Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Persepsi Petani di Desa Umanen-Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka dalam Pemanfaatan Daun Gamal sebagai Pestisida Nabati

Perceptions of Farmers in Umanen-Lawalu Village, Central Malaka Subdistrict, Malaka District in the Utilization of Fresh Gamal Leaves as Botanical Pesticide

Absintus R. Nuban1Abdul Kadir Djaelani2, Yos F. da-Lopez2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2021

INTISARI. Keputusan petani untuk memanfaatkan daun gamal sebagai pestisida nabati tergantung dari persepsinya yang berhubungan dengan sikap dan pengetahuan terhadap teknologi tersebut. Untuk itu, penelitian tentang persepsi petani dalam pemanfaatan daun gamal sebagai pestisida nabati, dilaksanakan di Desa Umanen-Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan sikap, pengetahuan, dan persepsi petani, 2) mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan persepsi petani dan 3) mengetahui hubungan faktor-faktor yang menganggu hubungan pengetahuan dan sikap petani terhadap persepsi petani dalam pemanfaatan daun gamal sebagai pestisida nabati. Penelitian ini dilakukan melalui penyuluhan kepada 23 petani menggunakan metode demonstrasi cara. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dan dianalisis menggunakan analisis univariat (skoring dan distribusi frekuensi) dan analisis bivariat (uji-chi square) melalui tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani (82,61%) memberikan persepsi positif terhadap teknologi yang disuluhkan, dimana skor persepsi meningkat sebesar 17,39% dari persepsi awal (62,8%) sebelum diberikan penyuluhan. Persepsi petani tersebut memiliki hubungan signifikan dengan pengetahuan petani (Pearson χ2 = 5,83; p = 0,016 < 0,05) dan sikap petani (Pearson χ2 = 11,185; p = 0,001 < 0,05), dimana sikap dan pengetahuan petani ini merupakan faktor resiko yang memberikan efek terhadap persepsi petani (nilai Odds ratio > 1, selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1, signifikan). Karaktersitik petani, dalam kategori umur, pendidikan, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan (Pearson χ2; p > 0,05, tidak signifikan). Umur, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan merupakan factor protektif (nilai Odds ratio < 1, sedangkan pendidikan merupakan factor resiko (nilai Odds ratio > 1) yang mengganggu hubungan pengetahuan dan sikap petani terhadap persepsi petani, tetapi tidak signifikan (selang kepercayaan 95% mengandung nilai 1), dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karakteristik petani bukan merupakan faktor resiko/protektif yang menganggu hubungan pengetahuan dan sikap terhadap persepsi petani. Disarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan petani, perlu adanya pendidikan non-formal dan reward dari instansi terkait kepada petani dalam rangka membentuk sikap positif petani dan persepsi petani.

Kata kunci: persepsi, pengetahuan, sikap, pestisida nabati.

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. The decision of farmers to use Gamal leaves as a botanical pesticide depends on their perceptions related to attitudes and knowledge to the technology dessiminated. For this reason, a study on farmers' perceptions to he use of gamal leaves as a botanical pesticide was carried out in Umanen-Lawalu Village, Central Malaka Subdistrict, Malaka District. The study was to 1) describe the attitudes, knowledge, and perceptions of farmers, 2) find out the relationship between knowledge and attitudes to  farmers' perceptions and 3) find out the relationship of factors that interfere with the relationship of farmers' knowledge and attitudes to farmers' perceptions in the use of gamal leaves as a botanical pesticide. The studi was conducted through counseling to 23 farmers using the demonstration method. Data were collected through a questionnaire and analyzed using univariate analysis (scoring and frequency distribution) and bivariate analysis (chi-square test) through crosstabulation. The results showed that most farmers (82.61%) gave a positive perception, which the perception score increased by 17.39% from the initial perception (62.8%) before being given counseling. Farmers' perceptions had a significant relationship in farmer knowledge (Pearson χ2 = 5.83; p = 0.016 < 0.05) and in farmer attitudes (Pearson χ2 = 11.185; p = 0.001 < 0.05), which the attitudes and knowledge of farmers were risk factors that had an effect on farmers' perceptions (odds ratio value > 1, 95% confidence interval did not contain a value of 1, significant). Farmers' characteristics, in the categories of age, education, farming experience, and land tenure gave the similar perception (positive) to the technology disseminated (Pearson χ2; p > 0.05, not significant). Age, farming experience, and land tenure of farmers were protective factors (Odds ratio < 1, while education was a risk factor (Odds ratio > 1) that interfered with the relationship of farmers' knowledge and attitudes to the farmer perceptions, but not significant (95% confidence interval contained value of 1). Thus, it can be said that the characteristics of farmers were not a risk/protective factor that interfered with the relationship between knowledge and attitudes to farmers' perceptions. It is suggested that to increase the knowledge of farmers, it is necessary to have non-formal education and rewards from relevant agencies to farmers in order to form positive attitudes of farmers and farmers' perceptions.To increase farmers' knowledge, it is necessary to provide non-formal education and rewards from relevant agencies to farmers in order to increase positive attitudes and perceptions of farmers.

