Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Tingkat Pengetahuan Petani terhadap Penggunaan Pupuk Organik Cair Nasa pada Tanaman Cabai di Kelurahan Karangsiri, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan

Knowledge Level of Farmers on the Use of Nasa Liquid Organic Fertilizer in Chili Plants in Karangsiri Kelurahan Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan

Maria Goreti Manes1, Donatus Kantur2, Noldin M. Abolla2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2020

INTISARI. Penelitian tentang Tingkat Pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa Sebagai Upaya agar petani beralih dari pupuk kimia ke pupuk organic cair  telah dilaksanakan pada bulan September 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani dan faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organic cair Nasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode diskusi, cerama dan demonstrasi cara. Data analisis menggunakan Scoring dan Rank spearman.Hasil penelitian ini menunjukan tingkat pengetahuan petani terjadi perubahan dari sebelumnya sedang (2,04) menjadi tinggi (2,69). Faktor – faktor yang nyata mempengaruhi tingkat pengtahuan petani terhadap penggunaan pupuk organic cair Nasa adalah umur (rs=0,406*) pendidikan (rs= 0,439*), kesesuaian teknologi (rs= 0,444*).

Kata Kunci: pengetahuan, petani, cabai, pupuk organik cair Nasa

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Research on the level of farmers' knowledge on the use of organic liquid Nasa fertilizer as an effort to encourage farmers to switch from chemical fertilizers to liquid organic fertilizers was carried out in September 2020. This study aims to determine the level of farmers' knowledge and the factors that affect the level of farmers' knowledge of fertilizer use organic liquid Nasa. The method used in this study is the method of discussion, lectures and demonstrations. The data were analyzed using Scoring and Rank Spearman. The results of this study showed that the level of farmers' knowledge had changed from moderate (2.04) to high (2.69). Factors that significantly influence farmers' level of knowledge of the use of Nasa liquid organic fertilizer are age (rs = 0.406 *), education (rs = 0.439 *), suitability of technology (rs = 0.444 *).

Keywords: Knowledge level, The farmer, Chili plant, and Organic Liquid Nasa Fertilizer


PENDAHULUAN

Kelurahan Karangsiri merupakan salah satu kelurahan dari 11 Kelurahan dan 2 Desa yang ada di Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan luas kelurahan Karangsiri 4,2 km2 dengan jumlah penduduk di Kelurahan Karangsiri sebanyak 4.968 jiwa, terdiri dari laki-laki 2.462 jiwa dan perempuan 2.506 jiwa dalam 971 Kepala Keluarga. Mata pencaharian masyarakat di kelurahan ini bermayoritas pada bidang pertanian. Luas lahan pertanian yaitu 11,50 ha, dengan potensi tanaman jagung dan kacang-kacangan seluas 7,50 Ha, dan luas lahan untuk budidaya tanaman hortikultura yaitu 4 ha. Tanaman hortikultura yang dibudidayakan adalah cabai, petsai, kubis, sawi hijau, dan selada keriting. (Data Monografi Kelurahan Karangsiri, 2020).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS 2015-2016) Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan tingkat produksi cabai mengalami penurunan yaitu pada tahun 2015 produksi cabai mencapai 1.890 kwintal/189 ton, sedangkan pada tahun 2016 dengan jumlah produksi yaitu 1.470 kwinta/l47 ton. Data produksi Nasional tanaman cabai rawit pada tahun 2015 adalah sebesar 869,938 ton dan mengalami peningkatan pada tahun 2016 sebesar 915,988 ton. Budidaya tanaman cabai di Kelurahan Karangsiri telah lama dilakukan oleh petani namun sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal karena penggunaan pupuk kimia maupun bokashi dinilai tidak memberikan dampak yang nyata dalam pertumbuhan tanaman cabai. Dimana penggunaan pupuk kimia secara berlebih bedampak pada kerusakan tanah, tanaman dan penurunan produksi dalam waktu singkat. Salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman hortikultura adalah pemupukan. Pemupukan merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Lingga dan Marsono, 2003)

