Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Respon Petani terhadap Teknologi Rorak pada Tanaman Jeruk Keprok So’e di Desa Bijeli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan

Response of Farmers to Rorak Technology on So'e Tangerines in Bijeli Village, Polen District, Timor Tengah Selatan Regency

Andro Nabot Faot1, Jemseng C. Abineno2,  Wely Y. Pello2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian tentang respon petani terhadap teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E dilakukan di kelompok tani Tunas Muda, Desa Bijeli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon kelompok tani terhadap teknologi rorak, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respon kelompok tani tersebut. Penelitian menggunakan metode demontrasi cara dan melibatkan 30 anggota kelompok tani sebagai responden. Data dianalisis menggunakan metode skala likert dan korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan kelompok tani berada dalam kategor tinggi dan terdapat perbedaaan antara pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan. Pengetahuan tersebut berhubungan dengan faktor umur, pendidikan, luas lahan, pengalaman usahatani, intensitas penyuluhan, dan karakteristik inovasi. Respon kelompok tani tersebut ditunjukkan melalui adanya peningkatan pengetahuan sebesar 24,78 % dan sikap sebesar 28,95%.

Kata Kunci: respon petani terhadap teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Study on farmers response to rorak technology on So'E tangerines was carried out in the Tunas Muda farmer group, Bijeli Village, Polen District, Timor Tengah Selatan Regency. The study was to determine the response of farmer group to rorak technology, and to determine the factors affecting the response of the farmer group. The study used a demonstration method and involved 30 members of the farmer group as respondents. Data were analyzed using Likert scale method and Spearman rank correlation. The results showed that the knowledge of farmer groups was in the high category and there was a difference between knowledge before and after counseling. The knowledge of farmers related to age, education, land area, and farming experience of farmers, intensity of extension, and characteristics of innovation. The response of the farmer group was shown through an increase in knowledge of 24.78% and attitudes of 28.95%.

Keywords: farmer's response to rorak technology on So'E  tangerines

PENDAHULUAN

Desa Bijeli merupakan salah satu desa dari 11 desa yang ada dalam wilayah Kecamatan Polen Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dengan luas wilayah 22,02 ha, dengan ketingian tempat 600-750 Meter dari permukaan laut (Mdpl). Jumlah penduduknya mencapai 1.885 jiwa. yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Potensi sumberdaya alam di Desa Laob meliputi bidang hortikultura (jeruk keprok, cabai, petsai, danterung, tomat, ketimun, labu, alpukat, mangga, jambu biji, pepaya, pisang, sirsak) tanaman pangan (padi, jagung, kacang tanah dan ubi kayu) dan bidang perkebunan (kelapa, jambu mente, kopi, kemiri, pinang, asam dan sirih) (BPS Kecamatan polen Dalam Angka 2018). Dari berbagai potensi yang ada di Desa Bijeli, tanaman yang paling banyakdiusaha oleh petani adalah tanaman hortikultura salah satunya tanaman jeruk.

Produktivitas tanaman Jeruk Keprok So'E di Desa Bijeli, masih tergolong rendah yaitu 200kg/ha, masih dibawah rata-rata produksi nasional yang telah sebesar >900 kg/ha. Penurunan produksi dikarenakan kondisi tanaman dan proses budidayanya yang kurang optimal. Hal ini dikarenakan rendahnya pengetahaun para petani pada umumnya tentang budidaya tanaman jeruk keprok So’E. Untuk meningkatkan produksi tanaman jeruk keprok petani setempat melakukan replanting usaha lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah dengan pembuatan rorak. Adanya perambahan telah mengakibatkan meluasnya lahan terdegrasi akibat tidak terkendalinya aliran permukaan, erosi dan kehilangan unsur hara pada lahan berlereng dengan curah hujan tahunan yang tinggi.curah hujan yang tinggi dan pengolahan lahan tanpa menerapkan teknik Konservsi Tanah dan Air (KTA) menyebabkan tinggi aliran permukaan dan erosi dan menghanyutkan top soil yang kaya akan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini menyebabkan kesuburan tanah mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Untuk mengurangi tingginya degradasi lahan tersebut, diperlukan kegiatan rehabilitas dengan menerapkan teknik KTA yang tidak saja melalui metode vegetatif namun dapat juga dengan metode mekanis/teknis dengan harapan akan lebih efektif dalam menekan aliran permukaan atau erosi dan kehilangan unsur hara. Hampir seluruh areal kebun jeruk kelompok tani lokasi penelitian belum menerapkan konservasi tanah akibat rendanya pengetahuan petani tentang metode konservasi tanah dan manfaatnya terhadap pertumbuhan tanaman. Penerapan teknologi rorak di Desa Bijeli sudah berjalan dengan baik namun sesuai dengan kondisi lahan dan kemiringan lahan membuat petani sulit mengendalikan laju aliran permukaan air oleh karena itu perlu adanya penerapan rorak oleh petani di Desa Bijeli.

