Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Efektifitas Media Audio Visual dan Media Leaflet terhadap Peningkatan Pengetahuan Petani di Desa Kleseleon Kecamatan Weliman Kabupaten Malaka dalam Pembuatan Pupuk Bokashi

The Effectiveness of Audio Visual Media and Leaflet Media on Increasing Farmer Knowledge in Kleseleon Village, Weliman Subdistrict, Malaka District in Making Bokashi Fertilizer

Rudolfus Bria Seran, Yos F da-Lopez, Joseph P. Ticoalu - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2019

INTISARI. Kegiatan penyuluhan di Desa Klesleon kebanyakan menggunakan leaflet sebagai media penyuluhan, tanpa ada analisa untuk mencari tahu apakah media tersebut efektif atau tidak dalam meningkatkan pengetahuan petani. Oleh sebab itu, penelitian tentang “efektifitas media audio-visual dan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan petani di Desa Kleseleon, Kecamatan Weliman Kabupaten Malaka dalam Pembuatan Pupuk Bokashi”, dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui efektifitas media penyuluhan (audiovisual dan leaflet) terhadap pengetahuan petani tentang pembuatan pupuk bokhasi, dan 2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan efektifitas media penyuluhan (audiovisual dan leaflet) terhadap pengetahuan petani dalam pembuatan pupuk bokhasi. Penelitian menggunakan metode angket, wawancara, dan studi dokumen. Sampel penelitian ini adalah 30 petani yang dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok media leaflet sebanyak 15 petani dan kelompok media audio-visual sebanyak 15 petani. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan statistika deskriptif, statitika komparasi, dan statistika korelasi. Efektifitas media ditentukan menggunakaan persamaan Ginting (1991): E = [(PS – PR) ÷ (N.I.Q – PR)] × 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan petani yang signifikan (Uji-t Sampel berpasangan, p < 0.05) setelah penyuluhan, baik pada penyuluhan menggunakan media leaflet (11,93%) maupun pada penyuluhan menggunakan media audiovisual (24,94%). Meskipun demikian, retensi pengetahuan petani tidak signifikan (Uji-t Sampel berpasangan, p > 0.05), dengan kata lain, kedua media penyuluhan yang digunakan tidak berpengaruh terhadap retensi pengetahuan petani. Penggunaan media leaflet “cukup efektif” (E = 32,19% > 32%), sedangkan, penggunaan media audiovisual “efektif” (E = 74,81% > 64%) dalam meningkatkan pengetahuan petani denga nilai retensi diatas 100%. Efektifitas media penyuluhan terhadap pengetahuan petani secara signifikan (uji korelasi parsial, p < 0.01) dipengaruhi atau dikendalikan oleh keterdedahan media (X1) sebesar 32,60% dan ketertarikan petani terhadap produk (X2) yang disuluhkan sebesar 30,25%. Retensi pengetahuan petani juga dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, dengan masing-masing sebesar 33,99% dan 30,91%. Ada kecenderungan terjadinya penurunan retensi pengetahuan petani jika keterdedahan media dan ketertarikan petani produk berkurang.

Kata Kunci: efektifitas, media penyuluhan, leaflet, audiovisual, pengetahuan, retensi


Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Leaflet Materi Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Extension activities in Klesleon Village mostly use leaflets as extension media, without any analysis to find out whether the media is effective or not to increase farmers' knowledge. Therefore, a study on "the effectiveness of audio-visual media and leaflet media on increasing knowledge of farmers in Kleseleon Village, Weliman District, Malaka Regency in Making Bokashi Fertilizer", was carried out. The study was 1) to determine the effectiveness of extension media (audiovisual and leaflets) on farmers' knowledge about the manufacture of bokhasi fertilizer, and 2) to determine the factors influencing the effectiveness of extension media (audiovisual and leaflets) on farmers' knowledge in making bokhasi fertilizer. The research used questionnaires, interviews, and document studies. The sample of this study was 30 farmers who were divided into 2 groups, namely the leaflet media group as many as 15 farmers and the audio-visual media group as many as 15 farmers. The data of the study were analyzed using descriptive statistics, comparative statistics, and correlation statistics. The effectiveness of the media was determined using Ginting's (1991) equation: E = [(PS – PR) ÷ (N.I.Q – PR)] × 100%. The results showed that there was a significant increase in farmers' knowledge (paired sample t-test, p < 0.05) after the extension, both in the extension using leaflet media (11.93%) and in the extension using audiovisual media (24.94%). However, the retention of farmer knowledge was not significant (paired sample t-test, p > 0.05), in other words, the two extension media used had no effect on the retention of farmer knowledge. The use of leaflet media was “moderately effective” (E = 32,19% > 32%), while the use of audiovisual media was “effective” (E = 74,81% > 64%) in increasing farmers' knowledge with retention values ​​above 100%. The effectiveness of the extension media on farmers' knowledge was significantly (partial correlation test, p < 0.01) influenced or controlled by media exposure (X1) by 32.60% and farmers' interest in the product (X2) disseminated by 30.25%. Knowledge retention of farmers is also influenced by these two factors, respectively 33.99% and 30.91%. There was a tendency to decrease the retention of farmer knowledge if media exposure and farmer interest in product are reduced.