Sehingga untuk meningkatkan produksi tanaman cabai baik kualitas maupun kuantitas, dengan adanya teknologi pupuk organik cair Nasa petani cabai bisa beralih dari penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik. POC Nasa merupakan salah satu pupuk organik cair yang sangat bermanfaat untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, membantu mempercepat pembuahan dan meningkatkan hasil panen secara kualitas dan kuantitas. Hasil penelitian dari Yusni Fitra (2013) menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi POC Nasa berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah buah dan berta buah tanaman cabai.  Pupuk organik cair Nasa mengandung lebih banyak bahan organik dan bentuknya cair maka cara paling efektif adalah dengan dicampur dengan air bersih kemudian disemprotkan ke bawah dan stomata atau mulut daun. Pupuk organik cair Nasa berbentuk cair dan ini sudah berbentuk ion sehingga mudah diserap oleh tanaman dan warna dari pupuk ini adalah cairan berwarna coklat kehitaman seperti air teh kental dan baunya tidak begitu menyengat cenderung seperti bau minuman segar. Pupuk organik cair Nasa mengandung unsur hara makro, mikro lengkap, dapat mengurangi penggunaan Urea, SP-36 dan KCl + 12,5% - 25%, Kandungan unsur hara pupuk organik cair Nasa adalah N 0,12%, P2O5 0,03%, K 0,31%, Ca 60,4 ppm, Mn 2,46 ppm, Fe 12,89 ppm, Cu 0,03 ppm, Mo 0.2 ppm (Anonim, 2005).

Perbandingan pupuk organik dan anorganik untuk tanaman cabai adalah pupuk anorganik mengandung unsur hara yang relatif lebih tinggi dan lebih cepat tersedia bagi tanaman. Namun demikian, harga pupuk anorganik saat ini semakin meningkat akibat pengurangan subsidi pupuk pemerintah. Hal ini merugikan petani karena meningkatkan biaya produksi. Selain itu, menurut Susi (2009) penggunaan pupuk anorganik berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan, apalagi penggunaan terus menerus dalam waktu lama dapat menyebabkan produktivitas lahan menururn dan mikroorganisme tanah mati.  

POC Nasa memiliki beberapa keunggulan antara lain: 1. Meningkatkan produksi tanaman (kualitas dan kuantitas) dengan mengutamakan kelestarian lingkungan. 2. Memberikan semua jenis unsur tanah baik mikro maupun makro. 3. Memacu pertumbuhan serta akarnya, merangsang pengumbian, pembungaan dan pembuahan, juga dapat mengurangi kerontokan baik bunga maupun buah (mengandung hormone ZPT Auksin, Giberelin dan Sitokinin) (Pardaso, 2014). POC Nasa merupakan pupuk yang diproduksi oleh PT Natural Nusantara Indonesia, dan kemasannya berupa botol. Karena POC ini jenis baru maka perlu diperkenalkan kepada petani dengan menggunakan metode demonstrasi cara. Kelebihan metode demonstrasi cara yaitu sasaran akan lebih percaya pada sesuatu yang dilihat atau dikerjakan daripada yang didengar atau dibaca dan akan lebih percaya apabila dapat mencoba sendiri (Artini, 2000). Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitan tentang “Tingkat Pengetahuan Petani Terhadap Penggunaan Pupuk Organik Cair Nasa Di Kelurahan Karangsiri Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan”

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai di Kelurahan Karangsiri Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan.
  2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai di Kelurahan Karangsiri Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan

METODOLOGI PENELITIAN

Materi Penelitian

Materi penyuluhan yang digunakan berupa materi penyuluhan penggunaan pupuk organik cair Nasa dengan bahan-bahanyang digunakan yaitu pupuk organic cair Nasa dan air. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa ember, pengaduk, handsprayer dan kamera pada saat dokumentasi. Tanaman cabai merupakan salah satu sayuran yang dibutuhkan dalam konsumsi sehari-hari masyarakat. Dalam budidaya cabai rawit, berbagai metode dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil panen yang baik dan bermutu tinggi, salah satunya yaitu pemupukan (Ali, Hosir dan Nurlina 2017). Dosis yang dianjurkan dalam pengaplikasian pupuk organic cair Nasa yaitu 1-2 cc dilarutkan dalam 1 liter air (Yusni Fitra 2013).