Keywords: perception, knowledge, attitude, botanical pesticide. 


PENDAHULUAN

Pestisida nabati merupakan salah satu inovasi yang mendukung pengembangan pertanian organik karena terbuat dari bahan-bahan organik yang ada disekitar atau bahan-bahan organik yang mudah di dapat. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari bahan alami yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami maka pestisida nabati bersifat mudah terurai (bio-degradabel) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Selain itu, penggunaan pestisida nabati dapat menjamin keamanan ekosistem sehingga dapat mendukung pertanian berkelanjutan. Salah satu bahan alami yang dijadikan sebagai pestida nabati adalah dengan memanfaatkan daun gamal sebagai bahan baku pembuatan pestisida nabati.

Desa Umanen Lawalu memiliki potensi alam yang dapat mendukung pembuatan pestisida nabati untuk mengendalikan hama dengan pemanfaatan daun gamal. Akan tetapi, petani belum mengetahui cara untuk membuat pestisida nabati dari daun gamal dan tembakau. Untuk mengatasi hal tersebut, informasi tentang cara memanfaatkan daun gamal untuk dijadikan sebagai pestisida nabati perlu disebarkan kepada petani melalui kegiatan penyuluhan. Keputusan petani untuk memanfaatkan daun gamal sebagai pestisida nabati setelah diberikan penyuluhan tergantung dari persepsinya terhadap teknologi yang diinformasikan tersebut. Persepsi petani tergantung pada pengetahuan dan sikapnya terhadap teknologi tersebut dan juga faktor lainnya (pengganggu) seperti karakteristik petani, yaitu umur, pendidikan, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan. Untuk itu, penelitian tentang persepsi petani dalam pemanfaatan daun gamal sebagai pestisida nabati, dilakukan.

TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan sikap, pengetahuan, dan persepsi petani, 2) mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan persepsi petani dan 3) mengetahui untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang menganggu hubungan dari pengetahuan dan sikap petani terhadap persepsi petani dalam pemanfaatan daun gamal sebagai pestisida nabati.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada 23 petani tanaman cabai padi dan hortikultura di di Desa Umanen-Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Penelitian ini dilakukan melalui penyuluhan kepada 23 petani menggunakan metode demonstrasi cara. Data penelitian dikumpulkan melalui angket (kuesioner) dan dianalisis menggunakan analisis univariat (skoring dan distribusi frekuensi) dan analisis bivariat (uji-chi square) melalui tabulasi silang.

Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan penelitian, karena dengan instrumen yang baik akan diperoleh data atau informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Instrumen yang dimaksud dalam penelitian sosial dapat berupa: (1) kuesioner atau daftar pertanyaan, (2) teknologi yang didesiminasikan (berupa peralatan, produk, model atau teknologi lainnya), (3) materi penyuluhan berupa LPM dan sinopsis, (4) materi demonstrasi (alat dan bahan), (5) media penyuluhan berupa leaflet, (6) software yang digunakan dalam analis data.

