Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Respon Petani terhadap Teknologi Pengomposan Kulit Buah Kakao secara In Situ sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Kakao Rakyat DI Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur

Response of Farmers to In Situ Cocoa Peel Composting Technology as an Effort to Increase People's Cocoa Productivity in Tanah Rata Village, Kota Komba District, East Manggarai Regency

Albertus Saru1, Donatus Kantur2, Musa F Banunaek3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian dengan judul “Respon Petani terhadap Teknologi Pengomposan Kulit Buah Kakao secara In Situ sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Kakao Rakyat di Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur” bertujuan untuk mengetahui tingkat respon petani dan faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ. Sampel dalam penelitian ini adalah petani kakao di RT 005 yang berjumlah 45 orang. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data berupa scoring dan regresi linier berganda. Berdasarkan alat analisis hasil penelitian menunjukan bahwa respon petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ berada pada kategori tinggi dengan rerata 2.72. Dari hasil regresi menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan petani adalah pendidikan dengan tingkat sigfinikan 0,043 dan lama usahatani 0,025. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani adalah umur dengan tingkat sigfinikan 0,002, lama usahatani 0,035 dan karakteristik teknologi dengan tingkat sigfinikan 0,000.

Kata Kunci: respon, kulit buah kakao, kompos

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The study on " Response of Farmers to In Situ Cocoa Peel Composting Technology as an Effort to Increase People's Cocoa Productivity in Tanah Rata Village, Kota Komba District, East Manggarai Regency" was to determine the level of farmers’ response and the factors influencing farmer responses to In Situ Cocoa Peel Composting. The sample was 45 cocoa farmers. Data collected were analysis methods using scoring and multiple linear regression analysis. The results showed that the response of farmers was in the high category with an average of 2.72. The regression analysis showed that the factors influencing the knowledge of farmers were education with a significant level of 0.043 and farming duration with a significant level of 0.025. While the factors affecting the attitude of farmers were age with a significant level of 0.002, farming duration with a significant level of 0.035 and technological characteristics with a significant level of 0.000.

Keywords: response, cocoa peel, compost


PENDAHULUAN

Kakao merupakan salah satu tanaman andalan perkebunan di kawasan tropis. Kakao juga merupakan salah satu komoditas ekspor dan subsektor perkebunan yang merupakan komoditas ekspor dan subsektor perkebunan yang merupakan komoditas unggulan nasional. Kakao menjadi salah satu sumber pendapatan bagi petani atau banyak menghasilkan ekonomi keluarga (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2019). Luas lahan tanaman kakao di Indonesia mencapai 1. 592.562 ha dan produksi kakao di Indonesia adalah 767.280 ton dengan produktivitasnya mencapai 729 kg/ha, sedangkan di Nusa Tenggara Timur mencapai 61.690 ha dan produksi 19.972 ton dengan produktivitas mencapai 624 kg/ha (Badan Pusat Statistic Kakao Indonesia, 2019). Berdasarkan data pada tahun 2018, luas lahan kakao di Kabupaten Manggarai Timur mencapai 6.233,23 ha dan produksi 1.133,91 ton dengan produktivitas 299,53 kg/ha, sedangkan untuk Kecamatan Kota Komba dengan luas lahan kakao sebesar 2.740,45 ha dan produksi mencapai 217,84 ton dengan produktivitas mencapai 131,25 kg/ha (Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, 2018). Dengan demikian produksi kakao di Kecamatan Kota Komba sangat rendah dibandingkan dengan produksi kakao di tingkat provinsi maupun nasional.

Kelurahan Tanah Rata merupakan kelurahan yang memiliki kondisi lingkungan yang sesuai untuk berbagai macam komoditi seperti kakao, kopi, kemiri dan komoditi lainnya. Wilayah Kelurahan Tanah Rata terbentang diantara (0-500 mdpl). Produktivitas tanaman kakao di Kelurahan Tanah Rata yang masih rendah disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kesuburan tanah yang rendah, gangguan hama dan penyakit. Hama penggerek buah merupakan salah satu OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang cukup berbahaya pada tanaman kakao. Hama ini menyerang buah kakao yang menyebabkan kerusakan pada buah, sehingga terjadi penurunan produksi dan kualitas biji kakao. Serangan hama PBK menyebabkan penurunan kualitas biji sampai 35-85% dan kehilangan hasil antara 64,2-82.2% (Wardoyo, 1994 dalam Waniada, 2012). Kehilangan hasil akibat hama ini mengakibatkan penurunan pendapatan petani. Selain membuat biji kakao mengkerut, mudah hancur, serangan PBK juga membuat biji susah untuk dipanen. Faktor yang menyebabkan keberadaan hama dan pada penyakit yaitu faktor lingkungan, kurangnya sanitasi kebun, suhu dan kelembaban.

