Copyright 2022 - Custom text here

PPLK 003Kembali ke Beranda 02

Gedung MPLK 000Persepsi Petani Desa Kuatae, Kecamatan Kota So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan terhadap Implementasi Mikroorganisme Lokal (Mol) Nasi Basi sebagai Biostarter Pembuatan Bokashi

The perception of Kuatae Village Farmers, So'e City District, South Central Timor Regency on the implementation of local Microorganisms (MOL) of stale rice as bio starter making bokashi

Willy Yanuar Sinlaeloe; Rupa Matheus; Yos F. da-Lopez - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang

INTISARI. Mikroorganisme local (MOL) merupakan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik lokal, baik itu yang padat ataupun pupuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi petani terhadap implementasi MOL Nasi Basi dan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi dan implementasi petani terhadap pembuatan MOL Nasi Basi. Penelitian dilakukan di Desa Kuatae, Kecamatan Kota So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Juni sampai Juli 2021. Sampel dalam penelitian adalah 54 orang responden dari populasi sebanyak 115 petani, ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistika deskriptif (distribusi frekuensi dan analisis skoring) dan statistika bivariate (uji chi-square). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 50,0% responden memberikan persepsi positif dan 50% responden memberikan persepsi negatif terhadap implementasi mol nasi basi. Faktor yang berkorelasi terhadap persepsi petani berdasarkan hasil analisis Chi-Square (χ2), yaitu keuntungan teknologi (χ2 = 7,500; p-value 0,006 < α: 0,05), kerumitan teknologi (χ2 = 9,012; p-value 0,003 < α: 0,05), karakteristik teknologi yang dapat diuji-coba; χ2 = 9,012; p-value 0,003 < α: 0,05) dan dapat diamati (χ2 = 6,000; p-value 0,014 < α: 0,05). Diharapkan Dinas Pertanian terkait dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk terus memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan mikroorganisme local (MOL) nasi untuk meningkatkan persepsi masyarakat.

Kata Kunci: persepsi, mol nasi basi, bio starter, bokashi.


Dokumentasi Lit Willi S 2021

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


 ABSTARCT. Local microorganisms (MOL) are microorganisms that can be used as a starter for making local organic fertilizers, both solid or liquid fertilizers. This study was to determine farmers' perceptions of the implementation of stale rice MOL and to find out factors related to the perception and implementation of farmers on the making of stale rice MOL. The study was conducted in Kuatae Village, So'e City District, South Central Timor Regency, June to July 2021. The sample in the study was 54 respondents from the population of 115 farmers determined using the Slovin formula. The data obtained were analyzed using descriptive statistics (frequency distribution and scoring analysis) and bivariate statistics (chi-square test). The results showed that as many as 50.0% of respondents were in positive perceptions and 50% of respondents were negative perceptions of the implementation of stale rice MOL. Factors that correlated with farmers' perceptions based on Chi-Square test (χ2), namely technology benefits (χ2 = 7,500; P-value 0.006 <α: 0.05), the complexity of technology (χ2 = 9.012; P-value 0.003 <α: 0.05), the characteristics of technology that can be tested; χ2 = 9,012; P-Value 0.003 <α: 0.05) and can be observed (χ2 = 6,000; P-value 0.014 <α: 0.05). It is expected that the Agriculture Office and the Agricultural Counseling Center (BPP) to continue to provide assistance and training for making local microorganisms (MOL) to increase community perception.

Keywords: perception, stale rice mole, bio starter, bokashi.


PENDAHULUAN

MOL (Mikroorganisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya alam yang tersedia dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik cair dan pupuk organik padat. MOL merupakan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bio starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun cair (Sulistyani et al, 2017), juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama dan patogen penyakit pada tanaman (Rainiyati et al, 2019).

Teknologi MOL ini diharapkan mampu memanfaatkan limbah rumah tangga dan mampu menjawab kebutuhan petani akan EM4 dalam pembuatan pupuk bokashi. MOL ini mempunyai fungsi sama dengan EM4 untuk menguraikan sampah-sampah organik menjadi bokashi maupun kompos. Akan tetapi, teknologi MOL ini masih belum diketahui oleh petani secara merata sehingga perlu penyebarluasan informasi teknologi ini kepada petani melalui pendekatan penyuluhan dengan demonstrasi cara. Metode demonstrasi cara merupakan cara penyampaian materi penyuluhan dengan cara memperagakan, menunjukan dan mempraktekan suatu proses secara benar, untuk menarik perhatian sehingga orang menjadi tertarik melakukannya. Pentingnya penyuluhan demonstrasi cara kepada  petani melalui peningkatan pengetahuan petani, sikap dan  praktek nyata agar mampu merubah cara berpikir petani yang lama, dari yang tidak tahu menjadi tahu, sehingga petani mampu secara mandiri membuat produk MOL berbahan dasar limbah rumah tangga untuk diimplementasikan dalam pembuatan pupuk bokashi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif karena mengandung konsep “seing is believe” yang berarti percaya karena melihat dan menyaksikan secara langsung (Ismael, 2019).

