Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Respon Kelompok Tani Flobamora, Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam Pemanfaatan Daun Mimba untuk mengendalian Kutu Daun Tanaman Tomat

Response of Flobamora Farmer Group in Oebelo Village, Amanuban Selatan District, Timor Tengah Selatan Regency in Utilizing Neem Leaves for Controlling Tomato Aphids

Rikardus Registo Mali¹, Maria Klara Salli, dan Yos F.  da-Lopez - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang -2021

INTISARI. Pengendalian kutu daun tomat menggunakan pestisida kimia secara berlebihan tanpa mengikuti cara aplikasi yang tepat dapat menyebabkan resistensi hama. Salah satu teknologi yang digunakan untuk mengendalikan populasi hama adalah pestisida nabati dari ekstrak daun mimba. Pestisida ini ramah lingkungan dan bahannya mudah didapat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui respon petani dalam pemanfaatan daun mimba untuk pengendalian kutu daun tomat dan 2) mengetahui hubungan respon petani dengan karakteristik petani (umur, pendidikan, kepemilikan lahan, pengalaman usahatani). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jumlah responden sebanyak 14 orang yang diberikan penyuluhan melalui metode demonstrasi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif melalui analisis skoring dan distribusi frekuensi serta secara inferensial melalui analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon petani berada pada kategori tinggi (rerata score = 2,89; pada rentang nilai 2,34 – 3,00). Respon positif petani ini terjadi karena adanya perubahan pengetahuan dan sikap petani setelah diberikan penyuluhan melalui metode demonstrasi. Pengetahuan petani meningkat 121% dan tergolong tinggi dari pengetahuan sebelumnya (rendah, rerata skor = 1,27). Sikap petani meningkat 80% dari sikap sebelumnya (menolak, rerata skor = 1,65). Perubahan pengetahuan dan sikap petani menjadi positif sangat signifikan (Wilcoxon Signed Ranks Test; p < 0,01). Respon petani berhubungan lemah dan positif dengan karakteristik petani, tetapi tidak signifikan. Dengan demikian, karakteristik petani (umur, pendidikan, luas lahan, dan pengalaman bertani) bukan merupakan faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap penggunaan daun mimba sebagai pestisida nabati. Mungkin ada faktor lain selain karakteristik petani seperti efektivitas media/metode penyuluhan dan karakteristik teknologi yang disebarluaskan, dan hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Kata Kunci: respon, pengetahuan, sikap, pestisida nabati, nimba

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Controlling Tomato aphids using chemical pesticides excessively without following the proper application method can cause resistance to pest. One of the technologies used to control pest population is botanical pesticide from neem leaf extract. This pesticide is environmentally friendly and the materials are easily available. The study was 1) to determine the response of farmers in the use of neem leaves to control tomato aphids and 2) to determine the relationship between farmer response and farmer characteristics (age, education, land tenure, farming experience). The study used descriptive method with a total of 14 respondents who were given counseling through demonstration method. Data was collected using a questionnaire and was analyzed descriptively through scoring analysis and frequency distribution and inferentially through Spearman rank correlation analysis. The results showed that the response of farmers was in the high category (mean score = 2.89; in the range of values ​​from 2.34 to 3.00). This positive farmer response occurred because of a change in farmers' knowledge and attitudes after being given counseling through demonstration method. The knowledge of farmers increased by 121% and was classified as high from previous knowledge (low, mean score = 1.27). The attitude of farmers increased by 80% from the previous attitude (rejected, mean score = 1.65). The changes in knowledge and attitudes of farmers to be positive were very significant (Wilcoxon Signed Ranks Test; p < 0.01). The farmer's response was in weak and positive relationship with the characteristics of the farmer, but it was not significant. Thus, farmer characteristics (age, education, land area, and farming experience) were not the factors affecting farmers' responses to the use of neem leaves as a botanical pesticide. There may be other factors besides farmer characteristics such as the effectiveness of media/extension methods and the characteristics of technology disseminated, and this requires further research.