Metode Analisis Data

Sintus Nuban Gambar Variabel LitAnalisis Univariat

Analis ini dilakukan terhadap variabel-variabel penelitian, yaitu pengetahuan, sikap, dan persepsi serta karakteristik petani (umur, pendidikan, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan) sebagai faktor penganggu. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Hasil analisis ini disajikan data bentuk distribusi frekuensi dan/atau diagram. Pemberian skoring terhadap variabel pengetahuan, sikap, dan persepsi dilakukan terhadap nilai persentase skor yang diperoleh setiap petani, yaitu: % Skor = {(total skor diperoleh) ÷ (jumlah pertanyaan)} × 100%. Kriteria penilaian tingkat pengetahuan, sikap, dan persepsi petani ditentukan sebagai berikut (klik disini)

Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat (Notoatmodjo, 2002). Uji statistik pada penelitian ini menggunakan uji Chi-Square (χ2), dan jika tidak memenuhi syarat uji tersebut, maka uji yang dipakai adalah uji fisher untuk tabel 2 × 2 dan penggabungan sel sebagai langkah alternatif uji Chi-square untuk tabel selain 2 × 2 serta tabel 2 × k, sehingga terbentuknya tabel baris × kolom (B × K) yang baru. Setalah dilakukan penggabungan sel, uji hipotesis ditentukan sesuai dengan tabel B × K tersebut.

Estimasi Resiko (Odds Ratio)

Odds Ratio (OR) merupakan perhitungan matrix dengan ordo 2 x 2. Penentuan OR dengan Tabel 2 × 2 untuk pengetahuan, sikap, presepsi, dan karakteristik petani adalah sebagai berikut (klik disini).  Rumus Odds ratio adalah:

OR = [A/(A+B)]÷ [C/(A+B)] (lihat Tabel 2 x 2),

Dimana:  A = Subyek dengan faktor resiko yang mengalami efek, B = Subyek dengan faktor resiko yang, tidak mengalami efek, C = Subyek tanpa faktor resiko yang mengalami efek, D = Subyek tanpa faktor resiko yang tidak mengalami efek.

Interpretasi nilai OR dan 95% selang kepercayaan adalah:

  1. Bila OR > 1 dan 95% selang kepercayaan tidak mencakup angka 1 maka signifikan, yaitu faktor yang diteliti merupakan faktor risiko yang menimbulkan efek (persepsi petani negatif/positif)
  2. Bila OR > 1 dan 95% selang kepercayaan mencakup angka 1 maka tidak signifikan, yaitu faktor yang diteliti belum tentu merupakan faktor risiko yang menimbulkan efek (persepsi petani negatif/positif)
  3. Bila OR < 1 dan 95% selang kepercayaan tidak mencakup angka 1 maka signifikan, faktor yang diteliti merupakan faktor protektif yang dapat mengurangi efek (persepsi petani negatif/positif)
  4. Bila OR =1, 95% selang kepercayaan tidak mencakup angka 1 maka tidak signifikan, yaitu faktor yang diteliti bukan merupakan faktor risiko yang menimbulkan efek (persepsi petani negatif/positif)

HASIL PENELITIAN

Deskiripsi Pengetahuan, Sikap, dan Persepsi Petani

Sintus Nuban Gambar 1 3Deskripsi pengetahuan, sikap, dan persepsi petani dianalisis menggunakan analisis univariat atau deskriptif, yaitu distribui frekuensi dan skoring.

Pengetahuan Petani

Gambar 1 menunjukkan bahwa pengetahuan awal petani (sebelum penyuluhan) berada pada “kategori cukup” dengan dengan rerata skor sebesar 62,39% dan terjadi pada 52,17% petani. Sedangkan, pengetahuan akhir petani (sesudah penyuluhan) berada pada “kategori baik” dengan rerata skor 75,43% dan terjadi pada 60,87% petani. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan pengetahuan, yaitu peningkatan sebesar 13,04% dari pengetahuan sebelumnya. Gambar 1 juga menginformasikan bahwa terjadi penurunan sebesar 21,74% pada petani yang sebelumnya ber-pengetahuan kurang, penurunan sebesar 26,09% pada petani yang sebelumnya ber-pengetahuan sedang, dan peningkatan sebesar 47,83% pada petani yang sebelumnya berpengetahuan baik. 