Persepsi merupakan kemampuan individu untuk melihat, mendengar, mengetahui dan mengamati suatu peristiwa melalui indera (Oxford Dictionaries, 2013). Lebih lanjut Mulyana (2000) menyatakan bahwa persepsi menyangkut kognisi yang mencakup kegiatan mental (otak), penafsiran terhadap objek, tanda, orang serta pengalaman yang bersangkutan. Adezina & Zinnah (1993) menyatakan bahwa persepsi adopter terhadap teknologi mempengaruhi proses adopsi inovasi teknologi yang diusulkan. Jika persepsi individu adopter positif, maka inovasi teknologi cenderung untuk lebih cepat diadopsi oleh sasaran. Diharapkan petani mampu memberikan persepsi positif yang berdampak nyata pada perubahan perilaku petani dalam hal ini pengetahuan dan sikap petani dalam menerima teknologi. Selain itu persepsi petani juga akan dipengaruhi oleh berbagai faktor pengganggu, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan pengalaman berusahatani. Sementara itu faktor eksternal meliputi karakteristik inovasi teknologi (tingkat keuntungan, tingkat kesesuaian inovasi, tingkat kerumitan inovasi, dapat diuji coba dan dapat diamati).

Berdasarkan uraian diatas, penelitian tentang “Persepsi Petani di Desa Kuatae, Kecamatan Kota So’E, Kabupaten Timor Tengah Selatan Terhadap Implementasi Mikroorganisme Lokal (MOL) Nasi Basi Sebagai Biostater Dalam Pembuatan Bokashi” dilakukan. 

RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimanakah persepsi petani terhadap implementasi MOL nasi basi sebagai bio starter dalam pembuatan bokashi?
  2. Adakah faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap implementasi MOL nasi basi sebagai bio starter dalam pembuatan bokashi?

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mendeskripsikan persepsi petani terhadap implementasi MOL nasi basi sebagai bio starter dalam pembuatan bokashi
  2. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap implementasi MOL nasi basi sebagai bio starter dalam pembuatan bokashi

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini, dilaksanakan di Desa Kuatae Kecamatan Kota SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sasarannya yaitu petani hortikultura, penelitian berlangsung Juni hingga Juli 2021. Bahan penelitian terdiri dari nasi basi, buah-buahan manis yang telah matang atau hampir busuk diantaranya pepaya, advokat, nangka, pisang, nenas dan tomat (3-4 kg) , air cucian beras 2 liter, air kelapa muda 2 liter, gula air atau gula merah 1 botol. Sedangkan peralatan penelitian terdiri dari: lesung atau blender, saringan, pisau, parang, sendok, gelas, jerigen 5 liter 1 buah, ember, balon atau plastik bening pembungkus gula, karet gelang, kamera, ATK dan kuesioner penelitian serta software analisis data (SPSS dan MS Excel)

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode deskriptif. Metode ini digunakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, factual, serta akurat pada fakta atau karakteristik dan sifat populasi. Untuk dapat mengetahui perubahan perilaku petani atau persepsi petani terhadap inovasi teknologi baru, sehingga dalam penelitian ini digunakan pendekatan desiminasi melalui penyuluhan dan desmonstrasi cara, yaitu dengan  menunjukan cara pemanfaatan dan pengolahan limbah rumah tangga diantaranya nasi basi, buah-buahan busuk menjadi suatu produk yang disebut dengan MOL (Mikroorganisme Lokal), dengan melibatkan petani responden yang dimulai dari tahap awal persiapan, penyampaian materi penyuluhan dan demonstrasi pembuatan MOL. Selanjutnya, diukur persepsi petani berdasarkan indicator pengetahuan dan sikap serta implementasi petani melalui kuesioner yang disebarkan kepada petani.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala dan permasalahan yang ada pada suatu kelompok secara langsung. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono, 2015). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner dapat berupa pertanyaan-pertanyaan tertutup maupun pertanyaan terbuka, dan dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikerim melalui pos atau internet (Sugiyono, 2015).

Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah persepsi petani terhadap pembuatan MOL dan faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi dan implementasi terhadap pembuatan MOL, yang terdiri dari 1) faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri petani responden (umur, tingkat pendidikan, luas kepemilikan lahan, dan pengalaman bertani, dan 2) faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri petani responden, menyangkut dengan karakteristik inovasi teknologi (keuntungan relative, tingkat keseuaian inovasi, tingkat kerumitan inovasi, ketercobaa/keterujian inovasi, kelihatan/keteramatan inovasi. 