Salah satu caranya untuk mengatasi hal tersebut adalah sanitasi kebun dengan memanfaatkan limbah kulit buah kakao untuk dijadikan kompos dengan melakukan pengomposan limbah kakao secara in situ. Pengomposan secara in situ merupakan pengomposan yang dilakukan pada lingkungan lahan tanaman itu sendiri. Dengan demikian kebutuhan pupuk untuk tanaman kakao dapat dipenuhi dari pemanfaatan limbah kulit buah kakao, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produksi dan juga dapat mengendalikan hama dan penyakit. Kulit buah kakao merupakan salah satu limbah dari perkebunan kakao. Kulit buah kakao merupakan komponen terbesar dari buah kakao yaitu sebesar 70% berat buah masak. Menurut Hartobudoyo pada areal 1 ha pertanaman kakao akan menghasilkan produk samping segar kulit buah kakao sekitar 5,8 ton (Hartobudoyo, 1995). Produk samping kulit buah kakao yang dihasilkan dalam jumlah banyak akan menjadi masalah jika ditangani dengan baik, apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dapat menimbulkan masalah lingkungan di sekitar perkebunan ( Darmono dan Try Panji, 1999). Limbah kulit buah kakao yang dihasilkan setiap panen akan menimbulkan masalah jika tidak ditangani dengan baik, seperti polusi udara dan potensi menjadi sumber penyebaran hama dan penyakit tanaman. Limbah kulit buah kakao yang melimpah tersebut harus dapat dikelola dengan baik. Kandungan hara yang terkandung pada kulit buah kakao cukup baik (Ajayi, Awodun, & Ojeniyi, 2007; Adejobi, Famaye, Akanbi, Nduka, & Adeniyi, 2013), sehingga salah satu alternatif pemanfaatan limbah kulit buah kakao yang efektif dan mampu meningkatkan nilai tambah yang cukup signifikan adalah dengan mengolahnya menjadi kompos.

Berdasarkan uraian diatas pengomposan kulit buah kakao dapat bermanfaat bagi petani. Oleh karena itu teknologi pengomposan kulit buah kakao perlu disebarluaskan ke petani kakao di Kelurahan Tanah Rata. Penyebaran teknologi ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan demonstrasi cara. Metode demonstrasi cara adalah suatu kegiatan yang memperlihatkan secara nyata tentang penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti menguntungkan petani. Demonstrasi cara ini mempertunjukan suatu cara kerja baru atau suatu cara lama tetapi dilakukan dengan baik. Metode demonstrasi cara tidak mempersoalkan mengenai hasilnya, tetapi bagaimana melakukan suatu cara kerja. Yang perlu diingatkan bahwa demonstrasi bukanlah suatu percobaan, tetapi suatu usaha pendidikan atau percontohan. Kelebihan metode demonstrasi cara yaitu efektif untuk mengajarkan keterampilan, menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri, merangsang kegiatan dan mempunyai efek publisitas.

Berdasarkan potensi dari kulit buah kakao maka perlu dilakukan penelitian tentang “Respon Petani Terhadap Teknologi Pengomposan Kulit Buah Kakao Secara In Situ Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Kakao Rakyat di Kelurahan Tanah Rata Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur”

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui tingkat respon petani terhadap teknologi Pengomposan Kulit Buah Kakao Secara In Situ
  2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi respon petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ

METODE PENELITIAN

Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan datayang dilakukan sebagai berikut

  1. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.Wawancara tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancara (interview) yang memberikan jawaban atau pertanyaan (Moleong, 2001). Wawancara adalah suatu kegiatan pengumpulandata dari kedua belah pihak dengan metode tanya jawab mengenai suatu objekpermasalahan.
  2. Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk dijawab.
  3. Digunakan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi literature, data monografi desa, foto-foto dan data lainnya yang relevan dengan masalah yang diteliti

Jenis dan Sumber data

Data yang digunakan dalam penelitian antara lain bersumber dari kegiatan survei dengan objek pengamatan pada kebun kakao rakyat, pengamatan dan wawa secara langsung di lapangan, wawancara dengan petani setempat. Sesuai sumbernya data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah

  1. Data primer, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya. Data primer biasa disebut juga data asli atau baru (Supardi; 2013).
  2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber yang telah ada. Data itu biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan atau dokumen penelitian terdahulu. Data sekunder biasa disebut data yang bersedia (Supardi, 2013).