Keywords: effectiveness, extension media, leaflet, audiovisual, knowledge, retention

PENDAHULUAN

Salah satu kegiatan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian adalah penyampaian informasi dan teknologi pertanian kepada penggunanya. Informasi dan teknologi pertanian tersebut dapat disampaikan secara langsung dengan menggunakan media penyuluh. Berbagai media penyuluhan dapat digunakan untuk mengemas informasi dan teknologi yang akan disampaikan kepada petani sebagai pengguna teknologi, seperti media cetak (visual), media audio, media audio visual, dan media berupa obyek fisik atau benda nyata. Dalam kegiatan penyuluhan penggunaan media adalah cara penyampaian suatu materi kepada sasaran sehingga materi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Sedangkan teknik adalah keputusan-keputusan yang dibuat penyampai informasi atau sumber dalam memilih dan menata simbol beserta isi pesan, penentuan cara dan frekuensi pesan serta menentukan bentuk penyajian. Tujuan dalam pemilihan media penyuluhan adalah agar penyuluh dalam melakukan penyuluhan berhasil guna serta perubahan yang dikehendaki penyuluh dapat berdaya guna. Tanpa pemilihan media yang tepat, penyuluhan akan kurang berarti bahkan dapat gagal dalam melakukan perubahan pada sasaran. Dalam penyuluhan, tujuan yang ingin dicapai adalah agar sasaran dapat bertani lebih baik (better farming), bertani yang menguntungkan (better business), hidup lebih sejahtera (better living), membentuk masyarakat yang lebih sejahtera (better comunity) dan lingkungan yang terjamin kelestariannya (better environment). Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu diperhatikan metode dan media yang tepat berkaitan dengan indera manusia. Penyampaian materi penyuluhan dapat menggunakan media atau alat bantu sebagai perantara pesan dari seorang penyuluh kepada petani. Dalam pemilihan media, perlu juga disesuaikan dengan daya terima sasaran dan dapat menarik minat sasaran.

Di Desa Klesleon, ketergantungan petani padi sawah terhadap pupuk kimia sangat tinggi sehingga dapat menimbulkan dampak buruk, seperti menipisnya karbon dalam tanah, pencemaran lingkungan, dan punahnya mikroorganime dalam tanah, disamping kesulitan petani untuk memperoleh pupuk bersubsidi. Tingkat kesadaran petani padi sawah di Desa Klesleon terhadap pupuk organik yang bersifat ramah lingkungan, belum sepenuhnya diadopsi oleh petani. Dengan adanya pupuk organik (bokashi), petani dapat menghemat biaya dan tenaga kerja serta dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam berupa limbah pertanian dan peternakan. Limbah-limbah peternakan, seperti feses belum dimanfaatkan secara optimal sehingga perlu diolah lebih lanjut dengan memanfaatkan limbah ternak yang dapat dijadikan pupuk organik (bokashi) yang bersifat ramah lingkungan dan dapat menekan biaya produksi petani dalam pengadaan pupuk. Masalah yang dihadapi di Desa Klesleon ketika pelaksanaan kegiatan penyuluhan, yaitu alat bantu yang diberikan kebanyakan berupa leaflet dan penyuluh hanya menyampaikan tanpa mencari tahu apakah alat bantu tersebut efektif atau tidak dalam meningkatkan pengetahuan petani. Oleh sebab itu, penelitian untuk mencari tahu efektifitas alat bantu dalam meningkatkan pengetahuan petani perlu dilakukan. Dalam penelitian ini, alat bantu atau media penyuluhan yang diteliti adalah media audio visual (video) dan media cetak (leaflet).