Metode Analisis Data

Data hasil penelitian yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner, dilakukan editing dan tabulasi data, selanjutnya dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Analisis Deskriptif. Digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan persepsi petani terhadap teknologi (MOL) Nasi Basi. Analisis ini berupa analisis distribusi frekuensi digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik petani responden dan analisi skoring digunakan untuk mengkategorikan pengetahuan dan sikap petani terhadap implementasi MOL Nasi Basi dalam pembuatan bokashi dengan acuan kategori 1,00-1,66 (rendah), 1,67-2,33 (sedang), dan 2,34-3,00 (tinggi). Untuk mengetahui persepsi petani, apakah persepsi positif (menerima) atau negative (menolak), dilakukan pengujian lanjutan dengan menggunakan uji median (uji nilai tengah).
    1. Jika pengetahuan dan sikap < Median berarti petani berpersepsi negative.
    2. Jika pengetahuan dan sikap > Median berarti petani berpersepsi positive.
  2. Analisis Bivariat (Uji Chi-Square). Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat (Notoatmodjo, 2002). Uji statistic pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan Uji Chi-Square (χ2), dan jika tidak memenuhi syarat uji tersebut, maka uji yang dipakai adalah uji fisher untuk tabel 2×2 dan penggabungan sel sebagai langkah alternatif uji chi square untuk tabel selain 2 × 2 serta tabel 2 × k, sehingga terbentuk tabel baris × kolom (B×K) yang baru. Setelah dilakukan penggabungan sel, uji hipotesis ditentukan sesuai dengan tabel B × K tersebut.

HASIL PENELITIAN

Tingkat Pengetahuan Petani tentang Teknologi MOL Nasi Basi

Pengetahuan merupakan salah satu komponen perilaku petani yang berperan penting dalam proses adopsi teknologi inovasi baru. Dalam mengadopsi suatu pembaharuan atau perubahan, petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek teoritis dan pengetahuan praktis tentang hal-hal baru tersebut. Hasil analisis data pengetahuan petani tentang teknologi MOL Nasi Basi akan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Petani Tentang Teknologi MOL Nasi Basi

Indikator Pengetahuan Rerata Nilai Skor Frequensi Frekuensi Relatif (%)
Rendah 1,00-1,66 4 7,41
Sedang 1,67-2,33 13 24,07
Tinggi 2.34-3,00 37 68,52
Total   54 100
Rerata Skor 2,39 (Tinggi)    

Sumber: Data Primer di Olah dan di Analisis 2021 

Hasil analisis skoring (Tabel 1) menunjukan bahwa pengetahuan petani tentang teknologi MOL nasi basi bervariasi antara pengetahuan rendah, sedang dan tinggi. Dari total 54 responden yang diteliti, sebanyak 4 orang responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang teknologi mol nasi basi dengan perolehan rerata nilai skor (1,00-1,66), 13 orang responden memiliki pengetahuan sedang dengan perolehan rerata nilai skor (1,67-2,33), sedangkan petani yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 37 orang responden dengan perolehan rerata nilai skor (2,34-3,00). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan sedang tentang teknologi mol nasi basi. Dapat dikatakan bahwa secara pemahaman petani sudah mengetahui tentang manfaat dan fungsi dari mol nasi basi. Secara keseluruhan tingkat pengetahuan petani tentang teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi berada pada kategori tinggi dengan rerata nilai skor akhir yaitu 2,39. Sehingga dapat disimpulkan bahwa petani telah mengetahui tentang manfaat dan juga fungsi dari MOL nasi basi sebagai bahan perombak atau  decomposer untuk membuat pupuk bokashi.

Sikap Petani Responden Tentang Teknologi MOL Nasi Basi

Sikap merupakan suatu kesadaran atau kondisi mental individu petani yang membuka pikiran, perasaan psikologis yang menuntun individu dalam berperilaku dalam kehidupan bersosial. Sikap akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menyikapi suatu pembaharuan ataupun teknologi inovasi baru untuk diadopsi. Menurut Ahmadi (1991), menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negative terhadap objek atau situasi secara konsisten. Sikap yang ditampilkan oleh masyarakat terhadap sebuah inovasi akan menentukan penerimaan terhadap inovasi tersebut. Sikap timbul karena ada stimulus, terbentuknya suatu sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya keluarga, norma, agama, dan adat-istiadat. Selanjutnya Susanta, (2006) juga berpendapat bahwa sikap (attidude) seseorang predeposisi (keadaan mudah terpengaruh) untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan, yang dapat memulai atau membimbing tingkah laku orang tersebut. Proses perubahan sikap (kognitif, afektif, dan penerapan ) dilingkungan masyarakat petani agar mereka cepat tahu, setuju, mau dan sepakat untuk menerapkan perubahan-perubahan dalam usahataninya demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan, atau keuntungan dan perbaikan kesejahteraan keluarga melalui kegiatan pengembangan pertanian yang bermutu. Secara lengkap akan disajikan sikap petani tentang teknologi mol nasi basi pada Tabel 2.

