Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000

Tingkat Pengetahuan dan Keterampilan Petani tentang Teknologi Pemangkasan Pucuk pada Tanaman Tomat di Desa Gurung Liwut Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur

Knowledge and Skill Level of Farmers on Pruning Technology of Tomato Shoots in Gurung Liwut Village, Borong District, East Manggarai Regency

Rosalia Redisa Unul1Maria K. Salli2Wely Y. Pello3 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Penelitian tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat telah dilaksanakan di Desa Gurung Liwut Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur dari bulan AgustusSeptember 2020. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat, dan (2) mengetahui hubungan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuisioner, dokumentasi dan kepustakaan. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis skoring dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan tingkat pengetahuan petani berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,75 dan keterampilan petani berada pada kategori tinggi dengan rerata skor 2,63. Sedangkan faktor yang terdapat hubungan dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat adalah faktor eksternal yakni karakteristik teknologi.

Kata Kunci: pengetahuan, keterampilan, pemangkasan, tomat

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Study on the knowledge and skills of farmers on pruning technology of tomato shoots was carried out in Gurung Liwut Village, Borong District, East Manggarai Regency, from August-September 2020. The study was (1) to determine the level of knowledge and skills of farmers and (2) to determine the relationship between internal factors and external factors that affect the knowledge and skills of farmers pruning technology of tomato shoots. The study method was a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, documentation, and literature study, and analyzed using scoring analysis and Spearman rank correlation. The results showed that the level of knowledge of farmers was in the high category with an average score of 2.75, while the skills of farmers were also in the high category with an average score of 2.63. The factor that correlated the level of knowledge and skills of farmers was the characteristic of technology.

Keywords: knowledge, skills, pruning, tomato

PENDAHULUAN

Budidaya tanaman tomat merupakan salah satu usaha sampingan yang dijalankan oleh petani di Desa Gurung Liwut karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tomat merupakan sayuran buah yang banyak digemari oleh kalangan masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa dikarenakan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Selain sebagai sayuran, buah tomat juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetik serta bahan baku pengolahan makanan seperti saus, sari buah dan lain-lain (Nurhayati, 2017).

Berdasarkan data tahun 2018 produktivitas tomat menurut (Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai Timur) mencapai 5,16 ton/ha dan produktivitas tomat provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2018 menurut (Kementrian Pertanian RI) mencapai 6,42 ton/ha. Akan tetapi berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan produktivitas tomat mencapai 3,00 ton/ha. Hal ini menunjukan bahwa terjadinya penurunan produktivitas tomat.

Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya produktivitas tomat yaitu dikarenakan penerapan teknik budidaya yang kurang tepat. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama ini, budidaya tanaman tomat yang sering dilakukan oleh petani di Desa Gurung Liwut yakni tidak memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan teknik budidaya yang baik seperti pengaturan jarak tanam, pengendalian hama dan penyakit serta tidak melakukan pemangkasan pada tanaman. Hal tersebut yang dapat menyebabkan menurunnya produktivitas tomat. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

Pemangkasan pucuk merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk mendorong terbentuknya cabang produktif serta dapat meningkatkan produksi tomat. Pemangkasan sendiri merupakan suatu tindakan umum yang dilakukan pada tanaman hortikultura yang bertujuan untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas serta produksi yang tinggi (Yuriani dkk, 2019). Tujuan lain melakukan pemangkasan yaitu meningkatkan penerimaan cahaya matahari agar dapat memperbesar dan meningkatkan bobot buah, menurunkan kelembaban serta memudahkan pemeliharaan tanaman (Suryawaty, T. Pertowo. 2015).

Minimnya pengetahuan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat disebabkan kurangnya petani dalam menerima dan mengakses suatu informasi. Oleh karena itu dengan introduksi teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti perlu melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan dan Keterampilan Petani Tentang Teknologi Pemangkasan Pucuk Pada Tanaman Tomat di Desa Gurung Liwut Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.
  2. Mengetahui hubungan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

METODE PENELITIAN

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1Materi Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini dibutuhkan beberapa materi dan instrument untuk menunjang penelitian yaitu, alat dan bahan untuk demonstrasi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berupa lahan, tali raffia, alat pengukur, skop, ember dan benih tomat. Material lainnya adalah kuisioner (daftar pertanyaan), lembar persiapan menyuluh (LPM), leaflet, buku tulis, pulpen, kamera dan laptop.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, kuisioner, dokumentasi, dan kepustakaan

