Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Evaluasi Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi pada Tanaman Tomat, Cabai dan Sawi oleh Petani di Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai

Evaluation of Implementation of Bokashi Fertilizer on Tomato, Chili and Mustard Plants by Farmers in Cibal District, Manggarai Regency

Theresia Adirmayana Ajung1, Masria2, Abdul Kadir Djaelani3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengukur tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi  serta untuk mengetahui hubungan antara faktor internal dan eksternal terhadap tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi di Kec. Cibal Kab. Manggarai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey dengan jumlah responden sebanyak 64 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kepustakaan, dokumentasi dan pengisisan kuisioner. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis skoring dan uji korelasi rank spearman (rs). Berdasarkan hasil analisis menggunakan skoring, tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi oleh petani di Kec. Cibal berada pada kategori tinggi skor 2,78. Adapun faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap tigkat penerapan pupuk bokashi oleh petani adalah intensitas penyuluhan (r = 0,692**).

Kata Kunci: evaluasi, pupuk bokashi, petani APH Kec. Cibal

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. This study was to measure the Implementation level of bokashi on tomato, chili and mustard plants, and to determine the relationship between internal and external factors on the implementation level. The method used in this research was a survey method with 64 farmers as respondents. Data was collected through observation, interviews, literature, documentation, and questionnaires, and analyzed using scoring analysis and Spearman rank correlation test. The results showed that the implementation level of bokashi was in the high category with a score of 2.78. The factor that had a significant and strong relationship with the level of application of bokashi fertilizer by farmers was the intensity of extension (r = 0.692**).

Keywords: evaluation; bpkasi fertiloizer; APH farmers Cibal region


PENDAHULUAN

Kecamatan Cibal merupakan salah satu kecamatan dalam wilayah administrasi Kabupaten Manggarai, dengan jumlah penduduknya 27.779 jiwa,  dengan luas wilayah mencapai 10.574 Ha, terbagi menjadi 1 kelurahan dan 16 desa. Potensi yang ada di Kecamatan Cibal yaitu tersedianya lahan budidaya tanaman sayur-sayuran dan  pupuk kandang yang melimpah. Masyarakat pada umumnya banyak yang bermatapencaharian sebagai petani. Sistem usahatani masyarakat petani pada umumnya masih secara tradisional, introduksi teknologi pertanian masih kurang, pola usahataninya berupa pola konvensional, dimana semua usahatani tergantung pada pupuk kimia dan tanaman tumbuh tergantung pada kondisi alam, sumberdaya manusia (SDM) masih rendah/terbatas, produktifitas hasil rendah, keadaan topografi lahan bergelombang, dengan jenis tanah berpasir.

Strategi untuk meningkatan produktivitas di Kecamatan Cibal diwujudkan melalalui penerapan teknologi pupuk bokashi. Inovasi pupuk bokashi ini diperkenalkan melalui program Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Cibal sejak tahun 2015 kepada petani sayuran di Kecamatan Cibal, yang dimana petani tersebut telah mempunyai pengetahuan lokal dalam bertanam. Kecamatan Cibal memiliki 1 perkumpulan khusus petani hortikultura yaitu asosiasi petani hortikultura (APH) yang terdiri dari 33 kelompok tani dari 10 desa yang sudah mendaftarkan diri menjadi anggota asosiasi ini.

Teknologi yang sudah diperkenalkan ini telah diterapkan oleh semua petani yang ikut tergabung dalam APH Kec. Cibal  dalam berusahatani sebagai pengganti pupuk kimia khususnya pada tanaman tomat, cabai dan sawi, namun permasalahannya adalah belum diketahui sejauhmana tingkat penerapan bokashi, apakah sudah sesuai atau belum dengan kaidah teknik,  dimana teknik pemupukan dasar (5 T; tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis, tepat tempat, dan tepat cara) belum diterapkan dengan baik. Sehingga hal ini berdampak pada hasil yang diperoleh belum maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Terkait uraian di atas, maka penelitian ini difokuskan pada evaluasi terhadap faktor-faktor penyebab mengapa tingkat penerapan pupuk bokashi belum sesuai kaidah teknik.

