Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Petani Penerima Program Bibit Unggul Kopi Arabika Varietas Komastik di Desa Bangka Kempo, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur

Identification of Factors Affecting Attitudes of Farmers receiving the Program of Komasti Arabica Coffee Superior Seed in Bangka Kempo Village, Rana Mese District, East Manggarai Regency

Ladislaus Daur1, Rupa Matheus2, Donatus Kantur3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian tentang identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani penerima Program Bibit Unggul Kopi Arabika Komasti dilakukan di Desa Bangka Kempo, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur". Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap petani dalam mengadopsi Program Bibit Unggul Kopi Arabika Komasti, dan untuk mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi sikap petani terhadap program tersebut. Responden dalam penelitian ini adalah 55 petani, ditentukan secara acak menggunakan metode Slovin. Data dikumpulkan menggunakan survei, kuisioner, dan wawancara, dan dianalisis menggunakan analisis skoring untuk mendeskripsikan sikap petani dan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani. Hasil penelitian bahwa sikap petani penerima berada pada kategori menolak dengan persentase 54,55%. Faktor internal dan eksternal yang berpengaruh dengan sikap petani tersebut adalah ketidaksiapan petani, sosialisasi program, dan metode penyuluhan. Hal ini dibuktikan dengan model regresi: Y = 5.447 - 1.285 X1  +  0.121 X2  - 0.136 X3,  dimana X1= ketidaksiapan petani, X2 =  sosialisasi program, X3 = metode penyuluhan. Faktor-faktor lainnya tidak signifikan, tetapi secara simultan berpengaruh terhadap sikap petani dalam menolak Program Bibit Unggul Kopi Arabika Komasti.

Kata Kunci:  sikap petani, bibit unggul, kopi arabika, komasti

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Studi on identification of factors influencing the attitudes of farmers receiving the Komasti Arabica Coffee Superior Seed Program was conducted in Bangka Kempo Village, Rana Mese District, East Manggarai Regency. This study was to determine the attitude of farmers in adopting the Komasti Arabica Coffee Superior Seed Program, and to identify the factors affecting farmers' attitudes towards the program. Respondents in this study were 55 farmers, determined randomly using the Slovin method. Data were collected using surveys, questionnaires, and interviews methods, and analyzed using scoring analysis to describe farmers' attitudes and multiple linear regression analysis to determine the factors affecting farmers' attitudes. The results showed that the attitude of the recipient farmers was in the reject category with a percentage of 54.55%. Internal and external factors affecting the attitude of recipient farmers were farmers' unpreparedness, program socialization, and extension methods. It could be predicted by the regression model: Y = 5.447 - 1.285 X1 + 0.121 X2 - 0.136 X3, where X1 = farmers' unpreparedness, X2 = program socialization, X3 = extension method. Other factors were not significant, but simultaneously affected the attitude of farmers in rejecting the Komasti Arabica Coffee Superior Seed Program.