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1Instrumen Penelitian

  1. Kuisioner berupa daftar pertanyan dalam bentuk pilihan jawaban yang disiapkan oleh peneliti guna mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.
  2. Materi Demonstrasi plot yang akan disampaikan kepada petani yakni LPM dan sinopsis serta media yang digunakan yaitu lieflet tentang pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

Populasi dan Sampel

Penentuan populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni petani yang membudidayakan tanaman tomat yang ada di Desa Gurung Liwut dengan total keseluruhan populasi sebanyak 62 orang. Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. menurut (Notoatmodjo, 2010) pengambilan sampel yang berdasarkan atas suatu pertimbangan tertentu seperti sifat-sifat populasi ataupun ciri-ciri yang sudah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu peneliti menggambil sampel petani yang membudidayakan tanaman tomat varietas betavila sebanyak 32 orang.

Metode Analisis Data

Untuk mengukur tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat menggunakan rumus skoring menurut Sugiyono (2009). Penyusunan distribusi kriteria kategori untuk variabel tingkat pengetahuan dan keterampilan petani dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan petani, digunakan analisis statistik non parametrik, yaitu Korelasi Rank Spearman (RS) dengan rumus Siegel (1997). Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan dapat berpedoman pada ketentuan menurut Sugiyono (2009) seperti pada Tabel 2.

HASIL PENELITIAN

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1

Hasil Demplot

Hasil demplot dapat dilihat melalui pertumbuhan dan perkembangan tanamanan yaitu dilihat dari tinggi tanaman, jumlah cabang lateral, jumlah cabang produktif dan jumlah tangkai Bunga. Perubahan yang terjadi pada tanaman tomat setelah dilakukan pemangkasan pucuk (plot A) antaralain tanaman mnjadi lebih pendek atau tidak terlalu tinggi, tumbuhnya cabang lateral atau tunas yang banyak, dan mengkasilkan bunga yang banyak. Sedangkan tanaman yang tanpa perlakuan pemangkasan pucuk (plot B) yaitu tanaman menjadi lebih tinggi, tidak menghasilkan cabang lateal dan cabang produktif yang banyak serta tidak menghasilkan bunga yang banyak. Berikut ini adalah hasil pengamatan tanaman tomat dengan dua perlakuan.

Tinggi tanaman. Tinggi tanaman tomat diukur pada umur 21 hari setelah pemangkasan pucuk. Hasil pengukuran tinggi tanaman berdasarkan dua perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 di atas diketahui rata-rata tinggi tanaman dengan menggunakan perlakuan pemangkasan pucuk adalah 47,5 cm. Sedangkan rata-rata tinggi tanaman dengan perlakuan tanpa pemangkasan pucuk adalah 72,7cm. Hal ini menunjukan bahwa tanaman tomat yang tanpa perlakuan pemangkasan pucuk menjadi lebih tinggi karena nutrisi digunakan untuk pertumbuhan generatif. Sedangkan tanaman tomat yang menggunakan perlakuan pemangkasan pucuk menjadi lebih pendek. Hal tersebut dikarenakan dengan melakuakan pemangkasan pucuk dapat menahan pertumbuhan generative tanaman sehingga nutrisi digunakan untuk menambah cabang lateral. Menurut (Wartapa dkk, 2009) pemangkasan adalah salah satu cara dalam memacu pertumbuhan dan perombakan timbunan karbohidrat yang dicadangkan untuk pertumbuhan generative, namun dipergunakan untuk pembentukan tunas maupun pembentukan bunga.

