Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Pengetahuan dan Sikap Petani terhadap Penerapan Teknologi P3S pada Tanaman Kakao di Desa Ngampang Mas Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur

Knowledge and Attitudes of Farmers to the Application of P3S Technology on Cocoa Plants in Ngampang Mas Village, Borong District, East Manggarai Regency

Bonefantura Jehadu1,  Rupa Matheus2Yason E. Benu2- Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi P3S (Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi) pada tanaman kakao dan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap petani dalam mengadopsi teknologi P3S. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan demonstrasi cara. Sampel penelitian ini adalah 44 petani sebagai responden, ditentukan melalui teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner dan wawancara, dan dianalisis menggunakan analisis distribusi frekuensi dan analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kakao memberikan tangapan yang positif tentang teknologi P3S pada kakao. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan petani adalah pola budidaya tanaman kakao (rs = 0,445**), intensitas penyuluhan (rs = 0,369*), dan karakteristik teknologi (rs = 0,444*). Sedangkan, factor-faktor yang berhubungan dengan sikap petani adalah pola budidaya tanaman kakao (rs = 0,440**), dan intensitas penyuluhan (rs = 0,339*).

Kata Kunci: pengetahuan, sikap, P3S, kakao

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The study was to determine the knowledge and attitudes of farmers to P3S technology (pruning, fertilizing, frequent harvesting and sanitation) on cocoa plants and to determine the factors related to farmers' knowledge and attitudes in adopting P3S technology. This study used a descriptive method with a demonstration approach. The sample of this research is 44 farmers as respondents, determined through random sampling technique. Data were collected through questionnaires and interviews, and analyzed using frequency distribution analysis and Spearman rank correlation analysis. The results showed that cocoa farmers gave a positive response to P3S technology on cocoa. Factors related to farmer knowledge were cocoa cultivation pattern (rs = 0.445**), extension intensity (rs = 0.369*), and technological characteristics (rs = 0.444*). Meanwhile, factors related to farmers' attitudes were the pattern of cocoa cultivation (rs = 0.440**), and the intensity of extension (rs = 0.339*).

Keywords: knowledge, attitude, P3S, cocoa

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Dokumentasi 3


PENDAHULUAN

Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub sector perkebunan yang merupakan komoditas unggulan nasional. Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkebunan kakao terluas di dunia. Dalam kurun waktu sekitar 165 tahun sejak pertama kali dikembangkan, luas areal perkebunan kakao di Indonesia telah mencapai 1.425.216 Ha. Total areal perkebunan kakao di Indonesia tersebut 92,17% diantaranya merupakan kebun milik rakyat, 3,87% milik swasta dan hanya 3,96% yang merupakan milik negara (Direktorat Jendral Perkebunan, 2016).

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir sejak 2012 - 2016 produksi tanaman kakao di Kabupaten Manggarai Timur fluktuatif (kurang stabil). Pada tahun 2016, produksi kakao di Manggarai Timur (Matim) sebesar 906,78 ton dengan luas lahan seluas 2.915,54 hektar. Dari luas areal tersebut, sebesar 1.438,34 hektar merupakan luas arael yang sudah mengahasilkan, Produksi tanaman kakao justru mengalami penurunan sebesar 38,62 persen dari tahun sebelumnya (2015) dengan total 1.477,22 ton (BPS,2019). Hasil kakao mengalami penurunan drastis hingga 60 % jika dibandingkan dengan tahun 2014. Sebelumnya dalam 1 hektar bisa menghasilkan 800 kilogram, tetapi kini mengalami penurunan hingga 200 kg/ha (BPS, 2019).

Salah satu wilayah penghasil kakao rakyat adalah Desa Ngampang Mas yang berada di Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur, Wilayah desa ini memiliki tanah yang subur dan didukungkan dengan iklim yang baik sehingga dapat dikembangkan berbagai macam tanaman perkebunan seperti kakao, cengkeh, kopi, kemiri dan komoditi lainya. Salah satu jenis tanaman unggulan yang dibudidayakan petani adalah tanaman kakao, luas lahan tanaman kakao mencapai 25 hektar, lebih luas dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainya (Profil Desa Ngampang Mas, 2021). Produksi tanaman kakao  di Desa Ngampang Mas mencapai 138 kg/ha biji kakao. Produksi kakao masih lebih rendah jika dibandingkan dengan produksi nasional yang telah mencapai 743 kg/ha biju kakao BPS kakao Indonesia (2019). Tekologi produksi yang diterapkan petani lahan kering, baik untuk tanaman setahun maupun tanaman tahunan relatif masih sederhana (Matheus, 2017). Rendahnya produksi kakao karna sistem budidaya kakao masih secara tradisional dan pemeliharaannya juga tidak di perhatikan sehingga tanaman kakao mengakibatkan produksi menurun.

