Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Respon Petani terhadap Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Mulsa pada Budidaya Tanaman Tomat di Kelompok Tani Barong Wae, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai

Response of Farmers to the Utilization of Rice Straw as Mulch in Tomato Cultivation in the Barong Wae Farmers Group, Wae Belang Village, Ruteng District, Manggarai Regency

Alexander P. Maga1, A.A.G.M. Takalapeta2, Maria K. Salli3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian dengan judul “Respon Petani Terhadap Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Mulsa Pada Budidaya Tanaman Tomat Di Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai” bertujuanuntuk mengetahui Respon Kelompok Tani dan mengetahui hubungan factor internal dan eksternal terhadap respon kelompok tani dalam Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Mulsa Pada Budidaya Tanaman Tomat. Metode penyuluhan yang digunakan dalam penelitian adalah ceramah dan demonstrasi Plot. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis menggunakan analisis skoring dan korelasi rank spearman. Hasil analisis skoring menunjukkan respon kelompok tani Barong Wae: Pengetahuan kelompok tani berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,43 dan sikap kelompok tani berada pada kategori menerima dengan rerata skor 2,37. Hasil uji korelasi rank spearman (r) menunjukkan faktor internal yang memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan adalah umur, Pendidikan dan peran penyuluh dengan keeratan hubungan yang sedang hingga kuat. Faktor internal yang berhubungan dan signifikan dengan sikap kelompok tani adalah umur, luas lahan, pendidikan dan peran penyuluh. Sedangkan faktor eksternal tidak signifikan dan tidak berkorelasi dengan pengetahuan dan sikap kelompok tani.

Kata Kunci: respon, mulsa jerami padi, tanaman tomat

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Study on response of farmers to the utilization of rice straw as mulch in tomato cultivation was conducted in Wae Belang Village, Ruteng District, Manggarai Regency. The study was to determine the response of farmer groups and to determine the relationship between internal and external factors with the response of the farmer group in the use of rice straw as mulch in tomato cultivation. The extension method used in the study was dialog and plot demonstration. The data obtained were analyzed using scoring analysis and Spearman rank correlation. The results showed that the knowledge of the farmer group was in the "high" category with a mean score of 2.43 and the attitude of the farmer group was in the "accepting" category with a mean score of 2.37. Age, education, and the role of the extension worker had a significant relationship with farmer group knowledge, with a moderate to strong relationship. Meanwhile, the attitude of farmer groups was significantly related to age, land area, education, and the role of extension workers. External factors did not have a significant relationship or not correlate with knowledge and attitudes of farmer groups.

Keywords: response, rice straw mulch, tomato plants


PENDAHULUAN

Mulsa adalah material penutup tanah yang bermanfaat menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Berdasarkan bahan dasarnya mulsa dibedakan atas mulsa organik dan mulsa anorganik. Adisarwanto dan Wudianto dalam Mariano (2003) mengemukakan bahwa salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai mulsa organik adalah jerami padi, sedangkan Yoyo Agusni, dkk. (2000), menyatakan mulsa organik jerami padi dapat meningkatkan dan mempertahankan kandungan air tanah lebih dibandingkan mulsa golongan leguminosa karena mulsa Jerami padi lebih tahan urai.

Kelurahan Wae Belang adalah salah satu wilayah di Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai yang memiliki luas wilayah 322,65 ha, yang digunakan untuk areal pemukiman dan pekarangan seluas 50 ha, untuk tanaman perkebunan 70 ha, padang rumput 37 ha, ladang 71,65 ha, sawah 59 ha dan pengggunaan lain untuk fasilitas umum, lahan tidur, dan sebagainya 35 ha (Profil Kelurahan Wae Belang, 2020). Sebagai suatu wilayah perkotaan, laju pertumbuhan penduduk dan pembangunan perekonomian di wilayah ini tergolong cepat. Konsekuensinya adalah semakin sempit pula lahan pertanian yang menyebabkan produksi hasil pertanian semakin rendah, makin sedikitnya tenaga kerja di bidang pertanian, dan tingginya biaya produksi. Keadaan ini memaksa petani terus meningkatkan produksinya agar dapat bertahan hidup dan mengikuti laju perkembangan perekonomian di daerah perkotaan. Komoditi yang diusahakan oleh petani yaitu tanaman pangan, tanaman perkebunan dan tanaman hortikultura.