Evaluasi merupakan bagian dari system manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Menurut pengertian istilah “evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan” (Yunanda, 2009). Selanjutnya dijelaskaHn bahwa evaluasi harus valid dan reliable sehingga harus menggunakan alat ukur yang berbeda untuk mengukur tujuan evaluasi yang berbeda pula (Mardikamto, 2003).  

Hasil evaluasi selalu dinyatakan dalam bentuk kuantitatif agar jelas dan dapat diketahui tingkat pencapaian tujuan serta tingkat penyimpangan pelaksanaannya (Mardikanto, 2003). Selanjutnya data kuantitatif ini juga perlu diuraikan dalam bentuk kualitatif, agar dapat diketahui faktor-faktor penentu keberhasilan penyebab kegagalan, dan faktor penunjang serta penghambat keberhasilan tujuan program yang direncanakan. Oleh karena itu, penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi Pada Tanaman Tomat, Cabai, dan Sawi Oleh Petani Di Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai”. 

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengukur tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi di Kec. Cibal Kab. Manggarai.
  2. Mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal terhadap tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi di Kec. Cibal Kab. Manggarai.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat dekriptif kualitatif  dengan mengambil sampel pada populasi petani tomat, sawi dan cabai yang ada di Kecamatan Cibal. Unit analisanya adalah petani yang tergabung dalam sentra asosiasi petani hortikultura (APH) Kecamatan Cibal. Metode survey merupakan penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara factual baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok masyarakat di suatu daerah (mashyuri, 2008).

Teknik Pengumpulan Data 

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik sebagai berikut: 

  1. Observasi merupakan aktivitas penelitian dalam rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui proses pengamatan langsung di lapangan. Observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian (W. Gulo, 2002: 116). Metode observasi dilakukan di lokasi sasaran penelitian dengan cara melakukan pengamatan untuk mengetahui penerapan pupuk bokashi yang ada.
  2. Metode wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. Alat pengumpulan data dalam teknik wawancara, berupa pedoman (guide sheet) wawancara, yang berisi daftar pertan yaan yang telah disusun peneliti untuk ditanyakan kepada responden dalam suatu wawancara (Muhidin dan Abdurahman, 2007).
  3. Kuisioner merupakan satu mekanisme pengumpulan data yang efisien, penyebaran daftar pertanyaan kepada responden dimana isi pertanyaan sesuai yang hendak diteliti. Metode kuisioner dilakukan dengan cara menyebarkan lembaran kuisioner atau pertanyaan kepada responden dan responden mengisi sesuai pemahamannya.
  4. Metode dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen dari lembaga/instansi terkait, dengan menggunakan instrumen panduan pengambilan data, fotocopy, catatan, dan pengambilan gambar (foto). Dokumentasi yang dimaksud yaitu dokumentasi lokasi penelitian, kegiatan wawancara ataupun kelompok tani.
  5. Metode kepustakaan yaitu teknik yang digunakan untuk melengkapi semua tulisan ini dimana peneliti mengambil dari berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, dan melalui internet yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Jenis dan sumber data penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

  1. Data primer, adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian. Data ini diperoleh melalui wawancara langsung maupun melalui kuisioner yang sudah disediakan.
  2. Data sekunder, adalah data pendukung yang diperoleh dari lembaga terkait dan diperoleh dari berbagai sumber antara lain, buku, hasil penelitian, dan referensi pustaka lainnya.

Instrumen Penelitian

Theresia A. Ajung 2021 Hasil Lit. Tabel 1Dalam proses pengumpulan data bahan-bahan yang digunakan yaitu kuisioner dan alat tulis, buku sumber serta seperangkat laptop untuk membantu dalam penyelesaian data dan juga memperlancar mencari informasi pendukung.

Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang menerapkan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi di 10 desa yang tergabung dalam  komunitas asosiasi petani hortikultura (APH) Kecamatan Cibal yang berjumlah 180 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling (sampling secara sengaja) dimana teknik penarikan sampel berdasarkan pada responden yang dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian. Penentuan jumlah sampel dengan Rumus Slovin. Berdasarkan rumus Slovin, maka perhitungan sampel sebanyak n = 64 .

Metode Analisis Data

Theresia A. Ajung 2021 Hasil Lit. Tabel 1

Analisis Tingkat Peerapan Teknologi Pupuk Bokashi

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif sebagai metode utama dan didukung oleh metode kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk pengumpulan data hasil kuisioner dan pentabulasian data sebelum dianalisa. Data yang dianalisa bersumber dari jawaban responden terhadap pertanyaan kuisioner yang diberikan. Pilihan jawaban diberi skor 1-3 untuk masing-masing variabel yang diamati (Umar, 1999). Untuk mengukur tingkat penerapan petani, menggunakan rumus Skoring menurut Sugiyono (2009).

Analisis Hubungan Setiap Faktor Terhadap Tingkat Penerapan

Untuk menganalisis apakah ada hubungan tingkat penerapan  petani dengan faktor internal dan eksternal, menggunakan rumus Uji Korelasi Rank Spearman dengan rumus Siegel (1997). Untuk pengujian tingkat signifikan hubungan digunakan nilai probabilitas (p) atau nilai signifikan hasil analisis menggunakan program SSPS dibanding dengan taraf nyata (α) = 0,05 dengan kaidah keputusan dalam penarikan kesimpulan

  • Jika nilai probabilitas (P) < 0,01 = sangat signifikan (**)
  • Jika nilai probabilitas (P) < 0,05 = signifikan (*)
  • Jika nilai probabilitas (P) > 0,05 = tidak signifikan

Untuk dapat memberikan tafsiran terhadap korelasi yang ditemukan tersebut, berpedoman pada Sugiyono, (2012).

HASIL PENELITIAN

Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Theresia A. Ajung 2021 Hasil Lit. Tabel 1Tingkat penerapan pupuk bokashi pada usahatani tomat, cabai dan sawi dinyatakan berdasarkan nilai skor. Kriteria yang digunakan untuk memenuhi tingkat penerapan pupuk bokashi pada lahan usahatani oleh para anggota asosiasi petani hortikultura (APH), dibagi dalam lima (5) kategori sebagaimana diuraikan pada metode penelitian. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui, bahwa tingkat penerapan pupuk bokashi yang dicapai oleh petani responden yang tergabung dalam kelompok APH dapat dilihat pada Tabel 3.

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 3, tingkat penerapan pupuk   bokashi oleh petani di Kec. Cibal secara keseluruhan memperoleh total nilai skor akhir sebesar 891 dengan skor rata-rata sebesar 2,78 (tinggi). Hal ini berarti bahwa petani sudah mengetahui secara umum berkaitan dengan pernyataan yang telah diberikan dalam bentuk kuisioner tentang penerapan teknik pemupukan dasar (5 T; tepat cara, tepat waktu, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat tempat). Penerapan pupuk bokashi oleh petani tergolong tinggi dikarenakan petani mampu menjelaskan secara baik hingga menerapkan prinsip penerapan dan komponen standar penggunaan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi. Prinsip tersebut merupakan standar yang petani gunakan dalam menerapkan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi.