Rendahnya Produktifitas kakao di sebabkan oleh salah satu faktor yaitu hama pengerek buah kakao. Menurut Wardojo (1980), pengerek buah kakao dapat menyebabkan kehilangan peroduksi biji kakao sebesar 82,20%. selama ini petani kakao di desa Ngampang Mas belum perna melakukan upaya pengendalian hama. Hal ini disebabkan karena pengetahuan petani sangat minim dalam teknis budidaya. Disisi lain perhatian penyuluh dalam melakukan penyuluhan, pendampingan kepada petani kakao sangat minim. Masalah pelayanan dan pendampingan penyuluhan pertanian lapangan (PPL) yang tidak maksimal, juga menjadi factor penentu dalam adopsi teknologi (Matheus, 2019).

Memperhatikan permasalahan diatas maka perlu ada upaya peningkatan pengetahuan petani dalam hal teknik pengelolaan tanaman kakao yang sudah menghasilkan. Salah satu paket teknologi yang dapat di terapkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman kakao di desa Ngampang Mas adalah dengan teknologi Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi (P3S) secara rutin. Metode P3S adalah salah satu metode untuk menangani dan mengendalikan penggerek buah kakao di mana dapat memperbaiki tanaman kakao melalui empat cara yaitu pemangkasaan, pemupukan, panen sering dan sanitasi (Heliawati & Nurlina, 2009). Agar teknologi P3S dapat diterima dan diterapkan oleh petani, maka diperlukan metode penyuluhan yang dianggap lebih efektif. Salah satu metode penyuluhan yang dianggap cukup efektif adalah metode penyuluhan demonstrasi cara (Demcar). Demcar adalah metode demonstrasi memperlihatkan3 suatu cara kerja baru atau suatu cara yang telah disempurnakan. Dengan adanya metode demcar ini maka akan mudah terjadi proses tranformasi teknologi karena indra petani difokuskan pada yang di demonstrasikan Dengan demikian, akan berdampak pada perubahan perilaku petani tersebut.

Menurut Suhardiyono (1992), penyuluhan pertanian merupakan Pendidikan non formal bagi petani beserta keluarganya dimana kegiatan dalam alih pengetahuan dan keterampilan dari penyuluh lapangan kepada petani dan keluarganya berlansung melalui proses belajar mengajar. Tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk membantu merubah pola pikir mereka dalam usaha tani yang selama ini kurang efisien. Dengan penyuluhan maka dapat membantu mereka merubah perilaku terutama pengetahuan, dan sikap. Oleh karena itu penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Pengetahuan Dan Sikap Petani Terhadap Penerapan Teknologi P3s Pada Tanaman Kakao di Desa Ngampang Mas Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi P3S pada tanaman kakao di desa Ngampang Mas
  2. Mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal dengan pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi P3S pada tanaman kakao di desa Ngampang Mas.

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian Dan Teknik Pengumpulan Data.  Penelitian ini menggunakan metode deskriprif yaitu memberikan gambaran tentang penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao dengan melibatkan petani responden yang di mulai dari tahap awal persiapan, penyuluhan samapi demonstrasi cara. Teknologi yang di demonstrasi cara dalam penelitian ini adalah teknologi pemangkasan, pemupukan, panen sering dan sanitasi (P3S) pada tanaman kakao sebagai salah satu model teknologi yang dapat membantu pengendalian hama penggerek buah kakao selanjutnya akan diukur pengetahuan dan sikap petani melalui kuisioner yang disebarkan pada petani yang budidaya tanaman kakao.

Jenis Data Sumber Data Penelitian. Bagian ini diuraikan tentang sumber data. Berdasarkan sumbernya, data dapat berupa data primer dan data sekunder sebagai berikut 1) Data primer, merupakan data yang diperoleh dari petani responden langsung baik melalui hasil wawancara maupun kuesioner yang meliputi karakteristik petani responden, data serangan hama, data produksi, perilaku petani dalam budidaya kakao, pengetahuan dan sikap petani dan data tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap petani. 2) Data sekunder, merupakan data tertulis yang didapat dari catatan, buku, laporan pemerintah, dan data lainnya yang mendukung pengkajian. Atau meliputi data potensi desa, iklim, kependudukan dan data sekunder ini diperoleh di kantor desa dan kantor kecamatan borong.