Tabel 2. Sikap Petani Responden Terhadap Teknologi MOL Nasi Basi

Indikator Sikap Petani Rerata Nilai Skor Frequensi Frekuensi Relatif (%)
Menolak 1,00-1,66 4 7,41
Ragu-ragu 1,67-2,33 15 27,78
Menerima 2,34-3,00 35 64,81
Total   54 100
Rerata Skor 2,48 (Menerima)    

Sumber: Data Primer di Olah dan di Analisis 2021

Hasil analisis data pada (Tabel 2) menunjukan bahwa sebanyak 35 orang responden memberikan sikap menerima terhadap implementasi teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi dengan perolehan rerata nilai skor (2,34-3,00), 15 orang responden bersikap ragu-ragu dengan perolehan rerata nilai skor (1,67-2,33), sementara sebanyak 4 orang responden  yang memberikan sikap menolak terhadap implementasi teknologi mikroorganisme local nasi basi dengan perolehan rerata nilai skor (1,00-1,66). Sikap petani secara umum berada pada kategori menerima dengan perolehan rerata nilai skor akhir yaitu 2,48. Dengan banyaknya petani yang menerima penyuluhan tentang MOL nasi basi, hal ini bisa dikatakan bahwa sebagian besar responden cenderung setuju untuk menggunakan atau mengimplementasikan MOL nasi basi sebagai biostarter dalam pembuatan pupuk bokashi. Dapat diasumsikan bahwa tingginya sikap petani yang menerima penyuluhan tentang teknologi MOL nasi basi ini karena secara karakteristik teknologi mampu memberikan keuntungan bagi petani, sesuai dengan kebutuhan, proses pembuatannya juga tidak sulit, dapat dicoba dalam skala kecil serta dapat diamati hasilnya.

Keunggulan relative merupakan keadaan dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari teknologi sebelumnya. Hal tersebut dapat diketahui dari segi ekonomi, kenyaman, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relative dirasakan oleh petani, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi. Kesesuaian merupakan tingkat kesesuaian teknologi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh petani, semakin sesuai teknologi tersebut dalam artian bahwa tidak bertentangan dengan nilai sosial budaya, sesuai dengan bahan baku, serta sesuai dengan kebutuhan adopter maka teknologi tersebut cepat diadopsi. Tingkat kerumitan teknologi, semakin mudah suatu teknologi baik dari segi ekonomi, ketersediaan bahan-baku, proses pembuatan dan aplikasi yang tidak rumit, semakin cepat pula teknologi diadopsi oleh calon adopter.

Kemampuan dapat dicoba, syarat suatu teknologi dapat diadopsi yaitu kemampuan teknologi tersebut harus dapat diuji coba dalam skala usaha yang kecil untuk menyakinkan calon adopter dalam mengadopsinya. Selain itu kemampuan dapat dilihat atau diamati merupakan faktor penting yang dapat menentukan teknologi tersebut dapat diadopsi oleh calon pengguna. Semakin mudah dilihat atau diamati hasilnya maka dapat dipastikan bahwa calon adopter siap untuk menggunakan atau mempraktikan teknologi baru tersebut. Faktor-faktor inilah yang mendorong individu petani untuk mengadopsi atau menerima teknologi MOL nasi basi untuk digunakan dalam proses pembuatan pupuk organik bokashi.

Persepsi Petani Responden Terhadap Implementasi Mikroorganisme Lokal (MOL) Nasi Basi

Persepsi petani terhadap implementasi MOL nasi basi merupakan variabel utama dalam penelitian ini. Sunaryo (2004) mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses pengideraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indra, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dipersepsikan. Hasil analisis deskriptif persepsi petani akan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Tingkat Persepsi (Pengetahuan + Sikap) Petani terhadap Implementasi MOL Nasi Basi

Tingkat Persepsi Jumlah Persentase (%)
Negatif (  < Median) 27 50,0
Positif (  > Median) 27 50,0
Total 54 100,0