Hal ini menunjukkan bahwa dengan menyampaikan informasi melalui penyuluhan kepada petani tentang pestisida nabati daun gamal dapat meningkatkan pengetahuan petani. Perubahan pengetahuan berkaitan erat dengan kehadiran penyuluh dalam melakukan pendampingan, keterbatasan Pendidikan petani menjadi kendala tersendiri, oleh karenanya kehadiran penyuluh pertanian dirasakan sangat membantu petani melakukan kegiatannya. Dengan berbagai metode penyuluhan yang diterapkan secara terus menerus dapat menyadarkan petani untuk meninggalkan pola-pola usahatani yang tidak efisien dan beralih ke pola usahatani yang lebih efisien dan modern guna meningkatkan produktivitas usahataninya (Mardikanto, 2009).

Sikap Petani

Gambar 2 menunjukkan bahwa sikap petani, baik sikap awal (sebelum penyuluhan) maupun sikap akhir (setelah penyuluhan) berada pada “kategori menerima” dengan rerata skor awal sebesar 74,64% dan terjadi pada 78,26% petani dan rerata skor akhir 82,61% dan terjadi pada 82,61% petani. Perubahan sikap tersebut mengalami peningkatan sebesar 7,97% dari sikap petani sebelumnya. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa terjadi penurunan sebesar 4,35% pada petani yang sebelumnya bersikap menolak atau peningkatan sebesar 4,35% pada petani yang sebelumnya bersikap menerima.

Persepsi Petani

Gambar 3 menunjukkan bahwa persepsi petani, baik persepsi awal (sebelum penyuluhan) maupun persepsi akhir (setelah penyuluhan) berada pada “kategori positif” dengan rerata skor awal sebesar 62,68% dan terjadi pada 60,87% petani dan rerata skor akhir 80,07%% dan terjadi pada 82,61% petani. Perubahan perubahan tersebut mengalami peningkatan sebesar 17,39% dari persepsi petani sebelumnya. Gambar 3 juga memperlihatkan bahwa terjadi penurunan persepsi petani sebesar 21,74% pada petani yang sebelumnya memiliki persepsi negatif atau terjadi peningkatan sebesar 21,74% pada petani yang sebelumnya memiliki persepsi positif. Untuk mengetahui lebih jelas hubungan antara pengetahuan dan sikap petani dengan persepsi petani, digunakan adalah “analisis bivariat” menggunakan Uji Chi-Square melalui tabulasi silang.  

Hubungan Antara Pengetahuan dan Persepsi Petani setelah Penyuluhan

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 1) menunjukkan bahwa dari 20 petani yang berpengetahuan “cukup+baik”, 90% diantaranya ber-persepsi positif dan 10% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari 3 orang petani yang berpengetahuan “kurang”, 66,7% diantaranya ber-persepsi negatif dan 33,3% berpersepsi positif. Hasil ini menunjukkan bahwa petani yang pengetahuannya kurang pada umumnya akan memberikan persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan, sementara petani yang pengetahuannya cukup dan baik pada umumnya memberikan persepsi positif terhadap teknologi yang disuluhkan. Hasil uji Chi-Square (χ2) mengkonfirmasi adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan persepsi petani tersebut (Pearsonχ2 = 5,831; p = 0,016 < 0,05; Tabel 1).

Berdasarkan Tabel Risk Estimate (Tabel 1): nilai Odds Ratio (OR) adalah 18,00. Ini menunjukkan bahwa petani yang pengetahuannya “cukup dan baik” memiliki kecenderungan untuk ber-persepsi positif terhadap teknologi yang disuluhkan sebesar 18 kali lebih besar dibandingkan dengan petani yang pengetahuannya “kurang” dengan selang kepercayaan 1,08 – 298,99 dan signifikan (nilai OR > 1; selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1). Hasil ini menunjukkan bahwa “pengetahuan petani merupakan faktor resiko” (yang memberikan efek/pengaruh) yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap teknologi yang disuluhkan.

Hubungan Antara Pengetahuan dan Persepsi Petani sebelum Penyuluhan

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 2) menunjukkan bahwa dari 15 petani yang berpengetahuan “cukup+baik”, 80% diantaranya ber-persepsi positif dan 20% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang akan disuluhkan. Sementara itu dari 8 orang petani yang berpengetahuan “kurang”, 75% diantaranya ber-persepsi negatif dan 25% berpersepsi positif. Hasil ini menunjukkan bahwa petani yang pengetahuannya kurang pada umumnya akan memberikan persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan, sementara petani yang pengetahuannya cukup dan baik pada umumnya memberikan persepsi positif terhadap teknologi yang akan disuluhkan. Hasil uji Chi-Square (χ2) mengkonfirmasi adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan persepsi petani tersebut (Pearsonχ2 = 6,626; p = 0,01 < 0,05; Tabel 2).