Keywords: farmer's attitude, superior seeds, arabica coffee, komasti

PENDAHULUAN

Tanaman Kopi Arabika menjadi komoditas andalan di desa Bangka Kempo karena kopi memiliki harga jual yang cukup tinggi dan stabil. Tanaman kopi yang dikembangkan di Desa Bangka Kempo rata-rata berusia diatas, ≥ 30 tahun. Usia tanaman yang sudah tua berdampak pada produksi kopi yang terus menerus mengalami penurunaan dari tahun ketahun (Puslitkoka, 2013). Usia Ideal Tanaman Kopi yang peroduktif, yakni 5 tahun sampai 20 Tahun. usia tanaman >20 tahun perlu dilakukan peremajaan, tanaman kopi dapat disebut tua jika telah melewati usia 20 tahun. Sumirat, (2007). Namun karena pengetahuan petani yang rendah sehingga masih mempertahankan tanaman yang usianya >30 tahun tanpa ada upaya peremajaan tanaman untuk peningkatan produksi. Produktivitas kopi di Desa Bangka Kempo sangat fluktuatif yaitu antara 0,6-0,8 ton/ha. kopi kering giling (Profil Desa Bangka Kempo 2019) produksi ini lebih rendah dibandingkan dengan peroduksi kopi Nasional yang mencapai 2-3 ton/ ha biji kopi kering giling. (Https:// compasina com 2016). Rendahnya produktivitas kopi di Desa Bangka Kempo, disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: teknologi budidaya yang sangat sederhana, populasi tanaman yang padat, usia tanaman yang relatif tua, dan bibit kopi lokal yang sudah tidak produktif lagi.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka sejak tahun 2017, Dinas Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur, mencanangkan program inovasi bibit unggul kopi Arabika Varietas Komasti 795. Program ini diawali dengan penangkaran bibit kopi varietas komastik oleh petani penangkar dibawah pengawasan Dinas Pertanian. Selanjutnya bibit unggul ini mulai disebarkan ke petani-petani kopi diwilayah Kabupaten Manggarai Timur. Sasaran utama penyebaran bibit unggul adalah untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopi, dengan menggantikan tanaman kopi local yang usianya sudah tua. Pilihan pada varietas Komasti S 795, karena memiliki keunggulan diantaranya: berumur genjah, berbuah pada umur 15-24 bulan setelah tanam, tahan terhadap hama penyakit, peroduktifitasnya mencapai 1,8 ton/ha kopi kering, memiliki mutu yang lebih baik, serta rasa asam dengan karakter yang kuat,dan kafeinya rendah (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2007).

Salah satu lokasi sasaran penyebaranya bibit unggul adalah Desa Bangka Kempo, yang mayoritasnya adalah petani kopi. Jumlah petani yang mendapatkan bantuan bibit unggul sebanyak 125 orang. Target program ini adalah setiap petani kopi mendapat ± 50 bibit kopi unggul untuk seluas10 are (0,1ha) dengan perhitungan jarak tanam 2,5 x 2,5 m (Dinas Perkebunan Manggarai Timur 2017). Namun program pengembangan bibit kopi unggul yang dicanangkan oleh Dinas perkebunan Kabupaten Manggarai Timur belum sepenuhnya diterima dengan baik oleh petani. Hasil pengamatan lapang setelah program berjalan menunjukan banyak bibit kopi yang dibagikan kepada petani tidak ditanam oleh petani, hanya beberapa orang saja yang menanam, sedangkan sisanya bibit kopi yang lain dibiarkan begitu saja. Bahkan ada petani secara terbuka menolak bantuan bibit kopi tersebut. Hal ini menunjukan adanya perbedaan sikap antara petani dalam program bantuan bibit unggul.

Menurut Walgito (2006) sikap adalah suatu organisasi yang mengandung pendapat, pengetahuan, perasaan, keyakinan tentang sesuatu yang sifatnya relatif konstan pada perasaan tertentu dan memberikan perasaan untuk berperilaku. Hakwins (2000), Mendefenisikan sikap sebagai perasaan pikiran, dan kecendrungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek aspek tertentu dalam lingkungan. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal seperti karakteristik lahan petani dan ketidaktauan petani terhadap bibit kopi unggul diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam adopsi bibit unggul. Disamping itu faktor luar seperti tidak adanya sosialisasi dan pendampingan ke pada petani penerima program, juga menjadi alasan bagi petani untuk menolak program. Rogers (2003) menyatakan bahwa kecepatan adopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh faktor internal dan factor eksternal petani. Soekartawi (2005) menyatakan bahwa beberapa hal yang mempengaruhi adopsi inovasi antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Lebih lanjut, Mardikanto (1993) menyatakan bahwa kecepatan adopsi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor internal dan faktor eksternal.

Berdasarkan Uraian permasalahan diatas maka perlu dilakukan suatu penelitian dengan Judul: “IDENTIFIKASI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP PETANI DALAM ADOPSI PROGRAM BIBIT UNGGUL KOPI ARABIKA VARIETAS KOMASTIK OLEH PETANI PENERIMA PROGRAM DIDESA BANGKA KEMPO KECAMATAN RANA MESE KABUPATEN MANGGARAI TIMUR."