Instrumen penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti membutuhkan empat instrumen utama untuk

memperoleh data penelitian yaitu 1) Lahan demcar teknologi P3S, instrumen ini akan menjadi basis percontohan yang di jadikan sebagai media transformasi teknologi, untuk mempengaruhui perilaku petani. 2) Materi penyuluhan dalam bentuk LPM dan sinopsis dan liflet. 3) Qusioner penelitian, berupa daftar pertanyan dalam bentuk list pilihan jawaban yang telah disiapkan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap petani terhadap teknologi P3S. 4. Software yang digunakan untuk meguji kelayakan item pertanyan yang telah disusun untuk menganalisis data penelitian.

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Tabel 1Populasi dan Sampel Penelitian.  Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah petani kakao di desa Ngampang Mas dengan kriteria inklusi adalah petani yang memiliki kebun kakao dengan berada dalam beberapa hamparan, baik laki-laki maupun perempuan tampa membedakan usia. Populasi petani kakao di desa Ngampang Mas berjumlah 80 orang, yang tersebar dalam dua haparan lahan kakao. Bedasarkan populasi petani yang ada maka akan di tentukan petani sebagai sampel dengan metode acak (random sampling) menggunakan Rumus Slovin dan diperoleh sampel sebanyak 44 orang responden.

Metode Analisis Data. Data hasil penelitian, selanjutnya dianalisis dengan alat statistik sesuai dengan tujuan penelitian. Alat analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Analisis deskriptif. Alat analisis ini ditujukan untuk mendiskripsikan sikap petani terhadap penerapan teknologi P3S pada kakao. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis Distribusi Frekuensi.
  2. Uji korelasi rank Spearman. Merujuk pada pernyataan yang dikemukakan oleh Sugyono (2012), koefisien korelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien korelasi Rank Spearman (rs), dimana variabel X dan Y diukur dengan skala ordinal sehingga objek yang diteliti dapat dirangking dalam rangkaian yang berurutan. Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang diperoleh dapat berpedoman pada ketentuan menurut Sugyono (2012 yang tertera pada Tabel 1.

HASIL PENELITIAN

Menurut Walgito (2002), pengetahuan adalah mengenal suatu obyek baru yang selanjutnya menjadi sikap terhadap obyek tersebut apabila pengetahuan itu disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan dan sikap tentang obyek itu. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan sesorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya. Adanya niat sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betulbetul dilakukan berdasarkan pengetahuan atau berdasarkan ketidaktahuan.

Pengetahuan Petani Pasca Penyuluhan Demcar Teknologi P3S

Indikator pengetahuan petani yang diukur dalam penelitian ini ditujukan untuk mendeskrisikan tingkat pemahaman petani pasca dilakukan penyuluhan. Hasil analasis distribusi frekuensi pengetahuan petani pasca kegiatan penyuluhan teknologi P3S disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis distribusi frekuensi pada Tabel 2 menujukkan bahwa tingkat pengetahuan petani responden terhadap penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao berbeda-beda untuk setiap komponen P3S.

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Tabel 1Pengetahuan tentang Pemangkasan

Berdasarkan data pada Tabel 2, tingkat pengetahuan petani responden terhadap pemangkasan tanaman kakao menjumlahkan sebanyak 35 orang (79,54) memiliki pengetahuan yang tinggi tentang pemangkasan kakao. Hal ini membuktikan bahwa petani mampu menerapkan pemangkasan pada tanaman kakao. Sedangkan jumlah responden dengan kategori sedang sebanyak 7 orang (15,90 %), hanya memahami tentang pemangkasan kakao dan sisanya yang berada dikategori pengetahuan rendah berjumlah 2 orang (4,54%). Hal ini hanya untuk mengetahui tentang pemangkasan. Hal ini karena tingkat pendidikan petani rata-rata SD dalam berusaha tani khususnya budidaya tanaman kakao. Meningkatnya pengetahuan petani pasca melakukan penyuluhan dan demonstrasi cara, karena petani33 responden aktif dan serius dalam mengikuti penyampaian suatu materi penyuluhan atau disuluhkan cukup jelas sabagai petani dengan mudah mengerti dan dapat mengikuti kembali.