Keberhasilan penerapan suatu teknologi baru oleh petani di pengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri petani maupun dari luar. Dalam penelitian ini akan diidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam menerapkan teknologi bokashi yaitu karateristik petani, ketersediaan bahan baku, kesesuaian teknologi dan intensitas penyuluhan. Faktor-faktor tingkat penerapan teknologi bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi oleh petani responden yang tergabung dalam kelompok APH dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Faktor-faktor Hasil analisis Tingkat Penerapan Teknologi Bokashi pada Tanaman Tomat, Cabai dan Sawi

Theresia A. Ajung 2021 Hasil Lit. Tabel 1Hasil analisis deskriptif Tabel 4 menunjukan bahwa dari 4 faktor yang di uji terlihat bahwa faktor kesesuaian teknologi memiliki nilai skor tertinggi (2,92) dibanding dengan faktor Karateristik petani, ketersediaan bahan baku, dan  intensitas penyuluhan. Artinya dari hasil analisis membuktikan bahwa petani mempunyai ketertarikan untuk  menerima dan menerapkan teknologi bokashi dalam usahatani tanaman tomat, cabai dan sawi lebih dominan dipengaruhi oleh faktor kesesuaian teknologi dibandingkan dengan faktor lainnya.

Kesesuaian teknologi yang diuji pada penelitian ini, adalah kesesuaian antara penggunaan pupuk bokashi dengan kondisi lingkungan fisik, sosial, maupun ekonomi petani. Hasil wawancara dan pengisian kuisioner menunjukkan bahwa petani responden banyak yang menjawab dengan kategori tinggi, karena menurut petani, penerapan pupuk bokashi ini sangat sesuai dengan kebutuhan petani dalam mengatasi masalah penurunan produktivitas. Petani berpendapat, bahwa penggunaan pupuk bokashi juga dapat menjaga kestabilan produksi sesuai dengan kebutuhan, sesuai juga dengan kondisi dan keadaan lahan yang bergelombang dengan jenis tanah yang berpasir. 

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Theresia A. Ajung 2021 Hasil Lit. Tabel 1Faktor-faktor yang diduga memiliki hubungan dengan tingkat penerapan petani terhadap penggunaan pupuk bokashi dibedakan menjadi 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan lama berusahatani dan kemampuan untuk mengolah pupuk bokashi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari ketersediaan bahan baku, kemampuan untuk mengolah, kesesuaian teknologi, dan intensitas penyuluhan. Hasil analisis korelasi faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat penerapan petani dapat disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis korelasi Faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan tingkat penerapan petani dalam penggunaan pupuk bokashi

Berdasarkan hasil Tabel 5 analisis Rank Sperman menunjukan bahwa  dari 8 variabel diatas yaitu umur, pendidikan, lama berusahatani, luas lahan, kemampuan untuk mengolah pupuk bokashi, ketersediaan bahan baku, kesesuaian teknologi, intensitas penyuluhan memiliki arah dan kekuatan hubungan yang berbeda-beda terhadap tingkat penerapan petani dalam menerapkan pupuk bokashi. Untuk mengetahui perbedaan masing-masing faktor terhadap tingkat penerapan petani, diuraikan sebagai berikut:

Hubungan Umur Petani Terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi 

Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa hasil analisis umur terhadap tingkat penerapan petani memiliki hubungan yang sangat rendah dan bernilai negative karena nilai koefisien korelasinya yaitu -0,080; P= 0,531, yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat penerapan petani. Secara umum, dikatakan bahwa semakin tinggi (lebih produktif)  umur petani maka semakin mudah untuk menerapkan teknologi dalam hal ini penerapan pupuk bokashi pada tanaman sawi, tomat, dan cabai sehingga dapat meningkatkan kemampuan ekonomi yang baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Samun  et al,  (2011) bahwa petani dengan umur produktif, lebih mudah dan tanggap terhadap sesuatu yang baru (teknologi) apalagi teknologi tersebut memberikan manfaat dan keuntungan baginya.