TUJUAN PENELITIAN

  1. Megetahui sikap petani dalam adopsi program bibit unggul kopi arabika varietas komastik oleh petani penerima program di Desa Bangka Kempo.
  2. Mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam adopsi program bibit unggul kopi arabika varietas komastik oleh petani penerima program di Desa Bangka Kempo

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik wawancara dan kusioner yang telah disusun. Metode pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kusioner penelitian pada petani responden yang merupakan petani penerima program bibit unggul kopi arabika varietas komastik. Dalam penelitian ini dibutuhkan dua instrumen utama, yaitu kuisioner yang memuat pertanyaan tentang sikap petani terhadap program bibit unggul dan pertanyaan tentang faktor yang mempengaruhi sikap petani. instrumen yang kedua adalah petani responden yang terlibat dalam penelitian ini. Populasiyangdigunakandalampenelitianiniadalah semua petani kopi di Desa Bangka Kempo yang menerima program, berjumlah 125 orang.Untuk mewakili populasi maka dilakukan teknik sampling untuk mendapatkan petani responden. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan rumus Slovin.  Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus Slovin, maka ditetapkan 55 orang petani sebagai responden dalam penelitian ini, petani sampel diambil secara acak.

Metode Analisis Data. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian yang akan dicapai. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah:

  1. Analisis deskriptif yang digunakan untuk mengetahui sikap petani terhadap adopsi teknologi. Untuk mengetahui sikap petani terhadap lambnaya adopsi inovasi bibit unggul dapat diukur menggunakan rumus skoring menurut Sugiyono (2009). Dalam penelitian ini dilakukan pembagian interval kelas sesui dengan kategori-kategori yang ditentukan yaitu menerima, ragu-ragu dan menolak. Untuk menentukan lambanya adopsi teknologi. Perhitungan interval secara matematis menurut Junaedi (2012). Pemberian penilaian pada sikap petani kopi di Desa Bangka Kempo terhadap adopsi inovasi bibit unggul kopi arabika sebagai berikut:
    • Jika pernyataan positif, penilaian skor 3 untuk jawaban setuju, 2 ragu-ragu dan 1 tidak setuju.
    • Untuk pernyataan negatif kor 1 untukjawaban setuju, skor 2 untuk jawaban raguragu dan skor 3 untuk jawaban tidak setuju

Dengan hasil ukur sikap dapat diinterpretasikan menjadi:

    • Sikap positif jika skor T ≥ mean
    • Sikap negatif jika skor T < mean

Skor T dihitung dengan menggunakan rumus: T = 50 + 10 x–x, dimana X = skor responden pada skala sikap yang hendak di ubah menjadi skor 𝑋 = Mean skor kelompok, S = Deviasi standar kelompok.

  1. Analisis Regresi. Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi lambanya adopsi. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lambannya adopsi inovasi bibit unggul dapat menggunakan rumus: Regresi Linear Berganda yaitu: Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + … + bnXn, dimana Y : variabel terikat(dependent), X (1, 2, 3) variabel bebas (independent), a : nilai konstanta, b (1, 2, 3,) : nilai koefisien regresi.

HASIL PENELITIAN

Sikap Petani Penerima Bibit Unggul Kopi Arabika Varietas komastik

Ladislaus Daur 2021 Tabel 2Sikap petani terhadap adopsi inovasi bibit unggul kopi arabika merupakan variabel utama dalam penelitian ini. Sikap menggambarkan keputusan petani untuk mengadopsi inovasi bibit unggul yang sudah digulirkan ke petani kopi responden sejak tahun 2017. Hasil analisis sikap dengan menggunakan skoring disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan data Tabel 1 diatas, menunjukkan bahwa dari 55 responden yang dilibatkan dalam peneitian ini meberikan sikap yang berbeda. Secara umum berdasarkan hasil anaisis skoring terihat bahwa sebagian besar petani responden (54,55% dari total responden) memberikan sikap menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik. Sedangkan yang bersikap ragu-ragu sebanyak 43,64% dari total responden (24 orang) dan yang bersikap menerima sebanyak 1,81% (1 orang) dari total responden.