Instrumen Penelitian. Di dalam penelitian ini dibutuhkan berbagai instrument untuk menunjang penelitian tersebut antara lain LPM, media leaflet, kuesioner (daftar pertanyaan) dan kamera.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua petani kakao yang berada di RT 005 dan RW 002 sebanyak 45 orang yang membudidayakan tanaman kakao. Petani di RT 005 dijadikan sampel dalam penelitian ini karena mayoritasnya adalah petani kakao dan yang merasakan dampak paling besar akibat gangguan hama dan penyakit adalah petani di RT 005. Karena populasinya kecil maka penentuan sampel menggunakan sistem sensus yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel dalam penelitian.

Metode Analisis Data

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Data penelitian yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner selanjutnya ditabulasi untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap petani sesudah penbuatan dan penerapan teknologi pengomposan limbah kulit buah kakao secara in situ. Respon petani terhadap teknologi pengomposan limbah kakao secara in situ diukur berdasarkan pengetahuan dan sikap petani, sesudah kegiatan. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan alat analisis statistik, sesuai dengan tujuan penelitian.

Untuk mengukur tingkat respon petani terhadap teknologi pengomposan limbah kulit buah kakao secara in situ, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode skoring. Skoring adalah proses penentuan skor atas jawaban responden yang dilakukan dengan membuat klasifikasi cocok tergantung pada anggapan atau opini responden Perhitungan nilai skor atau skor setiap komponen yang diteliti dengan cara mengalikan frekuensi data dengan nilai bobot nilai tertinggi dengan nilai terendah. 

Analisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat respon petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ sebagai upaya peningkatan produktivitas kakao rakyat. Menurut Sugiyono (2016), menggunakan analisis linier berganda yang bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik36 turunkan). Jadi analisis regresi linier berganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya minimal dua. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat respon petani digunakan rumus regresi linier berganda (Sugiyono, 2016) sebagai berikut:

Y = a + B1X1 + B2X2 + … + BnXn, dimana Y = variabel terikat; a = konstanta; B1,B2 = koefisien regresi; X1,X2 = variabel bebas.

Uji Asumsi Klasik

  1. Uji normalitas. Uji normalitas merupakan suatu uji yang dilakukan untuk menilai sebaran data pada suatu kelompok data ataupun variabel, apakah sebaran data tersebut sudah terdistribusi dengan normal atau tidak. Uji normalitas digunakan untuk menguji tabel regresi apakah memiliki distribusi normal atau tidak. Asumsi normalitas merupakan syarat yang sangat penting pada pengujian signifikan atau kebermaknaan koefisien regresi.Model regresi yang baik adalah regresi yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik.Untuk menguji apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan melakukan uji statistik.Uji statistik sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, Ghozali (2016).38
  2. Uji heteroskedastisitas. Uji Heteroskedastisitas menurut (Ghozali, 2016) memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Uji ini merupakan salah satu uji asumsi klasik yang harus dilakukan dalam regresi linier.Jika variance dari residual satu pengamatan tetap, maka disebut dengan homoskedastisitas dan jika berbeda maka disebut dengan heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah heteroskedastisitas
  3. Uji autokorelasi. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya).Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi yang lain. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena “gangguan” pada seorang individu/kelompok.