Hubungan Tingkat Pendidikan Terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi    

Berdasarkan Tabel 5 di atas, diketahui bahwa tingkat pendidikan dan tingkat penerapan petani memiliki kekuatan hubungan yang sangat rendah karena nilai koefisien korelasinya yaitu 0,005; P= 0,967, yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat penerapan petani. Haryani (2009) menujukkan bahwa semakin tinggi pendidikan yang ditempuh petani maka semakin tinggi kemampuan mereka untuk mengadopsi teknologi. Hal ini dilihat dari pendidikan responden yang masuk pada kategori  rendah karena yang mendominasi tingkat pendidikan yaitu jenjang SD. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat penerapan teknologi oleh petani karena dapat membuat petani untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak, semakin tinggi pendidikan petani, maka semakin tinggi pula tingkat penerapan petani terhadap suatu inovasi atau teknologi baru, hal ini disebabkan karena perlu adanya pemahaman yang baik tentang suatu inovasi baru. Di samping itu, tidak signifikannya pendidikan terhadap tingkat penerapan pupuk bokashi oleh petani menunjukkan bahwa, baik yang tingkat pendidikannya rendah maupun yang tingkat pendidikannya tinggi di Kec. Cibal mempunyai kesempatan yang sama dalam menerapkan pupuk bokashi. 

Hubungan Antara Lama Berusahatani terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Dari Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa hasil analisis lama berusahatani terhadap tingkat penerapan petani diperoleh nilai koefisien korelasi 0,092 dengan nilai  signifikan 0,471>0,01. Melihat hasil tersebut dapat diketahui bahwa terdapat kekuatan hubungan yang sangat rendah antara lama berusahatani dengan tingkat penerapan pupuk bokashi oleh petani. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara lama berusahatani dengan tingkat penerapan petani. Saepudin dan dan Astuti (2012) menunjukkan bahwa lama berusahatani yang relative singkat dapat ditingkatkan dengan mengikuti pelatihan yang diberikan dimana dengan pelatihan dan diskusi tersebut dapat membantu meningkatkan wawasan responden dalam usahatani yang dikelola.                                                                                                                                                                                                                     

Hubungan Antara Luas Lahan terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang sangat rendah antara luas lahan dengan tingkat penerapan pupuk bokashi oleh petani. Hal ini dapat dilihat dari  nilai koefisien korelasi 0,087 dengan nilai signifikan 0,493>0,01. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara luas lahan terhadap tingkat penerapan pupuk bokashi, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa luas lahan petani tidak ada hubungan dengan tingkat penerapan teknologi pupuk bokashi oleh petani di Kec. Cibal.

Hal tersebut di atas tidak sejalan dengan pendapat Lionberger dalam Mardikanto (1966), yang mengemukakan bahwa semakin luas lahan biasanya semakin cepat mengadopsi, karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik dan lebih berorientasi pada ekonomi komersial.   

Hubungan Antara Kemampuan Untuk Mengolah Pupuk Bokashi Terhadap Tingkat Penerapan Petani

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang  rendah antara kemampuan untuk mengolah pupuk bokashi dengan tingkat penerapan petani dalam penggunaan pupuk bokashi. Hal ini dapat dilihat dari  nilai koefisien korelasi 0,202 dengan nilai signifikan 0,110>0,01. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kemampuan mengolah pupuk bokashi terhadap tingkat penerapan pupuk bokashi petani di Kec. Cibal.  Namun yang terjadi di lapangan, kekuatan hubungan ini sangat berbanding terbalik dengan keinginan petani responden, karena petani responden memiliki niat baik untuk bertindak menerapkan anjuran penggunaan pupuk bokashi karena dukungan aspek lain yang positif. Hal ini sesuai uraian Sulistiyono (2010) tentang kemampuan petani untuk mengolah pupuk bokashi adalah tidak hanya ditentukan oleh sikap tetapi juga ditentukan oleh lingkungannya.