Pengetahuan tentang Pemupukan

Berdasarkan data pada Tabel 2, tingkat pengetahuan petani responden terhadap pemupukan tanaman kakao menjumlahkan sebanyak 39 orang (88,64%) memiliki pengetahuan yang tinggi tentang pemupukan kakao. Hal ini membuktikan bahwa petani menerapakan dengan baik, pentingnya melakukan pemupukan pada tanaman kakao. Sedangkan jumlah responden yang memiliki kategori sedang sebanyak 4 orang (9,09 %) dan sisanya beada kategori pengetahuan rendah 1 orang (2,27 %). Hal ini karena dari factor usia petani responden. Tingginya tingkat pengetahuan petani karena mereka mengikuti penyuluhan dan demonstrasi cara, petani mudah memahami apa yang disamapikan oleh pemateri tentang cara pemberian pupuk pada tanaman kakao.

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Dokumentasi 4

Pengetahuan tentang Panen Sering

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel tingkat pengetahuan petani responden terhadap panen sering yang kategori tinggi berjumlah 23 orang (52,27%). Hal ini petani menerapkan dalam pasca penyuluhan dan demonstrasi cara terhadap cara panen buah kakao. Ada beberapa petani yang masih dalam kategori sedang 18 orang (40,91%) dan petani responden yang dalam kategori rendah sebanyak 3 orang (6,82%). Hal ini karena dari tingkat pendidikan petani rata-rata SD. Meningkatnya pengetahuan petani pasca melakukan penyuluhan dan demonstrasi cara, karena petani responden aktif dan serius dalam mengikuti penyampaian suatu materi penyuluhan atau disuluhkan cukup jelas sabagai petani dengan mudah mengerti dan dapat mengikuti kembali

Pengetahuan tentang Sanitasi

Berdasarkan hal diatas tingkat pengetahuan petani terhadap sanitasi kebun kakao berjumlah 26 orang (59,09%). Oleh karna itu petani mudah mengerti tentang cara membersikan kebun dengan baik, hal ini karena mereka melihat dan aktif dalam menyamapikan materi penyuluhan dan demonstrasi cara. Sedangkan yang sisanya berada pada kategori sedang dan rendah.

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Dokumentasi 4

Pengetahuan petani terhadap penerapan P3S

Berdasarkan hal di atas tingkat pengetahuan petani terhadap penerapan P3S pada tanaman kakao yaitu pada kategori sedang. Pengetahuan yang berada pada kategori sedang menunjukan bahwa sebagian dari petani sudah memahami dan sebagian masih belum tahu dan memahami keunggulan tentang teknologi P3S pada tanaman kakao. Petani tidak melakukan pemangkasan, panen sering dan sanitasi kebun serta pemupukan karena menurut mereka jika Sebagian batang kakao yang tua dipangkas atau dilakukan pemangkasan itu akan mengalami penurunan penghasilan, padahal pemikiran petani berbanding terbalik dengan maksud dari teknologi P3S pada tanaman kakao.

Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal akan mendorong terjadinya prubahan prilaku pada diri individu. Pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan sesorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya. Adanya niat sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betul-betul dilakukan berdasarkan pengetahuan atau berdasarkan ketidaktahuan.

Pengetahuan petani sangat membantu dan menunjang kemampuanya untuk mengadopsi teknologi yang disediakan oleh pemerintah dalam program pembangunan atau teknologi tertentu lainya. Pengetahuan petani juga akan menjamin kelancaran usaha tani yang dijalankan oleh petani. Apabila tingkat pengetahuan petani tinggi maka kemampuan dalam mengadopsi teknologi yang baru akan tinggi demikian juga sebaliknya (Levis, 2013)

Sikap Petani Terhadap Penerapan Tekologi P3S Pada Kakao

Berdasarkan Sikap petani responden terhadap teknologi P3S pada tanaman kakao dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan diikuti dengan kegiatan demonstrasi cara secara langsung pada petani responden.tujuan pengunaan metode demonstrasi cara ini diharapkan agar petani responden bisa memahami lebih cepat dan dapat melihat cara-cara atau proses penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao bisa cepat dipahami dan dimengerti dengan melihat saja proses penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao. Petani responden bisa menerima inovasi terbaru mengunakan metode demonstrasi cara ini diharapkan agar petani responden bisa memahami.Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Tabel 1