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui efektifitas media penyuluhan (audiovisual dan leaflet) terhadap pengetahuan petani tentang pembuatan pupuk bokhasi
  2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dengan efektifitas media penyuluhan (audiovisual dan leaflet) terhadap terhadap pengetahuan petani tentang pembuatan pupuk bokhasi

METODE PENELITIAN

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini terdiri atas dua, yaitu daftar pertanyaan (Kuesioner) tertutup dan panduan wawancara, dijelaskan sebagai berikut:

  1. Daftar Pertanyaan (Kuesioner) Tertutup, yaitu responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan. Instrumen ini digunakan untuk mengumpulkan data tingkat pengetahuan petani yang terkait dengan tujuan penelitian dan faktor internal-eksternal yang dalam responden. Untuk menjamin keasahian dan keandalannya, instrumen ini diuji menggunakan uji Validitas dan Reliabilitas, sebelum digunakan dalam penelitian.
  2. Panduan Wawancara, yaitu panduan dialog yang digunakan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari narasumber. Instrumen ini digunakan untuk menggali lebih dalam data mengenai pengetahuan dan faktor internal-eksternal dan/atau hal-lain lain yang terkait dengannya.

Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner), wawancara, dan studi dokumen. 

  1. Angket (kuesioner). Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk menggali data sesuai dengan permasalahan penelitian. Instrumennya berupa daftar pertanyaan tertutup. Data yang diperoleh melalui kuesioner, selanjutnya, diangkakan (kuantifikasi), disusun dalam bentuk tabel-tabel, dan dianalisa secara statistik untuk menarik kesimpulan penelitian. Pengumpulan data melalui metode ini berlangsung dalam tiga tahap, yaitu pre-test, post-test, dan re-test
  2. Wawancara. Metode pengumpulan data ini digunakan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur, yaitu peneliti menggali informasi atau data secara lebih mendalam/detail sesuai tujuan penelitian. Instrumennya berupa panduan wawancara yang berisi daftar pertanyaan secara sistematis dan terperinci. Dalam kegiatan wawancara, peneliti menggunakan instrumen pendukung berupa recorder, kamera, dan lain-lain. 
  3. Studi Dokumen (Dokumentasi). Pengumpulan data menggunakan metode ini tidak ditujukan langsung kepada subjek penelitian, akan tetapi, pengumpulan data dilakukan dengan membaca atau meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis. Dengan demikian, instrumen dari metode ini adalah hasil-hasil dokumentasi (dokumen), buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.

Tabel 1 Hasil Lit Rudolfus Seran

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari sampel yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu sampel ditentukan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2001), didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang erat kaitannya dengan ciri-ciri populasi yang sudah  diketahui sebelumnya (Margono, 2004), dengan kata lain, sampel  yang digunakan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu yang  diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Cara penentuan sampel adalah sebagai berikut: Sampel ditentukan dari populasi pada 4 Kelompok Tani di Desa Kleseleon yang berjumlah 74 orang petani (Data hasil pra-survei). Dari ke-74 orang petani tersebut, 30 orang petani (sebagai responden) diambil secara acak dari 41 orang petani dengan ciri populasi yang sama, yaitu telah atau pernah mengikuti penyuluhan tentang pembuatan pupuk bokhasi. Selanjutnya, 30 orang responden tersebut dibagi dalam 2 kelompok dengan jumlah anggota yang sama, yaitu 15 orang per kelompok. Kelompok A diberi penyuluhan menggunakan media Leaflet, sedangkan, Kelompok B diberi penyuluhan menggunakan Media Audio-Visual. Desain penelitian seperti pada Tabel 1.

Metode Analisis Data

Analisis Statistik Deksriptif (Descriptive Statistics). Analisis digunakan untuk menyajikan data hasil penelitian secara ringkas atau memberikan informasi mengenai data yang dikumpulkan, bukan untuk menarik kesimpulan (Walpole, 1993). Informasi yang diperoleh dari analisis ini, antara lain adalah jumlah sampel, nilai total, nilai rata-rata, nilai standar error, nilai standar deviasi, dan nilai variance (Siagian & Sugiarto, 2002).