Hubungan Antara Ketersediaan Bahan Baku Terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi 

Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa variabel ketersediaan bahan baku dengan tingkat penerapan petani terhadap penggunaan pupuk bokashi memiliki kekuatan hubungan yang rendah tetapi berkorelasi signifikan pada 0,05 (0,027<0,05), dan memiliki nilai korelasi 0,277*. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pupuk bokashi sangat bisa dicobakan oleh semua petani di Kec. Cibal karena banyaknya ketersediaan bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan pupuk bokashi.  Hal ini sejalan dengan dengan pendapat Subejo (2010) menunjukkan bahwa  ketersediaan bahan baku yang tinggi, dapat memenuhi kebutuhan petani responden dalam memanfaatkan bahan baku yang tersedia dalam pembuatan teknologi pupuk bokashi. 

Hubungan  Antara Kesesuaian Teknologi Terhadap Tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Kesesuaian teknologi dalam penelitian ini adalah kesesuaian penerapan pupuk bokashi dengan lingkungan setempat, baik dari segi lingkungan, fisik, sosial dan kemampuan ekonomi. Menuruta Harianta (2010) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari inovasi itu sendiri. Inovasi yang akan diintroduksikan harus mempunyai banyak kesesuaian atau daya adaptif terhadap kondisi biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada pada petani, untuk itu inovasi yang ditawarkan harus inovasi yang tepat guna. Dilihat dari Tabel 5 menunjukkan bahwa kesesuaian teknologi dengan tingkat penerapan petani dalam penggunaan pupuk bokashi memiliki kekuatan hubungan yang sangat rendah dengan nilai koefisien korelasi 0,102 dan nilai signifikan 0,422>0,01. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, dalam penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi, bisa membantu meningkatkan produktifitas petani sehingga petani mendapatkan hasil yang sangat baik dan hasilnya dapat membantu perekonomian keluarga.

Hubungan Antara Intensitas Penyuluhan Terhadap tingkat Penerapan Pupuk Bokashi

Dari tabel analisis di atas (Tabel 5)  diketahui bahwa intensitas penyuluhan dengan nilai kofisien korelasi 0,692** dan nilai signifikan 0,000<0,01, yang artinya intensitas penyuluhan memiliki nilai yang sangat signifikan terhadap tingkat penerapan petani. Hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi antara penyuluh dan petani, oleh sebab itu petani dapat terlibat secara aktif dalam memanfaatkan teknologi-teknologi baru lagi. Menurut (Subejo, 2009) bahwa dalam gagasan tentang partisipasi publik dan komunikasi dua arah terdapat dua unsure yang ingin dikembangkan sekaligus, yaitu: prakarsa dari bawah sesuai dengan kebutuhan dan kendali atau pengawasan sosial yang efektif. Penyuluh umumnya akan mempengaruhi cara berpikir dan sikap petani karena tingkat kedekatan dan penguasaan suatu teknologi dapat di lihat dari seberapa sering penyuluh bertemu dan bertatap muka dengan petani dalam hal penyampaian informasi kepada petani. Berdasarkan hasil penelitian, intensitas penyuluhan memiliki kekuatan hubungan yang kuat dengan tingkat penerapan petani dalam penerapan pupuk bokashi, karena sudah dibuktikan dengan jawaban responden pada kuisioner yang sudah dibagikan saat penelitian berlangsung.

KESIMPULAN

Tingkat penerapan pupuk bokashi pada tanaman tomat, cabai dan sawi oleh petani di Kecamatan Cibal, tergolong tinggi dengan nilai rata-rata skor sebesar 2,78, diperoleh dari rata-rata indicator tingkat penerapan teknologi (5 T).  Faktor internal dan eksternal yang memiliki hubungan dengan tingkat penerapan pupuk bokashi oleh petani yaitu: intensitas penyuluhan dengan nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,692** 

E Library

1Penulis dilahirkan di Kupang pada tanggal 15 September 1998. Penulis memulai pendidikan Sekolah Dasar di SDI Lujang pada tahun 2004 dan tamat pada tahun 2010. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Cibal dan tamat pada tahun 2013. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Cibal dan tamat pada tahun 2016. Kemudian pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK), Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering (PPLK) dan penulis menyelesaikan studi pada tahun 2021. 

No events