 Jumlah Cabang Lateral. Cabang lateral tanaman tomat tumbuh 2-3 hari setelah dilakukan pemangkasan pucuk. Dan untuk menghitung jumlah cabang lateral yaitu dilakukan 21 hari setelah pemangkasan pucuk. Hasil pengamatan berdasarkan jumlah cabang lateral dengan dua perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan data Tabel 3 di atas diketahui bahwa perlakuan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat menghasilkan tunas atau cabang lateral yang banyak yaitu dengan memperoleh rata-rata 4,1. Sedangkan perlakuan tanpa pemangkasan pucuk akan menghasilkan tunas atau cabang dengan jumlah yang sedikit yaitu dengan memperoleh rata-rata 2,9. Hal ini menunjukan bahwa taaman tomat yang tanpa perlakuan pemangkasan pucuk akan menghasilkan cabang lateral dengan jumlah yang lebih sedikit. Sedangkan tanaman tomat yang menggunakan pelakuan pemangkasan pucuk dapat menghasilkan cabang lateral yang lebih banyak. Hal ini berarti dengan melakukan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat akan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah cabang lateral. Tunas yang ada dipucuk adalah pusat terbentuknya auksin dan auksin tersebut akan menyebar kebagian batang tanaman setelah dilakukan pemangkasan dan mendorong munculnya tunas lateral (Ari, 2014).

Jumlah Cabang Produktif. Tanaman tomat yang dilakukan pemangkasan mulai berbunga yaitu pada umur 3 minggu setelah pemangkasan pucuk. Sedangkan tanaman yang tanpa pemangkasan mulai berbunga pada umur 3 minggu tanam. Pengamatan jumlah cabang produktif yaitu dilakukan 21 hari setelah pemangkasan pucuk. Hasil pengamatan jumlah cabang produktif berdasarkan dua perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan data Tabel 3 di atas diketahui bahwa perlakuan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat menghasilkan tunas atau cabang produktif yang banyak yaitu dengan memperoleh rata-rata 4,1. Sedangkan perlakuan tanpa pemangkasan pucuk akan menghasilkan tunas atau cabang produktif dengan jumlah yang sedikit yaitu dengan memperoleh rata-rata 2. Hal ini menunjukan bahwa tanaman tomat yang tanpa perlakuan pemangkasan pucuk akan menghasilkan cabang produktif dengan jumlah yang lebih sedikit. Sedangkan tanaman tomat yang menggunakan perlakuan pemangkasan pucuk dapat menghasilkan cabang produktif yang lebih banyak. Hal ini berarti semakin banyak cabang produktif tanaman maka semakin banyak pula bunga dan buah yang dihasilkan. Jumlah cabang produktif yang semakin banyak maka organ fotosintesis seperti daun juga semakin banyak sehingga proses fotosintesis juga tinggi dan mendukung translokasi fotosintat untuk pengisian dan pemantangan buah (Salli dkk, 2015).

Jumlah Bunga. Tanaman tomat yang dilakukan pemangkasan mulai berbunga yaitu pada umur 3 minggu setelah pemangkasan pucuk. Sedangkan tanaman yang tanpa pemangkasan mulai berbunga pada umur 3 minggu setelah tanam. Hasil pengamatan jumlah bunga berdasarkan dua perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.

Berdasarkan data Tabel 3 di atas diketahui bahwa tanaman tomat dengan perlakuan pemangkasan pucuk menghasilkan bunga yang banyak yaitu dengan memperoleh rata-rata 110,3. Sedangkan tanaman tomat yang tanpa perlakuan tanpa pemangkasan pucuk menghasilkan bunga yang sedikit yaitu dengan memperoleh rata-rata 43,3. Hal ini menunjukan bahwa tanaman yang tanpa perlakuan pemangkasan pucuk akan menghasilkan bunga dengan jumlah yang lebih sedikit, ini akan berpengaruh terhadap buah yang dihasilkan. Dibandingkan tanaman yang menggunakan perlakuan pemangkasan pucuk akan menghaslkan bunga yang lebih banyak. Hal ini berarti dengan melakukan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat akan berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga. Dengan menghasilkan bunga yang banyak maka akan berpotensi terbentuknya buah yang banyak. Menurut Kusumayati (2015) persentase pembentukan buah pada tanaman tomat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh tanaman, salah satu faktor yang mempengaruhi persentase terbentuknya buah ialah jumlah bunga yang menjadi buah. Pada fase generative hampir seluruh hasil fotosintesis akan digunakan oleh bunga dan buah yang sedang berkembang dan dalam pertumbuhan dan perkembangan daun yang maksimun akan menyebabkan bunga dan buah berkembang denga baik, dengan demikian kemungkinan bunga atau buah untuk gugur menjadi kecil Sutapradja (2008).