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan suatu cara untuk memperoleh keterangan atau kenyataan yang benar untuk mengungkapkan data-data diperlukan dalam penelitian ini, baik itu data pokok maupun data penunjang.  Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah:

  1. Observasi dilakukan dengan melihat langsung pada kelompok tani untuk mengetahui kegiatan atau aktivitas kelompok tani.
  2. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data secara langsung dari informan melalui percakapan atau tanya jawab tentang hal yang akan diteliti, berdasarkan pedoman yang telah disiapkan peneliti. Wawancara dilakukan terhadap petani dengn menggunakan pedoman kuisisoner penelitian.
  3. Penyebaran kuisisoner dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani sebelum dan sesudah mengikuti penyuluhan tentang penggunaan pupuk organik cair Nasa
  4. Demonstrasi Cara. Metode demonstrasi cara merupakan salah satu cara penggunaan pupuk organik cair Nasa yang diberikan secara langsung kepada petani
  5. Kepustakaan merupakan cara pengumpulan data dari berbagai sumber seperti kepustakaan buku, laporan penelitian, jurnal penelitian, artikel dan melalui internet yang sesuai dengan masalah yang diteliti.

Jenis Dan Sumber Data Penelitian

Data adalah bahan mentah yang perlu diolah untuk menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta. Sesuai sumbernya data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data primer, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian atau bersangkutan yang melakukannya. (Supardi, 2013). Jenis data primer yaitu: kuisisoner atau pertanyaan yang sudah di susun oleh penulis. Data sekunder biasa disebut data yang bersedia (Supardi, 2013). Jenis data primer yaitu: berupa data pendudukyang diperoleh dari kantor Kelurahan Karangsiri.
  2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber-sumber yang telah ada. Data itu biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan atau dokumen penelitian terdahulu.

 

Instrumen Penelitian

  1. Kuesioner atau Daftar Pertanyaan. Kuesioner adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh responden atau orang tua/anak yang ingin diselidiki (Bimo Walgito, 2010: 72 dalam artikel Syamsul Hadi di 10.13).
  2. Teknologi yang diperkenalkan kepada petani penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai
  3. Materi Demonstrasi. Materi yang akan dibawakan atau yang akan disampaikan kepada petani yakni LPM dan synopsis serta media yang digunakan yaitu leaflet cara penggunaan pupuk organik cair Nasa.

Populasi dan Sampel Penelitian

Maria Goreti Manes 2020 Hasil Lit Tabel 1

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi, 2006). Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh anggota kelompok tani Tunas Muda berjumlah 16 orang, dan kelompok tani wanita Tunas Muda berjumlah 10 orang, karena 2 kelompok tani ini yang membudidayakan tanaman cabai. Maka jumlah populasi adalah 26 orang. Karena populasi kecil, maka penentuan sampel menggunakan sistem sensus yaitu semua populasi sebagai sampel.

Metode Analisis Data

Analisis Tingkat Pengetahuan Petani. Data penelitian yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner selanjutnya ditabulasi untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani sesudah melakukan penggunaan POC Nasa pada tanaman cabai. Untuk mengukur tingkat pengetahuan petani menggunakan rumus scoring menurut Umar (1999. Perhitungan nilai skor total atas skor tiap komponen yang diteliti yaitu dengan cara mengalikan frekuensi data dengan nilai bobot tertinggi dan terendah menggunakan rumus:Maria Goreti Manes 2020 Hasil Lit Tabel 1

  • Skor terendah = bobot terendah × jumlah pertanyaan × jumlah sampel
  • Skor tertinggi = bobot tertinggi × jumlah pertanyaan × jumlah sampel
  • Rentang Skala = Skor Tertinggi – Skor Terendah
  • Nilai total = Skor × Frekuensi
  • Nilai rerata skor = (rerata skor indikator 1 +…..+ rerata skor indicator ke-n) ÷ (Jumlah indikator)
  • Penyusunan tabel distribusi nilai skor untuk kategori responden, seperti Tabel 1.