Sikap petani yang dominan 54,55% dari total responden (30 orang) bersikap menolak inovasi bibit unggul kopi arabika, Alasanya adalah petani tidak diberikan pemahaman sebelumnya oleh petugas dari dinas perkebunan tentang keunggulan dari varietas komastik tersebut. Dengan demikian menyebabkan petani berpikir bahwa bibit kopi yang mereka terima hasilnya sama dengan kopi lokal yang sudah mereka budidayakan. Sikap yang ditampilkan oleh petani terhadap sebuah inovasi akan menentukan penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut. adapun alasan lain, yaitu umumnya mereka tidak memiliki lahan baru untuk menanam bibit unggul yang dibagikan oleh pemerintah, mereka juga tidak mau untuk menggantikan atau meremajahkan tanaman kopi yang sudah tua dengan bibit unggul varietas komastik.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakuakan bukti fisik petani menolak program bibit unggul yaitu dengan tidak menanamnya kopi yang dibagikan oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur. Apabila sikap yang ditunjukan petani negatif maka harus ada cara yang berbeda untuk merubah sikap petani menjadi positif dan pada akhirnya petani menerima dan menerapkan teknologi yang ditawarkan (Ahmadi,1991).

Tabel 1 di atas juga, menunjukkan bahwa dari total responden yang ada, sebanyak 24 orang atau 43,64% petani yang memiliki sikap ragu-ragu terhadap bibit unggul kopi arabika varietas komastik. Sikap ragu-ragu petani dikarenakan petani penerima bantuan bibit unggul merasa kurang yakin dengan bibit yang dibagikan sehingga ada sebagian petani yang tidak mau menanam dan mengembangkan bibit unggul tersebut.Perilaku ragu-ragu tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yaitu kurangnya pegetahuan petani tentang kopi arabika varietas komastik dan juga dipengaruhi oleh kurangnya keterampilan petani. MenurutLewin yang menyebutkan bahwa perilaku dipengaruhi karakteristik individu dan lingkungan. Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action) menyatakan bahwa perilaku aktual individu ditentukan oleh niat yang dipengaruhi oleh dua faktor secara bersamaan, yaitu sikap dan norma subjektif. Teori ini berdasar pada asumsi bahwa manusia pada umumnya melakukan tindakan yang rasional dengan pertimbangan semua informasi dan secara ekplisit dan implisit memperhitungkan akibat dari tindakan tersebut (Azwar, 2016).

Tabel 1 di atas juga, menunjukkan bahwa dari total responden yang ada, sebanyak 1 orang atau 1,81% petani yang memiliki sikap menerima inovasi bibit unggul kopi arabika, karena petani tersebut masih memiliki lahan baru yang memungkinkan untuk menanam bibit unggul kopi varietas komastik. Selain itu juga karena petani yang bersangkutan merupakan petani kopi yang sukses dan memiliki pengetahuan yang cukup sehingga dengan mudah mengadopsi bibit unggul kopi yang dibagiakan oleh Dinas Perkebunan.Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan bukti fisik petani menerima yaitu petani menanam bibit unggul yang dibagikan oleh pemerintah.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Petani

Ladislaus Daur 2021 Tabel 2Dalam penelitian ini ada tujuh faktor independen (variabel bebas) yang diangkat untuk mengukur pengaruhnya terhadap sikap petani. Variabel tersebut meliputi: keberanian mengambil resiko, ketidaksiapan petani, ketidakpercayaan petani, sosialisasi program, peroses pendampingan, metode penyuluhan, dan sifat program.

Berdasarkan hasil analisis regresi (Tabel 2) menunjukan bahwa dari tujuh variabel independen yang diuji, ternyata hanyatiga variabel independen yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap petani dalam memberikan keputusan untuk menolak program peremajaan kopi lokal dengan varietas unggul baru. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi yang diperoleh dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:

Y = 5.447 - 1.285 X1 +  0.121 X2  - 0.136 X3

Dimana X1= ketidaksiapan petani, X2 =  sosialisasi program, X3 = metode penyuluhan.

Dari persamaan regresi tersebut terlihat bahwa faktor ketidaksiapan petani sangat nyatadan faktor sosialisasi program serta faktor metode penyuluhan berpengaruh secara nyata terhadap sikap petani (Y) menolak program inovasi bibit unggul kopi. sedangkan keempat faktor lainya memberikan pengaruh secara simultan, yang artinya keempat faktor tersebut berpengaruh secara bersamaan dalam menolak program inovasi bibit unggul kopi arabika.