HASIL PENELITIAN

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Pengetahuan Petani

Secara terperinci respon petani sebelum dan sesudah menerima penyuluhan tentang teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ disajikan pada Tabel 2.  Berdasarkan Tabel 2, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan petani sebelum melakukan penyuluhan berada pada kategori sedang atau dengan rerata skor 2,17. Namun untuk indikator tujuan pupuk kompos, pengetahuan petani sebelum memberikan penyuluhan dan demonstrasi cara berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,40. Hal ini dikarenakan sebagian petani pernah mendapatkan informasi dari penyuluh dan petani lainnya. Sedangkan pengetahuan petani secara keseluruhan sesudah melakukan penyuluhan dengan rerata skor 2,72 atau berada kategori Tinggi. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan petani setelah diberikan penyuluhan dan demonstrasi pembuatan kompos dari kulit buah kakao. Peningkatan pengetahuan petani dari sedang menjadi tinggi46 dikarenakan petani ikut serta dalam kegiatan demonstrasi cara pembuatan kompos kulit buah kakao dan aktif dalam berdiskusi sehingga terjadinyae peningkatan pengetahuan petani dari sedang menjadi tinggi.

Dari uraian di atas hal ini menunjukan bahwa pengetahuan petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao merupakan teknologi yang sederhana dilakukan dan cara menggunakannya tidak sulit sesuai dengan pernyataan Rogers (1983) yaitu semakin mudah suatu inovasi (pupuk organik) dipahami dan diterapkan maka semakin cepat pula inovasi tersebut di terima atau diadopsi. Petani responden menyadari bahwa inovasi teknologi pengomposan limbah kulit buah kakao dapat memberikan manfaat yang sangat besar dan juga pembuatan kompos dari kulit buah kakao dapat meningkatkan kesuburan tanah dan juga dapat mengurangi gangguan ehama dan penyakit. Dengan adanya pupuk kompos dari kulit buah kakao maka dapat mengurangi biaya bagi petani untuk membeli pupuk kimia serta dapat menyediakan pupuk bagi petani RT 005 Kelurahan Tanah Rata karena untuk mendapatkan pupuk kimia petani harus mengeluarkan biaya yang besar.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Sikap Petani

Sikap petani adalah kecenderungan petani untuk melakukan sesuatu terhadap teknologi yang diperoleh petani itu sendiri, apakah petani menerima, ragu-ragu dan menolak. Secara terperinci sikap petani responden dapat disajikan pada Tabel 3. Berdasar data analisis pada Tabel 3 diatas menunjukan bahwa sikap petani terhadap penerapan teknologi pengomposan kulit buah kakao sebelum dengan rerata skor 2,32 berada pada kategori ragu-ragu. Sikap petani yang tergolong raguragu disebabkan karena secara keseluruhan petani belum mengetahui dan juga kurang mendapatkan informasi tentang pengolahan kulit buah kakao menjadi pupuk kompos. Namun setelah memberikan penyuluhan dan melakukan demonstrasi teknologi pengomposan kulit buah kakao untuk dijadikan pupuk kompos, maka adanya peningkatan sikap petani dengan rerata skor 2,83 dan berada pada kategori menerima, artinya petani atau responden sasaran di RT 005 Kelurahan Tanah Rata memiliki sikap dan respon yang baik terhadap teknologi yang diberikan. Dengan adanya penyuluhan dan demonstrasi dapat membantu petani untuk secara langsung melihat dan berpartisipasi dalam proses demonstrasi teknologi pengomposan kulit buah kakao. Perubahan sikap petani tidak hanya dengan cara penyuluhan tetapi dengan perbaikan metode penyuluhan seperti demonstrasi berpengaruh signifikan terhadap perubahan sikap petani. Karena metode demonstrasi cara memiliki keunggulan yaitu efektif mengajarkan keterampilan, merangsang kegiatan dan mempunyai efek publisitas.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Respon Petani

Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengetahuan petani Dalam penelitian ini ada lima faktor independen (variabel bebas) yang berpengaruh terhadap pengetahuan petani. Variable tersebet adalah umur (X1),tingkat pendidikan (X2), luas lahan (X3), lama usahatani (X4) dan karakteristik teknologi (X5). Berdasarkan Tabel 4 maka hasil analisis regresi menunjukan bahwa dari lima faktor yang diuji ternyata hanya dua faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan petani. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Y = 1,602 + 0,068 X2 + 0,083 X4, dimana X2 = pendidikan, X4 = lama usahatani.