Keywords: response, knowledge, attitude, botanical pesticide, neem

Kembali ke Beranda 02


PENDAHULUAN

Kegiatan usahatani tidak terlepas dengan adanya permasalahan yang dihadapi oleh para petani. Salah satunya adalah adanya serangan hama pada tanaman budidaya. Pengendaliannya dapat menggunakan pestisida agar dapat menekan populasi hama sampai pada pemberantasannya. Namun, kenyataan di lapangan pestisida yang sering digunakan petani dalam lingkungan pertanian yaitu pestisida kimia. Pengendalian hama menggunakan pestisida kimia dapat meningkatkan kualitas tanaman tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi Kesehatan pengguna, konsumen dan lingkungan pertanian yaitu terjadinya resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami hama serta dapat meracuni tanaman. Oleh sebab itu, perlu dicari pestisida alternatif untuk mensubstitusi pestisida kimia tersebut. Salah satunya adalah menggunakan senyawa kimia alami yang berasal dari tanaman yang dikenal dengan pestisida botanik (Sudarmo, 2005) Kendala yang sering dialami oleh kelompok tani ini yakni gangguan hama pada tanaman tomat.

Jenis hama yang paling dominan menyerang pada tanaman tomat adalah hama kutu daun. Hama kutu daun pada umumnya adalah Aphis Sp. Pada pengendaliannya petani cenderung menggunakan pestisida kimia yang bisa menyebabkan hama menjadi kebal atau resisten, terhadap pestisida yang sering digunakan, selain itu pestisida menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, (air dan tanah) dan tidak ramah lingkungan, sementara itu, populasi tanaman mimba di Desa Oebelo sangat banyak dan hanya dijadikan sebagai penguat pagar dan kayu bakar. Oleh karena itu, dari potensi tanaman mimba yang tersedia dapat menjadi solusi yang baik bagi petani dalam mencari dan digunakan sebagai bahan utama pembuatan pestisida nabati dari daun mimba.

Daun mimba (Azadirachta indica) merupakan daun majemuk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membasmi hama dengan cara yang tradisional dan ramah lingkungan, karna penggunaan daun mimba sebagai pestisida nabati tidak menimbulkan dampak atau pencemaran yang membahayakan masyarakat sekitar. Daun mimba merupakan sumber bahan pestisida nabati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama dan penyakit. Daun mimba memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida, bakterisida, maupun akarisida. Daun mimba memiliki efek anti serangga dengan azadirachtin sebagai komponen yang paling potensial untuk pengendalian hama ulat, kutu-kutuan dan penyakit pada tanaman. Daun mimba dapat dijadikan sebagai pestisida nabati karena mengandung azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin, yang dapat mengendalikan hama kutu daun pada tomat (Handayani 2003).

Respon petani mempengaruhi pemanfaatan dan penerapan suatu teknologi. Respon mengandung arti bahwa seorang individu memberikan tanggapan terhadap obyek atau benda dari peristiwa yang dilihat atau dialaminya. Berdasarkan gambaran tersebut, penelitian tentang respon kelompok tani dalam pemanfaatan daun mimba untuk pengendalian kutu daun tanaman tomat dilakukan di Kelompok Tani Flobamora, Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. 

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui respon petani dalam pemanfaatan pestisida daun mimba untuk pengendalian kutu daun tanaman tomat, dan
  2. Mengetahui hubungan respon petani dengan karakteristik petani (umur, tingkat pendidkan, luas lahan, pengalaman Bertani) dalam pemanfaatan pestisida daun mimba untuk pengendalian kutu daun tanaman tomat.

METODE PENELITIAN

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara untuk mengumpulkan data dan kemudian mengolah data sehingga menghasilkan data yang dapat memecahkan permasalahan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menggambarkan masalah yang tejadi pada masa sekarang atau yang sedang berlangsung, bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang terjadi sebagaimana mestinya pada saat penelitian dilakukan. Untuk dapat mengetahui perubahan perilaku atau respon petani terhadap inovasi suatu teknologi baru. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode demonstrasi cara dengan mengaplikasikan pestisida daun mimba. untuk mengendalikan hama kutu daun tanaman tomat.

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Sumber dan Jenis Data Penelitian

Sumber data yang digunakan dalam dalam penelitiaan ini adalah: 1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dilokasi atau wilayah penelitian melalui observasi, demonstrasi cara dan wawancara berstruktur yakni menggunakan kuesioner atau pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya oleh penulis. 2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui sumber bacaan atau referensi yang diperoleh dari lembaga atau instansi terkait yang mendukung penelitian ini. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara kuesioner, demonstrasi cara, kepustakaan.

Penentuan Populasi dan Sampel

Penentuan populasi dan sampel menggunakan metode sensus karena seluruh anggota Kelompok Tani Flobamora yang berjumlah 14 orang, semuanya membudidayakan tanaman tomat dan tanaman mereka terserang hama kutu daun sehingga semua populasi dijadikan sampel.