Salah satu tanaman yang banyak dibudidayan oleh masyarakat adalah tanaman pangan yaitu padi sawah. Luas lahan padi sawah sebesar 59 ha yang memiliki dua musim tanam per tahun Rata-rata hasil gabah berjumlah 295 ton dan artinya Kelurahan Wae Belang menghasilkan jerami padi + 442,5 ton/musim panen (Kecamatan Ruteng Dalam Angka 2019). Menurut (Ponnamperuma dalam Tim PTT Balitpa, 2001) bila hasil gabah rata-rata 5 ton/ha maka dalam 1 hektar diperoleh jerami ± 7,5 ton dengan asumsi nisbah jerami adalah 2 : 3. Hal ini menimbulkan jerami padi sisa hasil produksi semakin banyak dihasilkan dan bertebaran hampir di seluruh lingkungan kelurahan terutama pada musim panen karena selesai panen padi, jeraminya bertumpuk begitu saja dilahan sawah bahkan berserakan sampai ke saluran irigasi dan jalan raya. Penggunaan jerami padi selama ini belum dimanfaatkan dengan baik bahkan dibakar begitu saja. Keadaan ini menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan baik karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Jerami padi akan lebih baik jika dimanfaatkan sebagai mulsa pada tanaman hortikultura khususnya tanaman tomat yang dibudidayakan petani setempat pada musim panas. Manfaat dari mulsa adalah untuk memelihara kelembaban tanah, kesuburan tanah, mengendalikan gulma dan pengaturan suhu. Mulsa dapat dibuat menggunakan limbah jerami padi sehingga pengelolaan limbah jerami menjadi mulsa di Kelurahan Wae Belang merupakan alternatif pemecahan masalah lingkungan dan peningkatan kesuburan tanah dan tanaman terutama tanaman hortikultura (khusunya tomat) di wilayah tersebut.

Dengan dasar pikiran ini maka akan dilaksanakan suatu penelitian dengan judul “Respon Petani Terhadap Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Mulsa Pada Budidaya Tanaman Tomat Di Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai” untuk mengetahui alasan petani tidak menggunakan jerami padi sebagai mulsa pada tanaman tomat mereka, sehingga dapat dicari solusi bagi pemecahan masalah lingkungan dan pemanfaatan sampah organik.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui respon Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai tentang teknologi mulsa jerami padi bagi tanaman tomat.
  2. Mengetahui hubungan factor internal dan factor eksternal terhadap respon Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai tentang teknologi mulsa jerami padi bagi tanaman tomat.

METODE PENELITIAN

Materi Penelitian

Materi yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah, kuesioner atau daftar pertanyaan, kamera, alat tulis menulis, laptop, dan buku sumber.

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif dalam pengumpulan data dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

Kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono,2016). Dalam penelitian ini kuisoner yang digunakan bersifat tertutup, dimana semua pertanyaan diberikan dalam bentuk pilihan jawaban dengan tiga level jawaban. Kuisoner digunakan terhadap masyarakat Kelompok Tani barong wae untuk mencari keterangan mengenai variabel-variabel penelitian.

Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data adalah bahan mentah yang perlu di olah untuk menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif untuk menunjukkan fakta. Sesuai sumbernya, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan lama usahatani kelompok tani Barong Wae. Sedangkan data sekunder adalah data BPS Kelurahan Wae Belang dan data kelompok tani Barong Wae. Jenis data sekunder yang dibutuhkan untuk melengkapi informasi bagi pencapaian tujuan peneliti

Populasi dan Sampel Penelitian

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Populasi adalah wilayah general yang terdiri atas obyek/subyek yang memiliki kuantitas/kualitas tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh anggota kelompok tani Barong Wae di Kelurahan Wae Belang yaitu berjumlah 40 orang. Menurut Arikunto (2012:) jika jumlah populasinya kurang dari 100 orang, maka sampelnya diambil secara keseluruhan, tetapi jika populasinya lebih besar dari 100 orang, maka bisa ambil 10-1 atau 20-2 dari jumlah populasinya. Maka jumlah sampel penelitian adalah sebanyak 40 orang.

