PENDAHULUAN

Kehilangan hasil padi akibat serangan penggerek batang padi dapat mencapai 10-30% per tahun, bahkan dapat menyebabkan tanaman padi menjadi puso (Idris, 2008) tetapi hama ini sulit dikendalikan karena petani kurang memahami teknik dan/atau cara pengendalian yang tepat serta belum tertatanya sistem pertanaman di lapangan.

Dewasa ini, ada teknologi baru untuk menentukan kapan pengendalian menggunakan insektisida dilakukan, yaitu bila pada perangkap sudah tertangkap ngengat penggerek batang maka harus segera diadakan pengendalian 4 hari setelah ngengat tertangkap, baik pada fase vegetatif maupun generatif (Baehaki, 2011). Oleh karena itu, teknologi pengendalian penggerek batang padi menggunakan insektisida tidak lagi berdasarkan kepada intensitas serangan, tetapi berdasarkan hasil tangkapan ngengat, sebelum adanya serangan.

Salah satu teknologi perangkap hama untuk mengendalikan penggerek batang padi, khususnya, penggerek batang padi kuning adalah pemanfaatan perangkap hama berferomon sintetik, dengan feromonnya bernama fero-GER. Oleh karena itu, teknologi perangkap berferomon sintetik (Fero-GER) ini perlu diinformasikan secara luas kepada petani terutama petani padi sawah melalui penyuluhan dan demonstrasi penggunaan alat tersebut. Melalui kegiatan ini, selanjutnya, dikaji tentang bagaimana respon petani terhadap teknologi perangkap hama tersebut serta faktor-faktor penyebabnya.

TUJUAN

  1. Mengetahui respon petani terhadap penggunaan teknologi perangkap berferomon sintetik (Fero-GER) dalam pengendalian penggerek batang padi kuning.
  2. Menganalisis faktor-faktor internal-eksternal petani yang mempengaruhi tingkat respon petani.

METODE

Tabel 1 Ruben

Penelitian ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan demonstrasi cara. Data tentang respon petani dan faktor-faktor penyebanya dikumpulkan menggunakan metode kuisioner dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik parametrik dan statistik non-parametrik, yaitu analisis skoring untuk mengetahui tingkat respon petani dan analisis Korelasi-Regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor penyebab terhadap respon petani. Populasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive sampling), yaitu 4 kelompok tani dari 11 kelompok tani yang ada di Desa Tonggurambang dengan jumlah populasi 102 orang. Sampel penelitian ditentukan menggunakan menggunakan pendekatan Slovin dengan kesalahan baku sebesar 10% sehingga banyaknya sampel adalah 51 orang petani responden. Acuan kategori tingkat respon (pengetahuan, sikap dan keterampilan) petani terhadap pemanfaatan teknologi perangkap berferomon sintetik (Fero-GER) dalam pengendalian penggerek batang padi kuning ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Azwar, 2012):

  1. Menghitung nilai Rerata Hipotetik (µ): μ= 1/2 (imax + imin) Ʃk, dimana: μ = Rerata Hipotetik, imax = Bobot tertinggi pertanyaan, imin = Bobot terendah pertanyaan, dan Ʃk = Jumlah pertanyaan
  2. Menghitung nilai Standar Deviasi Hipotetik (σ): σ= 1/6 (Xmax - Xmin ), dimana: σ = Standar Deviasi Hipotetik, Xmax = Skor maksimum = imax × Ʃk, dan Xmin = Skor minimum = imin × Ʃk

 

Berdasarkan rumus 1 dan 2 diperoleh hasil seperti pada Tabel 1, dengan kiriteria pengujian sebagai berikut:

  • Jika, µ > x + s → tingkat respon rendah atau negatif
  • Jika, x - s ≤ µ ≤ x + s   → tingkat respon sedang atau netral
  • Jika, µ < x + s → tingkat respon tinggi atau positif
  • Jika, s < σ → tingkat respon seragam atau sama diantara petani
  • Jika, s > σ → tingkat respon bervariasi diantara petani

Dimana: µ = rerata skor hipotetik, σ = standar deviasi hipotetik, x = rerata skor yang diperoleh, s = standar deviasi hitung

Perbedaan tingkat respon petani sebelum dan sesudah penyuluhan & demontrasi cara diketahui dengan melakukan uji-t sampel berpasangan (paired sample t-test), uji dua sisi, pada taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05 dan derajat bebas (dB) = n – 2, dengan kirteria pengujian sebagai berikut:

  • Jika, nilai probabilitas (P) < α → signifikan (*), yaitu ada perbedaan tingkat respon petani sebelum dan sesudah penyuluhan & demonstrasi cara.
  • Jika, nilai probabilitas (P) > α → tidak signifikan, yaitu tidak ada perbedaan tingkat respon petani sebelum dan sesudah penyuluhan & demonstrasi cara.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat respon dengan faktor internal-eksternal petani, menggunakan Uji Korelasi rho-Spearmen (rs) dengan kriteria pengujian:

  • Jika, rho-Spearman (rs) = 0 → tidak terdapat hubungan antara persepsi masyarakat dengan faktor-faktor eksternal-internal,
  • Jika, rho-Spearman (rs) ≠ 0 → terdapat hubungan antara persepsi masyarakat dengan faktor-faktor eksternal-internal.