Dari lima faktor eksternal-internal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan petani tentang teknologi pengomposan kulit buah kakao terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan petani yaitu: tingkat pendidikan dan lama usaha tani

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Pendidikan petani responden (X2)

Hasil anaalisis data untuk variabel X2 diperoleh nilai t hitung =2,092 dengan tingkat signifikan 0,043. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih kecil dari taraf 5% yang berarti H0 diterima. Artinya pendidikan petani berpengaruh terhadap pengetahuan petani. Hal ini menunjukan tingkat pendidikan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan petani dalam teknologi pengomposan kulit buah kakao. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Soekartawi (2005) mengemukakan bahwa pendidikan sangat penting bagi seseorang karena dengan tingkat pendidikan maka akan lebih dinamis terhadap hal baru serta akan lebih terbuka menerima informasi maupun teknologi yang baru. Tingkat pendidikan petani akan berpengaruh pada penerapan inovasi baru, sikap mental dan perilaku tenaga kerja dalam usahatani. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah dalam menerapkan inovasi. Pendidikan petani tidak hanya berorientasi terhadap peningkatan produksi tetapi mengenai kehidupan social masyarakat tani (Soeharjo dan Patong, 1999). Petani yang memiliki tingkat pendidikan tinggi maka akan relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi teknologi dan inovasi. Petani yang memiliki pendidikan rendah biasanya sulit melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat. Tingkat pendidikan yang dimiliki petani menunjukan tingkat pengetahuan serta wawasan petani dalam menerapkan teknologi maupun inovasi untuk peningkatan kegiatan usahatani (Lubis, 2000).

Menurut(Husinsyah, 2014)pendidikan membuat cara berpikir lebih baik (rasional) terhadap apa yang dilakukan dan mampu mengambil keputusan atas berbagai alternatif yang dihadapi. Menurut(Yulianti, 2015)mengemukakan bahwa pendidikan seseorang pada umumnya akan mempengaruhi cara berpikirnya. Dengan pendidikan maka seseorang akan memiliki pengetahuan yang luas, mudah mengembangkan ide-ide, mudah mengadopsi teknologi dan makin dinamis sikapnya terhadap hal-hal baru terutama dalam menghadapi perubahan yang lebih modern.

Pengalaman usaha tani (X4)

Hasil analisis data untuk variabel X4 diperoleh nilai t hitung = 2,332 dengan tingkat signifikan 0,025. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih kecil dari taraf 5% yang berarti H0 diterima. Artinya pengalaman usaha tani mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan petani. Pengalaman usahatani mempengaruhi petani dalam menjalankan kegiatan usahatani yang dapat dilihat dari hasil produksi. Petani yang sudah lama berusahatani memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang tinggi dalam menjalankan usahatani. Pengalaman usahatani dibagi menjadi tiga kategori yaitu kurang berpengalaman (<5 tahun), cukup berpengalaman (5-10 tahun) dan51 berpengalaman (>10 tahun). Petani memiliki pengalaman usahatani atau lama usahatani yang berbeda beda (Soeharjo dan Patong, 1999).

Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap sikap petani

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Dalam penelitian ini ada lima faktor independen variable bebas) yang berpengaruh terhadap pengetahuan petani. Variable tersebet adalah : umur (X1), tingkat pendidikan (X2), luas lahan (X3), lama usahatani (X4) dan karakteristik teknologi (X5). Berdasarkan Tabel 5, hasil analisis regresi menunjukan bahwa dari lima faktor yang diuji ternyata hanya tiga faktor yang berpengaruh terhadap sikap petani. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Y = 0,970 + 0,079 X1 + 0,047 X4 + 0,528 X5, dimana X1 = umur, X4 = lama usahatani, X5 = karakteristik teknologi.

Dari persamaan regresi tersebut terdapat bahwa faktor umur, lama usahatani dan karakteristik teknologi berpengaruh terhadap sikap petani.

Umur petani responden (X1)

Hasil analisis data untuk variabel X1 diperoleh nilai t hitung =3,249 dengan tingkat signifikan 0,02. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih kecil dari taraf 5% yang berarti H0 diterima. Artinya umur petani berpengaruh terhadap sikap petani dalam menerima suatu teknologi. Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 5 diketahuii bahwa umur berpengaruh terhadap sikap petani dalam menerima suatu teknologi. Umur petani responden di RT 005 kelurahan Tanah Rata sebagian besar berada pada kategori usia produktif yaitru 15-64 tahun sebanyak 43 0rang (95,56%). Hal ini menunjukan umur menjadi suatu faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam melakukan atau mengembangkan usahatani. Petani yang bekerja dalam usia produktif akan lebih baik dan maksimal dibandingkan usia non produktif. Selain itu umur juga dapat dijadikan tolak ukur untuk melihat aktivitas petani dalam bekerja ( Hasyim, 2006).