1. Ketidaksiapan petani

Berdasarkan hasil persamaan regresi diatas, menunjukan bahwa variabel independen ketidaksiapan petani berpengaruh nyata terhadap sikap petani yang menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik, oleh nilai koefisien regresi sebesar -1,285. Nilai koefisien regresi dari ketidaksiapan petani sebesar -1,285, artinya faktor ketidaksiapan petani mempengaruhi sikap petani terhadap program bibit unggul kopi arabika varietas komastik.Ketidaksiapan petani disebapkan karena kehadiran bantuan varietas unggul tersebut secara tiba-tiba, tanpa adanya informasi terlebih dahulu. Penelitian Listyati(2013) menunjukan bahwa adopsi benih unggul kopi oleh petani dipengaruhi secara langsung oleh presepsi petani terhadap benih dan ketersediaan benih unggul. kedua variabel ini memberikan pengaruh yang positif terhadap adopsi benih unggul kopi. Beberapa indikator yan merefleksikan presepsi petani terhadap benih unggul kopi, yaitu produktifitas, ketahanan terhadap hama dan penyakit, umur panen, umur produktif, efisiensi penggunaan pupuk, kemudahan dalam pemeliharaan, dan kualitas benih. Sedangkan faktor eksternal dan karakteristik petani memberikan pengaruh tidak langsung terhadap adopsi teknologi melalui presepsi terhadap benih dan ketersediaan benih. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani penerima bantuan bibit unggul bahwasanya mereka tidak siap untuk menerima bantuan varietas tersebut karena mereka takut tanaman kopi local yang sudah menjadi sumber kehidupan mereka diremajahkan dengan menggunakan varietas komastik, yang mana belum diketahui hasil dari varietas komastik tersebut, sehingga para petani mengambil sikap untuk menolak terhadap inovasi bibit unggul tersebut.

2. Sosialisasi program

Sosialisasi program merupakan faktor yang kedua yang mempengaruhi kepada petani yang menolak program bibit unggul. Berdasarkan hasil persamaan regresi diatas, menunjukan bahwa variabel independen sosialisasi program berpengaruh nyata terhadap sikap petani yang menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik yang ditunjukan oleh nilai koefisien regresi sebesar 0,121. Nilai koefisien regresi dari faktor sosialisasi program sebesar 0,121 artinya faktor sosialisasi program mempengaruhi sikap petai terhadap program bibit nggul kopi arabika varietas komastik. Alasanya Hal ini karena petani tidak mendapatakan informasi atau tidak adanya sosialisasi dari dinas pertanian terkait dengan keunggulan dari varietas komastik, sehingga menyebapakan sikap dari petani secara spontan menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik. Menurut pengakuan dari petani responden hasil wawancara bahwa tidak ada sama sekali sosialisasi dari Dinas Pertanian berkaitan dengan varietas unggul kopi arabika. Sehingga petani merasa kaget dengan kehadiran bantuan bibit unggul tersebut. Dengan tidak adanya sosialisasi ini membuat masyarakat petani penerima bantuan bibit unggul merasa ragu-ragu dengan varietas komastik. Mereka juga menganggap bahwa kehadiran dari program bantuan bibit unggul ini bersifat proyek, sehingga mereka takut untuk menerima karena mereka tidak mau meinginginkan terjadi resiko dikemudian hari.

Menurut Perbangkan Syariah (2016) sosialisasi sangat penting untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang kelebihan dan keunggulan suatu produk, Karena bila tidak ada sosialisasi maka bisa dipastiakan apapun tujuan yang kita maksudkan untuk diri kita sendiri ataupun orang lain tidak akan tercapai. Selanjutnya Joko Suyanto (2016 ) kegiatan sosialisasi tidak hanya menyampaiakan informasi tentang apa yang mau disampaiakan, tetapi juga mencari dukungan dari berbagai kelompok masyarakat agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3. Metode penyuluhan

Berdasarkan hasil persamaan regresi diatas, menunjukan bahwa variabel independen metode penyuluhan berpengaruh nyata terhadap sikap petani yang menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,136. Nilai koefisien regresi dari faktor metode penyuluhan sebesar 0,136 artinya faktor metode penyuluhan mempengaruhi sikap petani terhadap program bibit unggul kopi arabika. Alasanya bahwa berdasarkan pengamatan dan hasil survei peneliti yang sudah dilakukan selaku penduduk asli dari masyarakat Desa Bangka Kempo, sesungguhnya apa yang selama ini dilakukan oleh pemerintah (pegawai Dinas perkebunan) kepada masyarakat belum sama sekali memberi dampak kepada masyarakat petani kopi Desa Bangka Kempo dan juga kurangnya pemahaman pemerintah (pegawai Dinas perkebunan) terhadap karakter, tradisi serta kebiasaan masyarakat ketika membuat program-program penyuluhan sehingga sasaran dari program ini tidak tercapai secara maksimal.