Tingkat Pengetahuan Petani

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1

Hasil pengukuran tingkat pengetahuan petani responden tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dapat dilihat dari sebelum kegiatan penyuluhan dan sesudah penyuluhan. Tingkat pengetahuan petani responden tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dapat dlihat pada Tabel 4. Berdasarkan data Tabel 4, pengetahuan petani tentang pengertian pemangkasan pucuk, tujuan pemangasan pucuk, jenis-jenis pemangkasan pucuk, keuntungan pemangkasan pucuk dan kelemahan pemangkasan pucuk berada pada kategori tinggi. Hal ini dikarenakan petani responden sudah pernah mendengar tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat melalui pembelajaran sesama petani dan informasi yang diberikan tersampaikan dengan baik kepada petani . Akan tetapi informasi yang berkaitan dengan manfaat pemangkasan pucuk, waktu pemangkasan pucuk, cara melakukan pemangkasan pucuk dan prosedur pemangkasan pucuk belum dipelajari dengan baik oleh petani dikarenakan masih kurangnya informasi yang diterima oleh petani. Dalam hal ini petani juga tidak berupaya mencaritau lebih lanjut informasi yang berkaitan dengan teknologi ini, sehingga dapat dikatakan bahwa petani responden belum sepenuhnya mengetahui tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat.

Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 4, pengetahuan petani sebelum dilakukan penyuluhan berada pada kategori sedang dengan memperoleh rerata skor 2,29. Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat pengetahuan petani mengalami peningkatan yakni berada pada kategori tinggi dengan memperoleh rerata skor 2,75.  Bertambahnya wawasan petani dikarenakanpenyampaian materi penyuluhan menggunakan metode demplot. Hal tersebut dapat mempengaruhi pola pikir petani karena selain mendengar petani juga dapat melihat secara langsung proses penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat, dengan demikian materi yang disampaiakn dapat dipahami dan dan diterima oleh petani resonden. Hal ini sejalan dengan pernyataan Notoatmodjo (2012) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tau dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Keterampilan Petani

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1

Keterampilan petani responden merupakan kemampuan petani dalam mengerjakan suatu teknologi secara cepat dan tepat. Hasil pengukuran keterampilan petani responden sebelum dan sesudah kegiatan penyuluhan secara terperinci dapat dilihat pada Tabel 5.

Berdasarkan data Tabel 5, keterampilan petani tentang melakukan pemangkasan sendiri yaitu tinggi hal ini dikarenakan petani responden terbiasa melakukan pekerjaan secara mandiri. Akan tetapi indicator keterampilan yang terdiri dari meningkatkan kecepatan, melakukan pemangkasan pucuk dengan tepat, bisa menentukan waktu pemangkasan pucuk, bisa melakukan pemangkasan pucuk secara berulang-ulang dan waktu yang dibutuhkan dalam pemangkasan pucuk pada tanaman tomat sebelum dilakukan penyuluhan berada pada kategori sedang.

Berdasarkan kondisi yang terdapat dilapangan dan jawaban dari petani yang diperoleh melalui wawancara kuisioner, secara teknis petani belum pernah melakukan pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dikarenakan petani belum pernah melihat secara langsung proses penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 1,  keterampilan petani berada pada kategori sedang dengan memperoleh rerata skor 2,12. Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat keterampilan petani semakin meningkat yaitu berada pada kategori tinggi dengan memperoleh rerata skor 2,63. Hal ini dikarenakan metode penyuluhan demplot sangat efektif dalam menyampaikan materi penyuluhan. Melalui kegiatan demplot petani dapat menyaksikan bahkan mempraktikkan secara langsung cara penerapan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat. Hal tersebut perlahan-lahan dapat mempengaruhi petani untuk meningkatkan keterampilan dalam bekerja, sehingga teknologi yang disuluhkan diterima dan diterapkan oleh petani dalam usahataninya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nuryanti (2003) yang menyatakan bahwa keterampilan merupakan kemampuan untuk menerapkan suatu inovasi yang dilihatnya dan dibelajar dengan menggunakan konsep dari apa yang telah diperolehnya.

Hubungan Pengetahuan dan Ketrampilan dengan Faktor Internal-Eksternal

Tingkat Pengetahuan

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berdasarkan hasil analisis Korelasi Rank Spearman pada Tabel 6.