Uji Normalitas Data (Test of Normality). Uji Normalitas data digunakan untuk mengetahui sebaran atau distribusi data. Berdasarkan hasil Uji Normalitas data, jenis uji statistik inferensi yang akan digunakan dalam analisis data selanjutnya dapat ditentukan. Jika data menyebar normal, uji statistik yang digunakan adalah uji statistik parametrik. Sebaliknya, jika data tidak menyebar normal, uji statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Uji Normalitas yang akan digunakan untuk data penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk, dengan kriteria pengujian sebagai berikut:

  • Jika p-value (sign.) > 0.05 → terima H0 (Distribusi data Normal)
  • Jika p-value (sign.) < 0.05 → terima H1 (Distribusi data Tidak Normal)

Uji Wilcoxon (Wilcoxon Signed Ranks Test). Uji statistik ini dilakukan dengan asumsi bahwa data tidak berdistribusi normal, namun jika hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data hasil penelitian berdistribusi normal maka diganti dengan Uji-t Sampel Berpasangan. Jenis uji statistik ini digunakan untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara dua variabel berpasangan, dalam penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan nilai antara pretest & posttest serta antara retensi, baik pada media Leaflet maupun Audiovisual. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:

  • Jika p-value (sign.) > 0.05 → terima H0 (tidak ada perbedaan signifikan)
  • Jika p-value (sign.) < 0.05 → terima H1 (ada perbedaan signifikan)

Tabel 1 Hasil Lit Rudolfus SeranAnalisis Efektifitas Media Penyuluhan dan Retensi. Analisis statistik ini untuk menentukan tingkat efektifitas ditentukan menggunakan nilai persentase efektifitas menurut Ginting (1991 dalam Indreswari, dkk., 2014) sebagai berikut: 

E = [(PS – PR) ÷ (N.I.Q – PR)] × 100%

Dimana PS = total skor posttest, PR= total skor pretest, N= jumlah responden, I = nilai bobot tertinggi, Q = jumlah pertanyaan, 100% = pengetahuan yang ingin dicapai. Nilai (PS – PR) merupakan peningkatan pengetahuan dan nilai (N.I.Q – PR) merupakan nilai kesenjangan. Kriteria pengujian efektifitas media penyuluhan seperti yang tersaji dalam Tabel 2. Nilai Retensi merupakan persentase dari perbandingan antara nilai total skor retest dan nilai total skor posttest, dirumuskan sebagai berikut: 

RS = (RT ÷ PS) × 100%

Dimana RS = nilai retensi (%), RT = nilai retest, PS = nilai postest. Hasil analisis, selanjutnya, dikonfirmasi melalui uji Uji Kolmogorov-Smirnov (Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test).

Uji Kolmogorov (Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test). Uji statistik ini dilakukan dengan asumsi bahwa data tidak berdistribusi normal, namun jika hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data hasil penelitian berdistribusi normal maka diganti dengan Uji-t Sampel Bebas (Independent-Sample T Test). Uji statitistik ini digunakan untuk untuk menentukan media penyuluhan manakah yang lebih efektif meningkatkan pengetahuan, sekaligus mengkonfirmasi hasil analisis persentase efektifitas. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai posttest dan retest  pengetahuan pada kelompok media leaflet dan kelompok media audio visual serta membandingkan nilai retensi pada kelompok media leaflet dan kelompok media audiovisual. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:

  • Jika p-value (sign.) > 0.05 → terima H0, tidak ada media penyuluhan yang lebih efektif
  • Jika p-value (sign.) < 0.05 → terima H1, ada media penyuluhan yang lebih efektif.

Uji Korelasi Parsial. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas media penyuluhan terhadap pengetahuan petani diketahui menggunakan Uji Korelasi Parsial. Analisis korelasi ini digunakan untuk mengetahui hubungan murni antara 2 variabel yang mengendalikan variabel yang lain atau untuk mengetahui hubungan antara satu variabel terikat (Y) dengan satu variabel bebas (X1) yang dikendalikan satu atau lebih variabel bebas lainnya karena diduga mempengaruhi hubungan kedua variabel tersebu. Dalam penelitian ini, hubungan antara pengetahuan petani (Y) dengan jenis media (X1) diduga dikendalikan atau dikontrol atau dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya, seperti keterdedahan media (X2), ketertarikan petani terhadap produk/materi yang disuluhkan (X3),  pendidikan (X3), umur (X4), luas lahan (X5), dan pengalaman usahatani(X6). Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh, uji korelasi parsial dilakukan. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut: 