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 44 responden yang di batkan daam peneitian ini meberikan sikap yang berbeda. Secara umum berdasarkan hasil anaisis distribusi frekuensi terihat bahwa Sebagian besar petani responden,yaitu sebanyak 26 orang (59.09). Memberikan sikap36 menerima terhadap penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao. Sedangkan yang bersikap kurang menerima sebanyak 31,81% dari total responden (14 orang) dan yang bersikap tidak menerima sebanyak 4 orang( 9,09 %) dan yang bersikap tidak menerima sebanyak 4 orang (9,09%). Sikap petani yang dominan (59,09% dari total responden) bersikap menerima teknologi P3S pada tanaman kakao diduga karena teknologi P3S sangat dibutuhkan oleh petani responden lebih khusus petani kakao. Dari pemikiran tersebut hanya petani yang betul memahami saja akan melakukan teknologi P3S pada kakao, sedangkan petani yang lain masih belum melakukan karena ragu-ragu dalam menerapkan teknologi tersebut. Sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi secara konsisten. Sikap yang ditampilkan oleh petani terhadap sebuah inovasi akan menentukan penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut (Ahmadi,1991). Apabila sikap yang ditunjukan petani negatif maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkan.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan dan Sikap Petani

Peningkatan pengetahuan dan sikap petani kakao setelah dilakukan kegiatan penyluhan dengan metode demcar tentang teknologi P3S, tentunya di pengaruhi oleh berbagai macam factor. Faktor-faktor tersebut bisa juga dari dalam diri petani (factor internal) dan juga dapat berdasarkan dari luar (faktor eksternal). Analisis hubungan ini perlu dilakukan agar dapat diketahui terhadap mana yang memiliki hubungan yang positif kuat dan baik terhadap pengetahuan dan sikap petani. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan tabel analisis tahapan masing-masing hubungan terhadap pengetahuan dan sikap petan kakao dalam penerapan P3S.

Hubungan Faktor Internal dan Eksterenal dengan Pengetahuan Petani

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Tabel 1

Untuk mengetahui hubungan antara factor internal dan eksterenal terhadap pengetahuan petani tentang P3S telah di lakukan analisis rank sperman, hasil analisis rank sperman disajikan pada Tabel 4.

Hasil analisis korelasi rank Spearman pada Tabel 4 menujukkan bentuk dan kekuatan hubungan yang berbeda- beda. Tabel 4 memperlihatkan bahwa 7 faktor yang diuji (umur, pendidikan, luas lahan, pengalaman berusaha tani, pola budidaya kakao, intesitas penyuluh dan karakteristik teknologi) berpengaruh terhadap pengetahuan yaitu pola budidaya tanaman kakao memiliki hubungan yang sangat signifikan, intesitas penyuluhan, dan factor menguntungkan memiliki hubungan yang signifikan. Untuk valibael umur, pendidikan, luas lahan dan pengalaman berusaha tani tidak memiliki signifikan dapat diabaikan.

Pola Budidaya Kakao. Berdasarkan Tabel 4 diatas diketahui bahwa variabel pola budidaya kakao dan pengetahuan petani memiliki tingkat hubungan yang sedang karena nilai korelasinya yaitu 0,445 dengan nilai signifikan 0,003 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pola budidaya kakao dengan variabel pengetahuan petani. Hal ini diartikan bahwa penerapan teknologi P3S dalam melakukan budidaya tanaman kakao sangat diperlukan, hal ini karena petani mampu untuk penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao akan mendorong petani menerapkan teknologi tersebut. Dimana saat pasca penyuluhan petani sangat berpatisipasi dalam melakukan demonstrasi cara hal ini sangat memberikan efek yang baik bagi petani dalam memberikan pandangan terhadap penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao karna nilai koefisien korelasi positif maka hubungan kedua varibael tersebut searah yang atinya semakin tinggi pengetahuan petani pada pola budidaya tanaman kakao akan semakin baik pula pengetahuan petani terhadap teknologi P3S pada tanaman kakao.

Intesitas Penyuluhan. Selajutnya hubungan variabel intesitas penyuluhan dan pengetahuan petani memiliki tingkat hubungan yang rendah karena nilai korelasinya yaitu 0,369 dan nilai signifikan 0,010 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel intensitas penyuluhan dan variabel pengetahuan petani. Hal ini bahwa intensitas penyuluhan sangat diperlukan dalam sebuah proses untuk mempercepat mengadopsi suatu teknologi semakin tinggi intensitas penyuluhan semakin baik pengetahuan petani. Data ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2008), menyatakan bahwa semakin tinggi frekuensi mengikuti penyuluhan maka keberhasilan penyuluhan yang disampaikan semakin tinggi pula. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan dapat meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta benar-benar bermanfaat bagi petani untuk usahataninya.