Metode Analisis Data

Analisis data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi informasi, sehingga karakteristik data dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat sesuai dengan masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Data yang diperoleh akan dianalisis sesuai dengan masalah yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian Riduwan (2009:20-21).

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Untuk mengetahui Respon petani terhadap pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa pada tanaman tomat. Untuk menganalisis data dilakukan menggunakan skala ordinal dengan berpedoman pada Liker’s Summated Rating Scale (LSRS) dimana setiap pilihan jawaban diberi skor. Respon kelompok sasaran terhadap penggunaan teknologi mulsa j erami padi yang dikategorikan tinggi (3), sedang (2) dan rendah (1) dapat diketahui dengan menggunakan rumus: rentang skala = (skor tertinggi – skor terendah) ÷ (jumlah kategori). Skala penilaian berkisar 1-3, sehingga rentang skala = {(3-1) ÷ 3} – 0,01 = 0,66, sehingga diperoleh Acuan Kategori seperti pada Tabel 1.

Untuk menganalisis apakah ada hubungan antara faktor internal dan factor eksternal terhadap Respon petani, menggunakan rumus Uji Kolerasi Rank Spearman (rs) dengan rumus Sugiyono (2013). Tingkat (keeratan) hubungan menggunakan acuan menurut Sugiyono (2013).

Tabel 2. Tingkat Hubungan Koefisien Korelasi Kekuatan Hubungan

Pengujian signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah hasil perhitungan korelasi sederhana signifikan atau tidak ( Suharsaputra, 2014) menggunakan uji-t.  Nilai t hitung tersebut kemudian dibandingkan dengan harga t tabel (taraf kesalahan 5% uji dua fihak dengan dk=n–2). Apabila diperoleh hasil t-hitung > t-tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima atau dapat dinyatakan bahwa hubungan variabel X dengan Y signifikan serta dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

HASIL PENELITIAN

Respon Petani

Soedijanto (1978) menyatakan bahwa pengetahuan petani merupakan suatu kemampuan individu petani untuk mengingat-ingat segala materi yang didapatkan dan kemampuan untuk mengembangkan intelegensi.Pengetahuan memiliki peranan dalam memunculkan sikap dan Respon seseorang terhadap suatu objek. Sikap petani adalah kecenderungan petani untuk melakukan sesuatu terhadap teknologi yang diperoleh petani itu sendiri, apakah petani menerima, ragu-ragu atau menolak. Apabila sikap yang ditunjukan petani negatif maka perlu ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkan untuk mendukung usahanya dibidang pertanaian.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Pengetahuan Petani

Indikator pengetahuan petani yang diukur dalam penelitian ini ditujukan untuk mendeskrisikan tingkat pemahaman petani pasca dilakukan penyuluhan teknologi mulsa jerami padi. Hasil analisis pengetahuan petani disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengetahuan petani terhadap teknologi mulsa jerami padi

Berdasarkan data pada Tabel 3, tingkat pengetahuan petani responden terhadap Pengertian mulsa memiliki nilai rerata 2,28 dan masuk dalam kategori sedang. Pengertian mulsa jerami padi memiliki nilai rerata 2,88 dan masuk dalam kategori tinggi. Tujuan mulsa jerami padi memiliki nilai rerata 2,53 dan masuk dalam kategori tinggi. Manfaat mulsa jerami padi bagi tanaman memiliki rerata 2,35 dan masuk dalam kategori tinggi. Manfaat mulsa jerami padi bagi tanah memiliki nilai rerata 2,30 dan masuk dalam kategori sedang. Keunggulan mulsa jerami padi memiliki rerata 2,48 dan masuk dalam kategori tinggi, penggunaan teknologi mulsa jerami padi menguntungkan untuk diterapkan memiliki rerata 2,00 dan masuk dalam kategori sedang, jika menguntungkan dari segi apa memiliki rerata 2,60 dan masuk dalam kategori tinggi .

Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan sesorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya. Adanya niat sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betul-betul dilakukan berdasarkan pengetahuan atau berdasarkan ketidaktahuan.

Pengetahuan petani sangat membantu dan menunjang kemampuanya untuk mengadopsi teknologi yang disediakan oleh pemerintah dalam program pembangunan atau teknologi tertentu lainnya. Pengetahuan petani juga akan menjamin kelancaran usaha tani yang dijalankan oleh petani. Apabila tingkat pengetahuan petani tinggi maka kemampuan dalam mengadopsi teknologi yang baru akan tinggi demikian juga sebaliknya (Levis, 2013).

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Sikap Petani

Berdasarkan Sikap petani responden terhadap teknologi mulsa jerami padi pada tanaman tomat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan diikuti dengan kegiatan demonstrasi cara secara langsung pada petani responden. Tujuan pengunaan metode demonstrasi cara ini diharapkan agar petani responden bisa memahami lebih cepat dan dapat melihat cara-cara atau proses penerapan teknologi mulsa jerami padi pada tanaman tomat bisa cepat dipahami dan dimengerti dengan melihat saja proses penerapan teknologi mulsa jerami padi pada tanaman tomat. Petani responden bisa menerima inovasi terbaru mengunakan metode demonstrasi cara ini diharapkan agar petani responden bisa memahami.

Tabel 4. Sikap responden terhadap penerapan teknologi mulsa jerami padi pada

Berdasarkan data pada Tabel 4, sikap petani responden terhadap menerima teknologi mulsa jerami padi untuk diterapkan pada tanaman tomat dari responden memiliki nilai rerata 2,18 dan masuk dalam kategori ragu-ragu. Setuju dengan penerapan teknologi mulsa jerami padi memiliki nilai rerata 2,40 dan masuk dalam kategori menerima. Apabila setuju dengan teknologi mulsa Jerami padi, apa yang mendorong untuk diterapkan memiliki nilai rerata 2,35 dan masuk dalam kategori menerima. Teknologi mulsa jerami padi dapat menghambat pertumbuhan gulma memiliki rerata 2,43 dan masuk dalam kategori menerima. Bisa menerapan teknologi mulsa padi memiliki rerata 2,38. Teknologi mulsa jerami padi mengurangi biaya produksi memiliki rerata 2,45 dan masuk dalam kategori menerima Mendapatkan hasil yang memuaskan memiliki rerata 2,38 dan masuk dalam kategori menerima.

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa petani responden memiliki sikap yang menerima terhadap adanya teknologi mulsa jerami padi, apa yang membuat setuju terhadap terhadap teknologi mulsa jerami padi, dapat menghemat biaya produksi, penerapan teknologi mulsa jerami padi, teknologi mulsa jerami padi mengurangi biaya produksi, dan mendapatkan hasil yang memuaskan, karena dilihat dari

rerata masuk dalam kategori menerima. Sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negative terhadap obyek atau situasi secara konsisten. Sikap yang ditampilkan oleh petani terhadap sebuah inovasi akan menentukan penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut (Ahmadi,1991). Apabila sikap yang ditunjukan petani negatif maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani setuju dan menerapkan teknologi yang ditawarkan.

Faktor-Faktor yang Berhubungan Respon Petani

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Hubungan Faktor Internal dan Eksternal terhadap Pengetahuan Petani