Pengalaman usaha tani (X4)

Hasil pengujian dengan SPSS untuk variabel X4 diperoleh nilai t hitung = 2,187 dengan tingkat signifikan 0,035. Dengan batas signifikan 0,05, nilai signifikan lebih kecil dari taraf 5% yang berarti H0 diterima. Artinya pengalaman usaha tani mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikap petani. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien regresi (R) X4 = 0,047. Variabel lama usaha tani memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi pengomposan kulit buah kakao berpengaruh positif terhadap sikap petani. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5 menunjukan bahwa pengalaman berusahatani berpengaruh terhadsap sikap petani dalam menerima suatu teknologi. Pengalaman usahatani responden di RT 005 kelurahan Tanah Rata sebagian besar berada pada kategori cukup berpengalaman (5-10 tahun) sebanyuak 25 orang (55,56%). Hal ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2005) semakin lama petani berusahatani, semakin cenderung mempunyai sikap yang lebih berani dalam menanggung resiko penerapan teknologi baru atau perubahan yang ada di bidang pertanian. Karena semakin lama petani berusaha tani mereka lebih respon dan cepat tanggap terhadap gejala yang mungkin akan terjadi.

Karakteristik teknologi (X5)

Hasil analisis data untuk variabel x5 diperoleh nilai t hitung = 6,559 dengan tingkat signifikan 0,000. Dengan batas signifikan 0.05, nilai signifikan lebih kecil dari taraf 5% yang berarti H0 diterima. Artinya karakteristik teknologi mempunyai pengaruh terhadap sikap petani. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien regresi (R) karakteristik teknologi X5 adalah 0,528. Variabel karakteristik teknologi memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi pengomposan kulit buah kakao berpengaruh positif terhadap sikap petani. Sedangkan signifikansi F adalah 0,01 < 0,05, ini berarti bahwa karakteristik teknologi berpengaruh terhadap sikap petani.

Pengomposan kulit buah kakao menjadi pupuk kompos sangat ramah terhadap lingkungan dan dapat mengubah karakteristik tanah, karena bahan-bahan untuk pembuatan berasal dari bahan baku alami dan mempunyai sifat yang efektif (mampu mengubah sifat tanah) sehingga tanah menjadi gembur, mempunyai daya simpan air yang tinggi serta dapat mengurangi gangguan hama dan penyakit, dimana responden mempunyai keinginan yang tinggi untuk membuat pupuk kompos dari kulit buah kakao. Pupuk organik yang biasa disebut kompos adalah hasil dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikro organisme (Nugroho, 2011). Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas pertanian, mengkonservasi hara, mengurangi pencemaran lingkungan, serta meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Hasil penelitian Yelianti, et al. (2009) menunjukkan bahwa melalui pengelolaan limbah kulit kakao menjadi bahan organik dalam bentuk kompos terbukti secara optimal mampu memperbaiki sifat fisik tanah seperti struktur tanah menjadi lebih gembur serta membantu penyerapan unsur hara bagi tanaman (Yelianti, et al., 2009). Selanjutnya Sudirja, et al. (2005) menyatakan bahwa pemanfaatan kulit buah kakao dapat dilakukan dalam bentuk kompos, pakan ternak, produksi biogas dan sumber pektin. Aplikasi kulit buah kakao sebagai sumber bahan organik telah terbukti memiliki komposisi hara maupun senyawa yang berpotensi sebagai medium tumbuh tanaman