Penyuluhan yang dilakukan harus mempunyai metode komunikasi penyuluhan yang efektif bagi kegiatan penyuluhan itu sendiri serta tingkat pendidikan seorang penyuluh sangat mempengaruhi efektivitas penyuluh. Selaku agen pertanian di Desa Bangka Kempo tentunya akan menghadapi beberapa faktor penghambat dan gangguan dalam kegiatan komunikasi, diantaranya tingkat pendidikan masyarakat petani yang secara umum masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah.Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosoial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan dengan demikian dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat nonformal di luar sistem sekolah yang biasa untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mentalnya menjadi lebih produktifitas sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarganya dan pada gilirannya akan meningkatkan pula kesejahteraan hidupnya (Tomy, 2004:8).

Berdasarkan hasil analis regresi diatas, menujukan bahwa faktor-faktor yang lainya tidak berpengaruh nyata dengan sikap petani yang menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik, tetapi faktor lainya berpengaruh secara simultan atau secara bersamaan dalam menolak inovasi bibit unggul kopi arabika varietas komastik

KESIMPULAN

Inovasi bibit unggul kopi arabika varitas komastik yang merupakan program Dinas Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur yang diberikan pada para petani sasaran di Desa Bangka Kempo secara umum menolak bantuan bibit unggul tersebut. Hasil analisis skoring terhadap sikap petani menunjukan secara umum petani penerima program memiliki sikap yang berbeda-beda. Petani yang bersikap menolak sebanyak 54,55%, petani yang bersikap ragu-ragu 43,64%, dan hanya 1,84% yang menerima program bibit unggul kopi arabika varietas komastik.

Hasil uji regresi linear berganda menunjukan bahwa dari 7 faktor yang diuji, ternyata hanya terdapat 3 faktor yang berpengarauh signifikan terhadap sikap petani penerima program bantuan bibit unggul kopi arabika varietas komastik adalah ketidaksiapan petani, sosialisasi program, dan proses pendampingan dengan persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 5.447 - 1.285 X1 +  0.121 X2  - 0.136 X3

Dimana X1= ketidaksiapan petani, X2 =  sosialisasi program, X3 = metode penyuluhan.

Untuk meningkatakan pengetahuan dan sikap petani dalam adopsi suatu teknologi baru, perlu dilakuakan sosialisasi atau penyuluhan lapang agar masyarakat petani bisa mengadopsi inovasi teknologi yang ditawarkan. Selain itu, perlu konfirmasi yang jelas dari dinas pertanian, terkait degan bantuan yang akan dialokasikan kepada masyarakat, suapaya bantuanya tidak terjadi mubazir.

E Library

1Penulis lahir pada tanggal 09 Agustus 1998 di Pinis, Desa Bangka Kempo, Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Penulis mengawali jenjang pendidikan dasar di Sekolah Dasar SDI Rentung Golo Rutuk pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 2011. Tahun 2011 penulis melanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negri 7 Borong dan lulus pada tahun 2013. Kemudian pada tahun 2013 penulis melanjutkanke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMAK) Pancasila Borong dan lulus pada tahun 2017. Selanjutnya penulis masuk pendidikan, diperguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima dijenjang Diploma 1V/ setara SI pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Penulis dinyatakan lulus setelah menyelsaikan penelitian dengan judul "Identifiksi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Petani Dalam Adopsi Program Bibit Unggul Kopi Arabika Varietas Komastik Oleh Petani Penerima Program Di Desa Bangka Kempo Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur" dan dipertahankan didepan pembimbing dan penguji pada tanggal 30 Juli 2021 dan mendapatkan gelar Sarjana Terapan pertanian.

No events