Untuk mengetahui hubungan faktor internal-eksternal terhadap Respon petani di Kelompok tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang, telah dilakukan analisis korelasi rank Spearman. Dalam analisis yang dilakukan ada lima indikator, yaitu umur, pendidikan, luas lahan, lama usaha bertani, peran penyuluh, dan variabel dependen, yaitu pengetahuan petani. Hasil analisis korelasi rank Spearman hubungan antara umur, tingkat pendidikan, luas lahan, lama usahatani, peran penyuluh, terhadap tingkat Respon petani diperoleh korelasi rank Spearman sebagai berikut: Y, X1, X2, X3, X4, dan X5. Dimana: Y = pengetahuan petani, X1 = umur, X2 = tingkat pendidikan, X3 = luas lahan, X4 = lama bertani, X5 = peran penyuluh. Dari lima faktor eksternal-internal yang memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat pengetahuan petani tentang teknologi mulsa jerami padi di kelompok tani Barong Wae RT 01 Kelurahan Wae Belang terdapat 3 faktor yang berhubungan terhadap tingkat pengetahuan petani yaitu: umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan lama usahatani.

UMUR. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) umur petani X1 adalah 0,005. Variabel umur memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap pengetahuan petani. Sedangkan signifikansi adalah 0,027 < 0,05, ini berarti bahwa umur memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan petani.

PENDIDIKAN. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) tingkat pendidikan petani X2 adalah 0,007. Variabel tingkat pendidikan memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap pengetahuan petani. Sedangkan signifikansi adalah 0,007 < 0,05, ini berarti bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan petani.

PERAN PENYULUH. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) peran penyuluh X5 adalah 0,021. Variabel peran penyuluh memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap pengetahuan petani. Sedangkan signifikansi adalah 0,021 < 0,05, ini berarti bahwa peran penyuluh memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan petani.

Tabel 5. Hasil Uji pengetahuan secara parsial faktor-faktor yang berhubungan pengetahuan petani terhadap teknologi mulsa jerami padi.

Berdasarkan Tabel 5, maka hasil uji dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Umur petani reponden (X1). Hasil analisis data untuk variabel X1 diperoleh tingkat signifikan 0,027 < 0,05. Artinya umur petani mempunyai hubungan yang nyata terhadap pengetahuan petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,350 dengan tingkat hubungannya lemah. Hal ini karena pengetahuan yang dimiliki responden berasal dari pengalaman pribadi yang didapat selama berusahatani. Hasil ini menunjukkan bahwa umur berhubungan terhadap pengetahuan seseorang, hasil ini sejalan dengan hasil penelitian dari Ar-Rasily (2016) dalam penelitiannnya menemukan bahwa umur berpengaruh pada tinggkat pengetahuan seseorang kemungkinan karena pengetahuan yang dimiliki bisa saja berasal dari pengetahuan yang dimilikinya sebelumnya, pengalaman pribadi maupun orang lain dan beberapa faktor lainnya yang dapat membentuk pengetahuan seseorang dalam jangka waktu yang lama dan akan bertahan sampai usia tua. Dalam teorinya, usia mempengaruhi perkembangan daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin tua usia seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada usia tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun.
  2. Pendidikan petani responden (X2). Hasil analisis data untuk variabel X2 diperoleh tingkat signifikan 0,007 < 0,01. Artinya pendidikan petani berhubungan sangat nyata terhadap pengetahuan petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,422 yang menunjukkan hubungannya sedang. Hal ini karena pengetahuan yang dimiliki petani selain dari Pendidikan formal juga diperoleh melalui pendidikan non formal seperti pelatihan. Tingkat pendidikan memberikan hubungan yang sangat signifikan terhadap pengetahuan petani dalam teknologi mulsa jerami. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Soekartawi (2005) mengemukakan bahwa pendidikan sangat penting bagi seseorang karena dengan tingkat pendidikan maka akan lebih dinamis terhadap hal baru serta akan lebih terbuka menerima informasi maupun teknologi yang baru.
  3. Peran penyuluh (X5). Hasil analisis data untuk variabel X5 diperoleh tingkat signifikan 0,021 < 0,05. Artinya peran penyuluh mempunyai hubungan nyata dengan pengetahuan petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,143 yang menunjukkan hubungannya lemah. Hal ini dikarenakan penyuluh jarang memberikan penyuluhan kepada petani sehingga hubungan peran penyuluh dengan pengetahuan lemah. Sejalan dengan pendapat (Mardikanto, 2009) yang mengatakan bahwa peran penyuuh merupakan suatu rangkaian kegiatan sebagai fasilitasi, proses belajar, sumber informasi, pendampingan, pemecahan masalah dan evaluasi kegiatan petani yang berkaitan dengan perannya sebagai pembimbing, organisator, dan dinamisator, sebagai teknisi dan sebagai konsultan.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Hubungan Faktor Internal dan Eksternal terhadap Sikap Petani