Model Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan dan Sikap Petani

Pengetahuan Petani

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Untuk mengetahui model faktor–faktor yang mempengaruhi pengetahuan petani, maka memerlukan analisis lanjut dengan dengan stepwise. Model ini berkaitan erat dengan faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh pada pengetahuan petani. Dimana model pengetahuan ini diharapkan menjadi pedoman bagi para petani. Dari model yang terdapat pada Gambar 1, menunjukan bahwa variabel pendidikan dan lama usaha tani berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan petani. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan melalui penyuluhan dengan metode demonstrasi cara bagi petani guna meningkatkan pengalaman kerja mereka. Faktor pendidikan memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi pengomposan limbah kulit buah kakao secara in situ berpengaruh positif terhadap pengetahuan petani. Kompos kulit buah kakao ramah terhadap lingkungan dan dapat mengubah karakteristik tanah, karena bahan-bahan untuk pembuatan berasal dari bahan baku alamiah dan mempunyai sifat yang efektif (mampu mengubah sifat tanah) sehingga tanah menjadi gembur, mempunyai daya simpan yang tinggi. Variabel lama usaha tani memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa lama usaha tani berpengaruh positif terhadap pengetahuan petani Hal ini menunjukkan bahwa variabel luas lahan mempengaruhi pengetahuan petani.

Albertus Saru 2021 Hasil Lit. Tabel 1Sikap Petani

Model faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat sikap petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ. Model ini berkaitan erat dengan faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh pada sikap petani. Dari model yang diatas terdapat pada Gambar 2, menunjukan bahwa variabel umur, lama usaha tani, dan karakteristik teknologi berpengaruh terhadap sikap petani oleh karena itu perlu adanya peningkatan melalui penyuluhan dengan metode demonstrasi cara bagi petani guna meningkatkan pengalaman kerja mereka. Adapun faktor umur menunjukan mempunyai nilai signifikan terhadap tingkat sikap petani. Hal ini menunjukan umur menjadi suatu faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam melakukan atau mengembangkan usaha tani. Umur mempengaruhi perilaku petani terhadap pengambilan keputusan dalam kegiatan usahatani. Umur petani merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kemampuan kerja petani dalam melaksanakan kegiatan usahatani. Petani yang bekerja dalam usia produktif akan lebih baik dan maksimal dibandingkan usia non produktif. Selain itu, umur juga dapat dijadikan tolak ukur untuk melihat aktivitas petani dalam bekerja (Hasyim, 2006). 

Faktor lama usaha tani memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ berpengaruh positif terhadap sikap petani. Pupuk kompos kulit buah kakao perlu dibuat karena ramah terhadap lingkungan dan dapat mengubah karakteristik tanah, karena bahan-bahan untuk pembuatan berasal dari bahan baku alami dan mempunyai sifat yang efektif (mampu mengubah sifat tanah) sehingga tanah menjadi gembur, mempunyai daya simpan yang tinggi. Variabel karakteristik teknologi memiliki nilai koefisien yang positif hal ini berarti bahwa karakteristik teknologi berpengaruh positif terhadap sikap petani Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik teknologi mempengaruhi sikap petani.

KESIMPULAN

  1. Pengetahuan petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ sebagai upaya peningkatan produktivitas kakao rakyat terjadi perubahan dari sebelumnya sedang (2,17) menjadi tinggi (2,72). Sedangkan Sikap petani petani terhadap teknologi pengompos kulit buah kakao terjadi perubahan dari sebelumnya ragu-ragu (2,32) menjadi menerima (2,83.
  2. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ di RT 005 Kelurahan Tanah Rata yaitu variabel pendidikan(X2) dan Lama usahatani (X4), dengan persamaan: Y = 1,602 + 0,068 X2 + 0,083 X4, dimana X2 = pendidikan, X4 = lama usahatani.
  3. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi sikap petani terhadap teknologi pengomposan kulit buah kakao secara in situ di RT 005 Kelurahan Tanah Rata yaitu variabel umur(X1) lama usaha tani(X4) dan karakteristik teknologi (X5), dengan persamaan:  Y = 0,970 + 0,079 X1 + 0,047 X4 + 0,528 X5, dimana X1 = umur, X4 = lama usahatani, X5 = karakteristik teknologi.

E Library

1Penulis lahir di Sambi, Kelurahan Tanah Rata Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur pada tanggal 04 Oktober 1993. Pada tahun 2000 penulis masuk ke SDI Leke dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMP St. Yoseph Kisol dan tamat pada tahun 2009. Kemudian lanjut ke SMK N 1 Borong pada tahun 2009 dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2017 penulis melanjutkan studi di perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima pada jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering dan Program studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Penulis kemudian menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang melalui ujian tugas akhir dengan judul “Respon Petani Terhadap Teknologi Pengomposan Kulit Buah Kakao Secara In Situ Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas Kakao Rakyat Di Kelurahan Tanah Rata Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur”.

No events