  • Jika p-value (sign.) > 0.05 → terima H0, tidak ada hubungan/pengaruh yang signifikan
  • Jika p-value (sign.) < 0.05 → terima H1, ada hubungan/pengaruh yang signifikan

Semua uji statistik dilakukan dengan bantuan perangkat lunak (software) IBM SPSS Statistics for Windows Version 21 yang dikembangkan oleh IBM Corporation (2012).

HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Data dan Distribusi Data Hasil Penelitian. Gambaran umum tentang keadaan data hasil penelitian disajikan secara deskriptif pada Tabel 3 (Lampiran 1), berupa nilai total, nilai rata-rata, nilai standar error, dan nilai standar deviasi dari parameter yang digunakan untuk menilai efektifitas media penyuluhan dan pengaruhnya terhadap retensi (daya ingat) petani. Sebaran data dari parameter-parameter tersebut, berdasarkan uji Shapiro-Wilk (Tabel 4, Lampiran 1), memenuhi distribusi normal (p > 0.05), artinya bahwa sebaran data berada di sekitar atau mendekati nilai rata-ratanya. Oleh karena data berdistribusi normal, analisis inferensial data hasil penelitian Statistika Parameterik, yaitu Uji-t Sampel Berpasangan dan Uji-t Sampel Bebas. 

Tabel 3 4 Hasil Lit Rudolfus Seran

Pengetahuan Petani. Berdasarkan nilai total dan/atau nilai rerata pretest, posttest, dan retest pada hasil analisis Statistik Deskriptif (Tabel 3), diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan petani setelah penyuluhan dan setelah retest (pengetahuan setelah posttest), baik pada petani yang disuluh menggunakan media leaflet maupun pada petani yang disuluh menggunakan media audiovisual. Peningkatan pengetahuan petani tersebut dikonfirmasi melalui Uji-t Sampel berpasangan (paired Sample t-Test, Tabel 5). Hasil Uji-t Sampel berpasangan (Tabel 5, Lampiran 2) menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan petani setelah penyuluhan Tabel 1 Hasil Lit Rudolfus Seranadalah sangat signifikan (p < 0.01) baik pada penyuluhan menggunakan media leaflet, yaitu sebesar (3,13 ÷ 26,27) x 100% = 11,93%, maupun pada penyuluhan menggunakan media audiovisual, yaitu sebesar (6,73 ÷ 27,00) x 100% = 24,94% dari pengetahuan sebelumnya. penyuluhan menggunakan media leaflet maupun dalam penyuluhan menggunakan media audiovisual (p < 0.05 atau 0.000 < 0.05). Akan tetapi setelah dilakukan retest, peningkatan pengetahuan tidak signifikan (p > 0.05) atau cenderung stabil.

Efektifitas Media Penyuluhan dan Retensi. Peningkatan signifikan dari pengetahuan petani tersebut menginformasikan adanya efektifitas dari kedua media penyuluhan tersebut. Tingkat efektifitas dari kedua media penyuluhan tersebut dapat ditentukan menggunakan kriteria nilai persentase efektifitas menurut Ginting (1991 dalam Indreswari, dkk., 2014) seperti yang tersaji dalam Tabel 5. Sedangkan, nilai retensi merupakan persentase dari perbandingan antara nilai total skor retest dan nilai total skor posttest. Hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan bahwa penggunaan media leaflet “cukup efektif” (E ≥ 32%) meningkatkan pengetahuan petani, sedangkan, media Audiovisual “efektif” (E ≥ 64%) meningkatkan pengetahuan petani, dengan nilai retensi diatas 100% (RT ≥ PS). Informasi ini dikonfirmasi melalui Uji-t Sampel Bebas (Independent Sample t-Test) melalui komparasi nilai posttest antara kelompok leaflet dan kelompok audiodiovisual, untuk mengetahui apakah efektifitas kedua media benar-benar berbeda atau sama. Hasil uji-t Sampel Bebas (Tabel 7, Lampiran 3) menginformasikan bahwa efektifitas dari kedua media penyuluhan, yaitu media leaflet dan audiovisual benar-benar berbeda (p < 0.01) dalam meningkatkan pengetahuan petani. Efektifitas media audiovisual paling baik dengan perbedaan 3,893/33,643 x 100% = 11.57% dari efektifitas media leaflet. Meskipun demikian, bahwa baik media audiovisual maupun media leaflet memberikan efektifitas yang sama terhadap retensi (p > 0.05 atau 0.205 > 0.05). Tabel 7 juga memberikan gambaran tentang keefektifan media penyuluhan melalui nilai pretest, dimana sebelum penyuluhan, tidak ada perbedaan signifikan pengetahuan (p > 0.05 atau 0.694 > 0.05) pada kedua kelompok petani yang disuluh, namun setelah dilakukan penyuluhan dengan menggunakan media yang berbeda pada setiap kelompok, ternyata kedua media tersebut memberikan tingkatan efektifitas yang berbeda-beda dan signifikan meningkatkan dalam meningkatkan pengetahuan petani.