Untuk mengetahui hubungan faktor internal-eksternal terhadap Respon petani di Kelompok tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang, telah dilakukan analisis korelasi rank Spearman. Dalam analisis yang dilakukan ada lima indikator, yaitu umur, pendidikan, luas lahan, lama usaha bertani, peran penyuluh, dan variabel dependen, yaitu sikap petani. Hasil analisis korelasi rank Spearman hubungan antara umur, tingkat pendidikan, luas lahan, lama usahatani, peran penyuluh, terhadap tingkat Respon petani diperoleh korelasi rank Spearman sebagai berikut: Y, X1, X2, X3, X4, dan X5. Dimana: Y = sikap petani, X1 = umur, X2 = tingkat pendidikan, X3 = luas lahan, X4 = lama bertani, X5 = peran penyuluh. Dari lima faktor eksternal-internal yang memiliki hubungan signifikan terhadap sikap petani tentang teknologi mulsa jerami padi di kelompok tani Barong Wae RT 01 Kelurahan Wae Belang terdapat 1 faktor yang berhubungan terhadap sikap petani yaitu peran penyuluh.

UMUR. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) umur petani X1 adalah 0,002. Variabel umur memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap sikap petani. Sedangkan signifikansi F adalah 0,002 < 0,05, ini berarti bahwa umur memiliki hubungan yang signifikan terhadap sikap petani.

PENDIDIKAN. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) tingkat pendidikan petani X2 adalah 0,007. Variabel tingkat pendidikan memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap sikap petani. Sedangkan signifikansi F adalah 0,007 < 0,05, ini berarti bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan terhadap sikap petani.

LUAS LAHAN. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) luas lahan petani X3 adalah 0,032. Variabel luas lahan memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap sikap petani. Sedangkan signifikansi F adalah 0,032 < 0,05, ini berarti bahwa luas lahan memiliki hubungan yang signifikan terhadap sikap petani.

PERAN PENYULUH. Hasil analisis korelasi rank Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) peran penyuluh (X5) adalah 0,009. Variabel peran penyuluh memiliki nilai koefisien yang positif, hal ini menunjukkan bahwa teknologi mulsa jerami padi memiliki hubungan positif terhadap sikap petani. Sedangkan signifikansi adalah 0,009 < 0,05, ini berarti peran penyuluh sangat memiliki hubungan secara signifikan terhadap sikap petani.

Tabel 6. Hasil Uji pengetahuan secara parsial faktor-faktor yang berhubungan sikap petani terhadap teknologi mulsa jerami padi.