Pembuatan rorak merupakan kegiatan konservasi tanah yang diyakini lebih cocok diterapkan akibat topografi miring dan curah hujan yang tinggi. Ukuran rorak pada tanaman jeruk keprok So’E adalah panjang 100 cm, lebar 50 cm, dalam 50 cm dan jarak dari tanaman jeruk 60-100 cm tergantung pertumbuha tanaman. Rorak merupakan saluran buntu atau bagunana berupa got dengan ukuran tertentu yang dibuat olah bidang teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi menjebak atau menangkap aliran permukaan air dan tanah tererosi. Selain itu ,rorak bermanfaat sebagai media penampung bahan organik dan sumber hara bagi tanaman disekitarnya pada tanaman jeruk keprok So’E, rorak adalah galian lubang drainase.

Rorak merupakan salah satu praktek baku kebun yang bertujuan untuk mengelola lahan bahan organik dan tindakan konsrvasi tanah dan air diperkebunan jeruk (Pratiwi dan Salim, 2013) Untuk itu dalam penelitian ini, metode penyuluhan yang digunakan untuk mendekatkan materi atau teknologi rorak dengan kelompok sasaran dalam hal ini adalah petani jeruk adalah dengan menggunakan metode Demonstrasi Cara (Demcar). Dimana metode penyuluhan pertainan ini ditujukan pada petani dengan cara membuat lahan agar petani biasa melihat dan membuktikan terhadap objek yang di demonstrasikan. Melalui metode diskusi pada saat yang bersamaan petani dapat menerima dan mengambil manfaat dari teknologi tersebut untuk mengembangkan dan dapat pula diterapkan oleh kelompok petani lain yang belum mencoba menerapkannya (Joshi Et Al, 2004).

Cepat atau lambatnya adopsi suatu teknologi baru, di pengaruhi oleh kecepatan relative dimana inovasi di adopsi oleh anggota sistem sosial, umumnya diukur sebagai jumlah individu yang mengadopsi ide baru dalam periode tertentu setiap tahunnya (Rogers 1995). Juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakterstik petani itu sendiri dan karakteristik dari teknologi apakah memberikan nilai manfaat bagi petani atau tidak, serta faktor sosial budaya masayarakat setempat. Melihat kondisi petani jeruk yang telah memiliki pengetahuan lokal untuk terus maju dan berkembang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Respon Petani Terhadap Teknologi Rorak Pada Tanaman Jeruk Keprok So’E Di Desa Bijeli Kecamatan Polen Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ”

TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui respon petani terhadap teknologi rorak dan faktor - faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap petani jeruk keprok So’E dalam penerapan teknologi rorak.

METODOLOGI PENELITIAN

Materi Penelitian

Penelitian yang digunakan menggunakan metode demonstrasi cara dengan menggunakan media leaflet, demonstrasi cara yang dilakukan yaitu pembuatan rorak pada tanaman jeruk keprok So’E, penelitian ini juga menggunakan data kuantitatif dengan tenik wawancara.

Metode Penelitian Dan Teknik Pengumpulan Data

Metode Penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan antara metode eksperimental dan metode deskriprif, dengan pendekatan desiminasi atau kaji terap pembuatan rorak dengan melibatkan petani responden yang di mulai dari tahap awal persiapan, penyuluhan, penerapan pembutan dalam bentuk demscar, sampai pada pengukuran hasil (Demcar). Pola introduksi teknologi rorak pada areal kebun jeruk yaitu pada setiap individu tanaman dibuatkan rorak atau saluran buntu dengan ukuran panjangnya 100 cm, lebarnya 50 cm dan kedalamannya 50 cm (tiap pohon, satu buah lubang rorak) dan lubang rorak dibenamkan sisa daun/serasah tanaman. Luas lahan untuk penerapan 1ha. Populasi tanaman sebanyak 50 pohon atau setara dengan 50 lubang rorak. Rorak yang dibuat akan berfungsi sebagai penampung bahan organik, penahan laju aliran permukaan dan untuk meningkakan volume resapan air dalam tanah. Dalam jangka panjang bioamasa tanaman yang telah melapuk dalam lubang rorak dapat berfungsi sebagai sumber unsur hara bagi tanaman jeruk So’E.22