Sumber: Data Primer di Olah dan Analisis 2021

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari total 54 responden yang dilibatkan dalam penelitian ini memberikan persepsi yang berbeda terhadap implementasi teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi. Secara umum dapat digambarkan bahwa sebanyak 27 orang responden (50,0%)) memberikan persepsi positive terhadap implementasi mikroorganisme local (MOL) nasi basi, sedangkan sebanyak 27 orang responden (50,0%) memberikan persepsi negative terhadap implementasi teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi. Dapat diartikan bahwa sebanyak 27 orang petani bersedia untuk memanfaatkan dan mengolah limbah nasi basi dan bahan-bahan local yang tersedia dilingkungan mereka untuk dijadikan produk mikroorganisme local (MOL) nasi basi yang dapat difungsikan sebagai bahan perombak atau decomposer didalam proses pembuatan pupuk bokashi. Persepsi petani terhadap implementasi mikroorganisme local (MOL) nasi basi merupakan penilaian terhadap aspek-aspek dari teknologi yang meliputi tingkat keuntungan teknologi, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dapat diuji coba dan dapat diamati hasilnya. Petani yang berpersepsi positif alasannya karena petani merasa bahwa penggunaan mikroorganisme local (MOL) nasi basi sebagai biostarter dalam pembuatan pupuk bokashi lebih menguntungkan dibandingkan dengan membeli EM-4 yang diperdagangkan, selain itu bahan baku pembutan MOL mudah didapatkan pada lingkungan sekitar dan mudah dijangkau tanpa mengeluarkan biaya yang mahal, proses pembuatan MOL nasi basi juga mudah dilakukan dari segi aspek menyediakan alat dan bahan serta panen hasil. Rogers (1998), mengungkapkan bahwa persepsi petani dapat diukur menggunakan parameter sifat-sifat inovasi, seseorang akan lebih mudah mengadopsi inovasi, apabila inovasi tersebut memiliki sifat-sifat: memberi keuntungan atau keunggulan bila dibandingkan dengan inovasi yang lainnya (relative advantage), compatibility, tidak rumit dalam penerapannya (complexity), dapat diuji coba dalam skala terbatas atau kecil (trailbility), dan dapat dilihat hasilnya (observability).

Tabel 3 uga menunjukan bahwa dari total 54 responden  yang dilibatkan dalam penelitian, sebanyak 27 orang responden memberikan persepsi yang negative terhadap implementasi teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi. Persepsi negative yang di miliki oleh petani tersebut dikarenakan mereka kurang yakin terhadap teknologi mikroorganisme local yang disuluhkan, sehingga mereka tidak mau untuk menggunakannya. Persepsi negative timbul karena berbagai faktor yaitu kurangnya pengetahuan, proses penginderaan, dan stimulus yang diterima oleh petani responden. Dapat diasumsikan bahwa petani yang memberikan persepsi negative terhadap implementasi mikroorganisme local (MOL) nasi basi karena petani belum sepenuhnya mengetahui manfaat dari mikroorganisme local, selain itu petani juga takut gagal karena belum pernah menggunakan teknologi mikroorganisme local (MOL) nasi basi sebelumnya, sehingga petani tidak mau menggunakan ataupun mengadopsi teknologi tersebut. Petani juga merasa bahwa sifat-sifat teknologi tidak memberikan keuntungan terhadap usahatani mereka. Sifat-sifat teknologi tersebut diantara : tingkat keuntungan, kesesuaian teknologi, tingkat kerumitan dalam proses pembuatan, teknologi dapat diuji coba dalam skala kecil, maupun dapat dilihat hasil penggunaannya. Persepsi negative yang diberikan oleh responden juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman seseorang didalam menerapkan suatu teknologi sebelumnya yang dirasa gagal atau tidak memberikan keuntungan sama sekali. Sejalan dengan pendapat (Meddlebrook 1974), yang mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negative terhadap objek tersebut, sebaliknya adanya pengalaman cenderung akan membentuk sikap positif terhadap suatu objek. Semakin tinggi pengalaman seseorang terhadap suatu objek, maka kencenderungan untuk memanfaatkan objek tersebut semakin tinggi pula, dan harapan memperoleh manfaat tersebut semakin besar juga.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Petani

Dalam penelitian ini ada sembilan faktor pengganggu yang akan dilihat hubungannya terhadap persepsi petani. Faktor-faktor tersebut meliputi: umur, tingkat pendidikan, luas kepemilikan lahan, pengalaman bertani, keuntungan teknologi, tingkat kesesuaian teknologi, tingkat kerumitan teknologi, dapat diuji coba dan dapat diamati. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang berkorelasi terhadap persepsi petani berdasarkan hasil analisis Chi-Square (χ2), yaitu keuntungan teknologi (χ2 = 7,500; p-value 0,006 < α: 0,05), kerumitan teknologi (χ2 = 9,012; p-value 0,003 < α: 0,05), karakteristik teknologi yang dapat diuji-coba; χ2 = 9,012; p-value 0,003 < α: 0,05) dan dapat diamati (χ2 = 6,000; p-value 0,014 < α: 0,05). Diharapkan Dinas Pertanian terkait dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk terus memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan mikroorganisme local (MOL) nasi untuk meningkatkan persepsi masyarakat.

Hubungan antara Tingkat Keuntungan Teknologi dengan Persepsi Petani

Suatu inovasi akan mudah diadopsi apabila menguntungkan atau dapat memberikan nilai tambahan bagi calon adopternya. Tingkat keuntungan teknologi merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi persepsi petani terhadap suatu teknologi. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat keuntungan teknologi dengan persepsi petani dalam adopsi teknologi MOL nasi basi, telah dilakukan analisis hubungan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square di sajikan pada Tabel 4.