Berdasarkan Tabel 6, maka hasil uji t dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Umur petani reponden (X1). Hasil analisis data untuk variabel X1 diperoleh tingkat signifikan 0,002 < 0,01. Artinya umur petani mempunyai hubungan sangat nyata terhadap sikap petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,469 yang menunjukkan hubungannya sedang. Hal ini karena sebagian besar umur responden >65 tahun, yang artinya bahwa responden sudah memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dalam berusahatani sehingga mudah dalam mengadopsi inovasi baru. Hal ini menunjukkan umur menjadi suatu faktor yang berhubungan dengan sikap petani dalam melakukan atau mengembangkan usahatani. Sejalan dengan pernyataan dari Hasyim (2006) yang menyatakan bahwa umur juga dapat dijadikan tolak ukur untuk melihat aktivitas petani dalam bekerja.
  2. Pendidikan petani responden (X2). Hasil analisis data untuk variabel X2 diperoleh tingkat signifikan 0,007 < 0,01. Artinya pendidikan petani berhubungan sangat nyata terhadap sikap petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,423 yang menunjukkan hubungannya sedang. Hal ini karena pendidikan responden sebagaian besar berpendidikan SMP-SMA sehingga memudahkan dalam mengadopsi teknologi baru. Semakin baik tingkat pendidikan, maka akan memiliki kecenderungan semakin baik pula sikap dalam menerima teknologi mulsa jerami padi. Menurut Gumila (2019) pendidikan akan membuat cara berpikir dan bersikap menjadi lebih baik. Seseorang yang memiliki pendidikan yang baik akan lebih responsif terhadap informasi, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sikap dalam pengambilan keputusan.
  3. Luas lahan (X3). Hasil analisis data untuk variabel X3 diperoleh tingkat signifikan 0,036 < 0,05. Artinya luas lahan petani mempunyai hubungan nyata dengan sikap petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,332 yang menunjukkan hubungan yang lemah. Petani yang memiliki lahan yang besar akan mudah dalam menerapkan suatu teknologi untuk memudahkan petani dalam melakukan usahatani. Hal ini menunjukkan bahwa luas lahan memberikan hubungan yang signifikan terhadap sikap petani dalam teknologi mulsa jerami padi.
  4. Peran Penyuluh (x5). Hasil analisis data untuk variabel X5 diperoleh tingkat signifikan 0,009<0,01. Artinya peran penyuluh mempunyai hubungan sangat nyata dengan sikap petani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,405 yang menunjukkan hubungan sedang. Hal ini dikarenakan petani mendapat informasi dari penyuluh dan juga sesame petani. Peran penyuluh memiliki hubungan yang sedang dengan sikap petani karena peran punyuluh adalah sebagai fasilitator, sesuai dengan pendapat (Mardikanto, 2009) yang mengatakan bahwa peran penyuuh merupakan suatu rangkaian kegiatan sebagai fasilitasi, proses belajar, sumber informasi, pendampingan, pemecahan masalah dan evaluasi kegiatan petani yang berkaitan dengan perannya sebagai pembimbing, organisator, dan dinamisator, sebagai teknisi dan sebagai konsultan.

KESIMPULAN

Pengetahuan Kelompok Tani Barong Wae di Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai terhadap teknologi mulsa Jerami padi berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,43, sedangkan sikap Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai berada pada kategori menerima dengan rerata skor 2,37. Artinya setelah adanya kegiatan penyuluhan dan demonstrasi, respon petani semakin meningkat dan membaik atau positif.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan petani terhadap teknologi mulsa jerami padi yaitu umur (X1) dengan tingkat hubungan lemah, pendidikan (X2) tingkat hubungan sedang, peran penyuluh (X5) tingkat hubungan sedang, sedangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap petani terhadap teknologi mulsa jerami padi yaitu umur (X1) dengan tingkat hubunga sedang, pendidikan (X2) tingkat hubungan sedang, luas lahan (X3) tingkat hubungan lemah, dan peran penyuluh (X5) tingkat hubungan sedang.

Berdasarkan simpulan diatas maka dapat disarankan bahwa PERLU adanya perhatian dari pemerintah dalam meningkatkan pengetahuan petani, sehingga informasi dan perubahan teknologi pertanian bisa didapatkan dan diterapkan oleh petani. Selain itu, perlu adanya relasi yang baik antara penyuluh pertanian dengan masyarakat petani agar mudah memecahkan suatu persoalan yang berkaitan dengan bidang pertanian.

E Library

1Penulis lahir pada tanggal 16 Agustus 1998 di Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai. Pada tahun 2004 penulis masuk SDK Cancar I dan lulus pad tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMPN I Ruteng Cancar dan tamat pada tahun 2014. Kemudian lanjut ke SMA Swasta Budi Dharma Cancar pada tahun 2014 dan tamat pada tahun 2017. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan studi di perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima pada jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering dan Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Penulis kemudian menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang melalui ujian tugas akhir degan judul “Respon Petani Terhadap Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Mulsa Pada Budidaya Tanaman Tomat Di Kelompok Tani Barong Wae Kelurahan Wae Belang Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai”

No events