Uji Signifikansi korelasi dilakukan pada taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05 dan derajat bebas (dB) = n – 1, dengan kirteria pengujian sebagai berikut:

  • Jika, nilai probabilitas (P) < α → signifikan (*)
  • Jika, nilai probabilitas (P) > α → tidak signifikan

Tabel 2 4 RubenAnalisis Regresi Linier Berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh atau arah hubungan antara respon petani (Y) dengan faktor internal-eksternal petani (X) dan untuk memprediksi nilai dari respon petani berdasarkan kenaikan/penurunan nilai faktor internal-eksternal petani.

HASIL PENELITIAN 

Hasil penelitian (Tabel 2) menunjukkan bahwa respon petani sebelum penyuluhan dan demonstrasi cara pemanfaatan teknologi perangkap hama berferomon fero-GER, berada dalam kategori “sedang” dan cenderung negatif (X < µ). Sedangkan, respon petani setelah penyuluhan dan demonstrasi cara, berada dalam kategori “tinggi” atau positif (X > µ). Tingkat respon tersebut merupakan rerata total dari indikator-indikatornya, yaitu pengetahuan, sikap, dan ketrampilan petani.

Respon petani tersebut seragam atau sama diantara petani (s < σ), baik sebelum maupun sesudah penyuluhan dan demonstrasi cara pemanfaatan teknologi perangkap hama berferomon fero-GER dalam pengendalian hama penggerek batang padi kuning. Hasil uji t-sampel berpasangan (Tabel 3) menunjukkan bahwa terjadi perubahan signifikan tingkat respon petani (t-hitung = 22,94; P < 0,05) dengan besarnya peningkatan sebesar 35% (∆X = 19,94) dari sebelum penyuluhan dan demonstrasi cara pemanfaatan teknologi perangkap hama berferomon fero-GER dalam pengendalian hama penggerek batang padi kuning.

Respon petani tersebut berhubungan faktor umur, pendidikan, pengalaman usahatani, ketersediaan sarana-prasarana, modal, sifat inovasi, dan kualitas penyuluh. Hasil analisis korelasi rank Spearman menunjukkan bahwa respon tersebut memiliki hubungan signifikan dengan umur (rs = 0,338; P =0,015), pendidikan (rs = 0,369; P = 0.008), pengalaman usahatani (rs = 0.341; P = 0,014), dan sifat inovasi (rs = 0,320; P = 0,022). Walaupun demikian, hanya ada dua faktor yang berpengaruh signifikan terhadap respon petani terhadap dalam pemanfataan teknologi perangkap berferomon sintetik (Fero-GER), yaitu tingkat pendidikan dan modal. Pengaruh kedua faktor tersebut terhadap respon petani tersebut dapat diprediksi melalui model regresi linier berganda: 

Y = 11,58 + 3,40 X1 + 1,64 X2

Dimana: Y = Respon petani, X1 = Tingkat Pendidikan, X2 = Modal (Tabel 4). 

Dari model regresi linier berganda tersebut dapat disimpulkan bahwa secara simultan (bersamaan), tingkat pendidikan dan modal berpengaruh signifikan terhadap respon petani dalam penggunaan teknologi perangkap berferomon sintetik (Fero-GER), dimana tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang lebih dominan daripada modal. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa untuk meningkatkan respon petani terhadap pemanfaatan perangkap berferomon sintetik (Fero-GER), terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, perlu peningkatan pendidikan petani nonformal melalui penyuluhan dan pelatihan atau magang, serta ketersediaan modal yang cukup, terutama, modal untuk pengadaan feromon sintetik Fero-GER.

E Library

Poster Hasil Penelitian Kuesioner Hasil Penelitian Brosur Penyuluhan Teknologi Perangkap Hama Berferomon Lembar Informasi FERO-GER

** Penulis lahir di Pangadu Desa Mata Redi Kecamatan Katiku Tanah Kabupaten Sumba Tengah pada Tanggal 23 Juni 1990. Pada tahun 1997, penulis memulai studi di SDK Katiku Loku dan selesai tahun 2004, kemudian, melanjutkan ke sekolah tingkat pertama di SMPK Mata Woga Kabupaten Sumba Tengah dan selesai pada tahun 2007. Selanjutnya, penulis melanjutkan sekolah tingkat menengah atas di SMAN 1 Waikabubak dan selesai pada tahun 2010. Pada Bulan Agustus 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa di Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering, Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada, dan lulus pada 31 Agustus 2015 dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) bidang  Penyuluhan Pertanian Lahan Kering.