Berdasarkan Tabel Risk Estimate (Tabel 2): nilai Odds Ratio (OR) adalah 12,00. Ini menunjukkan bahwa petani yang pengetahuannya “cukup dan baik” memiliki kecenderungan untuk ber-persepsi positif terhadap teknologi yang disuluhkan sebesar 12 kali lebih besar dibandingkan dengan petani yang pengetahuannya “kurang” dengan selang kepercayaan 1,560 – 92,287 dan signifikan (nilai OR > 1; selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1). Karena nilai OR > 1, ini menunjukkan bahwa “pengetahuan petani merupakan faktor resiko”(yang memberikan efek/pengaruh) yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap teknologi yang akan disuluhkan.

Hubungan antara Sikap dengan Persepsi Petani setelah Penyuluhan

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 3) menunjukkan bahwa dari 19 petani yang bersikap“menerima”, 94,7% diantaranya ber-persepsi positif dan 5,3% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari 4 orang petani yang bersikap “menolak”, 75% diantaranya ber-persepsi negatif dan 25% ber-persepsi positif. Hasil ini menunjukkan bahwa petani yang sikapnya menolak pada umumnya berpersepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan, sementara petani yang sikapnya menerima pada umumnya ber-persepsi positif terhadap teknologi disuluhkan. Hasil uji Chi-Square (χ2) mengkonfirmasi adanya hubungan signifikan antara sikap dan persepsi petani tersebut (Pearsonχ2 = 11,185; p = 0,001 < 0,05; Tabel 3).

Berdasarkan Tabel Risk Estimate (Tabel 3): nilai Odds Ratio (OR) adalah 54,00. Ini menunjukkan bahwa petani yang sikapnya menerima memiliki kecenderungan untuk ber-persepsi terhadap teknologi yang disuluhkan sebesar 54 kali lebih besar dibandingkan dengan petani yang sikapnya “menolak” dengan selang kepercayaan 2,611– 1116,898 dan signifikan (nilai OR > 1; selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1). Karena nilai OR > 1, ini menunjukkan bahwa “sikap petani merupakan faktor resiko”(yang memberikan efek/pengaruh) yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap teknologi yang disuluhkan.

Hubungan antara Sikap dengan Persepsi Petani sebelum Penyuluhan

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 4) menunjukkan bahwa dari 18 petani yang bersikap“menerima”, 77,8% diantaranya ber-persepsi positif dan 22,2% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang akan disuluhkan. Sementara itu dari 5 orang petani yang bersikap“menolak”, 100% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang akan disuluhkan. Hasil ini menunjukkan bahwa petani yang sikapnya menolak pada umumnya berpersepsi negative terhadap teknologi yang akan disuluhkan, sementara petani yang sikapnya menerima pada umumnya ber-persepsi positif terhadap teknologi yang akan disuluhkan. Hasil uji Chi-Square (χ2) mengkonfirmasi adanya hubungan signifikan antara sikap dan persepsi petani tersebut (Pearsonχ2 = 9,938; p = 0,002 < 0,05; Tabel 4).

Berdasarkan Tabel Risk Estimate (Tabel 4): nilai Odds Ratio (OR) adalah 0,222. Ini menunjukkan bahwa petani yang sikapnya menerima memiliki kecenderungan untuk ber-persepsi negatif terhadap teknologi yang akan disuluhkan sebesar 0,2 kali lebih besar atau 5 kali lebih kecil dibandingkan dengan petani yang sikapnya “menolak” dengan selang kepercayaan 0,094– 0,527 dan signifikan (nilai OR < 1; selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1). Karena nilai OR <1, ini menunjukkan bahwa “sikap petani tersebut merupakan faktor protektif”(yang memberikan efek/pengaruh) yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap teknologi yang akan disuluhkan.