Tabel 4.Hasil uji Chi-Square hubungan antara Tingkat Keuntungan Teknologi dengan Persepsi Petani

Kategori Persepsi Total
Negatif Positif
Tingkat Keuntungan Teknologi 1 Count 17 7 24
% within Negatif 70,8% 29,2% 100,0%
2 Count 10 20 30
% within Positif 33,3% 66,7% 100,0%
Total   Count 27 27 54
    % within Tingkat Keuntungan Teknologi 50,0 50,0% 100,0%
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 7,500 a 1 0,006
Continuity Correctionb 6,075 1 0,014
Likelihood Ratio 7,694 1 0,006
Fisher's Exact Test      
Linear-by-Linear Association 7,361 1 0,007
N of Valid Cases 54    

 

Hasil uji Chi-Square (Tabel 4) menunjukan adanya hubungan yang signifikan terhadap implementasi teknologi MOL nasi basi, yang dibuktikan dengan nilai Chi-Square (χ2) sebesar 7,500 dan nilai signifikansi p-value sebesar 0,006 < α: 0,05. Hasil analisis Chi-Square antara tingkat keuntungan teknologi dengan persepsi memperlihatkan bahwa tingkat keuntungan teknologi mampu memberikan persepsi positif terhadap implementasi MOL sebesar 50%. Petani yang mengganggap bahwa teknologi tidak menguntungkan (negative) memberikan persepsi negative sebesar 70,8% dan sebanyak 29,2% memberikan persepsi negative. Sedangkan petani yang mengganggap teknologi menguntungkan (positif) memberikan persepsi positive sebesar 66,7% dan sebanyak 33,3% memberikan persepsi negatif. Dapat diartikan bahwa tingkat keuntungan teknologi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan persepsi positif petani terhadap teknologi MOL nasi basi. Tingginya persepsi petani yang positif disebabkan karena, petani merasa bahwa teknologi MOL nasi basi mampu memberikan keuntungan yang baik karena hemat biaya, waktu, tenaga kerja serta bahan baku pembuatanya mudah didapatkan pada lingkungan sekitar. Soekartawi (2005) mengemukakan bahwa bila memang benar teknologi baru akan memberikan keuntungan yang relative besar dari teknologi lama, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan lebih cepat.

Hubungan antara Tingkat Kesesuaian Teknologi dengan Persepsi Petani

Kesesuain inovasi disini berupa persepsi petani terhadap kesesuain teknologi MOL nasi basi dengan kebutuhan yang petani butuhkan.  Untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara faktor tingkat kesesuaian teknologi dengan persepsi petani, telah dilakukan analisis hubungan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis uji Chi-Square disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil uji Chi-Square hubungan antara tingkat kesesuaian teknologi dengan persepsi petani

Kategori Persepsi Total
Negatif Positif
Tingkat kesesuaian teknologi 1 Count 11 6 17
% within Negatif 64,7 % 35,3% 100,0%
2 Count 17 21 38
% within Positif 43,2% 56,8% 100,0%
Total   Count 27 27 54
    % within Tingkat Kesesuaian Teknologi 50,0% 50,0% 100,0%
Chi-Square Tests
  Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 2,146 a 1 0,143
Continuity Correctionb 1,374 1 0,241
Likelihood Ratio 2,170 1 0,141
Fisher's Exact Test      
Linear-by-Linear Association 2,107 1 0, 147
N of Valid Cases 54    

 

Hasil uji Chi-Square (Tabel 5) menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan terhadap implementasi teknologi MOL nasi basi, yang dibuktikan dengan nilai Chi-Square (χ2) sebesar 2,146 dan nilai signifikansi p-value sebesar 0,143 > α: 0,05. Hasil analisis Chi-Square antara tingkat kesesuaian teknologi dengan persepsi petani memperlihatkan bahwa tingkat kesesuaian teknologi memberikan persepsi positif sebesar 50,0% dan persepsi negative sebanyak 50,0%. Petani yang mengganggap bahwa teknologi tidak sesuai (negative) memberikan persepsi negative terhadap implementasi teknologi MOL sebesar 64,7% dan sebanyak 35,3% memberikan persepsi positif. Sedangkan petani yang beranggapan bahwa teknologi sesuai memberikan persepsi positif sebanyak 56,8% dan sebanyak 43,2% memberikan persepsi negative.