Tenik Pengumpulan Data. Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

  1. Metode obserasi yaitu studi yang sistematis tentang gejala sosial yang psikis dengan jalan pengamatan atau pencatatan kerja dan kejadian yang ada hubungan yang diteliti.
  2. Wawancara merupakkan pertemuan antara dua orang yang yang mana saling tukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam topik tertentu (Sugiyono, 2011).
  3. Kegiatan untuk menghimpun informasi yang releven kemuktahiran dengan topik atau masalah yang menjadi topik atau masalah yang menjadi objek penelitian, yaitu relevansi dengan keaslian, relevasi berarti teori yang dikemuakan sesuai dengan permasalahan yang diteliti, kemuktahiran berarti berkaitan dengan keaslian sumber penelitian (Mardalis,1999).
  4. Sugiyono (2011) menjelaskan bahwa kuesioner merupakan Teknik pengumpulan data yang dailakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.
  5. Mengumpulkan teknik pengumpulan data dengan aturan dokumen bentuk tulisan gambar atau karya-karya monumental terkait dengan penelitian.

Jenis dan Sumber Data Penelitian

  1. Sumber Data Primer. Merupakan data yang dimabil lansung dari lokasi penelitian melalui observasi, wawancara dan pembagian kuisioner.
  2. Sumber data skunder. Data sekunder yang dimaksud adalah data yang diperoleh melalui literature dan dokumen yang dan kaitannya dengan masalah-masalah penelitian.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh anggota kelompok tani Enomnatu, sebanya 30 orang karena populasinya kecil maka pengambilan sampel menggunakan sistem sensus yaitu semua populasi sebagai sampel penelitian.

Metode Analisis Data

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Uji Skala Likert, merupakan alat analisis deskriptif yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu fenomena atau gejala sebagai dampak dari adanya stimulus yang diberikan. Menurut Levis (2013) skala Likert disebut juga skala opini atau skala pendapat yaitu skala yang dibuat untuk melakukan rating terhadap pendapat responden terhadap suatu objek yang mereka jumpai.  Respon petani terhadap penerapan teknologi rorak pada tanaman Jeruk Keprok So’E dianalisis menggunakan rumus Skala Likert dengan tahapan sebagai berikut: setiap skor jawaban dari semua variabel yang diukur dijumlahkan untuk memperoleh skor kumulatif. Skor kumulatif dari responden kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan yaitu: tinggi, sedang dan rendah dengan rentang interval sebagai berikut (Levis, 2013):

ὶ = (R – r) ÷ n

Dimana: ὶ = nilai interval, R = skor kumulatif tertinggi, r = skor kumulatif terendah, n = jumlah kategori.

Pencapaian skor untuk perilaku petani terhadap pengunaan demcar pembuatan rorak pada pertanaman jeruk keprok So’E adalah:

ὶ = (R – r) ÷ n = (3-1) ÷ 3 = 0,66.

Hasil analisis perilaku petani terhadap pengunaan demcar pembuatan rorak pada pertanaman jeruk yang memiliki pencapaian skor dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Nilai Skor Perilaku Petani

Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel yang diamati dengan pengetahuan dan sikap anggota kelompok tani dilakukan dengan menggunakan analisa statistik non parametik dengan menggunakan korelasi Rank Sperman (rs) dalam Siegel (1999).

ρ (rs)  = 1 – {(6∑bi2) ÷ (n (n2 – 1))}

Dimana: rs = koefisien korelasi sperman, bi =  perbedaan setiap pasang Rank, n = jumlah pasang Rank, i = nomor responden (1,2,3....). Jika rs = 0 : netral, jika rs = - 1 : ada hubungan negative, jika rs = + 1 : ada hubungan posistif.