Metode Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui analisis skoring dan distribusi frekuensi dan secara inferensial melalui analisis korelasi rank Spearman. Untuk menganalisis respon petani meliputi tahap-tahap adopsi sebagai berikut: kesadaran, minat, menilai, mencoba, menerapkan. Perhitungan nilai skor total atas skor tiap komponen yang diteliti, dengan cara mengalikan frekuensi data dengan nilai bobotnya menurut Umar (1999) sehingga diperoleh acuan kategori seperti pada Tabel 1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara respon (pengetahuan dan sikap) dengan factor internal–eksternal petani, mengunakan rumus Uji Korelasi Rank Spearman (rs) dengan rumus Siegel (1997).  Data diolah menggunakan program analisis statistik SPSS dengan hipotesis dan criteria pengujian sebagai berikut:

  • Jika nilai (rs) = 0, maka terima H0 : Tidak terdapat hubungan antara respon petani dengan faktor eksternal –ek ternal
  • Jika nilai (rs) ≠ 0, maka terima H0 : Terdapat hubungan antara responpetani dengan faktor – factor eksternal – internal

Tingkat signifikasi hubungan antara variabel yang diuji, ditentukan menggunakan nilai probabilitas (P) atau nilai signifikasi hasil analisis menggunakan program SPSS dibandingkan dengan tarat kepercayaan yang digunakan 95% dengan kaidah pengujian sebagai berikut:

  • Jika nilai probabilitas (P) < 0,05 signifikan (*)
  • Jika nilai probabilitas (P) > 0,05 tidak signifikan

HASIL PENELITIAN

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Hasil analisis Statistika Deskriptif (Tabel 3) menggambarkan secara umum tentang keadaan karakterisitik petani, pengetahuan, sikap, dan respon petani. Rerata skor umur petani adalah 1,93 , berada dalam kategori usia paruh baya, yaitu berumur 38 – 47 tahun. Rerata skor pendidikan petani adalah 1,64, berada dalam kategori rendah, yaitu berpendidikan SD/ sederajat.Rerata skor luas lahan atau penguasaan lahan adalah 1,93, berada dalam kategori sedang, yaitu 0,24 - 0,38 ha atau sekitar 24 – 38 are. Rerata skor pengalaman berusahatani adalah 1,79, berada dalam kategori sedang, yaitu 18 – 27 tahun. Rerata skor pengetahuan petani sebelum penyuluhan adalah 1,28, berada pada kategori rendah Rerata skor pengetahuan petani setelah penyuluhan adalah 2,81, berada pada kategori tinggi. Rerata skor sikap petani sebelum penyuluhan adalah 1,65, berada pada kategori menolak. Rerata skor sikap petani setelah penyuluhan adalah 2,98, berada pada kategori menerima. Rerata skor respon petani sebelum penyuluhan adalah 1,46, berada pada kategori renda. Rerata skor respon petani seetelah penyuluhan adalah 2,89, berada pada kategori rendah. Sikap, pengetahuan, dan respon petani selengkapnya akan dibahas pada bagian tersendiri. Demikian pula dengan hubungan antara karakteristik petani dengan pengetahuan, sikap, dan respon.

 

Respon Petani terhadap Pemanfaatan Pestisida Nabati Daun Mimba

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Pengukuran respon petani ditentukan melalui indicator pengetahuan dan sikap petani menggunakan nilai rerata skor pengetahuan dan sikap petani, kemudian dibandingkan dengan acuan kategori pada Tabel 1. Hasil analisis skoring (Tabel 4) menunjukkan bahwa respon petani (pengetahuan + sikap) sebelum penyuluhan berada pada kategori rendah (rerata skor = 1,46, Tabel 4) dan setelah penyuluhan berada pada kategori tinggi (rerata skor = 2,89, Tabel 4). Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan respon petani setelah penyuluhan sebesar 1,43 atau 97,8% dari respon sebelumnya. Hasil analisis distribusi frekuensi (Tabel 5) menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan, sebanyak 71,4% petani memberikan respon rendah dan 28,6% petani memberikan respon sedang. Akan tetapi setelah diberikan penyuluhan, 100% memberikan respon tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan melalui demonstrasi cara mampu mengubah respon petani tentang pemanfaatan daun nimba sebagai pestisida nabati dari rendah menjadi tinggi.