Tabel 6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Petani

Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 6, dilihat bahwa hasil analisis menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor internal yang terdiri dari umur, tingkat pendidikan dan lama berusahatani dengan tingkat pengetahuan petani. Hal tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasi serta arah dan kekuatan hubungan yang berbeda-beda. Sedangkan faktor eksternal yakni karakteristik teknologi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan petani.

Karakteristik teknologi memiliki hubungan yang positif dan kekuatan hubungannya sedang dengan tingkat pengetahuan petani dimana hasil analisis koefisien korelasinya = 0,473. Artinya karakteristik teknologi dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan petani. Hal ini dikarenakan teknologi yang diperkenalkan mudah dipahami dan dapat mengatasi masalah yang mereka hadapi dalam budidaya tanaman tomat. Hal tersebut membuat petani merasa bahwa teknologi yang diperkenalkan jauh lebih menguntungkan karena dilihat dari segi ekonomi tidak membutuhan biaya yang banyak dan akan membantu meningatkan hasil produksi. Sejalan dengan pendapat Indraningsih (2011) bahwa bagi petani47 adopter, faktor keuntungan relative menjadi prioritas penilaian dalam pengambilan keputusan adopsi teknologi. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa teknologi yang diperkenalkan dapat meningkatkan wawasan dan pemahaman petani.

Keterampilan

Rosalia R Unul 2021 Hasil Lit Tabel 1

Faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat berdasarkan hasil analisis Korelasi Rank Spearman pada Tabel 7.

Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 7, dilihat bahwa hasil analisis menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor internal yang terdiri dari umur, tingkat pendidikan dan lama berusahatani dengan keterampilan petani. Hal tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasi serta arah dan kekuatan hubungan yang berbeda-beda. Sedangkan faktor eksternal yakni karakteristik teknologi memiliki hubungan yang signifikan dengan keterampilan petani.

Karakteristik teknologi memiliki hubungan yang positif dan hubungannya kuat dengan keterampilan petani hal ini ditunjukan dengan hasil analisis rs = 0,777. Artinya karakteristik teknologi mempengaruhi keterampilan petani. Hal ini dikarenakan teknologi yang telah diperkenalkan dapat diterima dan secara teknis mudah dilakukan. Dengan menerapkan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat dapat memperbaiki teknik budidaya guna meningkatkan produksi tomat. Selain itu petani merasa puas karena teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat akan memberikan keuntungan yang lebih karena tidak memerlukan waktu dan tenaga kerja yang banyak. Hadiwijaya (2013) dalam Kustiari (2016) mengatakan bahwa keuntungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi keputusan menerapkan teknologi. Jadi, faktor keuntungan, biaya awal yang rendah, berkurangnya ketidaknyamanan, hemat waktu dan tenaga, serta imbalan yang segera didapat menjadi pertimbangan pengambilan keptusan adopsi teknologi usahatani (Indraningsih, 2011). Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa semakin cocok teknologi pemangkasan pucuk.

KESIMPULAN

Berdasarkan penyuluhan tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat yang telah dilakukan menggunakan metode demplot, diketahui tingkat pengetahuan petani berdasarkan hasil analisis skoring memperoleh rerata skor 2,75 dan keterampilan petani memperoleh rerata skor 2,63 yang berarti berada pada kategori tinggi. Faktor yang terdapat hubungan dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan petani tentang teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat adalah faktor eksternal yakni karakteristik teknologi, sedangkan faktor internal yakni umur,tingkat pendidikan dan lama berusahatani tidak memiliki hubungan terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan petani.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui pengetahuan dan keterampilan petani meningkat akan tetapi dalam penerapkan teknologi pemangkasan pucuk pada tanaman tomat petani masih belum bisa mandiri dalam melakukan pemangkasan pucuk. Untuk itu disarankan bagi penyuluh agar melakukan pendampingan yang rutin kepada petani, dengan demikian bisa meningkatkan kemandirian petani diwaktu mendatang.

E Library

1Penulis dilahirkan di Mbeling Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur pada tanggal 04 September 1997. Penulis merupakan anak ke dua dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Paulus Jegatung dan Ibu Enilina Numul. Pada tahun 2004 penulis mulai menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Rehes, dan lulus pada tahun 2010. Pada tahun yang sama penulis menempuh pendidikan ke SMP Negeri 5 Watu Mese dan lulus pada tahun 2013. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Borong dan lulus pada tahun 2016.Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang, dan selesai pada 25 Januari 2021. 

No events