Tabel 6 7 Hasil Lit Rudolfus Seran

Faktor-faktor yang mempengaruhi Efektifitas Media Penyuluhan terhadap Pengetahuan Petani. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas media penyuluhan terhadap pengetahuan petani diketahui menggunakan Uji Korelasi Parsial. Analisis korelasi ini digunakan untuk mengetahui hubungan murni antara 2 variabel yang mengendalikan variabel yang lain atau untuk mengetahui hubungan antara satu variabel terikat (Y) dengan satu variabel bebas (X1) yang dikendalikan satu atau lebih Tabel 8 Hasil Lit Rudolfus Seranvariabel bebas lainnya karena diduga mempengaruhi hubungan kedua variabel tersebut. Dalam penelitian ini, hubungan antara pengetahuan petani (Y) dengan jenis media (X1) diduga dikendalikan atau dikontrol atau dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya, seperti keterdedahan media (X2), ketertarikan petani terhadap produk/materi yang disuluhkan (X3),  pendidikan (X3), umur (X4), luas lahan (X5), dan pengalaman usahatani(X6). Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh, uji korelasi parsial dilakukan. 

Hasil Analisis Korelasi Parsial (Tabel 8, Lampiran 4) menunjukkan bahwa efektifitas jenis media penyuluhan (X1) terhadap pengetahuan petani (Y) dipengaruhi atau dikendalikan oleh keterdedahan media sebesar 0.5712 x 100% = 32,60% dan ketertarikan petani terhadap produk yang disuluhkan sebesar 0.5502 x 100% = 30,25% (p < 0.01) melalui nilai posttest. Retensi pengetahuan petani juga dipengaruhi/dikendalikan oleh kedua faktor tersebut, dengan masing-masing sebesar 0,5832 x 100% = 33,99% dan 0,5562 x 100% = 30,91%. Korelasi negatif pada nilai retensi menunjukkan bahwa ada kecenderungan penurunan retensi pengetahuan petani jika keterdedahan media dan ketertarikan petani produk berkurang.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan petani yang signifikan (Uji-t Sampel berpasangan, p < 0.05) setelah penyuluhan, baik pada penyuluhan menggunakan media leaflet (11,93%) maupun pada penyuluhan menggunakan media audiovisual (24,94%). Meskipun demikian, retensi pengetahuan petani tidak signifikan (Uji-t Sampel berpasangan, p > 0.05), dengan kata lain, kedua media penyuluhan yang digunakan tidak berpengaruh terhadap retensi pengetahuan petani. Penggunaan media leaflet “cukup efektif” (E = 32,19% > 32%), sedangkan, penggunaan media audiovisual “efektif” (E = 74,81% > 64%) dalam meningkatkan pengetahuan petani denga nilai retensi diatas 100%. Efektifitas media penyuluhan terhadap pengetahuan petani secara signifikan (uji korelasi parsial, p < 0.01) dipengaruhi atau dikendalikan oleh keterdedahan media (X1) sebesar 32,60% dan ketertarikan petani terhadap produk (X2) yang disuluhkan sebesar 30,25%. Retensi pengetahuan petani juga dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, dengan masing-masing sebesar 33,99% dan 30,91%. Ada kecenderungan terjadinya penurunan retensi pengetahuan petani jika keterdedahan media dan ketertarikan petani produk berkurang.

E Library

 

No events