Berikut ini Diagram Ringkasan Hasil Penelitian

Sintus Nuban Ringkasan Hasil 1 Sintus Nuban Ringkasan Hasil 2

Hubungan antara Karakteristik Petani (Variabel Penganggu) dengan Persepsi Petani

Variabel pengganggu adalah suatu variabel bebas (selain dari penyebab yang dihipotesiskan) yang mempunyai atau dapat menimbulkan pengaruh pada variabel terikat, tetapi penyebarannya secara sistematik berkaitan dengan variabel penyebab yang dihipotesiskan (Kirk, 2013). Variabel pengganggu dalam penelitian ini karakteristik petani seperti umur, pendidikan, pengalaman bertani, dan luas lahan (penguasaan lahan). Hasilnya disajikan pada Tabel 5-7 sebagai berikut ini.

A. Hubungan Umur Petani dengan Persepsi Petani

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 5) menunjukkan bahwa dari total 65,20% petani berusia muda (< 41 tahun), 52,20% diantaranya ber-persepsi positif dan 13% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari total 34,80% petani berusia tua (≥ 41 tahun), 30,40% diantaranya ber-persepsi positif dan 4,30% berpersepsi negatif. Dari hasil ini terlihat bahwa petani berusia muda memiliki persepsi yang lebih baik daripada petani berusia tua terhadap teknologi yang disuluhkan, akan tetapi, hasil uji Chi-Square (χ2; Tabel 6) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kelompok usia petani dan persepsi petani (Pearsonχ2 = 0,204; p = 0,651 > 0,05). Dengan demikian disimpulkan bahwa usia petani tidak berpengaruh pada persepsi akan teknologi yang disuluhkan. Dengan kata lain, baik petani usia muda maupun petani usia tua memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan. Berdasarkan hasil estimasi resiko (Tabel 7), hubungan tersebut “bukan faktor protektif”yang memberikan efek pada hubungan antara pengalaman bertani dan persepsi petani (nilai OR = ,571 < 1, selang kepercayaan 95% 0,049 – 6,606 mengandung nilai 1, tidak signifikan).

B. Hubungan Pendidikan Petani dengan Persepsi Petani

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 5) menunjukkan bahwa dari total 30,4%  petani berpendidikan SMP & SMA, 26,10% diantaranya ber-persepsi positif dan 4,30% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari total 69,60% petani berpendidikan SD & tidak sekolah, 56,50% diantaranya ber-persepsi positif dan 13,% berpersepsi negatif. Dari hasil ini, terlihat bahwa petani berpendidikan SD & tidak sekolah memiliki persepsi yang lebih baik daripada petani berpendidikan SMP & SMA terhadap teknologi yang disuluhkan, akan tetapi, hasil uji Chi-Square (χ2; Tabel 6) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan persepsi petani (Pearsonχ2 = 0,068; p = 0,795 > 0,05, tidak signifikan). Dengan demikian disimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani tidak berpengaruh pada persepsi petani akan teknologi yang disuluhkan. Dengan kata lain, baik petani berpendidikan SD & tidak sekolah maupun petani berpendidikan SMP & SMA memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan. Berdasarkan hasil estimasi resiko (Tabel 7). Tingkat pendidikan petani tersebut“bukan faktor resiko”yang memberikan efek dalam hubungannya persepsi petani (OR > 1, selang kepercayaan 95% 0,118 – 16,227 mengandung nilai 1, tidak signifikan).

C. Hubungan Pengalaman Bertani dengan Persepsi

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 5) menunjukkan bahwa dari total 65,2% petani berpengalaman sedang & tinggi (> 5 tahun), 52,20% diantaranya ber-persepsi positif dan 13% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari total 34,80% petani berpengalaman rendah (≤ 5 tahun), 30,40% diantaranya ber-persepsi positif dan 4,30% berpersepsi negatif. Terlihat bahwa petani berpengalaman sedang & tinggi memiliki persepsi yang lebih baik daripada petani berpengalaman rendah terhadap teknologi yang disuluhkan, akan tetapi, hasil uji Chi-Square (χ2; Tabel 6) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pengalaman dan persepsi petani (Pearsonχ2 = 0,204; p = 0,651 > 0,05, tidak signifikan). Dengan demikian disimpulkan bahwa pengalaman petani tidak berpengaruh pada persepsi petani akan teknologi yang disuluhkan. Dengan kata lain, baik petani berpengalaman sedang dan tingg maupun petani berpengalaman rendah memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan. Hasil estimasi resiko (Tabel 7) menunjukkan bahwa pengalaman bertani “bukan faktor protektif”yang memberikan efek dalam hubungannya persepsi petani (OR = 0,571 < 1, selang kepercayaan 95% 0,049 – 6,606 mengandung nilai 1, tidak signifikan).