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Pengetahuan Petani terhadap Pemanfaatan Pestisida Nabati Daun Mimba

Hasil analisis skoring (Tabel 4) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan petani sebelum penyuluhan berada pada kategori rendah (rerata skor = 1,28, Tabel 4) dan setelah penyuluhan berada pada kategori tinggi (rerata skor = 2,81, Tabel 4). Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan respon petani setelah penyuluhan sebesar 1,54 atau 121% dari tingkat pengetahuan sebelumnya. Hasil analisis distribusi frekuensi (Tabel 5) menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan, sebanyak 92,9% petani memiliki pengetahuan rendah dan 7,1% petani memiliki pengetahuan sedang. Akan tetapi setelah diberikan penyuluhan, 100% memberikan memiliki pengetahuan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan melalui demonstrasi cara mampu mengubah tingkat pengetahuan petani tentang pemanfaatan daun nimba sebagai pestisida nabati dari rendah menjadi tinggi.

Sikap Petani terhadap Pemanfaatan Pestisida Nabati Daun Mimba

Hasil analisis skoring (Tabel 4) menunjukkan bahwa sikap petani sebelum penyuluhan berada pada kategori menolak (rerata skor = 1,65, Tabel 4) dan setelah penyuluhan berada pada kategori menerima (rerata skor = 2,98, Tabel 4). Ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan sikap petani setelah penyuluhan sebesar 1,33 atau 80,3% dari sikap sebelumnya. Hasil analisis distribusi frekuensi (Tabel 5) menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan, sebanyak 35,7% petani bersikap menolak dan 64,3% petani bersikap ragu-ragu. Akan tetapi setelah diberikan penyuluhan, 100% petani menerima teknologi yang disuluhkan. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan melalui demonstrasi cara mampu mengubah sikap petani petani tentang pemanfaatan daun nimba sebagai pestisida nabati dari yang sebelumnya menolak dan ragu-ragu menjadi menerima.  

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1

Penyuluhan tentang pemanfaatan daun mimba sebagai pestisida, apakah secara nyata atau tidak nyata mengubah respon, pengetahuan, dan sikap petani dikonfirmasi melalui uji statistic menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test untuk 2-sampel berhubungan/berpasangan, yaitu sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan.  Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test (Tabel 6) menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi baik pada pengetahuan, sikap, maupun respon petani adalah sangat nyata (signifikan/berarti) (p < 0,01).  

 Respon petani yang awalnya rendah karena petani belum pernah mendapatkan penyuluhan terkait pemanfaatan daun mimba menjadi pestisida nabati/organik. Adapula petani yang pernah mendengarkan informasi mengenai pemanfaatan daun menjadi pestisida nabati/organik, akan tetapi informasi yang diperoleh tidak lengkap dan petani tidak berupaya untuk mencari tahu lebih jauh. Setelah penyuluhan melalui demonstrasi cara terjadi perubahan pengetahuan baik pemahaman pestisida nabati daun mimba maupun proses pembuatan dan cara mengaplikasikannya. Sikap petani yang sebelum menolak karena belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang pemanfaatan daun mimba sebagai pestisida nabati dalam pengendalian hama. Setelah penyuluhan, sikap petani berubah menjadi menerima teknologi yang diberikan.

Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan petani terhadap suatu inovasi teknologi dipengaruhi oleh kemampuan memberi makna atau arti dari suatu teknologi. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Setelah adanya perubahan perilaku barulah petani akan memahami dan menerima atau menolak inovasi teknologi tersebut.

Hubungan Respon dengan Karakteristik Petani

Isto Mali Hasl Lit Tabel 1Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara respon petani dan indikatornya (pengetahuan dan sikap) dengan karakteristik petani, dilakukan uji korelasi non parameterik mengunakan korelasi rank Spearman.  Variabel karaktersitik petani yang diuji disini adalah umur, pendididkan, luas lahan, dan pengalaman berusaha tani. Uji korelasi dilakukan pada taraf kepercayaan 95% atau pada α= 5%. Kekuatan hubungan nilai koefisien korelasi menggunakan acuan seperti pada Tabel 2. Hasil analisis korelasi rank Spearman (Tabel 7) menunjukkan bahwa terdapat hubungan lemah (rs ≠ 0; nilai rs berada diantara 0,20 – 0,40) antara respon petani dengan karakteristik petani dan hubungan tersebut tidak signifikan (p > 0,05). Korelasi respon dengan karakteristik petani ini dapat juga dilihat melalui indicator-indikatornya, yaitu pengetahuan dan sikap petani.

