PENDAHULUAN

Peningkatan produktivitas usahatani tanaman padi sangat dibutuhkan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Untuk itu dibutuhkan perbaikan-perbaikan pada aspek budidaya padi selain perluasan areal tanam, dimana, beras merupakan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Balai pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian (2009) sejak tahun 2001 telah melakukan perbaikan pada aspek budidaya dengan menciptakan komponen teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

PTT adalah pendekatan dalam upaya mengelola lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT) dan iklim secara terpadu/menyeluruh dan dapat diterapkan secara berkelanjutan. Selanjutnya PTT dapat diilustrasikan sebagai sistem pengelolaan yang menggabungkan berbagai sub sistem pengelolaan, seperti sub sistem pengelolaan hara tanaman, konservasi tanah dan air, bahan organik dan organisme tanah, tanaman (benih, varietas, bibit, populasi tanaman dan jarak tanam), pengendalian hama dan penyakit/organisme pengganggu tanaman, dan sumberdaya manusia Ishaq (2009) dalam Budiningsih (2012). PTT padi sawah bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dari segi hasil dan kualitas melalui penerapan teknologi yang cocok dengan kondisi setempat (spesifik lokasi) serta menjaga kelestarian lingkungan. Dengan meningkatnya hasil produksi diharapkan pendapatan petani akan meningkat.

Pengelolaan Tanaman Terpadu padi dalam upaya peningkatan produksi padi di Kelurahan Bakunase Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang Tahun 2011 seluas 384 ha dengan produktivitas 5-6 ton/ha (BPS, NTT 2013). Program PTT padi selain untuk meningkatkan produksi padi juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Teknologi PTT padi diterapkan dalam usahatani untuk mendayagunakan potensi yang ada, baik potensi sumberdaya manusia maupun potensi alam/lingkungan setempat dimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Permasalahan yang ada di lapangan yaitu belum semua petani menerapkan komponen PTT sesuai rekomendasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Dalam melaksanakan SL-PTT padi sawah diharapkan peserta SL-PTT telah menerapkan seluruh komponen PTT yang dianjurkan serta dapat diikuti oleh petani disekitarnya. Untuk membuktikan bahwa komponen PTT padi sawah yang telah dilakukan oleh petani dalam kegiatan SL-PTT perlu dilakukan evaluasi terhadap tingkat penerapannya. Untuk itu perlu diadakan suatu penelitian sehingga dapat mengidentifikasi seberapa besar tingkat penerapan PTT padi sawah di Kelurahan Bakunase I dan Kelurahan Bakunase II Kecamatan Kota Raja Kota Kupang. Hal inilah yang kemudian penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Evaluasi Tingkat Penerapan PTT Padi Sawah (Studi kasus di Kelurahan Bakunase Kecamatan Kota Raja Kota Kupang)”.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengkaji tingkat penerapan komponen-komponen PTT padi sawah ditingkat petani.
  2. Menganalisis dampak penerapan PTT terhadap peningkatan produktivitas padi sawah di Kelurahan Bakunase.

METODE PENELITIAN

Penelitian menggunakan metode Kuesioner (questionnaire) dan Wawancara. Penentuan populasi ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu Kecamatan Kota Raja yang merupakan salah satu lokasi kegiatan SL-PTT Padi Sawah. Dalam penelitian ini adalah petani yang ada di Bakunase I dan Bakunase II yaitu 5 kelompok tani dari masing-masing desa dengan jumlah 84 orang anggota kelompok tani. Penentuan sampel dipilih secara metode acak sederhana (simple random sampling). Penentuan besarnya sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Levis, 2013), sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 46 responden. Dalam evaluasi ini variabel yang akan diukur adalah tingkat penerapan komponen PTT padi sawah dan Analisis dampak penerapan PTT terhadap peningkatan produktivitas padi sawah.

Tingkat penerapan komponen PTT padi sawah yaitu digunakan teknik rata-rata skoring dari komponen PTT padi sawah yang diterapkan petani (Azwar, 2007). Nilai skor penerapan komponen PTT padi sawah. Berdasarkan nilai skor pada kuisioner paket teknologi PTT padi sawah yang dikategorikan menjadi tiga yaitu menerapkan seluruh komponen PTT nilai/skor = 3, menerapkan sebagaian komponen PTT nilai/skor = 2, tidak menerapkan komponen PTT nilai/skor = 1.

Kelas nilai rata-rata: Interval kelas = {skor tertinggi − skor terendah} / jumlah kelas = {3 -1} / 3 = 0,67. Dengan demikian diperoleh acuan kategori sebagai berikut:

  • Menerapkan seluruh komponen PTT nilai skor = 2,35 - 3,00
  • Menerapkan sebagaian komponen PTT nilai skor = 1,68 - 2,35
  • Tidak menerapkan komponen PTT nilai skor = 1,00 - 1,67

Analisis dampak penerapan PTT terhadap peningkatan produktivitas padi sawah menggunakan analisis beda 2 nilai tengah dari populasi yang tidak bebas, mengunakan rumus statistik uji Z (Waluyo, 2001). 

HASIL PENELITIAN

Tabel Ina WundaBerdasarkan hasil analisis uji Z yang dilakukan terhadap tingkat produktivitas tanaman padi sawah yang dikelolah oleh masyarakat menunjukkan sebelum adanya penerapan PTT padi sawah dan setelah dikembangkan penerapan PTT padi sawah menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tanaman padi sawah meningkat. Artinya, H0 ditolak dan Ha diterima karena nilai statistik uji Z jatuh di wilayah kritik (Gambar 1). Dalam hal ini program yang dijalankan pemerintah dapat mengatasi persoalan yang dihadapi petani. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengembangan PTT padi sawah di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II dapat meningkatkan produktivitas padi sawah.