Hubungan antara Tingkat Kerumitan Teknologi dengan Persepsi Petani

Tingkat kerumitan teknologi yang dimaksud disini adalah kemudahan dalam proses pembuatan MOL nasi basi, dan kemudahan proses penerapan teknologi. Disamping dari itu juga tidak membutuhkan tenaga kerja dan waktu yang cukup lama, semakin sederhana suatu inovasi teknologi maka akan lebih mudah diadopsi dan diterapkan oleh calon adopternya. Untuk melihat hubungan antara faktor tingkat kerumitan teknologi terhadap persepsi petani didalam mengadopsi teknologi MOL nasi basi, telah dilakukan analisis hubungan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square di sajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil uji  Chi-Square hubungan antara Tingkat Kerumitan Teknologi dengan  persepsi petani

Kategori Persepsi Total
Negatif Positif
Tingkat Kerumitan Teknologi 1 Count 18 7 25
% within Negatif 72,0 % 28,0 % 100,0
2 Count 9 20 29
% within Positif   31,0% 69,0% 55,7%
Total   Count 27 27 54
    % within Tingkat kerumitan Teknologi 50,0% 50,0% 100,0%
Chi-Square Tests
  Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 9,012 a 1 0,003
Continuity Correctionb 7,448 1 0,006
Likelihood Ratio 9,288 1 0,002
Fisher's Exact Test      
Linear-by-Linear Association 8,846 1 0,003
N of Valid Cases 54    

 

Hasil uji Chi-Square (Tabel 22) untuk melihat hubungan antara tingkat kerumitan teknologi dengan persepsi menunjukan adanya hubungan yang signifikan terhadap implementasi teknologi MOL nasi basi, dapat dibuktikan dengan nilai Chi-Square (χ2) sebesar 9,012 dan nilai signifikansi p-value 0,003 <α: 0,05. Hasil analisis Chi-Square antara tingkat kerumitan teknologi dengan persepsi menunjukan bahwa tingkat kerumitan teknologi memberikan persepsi positif terhadap implementasi MOL sebesar 50,0% dan persepsi negative sebesar 50,0%. Petani yang mengganggap bahwa teknologi tidak rumit (negative) memberikan persepsi negative sebanyak 72,0% dan sebanyak 28,0% memberikan persepsi positif. Sedangkan petani yang beranggapan bahwa teknologi tidak rumit memberikan persepsi positif sebanyak 69,0% dan sebanyak 31,0% memberikan persepsi negative. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin mudah suatu inovasi, baik dari segi ketersediaan bahan bakunya, kemudahan dalam proses pengolahan dan pembuatan serta cara pengamplikasiannya maka akan mendorong petani untuk lebih cepat mengadopsinya, dibuktikan dengan tingginya petani responden yang memberikan reaksi positif terhadap teknologi MOL nasi basi dibandingkan dengan petani yang berpersepsi negative. Herning (2010) menyatakan bahwa semakin tidak rumit suatu inovasi maka akan cenderung lebih mudah untuk diadopsi.

Hubungan antara Karakteristik Teknologi Dapat diuji coba dengan Persepsi petani

Pada umumnya suatu inovasi teknologi dapat diterima dan diadopsi oleh calon adopternya apabila teknologi tersebut dapat di uji coba dalam skala usaha yang kecil. Semakin tinggi suatu inovasi yang mempunyai tingkat ketercobaan yang tinggi akan cenderung lebih cepat diadopsi. Untuk melihat hubungan antara karakteristik teknologi dapat diuji coba dengan persepsi petani, telah dilakukan analisis hubungan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis uji Chi-Square, disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil uji Chi-Square hubungan antara karakteristik teknologi dapat diuji coba dengan persepsi petani

Kategori Persepsi Total
Negatif Positif
Teknologi Dapat diuji coba 1 Count 18 7 25
% Negatif 72,0% 28,0% 100,0%
2 Count 9 20 29
% within Positif 31,0 % 69,0 % 100,0%
Total   Count 27 27 54
    % within Dapat diuji coba 50,0% 50,0% 100,0%
Chi-Square Tests
  Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 9,012 a 1 0,003
Continuity Correctionb 7,448 1 0,006
Likelihood Ratio 9,288 1 0,002
Fisher's Exact Test      
Linear-by-Linear Association 8,846 1 0,002
N of Valid Cases 54    

 

Hasil analisis Chi-Square (Tabel 7) menunjukan adanya hubungan yang signifikan terhadap implementasi teknologi MOL nasi basi. Hubungan yang signifikan ini dapat dibuktikan dengan nilai Chi-Square (χ2) sebesar 9,012 dan nilai signifikansi p-value sebesar 0,003 < α: 0,05. Berdasarkan hasil analisis Chi-Square antara karakteristik teknologi dapat diuji coba menunjukan bahwa ketercobaan teknologi memberikan persepsi positif terhadap implementasi teknologi MOL sebesar 50,0%.  Dimana petani yang menganggap bahwa teknologi tidak dapat diuji coba (negative) memberikan persepsi negative sebanyak 72,0%, sedangkan sebanyak 28,0% memberikan persepsi positif. Sementara itu petani yang beranggapan bahwa teknologi dapat diuji coba (positif) memberikan persepsi positif sebanyak 69,0% dan sebanyak 31,0% memberikan persepsi negative. Dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat keterceboaan teknologi MOL nasi basi, maka semakin cepat pula calon adopter mengadopsi atau menerapkannya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa karakteristik teknologi dapat di uji coba mampu mendorong petani untuk lebih memberikan persepsi positif terhadap teknologi MOL nasi basi. Van den Ban dan H.S. Hawkins (1996) menyebutkan bahwa petani akan cenderung mengadopsi suatu inovasi teknologi apabila dapat dicoba sendiri dalam skala yang kecil. Sementara itu menurut Mardikanto (2009) mengatakan bahwa tingkat triabilitas suatu inovasi adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dengan skala kecil maka semakin tinggi triabilitas dan semakin mudah inovasi di terima oleh masyarakat.

