberikan pengalaman belajar (simulasi/demonstrasi cara) dengan alat peraga penyuluhan terkait pertanian pekarangan. Metode penyuluhan yang digunakan oleh fasilitator terdiri dari ceramah, diskusi, dan praktik langsung atau demonstrasi, hal ini membantu petani responden untuk mempraktekkan teknologi yang dibagikan oleh fasilitator program, misalnya; cara mempersiapkan lahan dalam model pertanian pekarangan, cara semai benih, pembuatan pupuk bokasi dan pupuk organik cair (POC). Menurut Kusnadi (2011), metode penyuluhan adalah cara penyampaian materi penyuluhan oleh penyuluh kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar masyarakat tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru. Ada tiga tujuan pemilihan metode penyuluhan, yaitu; 1.) Meningkatkan efektivitas penyuluhan,sesuai kebutuhan sasarannya, 2.) Tepat dan berhasil guna, 3.) Menimbulkan perubahan yang dikehendaki.

Tabel Acuan Kategori Rerata SkorPendampingan

Pengertian pendampingan yang dikemukakan oleh Deptan (2004), pendampingan adalah kegiatan dalam pemberdayaan masyarakat dengan menempatkan tenaga pendamping yang berperan sebagai fasilitator, komunikator, dan dinamisator. Pendampingan pada umumnya merupakan upaya untuk mengembangkan masyarakat di berbagai potensi yang dimiliki oleh masingmasing masyarakat untuk menuju pada kehidupan yang lebih baik dan layak. Selain itu pendampingan berarti bantuan dari pihak lain yang sukarela mendampingi seseorang atau pun dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan pemecahan masalah dari masing-masing individu maupun kelompok. Tahapan atau proses pendampingan dalam program ini juga intens dilakukan oleh fasilitator, baik dari awal program sampai pasca program atau keberlanjutan program pertanian pekarangan ini.

Berdasarkan Tabel 2, menunjukan bahwa tingkat kepuasan pada tahap pendampingan dari 50 petani responden di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila masuk pada kriteria sangat baik, hal ini dilihat dari rata-rata/ kriteria 2.96. Hal ini sejalan dengan tujuan pendampingan yang dikemukakan oleh Deptan (2004), antara lain: 1.) Memperkuat dan memperluas kelembagaan yang sedang dijalankan dimasyarakat, 2.) Menumbuhkan dan menciptakan strategi agar berjalan dengan lancar dan tercapai tujuan yang dijalankan, 3.) Meningkatkan peran serta aparat maupun tokoh masyarakat dalam melaksanakan program pendampingan.

Monitoring

Pengertian monitoring menurut Mardiani (2013), kegiatan monitoring adalah proses pengumpulan dan analisis informasi berdasarkan indikator yang ditetapkan secara sistematis dan kontinu tentang kegiatan/ program sehingga dapat dilakukan tindakan koreksi untuk penyempurnaan program/ kegiatan itu selanjutnya. Monitoring akan memberikan informasi tentang status dan kecenderungan bahwapengukuran dan evaluasi yang diselesaikan berulang dari waktu ke waktu, pemantauan umumnya dilakukan untuk tujuan tertentu, untuk memeriksa Tabel Acuan Kategori Rerata Skorterhadap proses berikut objek atau untuk mengevaluasi kondisi atau kemajuan menuju tujuan hasil manajemen atas efek tindakan dari beberapa jenis antara lain Tindakan untuk mempertahankan manajemen yang sedang berjalan. Untuk memperoleh informasi yang update tentang perkembangan program, maka fasilitator program pertanian pekarangan akan melakukan monitoring kepada para petani responden secara berkala 1-2 kali sebulan, baik itu secara individu melalui kunjungan ke setiap anggota atau kunjungan perkelompok.

Berdasarkan Tabel 2, menunjukan bahwa tingkat kepuasan pada tahap monitoring dari 50 petani responden di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila masuk pada kriteria sangat baik, hal ini dilihat dari rata-rata/kriteria 2.98. Intensitas dalam tahap monitoring oleh fasilitator pada program pertanian pekarangan dilakukan sebanyak 1-2 kali sebulan dengan durasi program 11 bulan, sehingga fasilitator sudah melakukan 22 kali monitoring baik di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila. Saat melakukan monitoring baik secara individu atau perkelompok fasilitator juga sekaligus melakukan pendampingan serta evaluasi mengenai informasi dan teknologi yang sudah diberikan, wawancara untuk menggali informasi yang bisa diambil sebagai bahan untuk penyempurnaan program/ kegiatan selanjutnya, membuka ruang diskusi untuk refleksi bersama tentang perkembangan program, atau jika ada kendala maka bersama-sama mencari solusi yang paling efektif untuk dilakukan bersama agar tujuan-tujuan dari program pertanian pekarangan bisa terpenuhi nantinya.