Umur dan Pendidikan petani memiliki hubungan yang lemah (rs ≠ 0; nilai rs berada diantara 0,20 – 0,40) dan tidak signifikan dengan pengetahuan petani (p > 0,05), sementara luas lahan dan pengalaman bertani memiliki hubungan sangat lemah (rs ≠ 0; nilai rs berada diantara 0,00 – 0,20) dan tidak signifikan dengan pengetahuan petani (p > 0,05). Dalam hubungannya dengan sikap petani: umur, pendidikan, dan pengalaman bertani memberikan hubungan yang sangat lemah (rs ≠ 0; nilai rs berada diantara 0,00 – 0,20) dan tidak signifikan (p > 0,05), sementara luas lahan memberikan hubungan lemah (rs ≠ 0; nilai rs berada diantara 0,20 – 0,40) dan tidak signifikan (p > 0,05).

Hasil ini menunjukkan bahwa karaktersitik petani bukan merupakan factor yang mempengaruhi respon petani dalam pemanfaatan daun mimba sebagai pestisida nabati. Kemungkinan ada faktor lain di luar karakteristik petani seperti efektifitas media atau metode penyuluhan dan karaktersitik teknologi yang diberikan, dan ini membutuhkan penelitian lanjutan.

Terkait faktor pendidikan, Soekartawii (2005) mengemukakan bahwa banyaknya atau lamanya sekolah/pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapannya dalam pekerjaan tertentu. Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yang lebih besar dalam menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga. Sementara, Hasmin (2003) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal yang dimiliki petani akan menunjukan tingkat pengetahuan serta wawasan yang luas untuk petani menerapkan apa yang diperolehnya untuk meningkatkan usahataninya. Mengenai tingkat pendidikan petani, dimana mereka yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Tingkat pendidikan manusia pada umumnya menunjukan daya kreaktifitas manusia dalam berfikir dan bertindak.

Terkait luas lahan, Mardikanto (2003) menyatakan bahwa luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan rumah tangga petani. Luas penguasaan lahan akan berpengaruh terhadap adopsi inovasi, semakin luas usahataninya maka semakin tinggi hasil produksi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, petani dengan kepemilikan lahan yang rata-rata luas akan lebih mudah menerima perubahan dalam sistem pertanian (Raharjo 2002).

KESIMPULAN

Respon petani terhadap pemanfaatan daun mimba sebagai pestisida nabati berada dalam kategori tinggi (rerata skor = 2,89; dalam rentang nilai 2,34 – 3,00).  Respon petani yang positif (tinggi) ini terjadi karena adanya perubahan pengetahuan dan sikap petani setelah diberikan penyuluhan melalui demonstrasi cara. Pengetahuan petani mengalami peningkatan sebesar 121% dan tergolong tinggi dari pengetahuan sebelumnya (rendah, rerata skor = 1,27). Sikap petani mengalami peningkatan sebesar 80% dari sikap sebelumnya (menolak, rerata skor = 1,65). Perubahan pengetahuan dan sikap petani tersebut ke arah positif sangat nyata atau signifikan (Wilcoxon Signed Ranks Test; p < 0,01). Respon petani tersebut memiliki hubungan yang lemah dan positif dengan karakteristik petani tetapi signifikan. Dengan demikian karaktersitik petani (umur, Pendidikan, luas lahan, dan pengalaman bertani) bukan merupakan faktor yang mempengaruhi respon petani dalam pemanfaatan daun mimba sebagai pestisida nabati. Kemungkinan ada faktor lain di luar karakteristik petani seperti efektifitas media atau metode penyuluhan dan karaktersitik teknologi yang diberikan, dan ini membutuhkan penelitian lanjutan.

 

E Library

1Penulis dilahirkan di Kolbano pada tanggal 23 Juli 1996. Penulis mengawali pendidikan formal pada tahun 2002 di Sekolah Dasar Katolik (SDK) St Petrus Kanisius Panite dan tamat pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu (SMPN1) Amanuban Selatan dan tamat berijazah pada tahun 2011. Kemudian penulis melanjutkan studi pada Sekolah Menengah Atas Negeri Satu (SMAN1) dan tamat berijazah pada tahun 2014. Pada tahun yang sama penulis diterima menjadi mahasiswa pada Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan dan selesai pada 30 Juli 2021, dengan Tugas Akhir yang berjudul “Respon Kelompok Tani Flobamora Dalam Pemanfaataan Daun Mimba Untuk Pengendalian Kutu Daun Tanaman Tomat Di Desa Oebelo Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan” 

No events