Hubungan antara Karakteristik Teknologi Dapat diamati dengan Persepsi Petani

Keteramatan MOL nasi basi dapat dilihat melalui proses persepsi petani terhadap kehematan dalam proses pembuatan MOL, dapat dilihatnya MOL nasi basi yang telah jadi ataupun siap digunakan. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara karakteristik teknologi dapat diamati dengan persepsi petani telah dilakukan uji hubungan menggunakan analisis uji Chi-Square. Hasil analisis uji Chi-Square hubungan antara karakteristik teknologi dapat diamati terhadap persepsi petani, disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil uji Chi-Square hubungan antara karakteristik teknologi dapat diamati dengan persepsi petani

Kategori

Persepsi Total
Negatif Positif
Teknologi Dapat diamati 1 Count 18 9 27
% within Negatif 66,7%% 33,3% 100,0%
2 Count 9 18 27
% within  Positif 33,3% 66,7% 100,0%
Total   Count 27 27 54
    % within Teknologi Dapat diamati 50,0% 50,0% 100,0%

Chi-Square Tests
  Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 6,000 a 1 0,014
Continuity Correctionb 4,741 1 0,029
Likelihood Ratio 6,116 1 0,013
Fisher's Exact Test      
Linear-by-Linear Association 5,889 1 0,015
N of Valid Cases 54    

 

Hasil analisis uji Chi-Square (Tabel 8) menunjukan adanya hubungan yang signifikan terhadap implementasi teknologi MOL nasi basi. Hubungan yang signifikan ini diketahui melalui nilai Chi-Square (χ2) sebesar 6,000 dan nilai signifikansi p-value sebesar 0,014 < α: 0,05 . Hasil analisis Chi-Square antara karakteristeik teknologi dapat diamati dengan persepsi memperlihatkan bahwa karakteristik teknologi dapat diamati memberikan persepsi positif terhadap implementasi MOL yaitu sebesar 50%. Petani yang beranggapan bahwa teknologi dapat diamati (positif) memberikan persepsi positif 66,7%, dan 33,3% memberikan persepsi negative. Sementara itu petani yang mengganggap bahwa teknologi tidak dapat diamati (negative) memberikan persepsi negatif sebanyak 66,7% dan sebanyak 33,3% memberikan persepsi positif. Dapat diartikan bahwa suatu teknologi yang mudah diamati hasilnya mampu mempengaruhi reaksi persepsi positif petani terhadap teknologi MOL nasi basi. Alasan tersebut sejalan dengan pendapat Herning, (2010) yang menyatakan bahwa semakin dapat dilihat hasilnya suatu inovasi oleh petani maka kecenderungan suatu inovasi untuk diadopsi juga akan semakin tinggi.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai sebagai berikut:

  1. Terdapat perbedaan persepsi petani terhadap implementasi mikroorganisme local (MOL) nasi basi, dimana terdapat 50,0% responden yang berpersepsi positif dan 50,0% responden yang berpersepsi negative terhadap implementasi mikroorganisme local (MOL) nasi basi.
  2. Faktor yang berkorelasi terhadap persepsi petani berdasarkan hasil analisis Chi-Square (χ2) yaitu tingkat keuntungan teknologi (x²: 7,500; p-value 0,006 <α: 0,05), tingkat kerumitan teknologi (x²: 9,012; p-value 0,003 <α: 0,05), karakteristik teknologi dapat diuji coba (: 9,012; p-value 0,003 <α: 0,05) dan karakteristik teknologi dapat diamati (: 6,000; p-value 0,014 <α: 0,05).

Diharapkan kepada Dinas Pertanian terkait dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) agar terus membina dan membimbing serta terus memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan mikroorganisme local (MOL) nasi kepada petani sebagai pemenuhan kebutuhan EM-4 pertanian dalam pembuatan pupuk cair maupun padat.

E Library

Penulis lahir di Desa Limakoli Kecamatan Rote Tengah Kabupaten Rote Ndao pada tanggal 03 Januari 1997. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) Inpres Onatali lulus pada tahun 2011, selanjutnya melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Rote Tengah lulus pada tahun 2014, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Rote Tengah lulus pada tahun 2017. Pada tahun 2017 Penulis melanjutkan pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan diterima di Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Penulis berhasil menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada tanggal 02 Februari 2022.

No events