Keuntungan Teknologi. Berdasarkan Tabel 4 diatas diketahui bahwa variabel Keuntungan dari teknologi (X7) dan pengetahuan petani memiliki hubungan yang sedang karena nilai korelasi yaitu 0,444 dan nilai signifikan 0,014 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara Keuntungan dari teknologi dan variabel pengetahuan petani. Oleh karna itu dapat memperkuatkan pemahaman mereka terhadap Keuntungan dari teknologi P3S pada tanaman kakao lebih menguntungkan dan dapat meningkat pengetahuan petani responden hal ini juga di dukung dengan pendapat Prabayanti (2010) yang mengemukan bahwa semakin baik pengetahuan petani terhadap sifat inovasi atau karaktristik teknologi yang diberikan, maka peluang inovasi tersebut untuk di terima semakin tinggi pula.

Hubungan Faktor Internal dan Eksternal dengan Sikap Petani

Bonefan Jehadu 2021 Hasil Lit Tabel 1

Untuk mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal terhadap sikap petani terhadap teknologi P3S, setelah dilakukan analisis rank sperman. Hasil analisis rank sperman disajikan pada Tabel 5.

Dari hasil analisis rank sperman pada Tabel 5 menujukan bahwa 7 faktor yang di uji (umur, pendidikan, luas lahan, pengalaman berusaha tani, pola budidaya kakao, intesitas penyuluh dan karakteristik teknologi) memiliki hubungan yang bervasiasi mulai dari hubungan yang sangat lemah samapai hubungan yang sedang. Hal ini ada beberapa factor yang tidak memiliki hubungan dapat diabaikan.

Pola Budidaya Kakao. Berdasarkan Tabel 5 diatas diketahui bahwa variabel pola budidaya kakao (X5) dan sikap petani memiliki tingkat hubungan yang sedang karena nilai korelasinya yaitu 0.440 dengan nilai signifikan 0.687 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pola budidaya kakao dengan variabel sikap petani. Hal ini diartikan bahwa penerapan teknologi P3S dalam melakukan budidaya tanaman kakao sangat diperlukan, hal ini karena petani terhadap penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao akan mendorong petani menerapkan teknologi tersebut. Dimana saat pasca penyuluhan petani sangat berpatisipasi dalam melakukan demonstrasi cara hal ini sangat memberikan efek yang baik bagi petani untuk menerima terhadap penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao.

Intensitas Penyuluhan. Berdasarakan Tabel 5 di atas diketahui bahwa variabel intensitas penyuluhan dan sikap petani memiliki tingkat hubungan yang rendah karena nilai koefisien korelasinya yaitu 0,339 dan nilai signifikan 0.035 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel intensitaspenyuluhan dan variabel sikap petani. Hal ini bahwa intensitas penyuluhan sangat diperlukan dalam sebuah proses untuk mempercepat mengadopsi suatu teknologi semakin tinggi intensitas penyuluhan semakin baik pengetahuan petani Data ini sejalan dengan pendapat Soekartawi (2008), menyatakan bahwa semakin tinggi frekuensi mengikuti penyuluhan maka keberhasilan penyuluhan yang disampaikan semakin tinggi pula. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan dapat meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta benar-benar bermanfaat bagi petani untuk usahataninya.

KESIMPULAN

Tingkat pengetahuan petani terhadap pasca dilakukan penyuluhan dan Demcar teknologi P3S pada tanaman kakao, berada pada kategori tinggi, yang meliputi pengetahuan untuk pemangkasan, sebesar 79,54%, pemupukan (88,64%), panen sering (52,27%) dan sanitasi kebun (59,09%). Sikap petani terhadap demcar penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao, berada pada kategori menerima dengan persentase resonden mencapai 59,09%. Berdasarkan hasil analisis korelasi rank spearman dari factor internal dan eksterenal yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan dan sikap petani dalam penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao yaitu pola budidaya, intensitas penyuluhan, dan karakteristik teknologi.

E Library

1Penulis lahir pada 15 September 1994 di Desa Ngampang Mas Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur. Pada tahun 2001/2002 penulis masuk SD Perang Wunis dan lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMP Lima Jaya Borong dan tamat pada tahun 2009. kemudian lanjut ke SMA Negeri 2 Borong pada tahun 2010/2011 dan tamat pada tahun 2014. Pada tahun yang berbeda penulis melanjutkan studi di perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima pada jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering dan Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Penulis kemudian menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang melalui ujian tugas akhir degan judul. Pengetahuan dan sikap Petani Terhadap Penerapan Teknologi P3S Pada Tanaman Kakao Di Desa Ngampang Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur.

No events