Hal ini sejalan dengan pendapat Prihatin (2011) bahwa metode pendampingan antara lain: 1.) Penyampaian laporan dokumentasian dan koordinasi rutin, 2.) Pengamatan kerja sehari-hari melalui kunjungan mendadak, 3.) Assement eksternal, 4.) Wawancara, 5.) Diskusi kelompok, 6.) Kunjungan laporan berkala, 7.) Survei pengumpulan data dan perbincangan kondisi sebelum dan sesudah intervensi, 8.) Pengamatan kerja. Monitoring digunakan pula untuk memperbaiki kegiatan yang menyimpang dari rencana, mengoreksi penyalahgunaan aturan dansumber-sumber, serta untuk mengupayakan agar tujuan dicapai seefektif dan seefisien mungkin.

Tabel Acuan Kategori Rerata Skor

Selain monitoring dan evaluasi dari fasilitator program pertanian pekarangan, ada juga monitoring yang dilakukan oleh koordinator program dengan intensitas 1 kali/ 3 bulan (triwulan) baik secara internal (monitoring dan evaluasi tim lapangan) dan secara ekternal pada kondisi terupdate di lapangan. Untuk monitoring dari tim donatur program dilakukan dengan intensitas 1 kali/ 6 bulan (per satu semester), dari beberapa proses monitoring dan evaluasi yang sudah dilakukan seluruh mitra atau tim yang terlibat baik itu dari pihak pelaksana program, donatur program, serta beberapa perwakilan masyarakat atau penerima program akan melakukan Musyawarah Belajar Mitra (MBM). Musyawara belajar mitra dilaksanakan setiap satu tahun sekali, karena program ini sudah berjalan hampir 4 tahun, maka sudah dilaksanakan MBM sebanyak 3 kali.

Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Mardikanto (2009), bahwa suatu evaluasi internal, yang diadakan secara internal oleh staf yang bekerja pada program tersebut, biasanya berkembang secara alami. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan feedback pada aspek program yang ditinjau dan kemungkinan revisi sedang berlangsung. Evaluasi ekstern, adalah evaluasi yang dilaksanakan oleh pihak luar, meskipun inisiatif dilakukannya evaluasi dapat muncul dari kalangan orang luar, atau justru diminta oleh organisasi pemilik atau pelaksana program yang bersangkutan.

Output Program Pertanian Pekarangan

Output program pertanian pekarangan adalah hasil atau produk dari proses tahap pelaksanaan program. Tahap pelaksanaan program dalam penelitian ini meliputi sosialisasi program, transfer teknologi, pendampingan, dan monitoring. Menurut Mulyanto (2009), keluaran (Output) adalah “hasil dari pemrosesan suatu sistem. Output dapat berupa informasi untuk selanjutnya digunakan sebagai masukan pada sistem lain atau hanya sebagai keluaran akhir. Menurut Susanto (2013) di dalam bukunya, “bahwa sistem adalah kumpulan atau grup dari sub sistem/bagian/komponen atau apapun baik fisik ataupun non fisik yang salingberhubungan satu sama lain dan dapat bekerja sama untuk mencapai satu tujuan tertentu. Output program pertanian pekarangan memiliki tiga hasil yang dikeluarkan dari tahap proses pelaksanaan program, yaitu; 1.) Berdaulat Produksi, 2.) Berdaulat Konsumsi, dan 3.) Berdaulat Pasar.