HASIL PENELITIAN

Respon Petani Terhadap Teknologi Rorak pada tanaman jeruk Keprok So’E

Teknologi Rorak pada tanaman jeruk keprok So’E pada tanaman jeruk yang ditawarkan ke petani responden dengan metode demosntrasi cara untuk mengetahui respon petani. Pengukuran respon petani dilakukan melalui pendekatan pembuatan teknologi secara langsung bersama masyarakat sehingga masyarakat berpartisipasi langsung dalam kegiatan demonastrasi cara. Teknologi yang dibawa pada penelitian ini adalah Respon Petani Terhadap Teknologi Rorak Pada Tanaman Jeruk Keprok So’E, dimana yang dijadikan responden adalah masyarakat petani jeruk yang ada di Desa Bijeli yang berjumlah 30 orang. Melalui kaji terap teknologi yang dibawa akan mudah diketahui dan mudah diterima oleh masyarakat tani. Untuk mengetahui sejauh mana perubahan pengetahuan dan sikap petani maka telah dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan dengan cara menyebarkan kuesioner yang telah disediakan. Penyebaran kuesioner dilakukan pada saat sebelum melakukan kegiatan dan sesudah kegiatan untuk menggali informasi dari petani terhadap “penerapan teknologi perangkap lalat buah”

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Pengetahuan Petani Sebelum dan Sesudah Penyuluhan

Tingkat pengetahuan petani sebelum dan sesudah desiminasi teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E yang dilakukan terhadap 30 orang petani responden disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 menunjukan bahwa dari pertanyaan yang diajukan sebelum dilakukan kegiatan penyuluhan dan demonstrasi teknologi pembuatan rorak pada tanaman jeruk keprok So’E terhadap pengetahuan petani masih tergolong sedang, hal ini ditunjukan oleh hasil analisis skala likert pengetahuan dengan rata-rata 2,30. Pengetahuan petani yang tergolong sedang dikarenakan petani responden sudah pernah mendapatkan penyuluhan terkait pembuatan rorak pada tanaman jeruk keprok So’E. Selanjutnya pengetahuan petani sesudah dilakukan penyuluhan berdasarkan data pada Tabel 2, berada pada kategori tinggi dengan nilai rerata 2,87. Pada kategori ini, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 24.78 % dari pengetahuan sebelumnya (pengetahuan sedang menjadi tinggi). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Setelah adanya perubahan perilaku barulah petani akan memahami, menerima atau menolak inovasi teknologi tersebut (Notoatmojo, 2007). Hal ini sesuai dengan pendapat Sri dan Honorita. (2011) menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh lingkungan petani. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal, akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Sikap Petani Sebelum Dan Sesudah Penyuluhan

Sikap petani responden sebelum dan sesudah desiminasi teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E yang dilakukan terhadap 30 responden disajikan pada Tabel 3. Pada Tabel 3, dilihat bahwa sikap petani sebelum melakukan penyuluhan berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 2,21 Sikap petani yang tergolong sedang disebabkan karena sudah adanya penyuluhan tentang pembuatan teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E sehingga petani menganggap bahwa dengan cara pengendalian aliran permukaan menggunakan pembuatan rorak pada tanaman jeruk yang selama ini sudah mereka lakukan sudah baik tanpa melihat dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.

Setelah melakukan penyuluhan petani dapat menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkan untuk mendukung usaha taninya dan berada pada kategori tinggi dengan skor rata 2,85. Terjadi perubahan sikap dengan perubahan sebesar 28,95%. Dengan demikian sikap petani terhadap teknologi rorak pada tanaman jerukditunjukan dengan kategori tinggi yang berarti responden menilai bahwa teknologirorak bermanfaat bagi mereka dan tertarik untuk menerapkan pada kegiatanusahataninya. Lesmana dan Wulandari (2010) mengemukakan bahwa perubahan sikap terhadap penyerapan dan penerapan teknologi dapat dilihat dari ketertarikan petani untuk dapat menerapkan teknologi yang diterima.

Hubungan Faktor Internal dan Ekternal

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Hubungan anatara faktor internal dan eksternal dari respon kelompok Tunas Muda terhadap teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E meliputi umur, pendidikan, luas lahan ,pengalaman usaha tani dan karakteristik teknologi, mengunakan analsis Korelasi Rank Spearman”Dengan” SPSS Fersi 16.0, dapatdiajikan dala Tabel 4.

Hubungan Faktor Internal dan Ekternal terhadap pengetahuan

INTENSITAS PENYULUHAN. Berdasarkan Tabel 4 menyatakan bahwa hubungan sub variabel intesitas penyuluhan dan pengetahuan petani memiliki tingkat hubungan yang kuat karena nilai korelasinya 0,916 dan nilai signifikan 0,000 (P < 0,05) yang artinya terdapat hubungan yang sangat signifikan antara sub intensitas penyuluhan terhadap pengetahuan petani. Hal ini bahwa intensitas penyuluhan > 2 kali dalam setahun sangat diperlukan dalam sebuah proses pembuatan teknologi rorak. Data ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2008). Menyatakan bahwa semakin tinggi frekuensi mengikuti penyuluhan maka keberhasilan penyuluhan yang disampaikan semakin tinggi pula. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan dapat meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta benar-benar bermanfaat bagi petani untuk usahataninya.