Analisis faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan POC Nasa, menggunakan menggunakan analisa statistik non parametik dengan menggunakan korelasi Rank Spearman (rs) dalam Levis (2013). Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefesien korelasi yang ditemukan dapat berpedoman pada ketentuan yang tertera pada Tabel 2.

HASIL PENELITIAN

Tingkat Pengetahuan Petani

Maria Goreti Manes 2020 Hasil Lit Tabel 1Pengetahuan merupakan salah satu komponen perilaku petani yang menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru untuk keberlangsungan usaha taninya. Pengukuran tingkat pengetahuan petani dilakukan dengan memperkenalkan pupuk organik cair Nasa. Yang menjadi responden adalah petani yang membudidayakan tanaman cabai yaitu kelompok tani Tunas Muda dan kelompok wanita tani Tunas Muda berjumlah 26 orang. Untuk melihat sejauh mana tingkat pengetahuan petani dalam penggunaan pupuk organik cair Nasa, maka dilakukan evaluasi sebelum dan sesudah memperkenalkan teknologi dengan pembagian kuisioner. Secara terperinci rata-rata skor pengetahuan petani sebelum dan sesudah menerima penyuluhan tentang penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai disajikan dalam Tabel 3.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 3, menunjukkan bahwa sebelum dilakukan penyuluhan dan demonstrasi cara, indikator pengetahuan yang termasuk dalam kategori rendah yaitu cirri-ciri POC Nasa, dan aplikasi POC Nasa. Hal tersebut dikarenakan petani belum pernah mencoba dan mengetahui hasil dari penggunaan POC Nasa ini. Kemudian, indikator pengetahuan yang termasuk dalam kategori sedang yaitu produk olahan limbah ternak, pengertian POC Nasa, keunggulan POC Nasa, dan dosis aplikasi POC Nasa. Artinya, petani tidak berupaya mencaritahu lebih lanjut tentang POC Nasa tersebut. Indikator pengetahuan yang termasuk dalam kategori tinggi yaitu usia tanaman diberi POC Nasa dan jenis tanaman yang diberi POC Nasa. Hal ini dikarenakan setelah dilakukan penyuluhan petani telah mengetahui manfaat, keunggulan pupuk organik cair Nasa dan petani telah mencoba sendiri cara penggunaan dan aplikasi pupuk tersebut. Dan dalam kegiatan penyuluhan serta demonstrasi cara terjadi respon positif dari petani dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai teknologi yang disampaikan.

Petani menyadari bahwa kegiatan budidaya tanaman cabai dilakukan seperti penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sebelumnya merupakan kegiatan yang hanya menguntungkan petani dalam jangka waktu yang sangat pendek karena dapat merusak keadaan tanah serta berpengaruh pada kesehatan manusia. Dan penggunaannya pun tidak menunjukkan hasil yang maksimal. Sehingga kebiasaan tersebut dapat merugikan petani itu sendiri dalam jangka waktu yang panjang, seperti minat pembeli cabai dipasaran semakin rendah, produktivitas cabai tidak meningkat, kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Sejalan dengan hal itu, Artini (2000) mengemukakan bahwa kelebihan demonstarsi cara yaitu sasaran akan lebih percaya pada sesuatu yang dilihat atau dikerjakan daripada yang didengar atau dibaca akan lebih percaya apabila dapat mencoba sendiri, sehingga berpengaruh terhadap perubahan pengetahuannya. 

Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Petani

Maria Goreti Manes 2020 Hasil Lit Tabel 1Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organic cair Nasa meliputi, umur, pendidikan, lama bertani, dan karakteristik teknologi yang meliputi (keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan,dan keteramatan) diperoleh dengan menggunakan analisis rank spearman. Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 8 faktor yang diuji, hanya terdapat 3 faktor yang memiliki bentuk dan hubungan yang sama yaitu positif. 