Peningkatan produktivitas tersebut tercapai melalui penerapan komponen-komponen PTT yang diterapkan oleh petani. Komponen teknologi yang diterapkan oleh petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II di sajikan pada Tabel 1.

Pengolahan tanah yang diterapkan petani di Kelurahan Bakunase I dan Kelurahan Bakunase II 32,61%. Hal ini disebabkan karena petani merasa bahwa anjuran yang diberikan oleh pemerintah merupakan hal baru bagi mereka. Walaupun demikian masih sebagian besar petani 67,39% yang menerapkan system pengolahan tanah tidak semuanya mengikuti anjuran yang diberikan pemerintah.

Varietas unggul baru digunakan oleh petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 43,48%. Hal ini disebabkan karena varietas unggul yang diberikan pemerintah tidak mencukupi untuk dibagikan kepada petani, sebagian besar petani 56,52% menggunakan varietas unggul baru dari panen sebelumnya dari sawah dan toko-toko pertanian. Varietas unggul yang digunakan petani berupa Ciherang dan IR 64.

Benih bermutu yang digunakan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 71,74%, Hal ini disebabkan karena benih yang digunakan oleh petani merupakan benih berlabel yang merupakan bantuan dari pemerintah dan menurut pendapat petani dengan menggunakan benih bermutu yang bebas hama penyakit dapat meningkatkan hasil produksi padi sawah. Dilihat dari penerapan benih bermutu tingkat penerapan petani terhadap benih bermutu belum sesuai anjuran yang diberikan, masih sebagian besar 28,26% benih bermutu yang diberikan pemerintah tidak tersalurkan secara merata ke petani.

Penanaman yang digunakan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II sebanyak 63,04%, sistem penanaman yang petani terapkan disesuaikan dengan kondisi lahan mereka yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu kebutuhan benih yang sesuai dengan luas lahan untuk persemaian/penanaman. Walaupun demikian masih sebagian besar petani 36,96% yang belum menerapkan sistem penanaman sesuai anjuran pemerintah.

Sistem tanam yang digunakan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 78,26%. Hal ini disebabkan hampir sebagian petani responden menerapkan sistem tanam jajar legowo yang dianjurkan oleh pemerintah dengan adanya sistem tanam jajar legowo memudahkan petani dalam melakukan penyiangan, dan pengendalian hama penyakit dibandingkan dengan petani yang menerapkan sistem tanam biasa. Walaupun hampir sebagian besar petani 43,48% yang menerapkan sistem tanam biasa.

Pengairan secara efektif dan efisien yang digunakan oleh petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 71,74%, hal ini disebabkan karena 28,26% petani masih menggunakan got permanen yang memudahkan petani dalam melakukan pengairan secara efektif dan efisien. Pemupukkan berimbang yang dilakukan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 86,96%, hal ini disebabkan karena sebagian besar petani 13,04% melakukan pemupukkan berimbang tidak sesuai dengan anjuran yang diberikan yaitu pemupukkan dilakukan secara tidak menyeluruh ke tanaman.

Pengendalian gulma yang digunakan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 93,48%. Hal ini disebabkan karena 6,52% petani menerapkan pengendalian gulma secara tidak menyeluruh pada tanaman dan petani melakukan pengendalian gulma tidak sesuai dengan anjuran yang diberikan pemerintah. Pengendalian hama penyakit yang diterapkan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II 91,30%, hal ini disebabkan karena tidak semua petani melakukan penyemprotan pada tanaman sesuai dengan anjuran yang diberikan yaitu dengan melakukan penyemprotan pada tanaman yang terkena hama penyakit secepat mungkin.

Panen dan pasca panen yang diterapkan petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II sebanyak 95,65%, hal ini disebabkan karena hampir semua petani menerapkan panen dan pasca panen sesuai anjuran yang diberikan. Berdasarkan hasil analisis terhadap komponen PTT terlihat bahwa petani padi sawah umumnya menerapkan panen dan pasca panen sesuai anjuran pemerintah dilihat dari data tersebut bahwa tingkat penerapan panen dan pasca panen yang dilakukan petani sangat meningkat sebesar 95,65%, hal ini disebabkan karena sebagian besar petani sudah menerapkan panen dan pasca panen sesuai anjuran pemerintah secara baik.

Komponen-komponen PTT yang diterapkan oleh petani di Kelurahan Bakunase I dan Bakunase II dapat meningkatkan hasil produktivitas padi sawah dengan rata-rata produktivitas padi sawah sebelum melaksanakan PTT 2,39 ton/ha dan sesudah melaksanakan PTT hasil produktivitas yang petani dapatkan sebanyak 5,17 ton/ha. Hal ini dapat dikatakan bahwa dengan adanya komponen teknologi PTT dapat membantu petani dalam mengembangkan produktivitas padi sawah.

E Library

*Penulis merupakan anak kedua dari 4 bersaudara, dilahirkan di Kupang, 12 April 1992 dari Bapak Antonius B. Wunda dan Ibu Beneria Hamul. Pada tahun 1998 penulis masuk pada SD Inpres Oebobo 1 dan tamat pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan sekolah pada SLTP Negeri 1 Kupang dan tamat pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada SMA Negeri 5 Kupang dan tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Untuk menyelesaikan Studi pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering maka penulis telah menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “ Evaluasi Tingkat Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah Studi Kasus di Kelurahan Bakunase Kecamatan Kota Raja Kota Kupang”.