D. Hubungan Penguasaan Lahan dengan Persepsi

Hasil analisis bivariat melalui tabulasi silang (Tabel 5) menunjukkan bahwa dari total 47,80% petani yang memiliki luas lahan sedang & tinggi (> 0,5 ha), 39,10% diantaranya ber-persepsi positif dan 8,70% ber-persepsi negative terhadap teknologi yang disuluhkan. Sementara itu dari total 52,20% petani yang memiliki luas lahan rendah (≤ 0,5 ha), 43,50% diantaranya ber-persepsi positif dan 8,70% berpersepsi negatif. Ini menunjukkan bahwa petani dengan luas lahan rendah memiliki persepsi yang lebih baik daripada petani dengan luas lahan sedang & tinggi terhadap teknologi yang disuluhkan, akan tetapi, hasil uji Chi-Square (χ2; Tabel 6) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara penguasaan lahan dan persepsi petani (Pearsonχ2 = 0,009; p = 0,924 > 0,05, tidak signifikan). Dengan demikian disimpulkan bahwa penguasaan lahan oleh petani tidak berpengaruh pada persepsi petani akan teknologi yang disuluhkan. Dengan kata lain, baik petani dengan penguasaan lahan sedang d& tinggi maupun petani dengan penguasaan lahan rendah memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan. Hasil estimasi resiko (Tabel 7) menunjukkan bahwa penguasaan lahan “bukan faktor protektif”yang memberikan efek dalam hubungannya persepsi petani (OR = ,900 < 1, selang kepercayaan 95% 0,104– 7,780 mengandung nilai 1, tidak signifikan).

KESIMPULAN

Sebagian besar petani (82,61%) memberikan persepsi positif terhadap teknologi yang disuluhkan, dimana skor persepsi meningkat sebesar 17,39% dari persepsi awal (62,8%) sebelum diberikan penyuluhan. Persepsi petani tersebut memiliki hubungan signifikan dengan pengetahuan petani (Pearson χ2 = 5,83; p = 0,016 < 0,05) dan sikap petani (Pearson χ2 = 11,185; p = 0,001 < 0,05), dimana sikap dan pengetahuan petani ini merupakan faktor resiko yang memberikan efek terhadap persepsi petani (nilai Odds ratio > 1, selang kepercayaan 95% tidak mengandung nilai 1, signifikan). Karaktersitik petani, dalam kategori umur, pendidikan, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan memberikan persepsi yang sama (positif) terhadap teknologi yang disuluhkan (Pearson χ2; p > 0,05, tidak signifikan). Umur, pengalaman bertani, dan penguasaan lahan merupakan factor protektif (nilai Odds ratio < 1, sedangkan pendidikan merupakan factor resiko (nilai Odds ratio > 1) yang mengganggu hubungan pengetahuan dan sikap petani terhadap persepsi petani, tetapi tidak signifikan (selang kepercayaan 95% mengandung nilai 1), dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karakteristik petani bukan merupakan faktor resiko/protektif yang menganggu hubungan pengetahuan dan sikap terhadap persepsi petani. Disarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan petani, perlu adanya pendidikan non-formal dan reward dari instansi terkait kepada petani dalam rangka membentuk sikap positif petani dan persepsi petani.

E Library

1Penulis dilahirkan di Atambua pada tanggal 28 Oktober 1996. Penulis mengawali pendidikan formal pada tahun 2001 di Taman Kanak-Kanak (TK) Imaculata Maumere dan tamat pada tahun 2002. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Contoh Maumere dan tamat pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah PertamaNegeri Satu (SMPN1) Maumere dan tamat berijazah pada tahun 2011. Kemudian penulis melanjutkan studi pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Sasitamean dan tamat berijazah pada tahun 2014. Pada tahun yang sama penulis diterima menjadi mahasiswa pada Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan selesai (lulus) pada 7 Mei 2021.

No events