Variabel umur mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai dan memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai korelasi 0,406 > 0,05(p) pada tingkat kepercayaan 95% dengan kekuatan hubungan sedang. Sebagian besar petani responden didominasi oleh kategori usia produktif yaitu 15-50 tahun sebanyak 14 orang (53,85%). Sehingga petani responden yang berusia produktif mampu menerima teknologi yang diperkenalkan serta mampu mencoba pada kegiatan usaha taninya. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Soekartawi (2005) bahwa umur petani akan menentukan proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak suatu idea atau gagasan yang baru, semakin produktif umur petani maka semangat keingintahuannya semakin besar sehingga lebih cepat mengalami perubahan perilaku maupun adopsi suatu inovasi.

Variabel pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai dan memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan nilai korelasi 0,439 > 0,05 (p) pada tingkat kepercayaan 95% dengan kekuatan hubungan sedang. Dari jumlah responden 26 orang, terdapat 14 orang dengan tingkat pendidikan SMA(53,85%) menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini sudah di bekali dengan tingkat pendidikan yang cukup baik sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan dengan mudah menerima, dan mencoba inovasi baru. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Soekartawi (2005) mengemukakan bahwa pendidikan sangat penting bagi seseorang karena dengan tingkat pendidikan maka akan lebih dinamis terhadap hal baru serta akan lebih terbuka menerima informasi maupun teknologi yang baru.

Variabel lama bertani memiliki hubungan tidak signifikan dengan kekuatan hubungan yang rendah terhadap pengetahuan petani dalam penggunaan POC Nasa dengan nilai rs= -0,124; P= 0,547. Dengan pengalaman usahatani yang lebih lama maka petani memiliki kemampuan untuk membuat perbandingan teknologi mana yang lebih baik untuk diterapkan pada usahatani mereka. Dan karena pupuk ini jenis baru, maka petani terlebih dahulu melihat hasil dari penggunaan pupuk ini agar dapat diterapkan pada usahataninya. 

Variabel karakteristik teknologi mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organik cair Nasa pada tanaman cabai dan memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan nilai korelasi 0,444 > 0,05 (p) pada tingkat kepercayaan 95%. Hal ini dikarenakan teknologi yang disuluhkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarkat setempat dan proses penggunaan POC Nasa dapat disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan petani. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Kotler dan Koller (2013) tingkat keserasian dari inovasi dianggap konsisten bila sesuai dengan nilai-nilai, pengalaman dan kebutuhan yang ada.

Variabel keuntungan relatif, kerumitan, ketercobaan dan keteramatan memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap tingkat pengetahuan petani penggunaan POC Nasa dengan nilai rs berturut-turut 0,015, 0,269, 0,112, dan 0,028. Secara umum dapat dikatakan bahwa teknologi yang disuluhkan merupakan teknologi jenis baru oleh karena itu untuk meningkatkan pengetahuan petani, terlebih dahulu harus dicoba dan petani mengamati sendiri hasil dari penggunaan pupuk tersebut.

KESIMPULAN

Tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organic cair Nasa yang diuji terjadi perubahan pengetahuan petani dari sebelumnya sedang (2,04)  menjadi tinggi (2,69). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani terhadap penggunaan pupuk organic cair Nasa yaitu, umur (rs=0,406), pendidikan (rs=0,439), dan faktor eksternal yaitu kesesuaian teknologi (rs = 0,444).

E Library

1Penulis dilahirkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan tepatnya di Kecamatan Kota Soe, Kelurahan Nonohonis pada tanggal 06 Mei 1998. Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Katolik Yaswari Soe V Kabupaten Timor Tengah Selatan pada tahun 2010. Pada tahun itu juga peneliti melanjutkan pendidikan di SMP Katolik Sint Vianney Soe dan tamat pada tahun 2013, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Soe pada tahun 2013 dan selesai pada tahun 2016. Pada tahun 2016 penulis melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tepatnya di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Peneliti menyelesaikan kuliah Diploma Empat (D4) pada tahun 2020.

No events