Berdasarkan Tabel 3, menunjukan bahwa tingkat kepuasan petani responden pada tahap output program di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila masih masuk dalam kriteria sangat baik, dilihat dari rata-rata/ kriteria 2,69. Masing-masing petani responden memiliki alasannya terkait tingkat kepuasan pada tahap output program, tetapi rata-rata petani responden mengatakan sangat merasakan manfaat dari hasil program pertanian pekarangan ini. Misalnya, petani responden mengatakan sudah bisa memproduksi sayuran dari pekarangan sendiri (Berdaulat Produksi), lalu dampaknya petani responden juga bisa memenuhi sebagian dari kebutuhan sayuran dalam rumah tangga (Berdaulat Konsumsi), dan jika produksi melebihi Tabel Acuan Kategori Rerata Skorkebutuhan sayuran dalam rumah tangga, para petani responden akan menjualnya sehingga menambah nilai untuk ekonomi keluarga (Berdaulat Pasar). Namun ada juga petani responden yang hanya merasakan dua output program pertanian pekarangan, yaitu; 1.) Petani sudah bisa memproduksi sayuran dari pekarangan sendiri (Berdaulat Produksi) dan, 2.) dampaknya petani juga bisa memenuhi sebagian dari kebutuhan sayuran dalam rumah tangga (Berdaulat Konsumsi).

Dengan gerakan ini, masyarakat lapis bawah bisa memiliki kendali secara kuat terhadap kehidupannya sendiri. Orang-orang ikut serta dalam kegiatanpengembangan masyarakat sepanjang waktu, misalnya sebagai pekerja yang dibayar, aktivis masyarakat, pekerja dalam layanan kemanusiaan dan anggota kepanitian masyarakat lokal yang tidak dibayar (Kenny, 2007).

Keberlanjutan Program

Program Ketahanan Sosial Ekologis Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan sudah bisa menjawab sedikit dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Pulau Semau khususnya masyarakat di Desa Uitiuhtuan dan Desa Onansila. Permasalahan tidak tersedianya aneka sayuran yang sehat dan mudah di jangkau juga banyak dihadapi oleh hamper seluruh masyarakat di daerah-daerah lain pada wilayah pedesa. Kondisi ini banyak dijumpai pada wilayah yang minim sumber air. Pulau Semau juga termasuk pada kritera diatas, tetapi setelah berlangsungnya program dari GEF-SGP Fase VI dengan mengusung sub program Pertanian Pekarangan, hal ini menjadi salah satu sub program yang banyak memberikan dampak serta manfaat bagi banyak pihak.

KESIMPULAN

Pola pendekatan dan pelaksanaan program ketahanan sosial ekologis dalam optimalisasi pemanfaatan pekarangan berbasis ramah lingkungan di Pulau Semau khususnya Desa Uitiuhtuan Dan Desa Onansila, Kabupaten Kupang adalah Pola Pendekatan Persuasif dan Pola Pelaksanaan Fisik/Non-Fisik. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis data kuesioner yang diisi oleh 50 petani responden menunjukan bahwa tingkat kepuasan petani terhadap hasil program ketahanan sosial ekologis pulau kecil dalam optimalisasi pemanfaatan pekarangan berbasis ramah lingkungan di Pulau Semau Desa Uitiuhtuan Dan Desa Onansila Kabupaten Kupang masuk dalam kriteria “Sangat Baik”.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan bahwa Perlu adanya perhatian pemerintah dalam meningkatkan keaktifan penyuluh dalam pendampingan sehingga informasi dan perubahan teknologi pertanian bisa diterapkan oleh petani. Bagi peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian untuk mengevaluasi dampak dari teknologi – teknologi sederhana seperti bokasi atau POC yang ditransfer oleh fasilitator dalam program pertanian pekarangan dan perlu memperhatikan efektivitas penyuluhan melalui metode ceramah dengan demonstrasi cara dalam mengadopsi suatu teknologi di DesaUitiuhtuan dan Desa Onansila.

E Library

1Penulis dilahirkan di Kupang pada tanggal 28 Desember 1994. Penulis mengawali pendidikan formal pada tahun 2000 di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Kuanino III dan tamat pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Sembilan (SMPN9) Kota Kupang dan tamat pada tahun 2009. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Enam (SMKN6) Kota Kupang dan tamat pada tahun 2012. Pada tahun 2014 penulis melanjutkan studi ke perguruan tinggi yaitu; Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan mengambil Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Pada tahun 2021 sebagai salah satu syarat penyelesaian pendidikan Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajamen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanaian Negeri Kupang penulis menyelesaikan Karya Ilmiah Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Tingkat Kepuasan Petani Terhadap Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Berbasis Ramah Lingkungan Di Pulau Semau Kabupaten Kupang (Studi Kasus KetahananSosial Ekologis Pulau Kecil Semau Desa Uitiuhtuan Dan Desa Onansila)”

No events