KARAKTERISTIK TEKNOLOGI. Berdasarkan Tabel 4 diatas diketahui bahwa faktor karakteristik teknologi berpengaruh sangat signifikan terhadap pengetahuan petani responden karna dinilai dari Keunggulan, kesesuaian, kerumitan, dan tingkat ekonomis dengan nilai korelasi yaitu 0,933 dan nilai signifikan 0,000 (P < 0,005) yang artinya terdapat hubungan yang sangat signifikan antara karakteristik teknologi terhadap pengetahuan petani.

Oleh karna itu dapat memperkuatkan pemahaman petani terhadap teknologi rorak pada tanaman jeruk lebih menguntungkan karna dalam proses pembuatannya tidak membutuhkan biaya sehingga dapat meningkat pengetahuan petani responden hal ini juga didukung dengan pendapat Prabayanti (2010) yang mengemukan bahwa semakin baik pengetahuan petani terhadap sifat inovasi atau karaktristik teknologi yang diberikan, maka peluang inovasi tersebut untuk di terima semakin tinggi pula.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Hubungan Faktor external yang berhubungan terhadap sikap petani

INTENSITAS PENYULUHAN. Berdasarakan Tabel 5 di atas diketahui bahwa variabel intensitas penyuluhan terhadap sikap petani memiliki tingkat hubungan yang kuat karena didukung dengan kegiatan penyuluhan yang dilaksanaka sebanyak tiga kali sehingga diperoleh nilai koefisien korelasinya yaitu 0,681 nilai signifikan 0.000 (P<0,05) yang artinya terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas penyuluhan terhadap sikap petani. Hal ini bahwa intensitas penyuluhan (>2 kali tentang teknologi rorak pada tanaman jeruk dalam setahun sangat diperlukan dalam sebuah proses untuk mempercepat mengadopsi suatu teknologi tersebut. Data ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2008. Bahwa semakin tinggi frekuensi mengikuti penyuluhan maka keberhasilan penyuluhan yang disampaikan semakin tinggi pula. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan dapat meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta benar-benar bermanfaat bagi petani untuk usahataninya.

Berdasarkan hasil penelitian pada variabel intensitas penyuluhan, peneliti sudah melakukan penyuluhan tentang teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E di desa Bijeli. Dengan demikian Petani di desa Bijeli sudah menerima teknologi rorak sebanyak tiga kali. Teknologi rorak juga bermanfaat untuk menahan laju aliaran permukaan, menampung sedimen dari bidang olah, manampung bahan organk dan sisa serasah pada tanaman jeruk keprok So’E mudah dalam pembuatan teknologi rorak .

KESIMPULAN

Respon kelompok tani tunas mudah di Desa Bijeli terhadap teknologi rorak pada tanaman jeruk keprok So’E, dapat dilihat dari peningkatan pengetahuan sebesar 2.87 (24.78%). Sedangakan sikap terjadih peningkatan sebesar 2.85 (28.95%). Sebelum dan sesudah karna pengetahuan petani yang cukup baik dan harus melakukan terus menerus. Faktor internal dan eksternal yang memiliki pengaruh terhadap respon petani terhadap teknologi rorak yaitu karakteristik teknologi dan intensitas penyuluhan.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada pihak penyuluh agar selalu mendampingi kelompok tunas muda dapat memanfaatkan teknologi rorak sebagai penampung bahan organik pegendalian ran off dan erosi.

E Library

1Penulis Lahir di Naukae, desa Naukae Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan Pada Tanggal 16 Juli 1998. Penulis masuk sekolaah dasar pada SDK Yaswari Naukae dan selesai 2010, Kemudian melanjutkan Sekolah Tingkat Pertama SMP Kristen 1 Amanuban Barat Dan Selesai Pada Tahun 2013, di tahun yang sama Penulis melanjutkan Sekolah Tingkat Menengah Atas Pada SMTK Pieter Midelkoop Kuatnana dan Selesai Pada Tahun 2017. Penulis diterima sebagai mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Untuk menyelesaikan studi pada Jurursan Manajemen Pertanian Lahan Kering, maka penulis telah menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Respon petani Terhadap Terhadap Teknologi Rorak Pada Tanaman Jeruk Keprok So’E Di Kelompok Tunas Muda di Desa Bijeli Kecamatan Polen Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)”

No events