Gedung MPLK 000

Kajian Penerapan Teknologi Pemangkasan Pemupukan Panen Sering dan Sanitasi (P3S) dalam Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao pada Tanaman Kakao di Desa Wolokisa Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo

Study of the Application of Pruning, Fertilizing, Frequent Harvesting, and Sanitation (PFHS) Technologies in Cocoa Fruit Borer Control on Cocoa Plants in Wolokisa Village, Mauponggo District, Nagekeo Regency

Hendrikus Bhisa1, Donatus Kantur2, Yason Edison Benu2 - Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang - 2020

INTISARI. Desa Wolokisa merupakan salah satu wilayah pengembangan kakao di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo. Luas areal pengembangan kakao di Desa Wolokisa mencapai 450 ha dari 8120 ha (Profil Desa Wolokisa Tahun, 2019) dengan tingkat produktivitas masih sangat rendah (1,2 ton/ha) jika dibandingkan dengan produktivitas Nasional (3,5 ton/ha) (Direktoral Jenderal Perkebunan, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat penerapan P3S dan (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao Sampel dalam peneltian ini adalah 45 petani sebagai responden. Data dikumpulkan metode observasi, wawancara, kuisioner, dan kepustakaan. Data penelitian dianalisis menggunakan rumus skoring dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat penerapan P3S  berada dalam kategori sedang dengan rerata skor pemangkasan 2,08 (57,78%), pemupukan 1,67 (62,22%), panen sering 2,33 (77,78%), dan sanitasi 2,08 (57,78%). Terdapat empat faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan P3S yaitu luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh dan produksi.

Kata kunci: kakao, pemangkasan, pemupukan, panen sering, sanitasi

Kembali ke Beranda 02

Video Materi Penyuluhan  Brosur Penyuluhan  Lembar Persiapan Menyuluh  Sinopsis Penyuluhan  Dokumentasi Kegiatan Penelitian


ABSTRACT. Wolokisa Village is one of the cocoa development areas in Mauponggo District, Nagekeo Regency. The area of ​​cocoa development in Wolokisa Village reaches 450 ha from 8120 ha (Profil Desa Wolokisa, 2019) with a very low productivity level (1.2 tons/ha) when compared to the National productivity (3.5 tons/ha) (Direktoral Jenderal Perkebunan, 2017). This study was to (1) determine the level of implementation of PFHS and (2) determine the factors influencing the level of application of PFHS on cocoa. The sample in this study were 45 farmers as respondents. Data were collected using observation, interviews, questionnaires, and literature methods. The research data were analyzed using the scoring formula and multiple linear regression. The results showed that the level of PFHS application was in the moderate category with a mean score of pruning 2.08 (57.78%), fertilization 1.67 (62.22%), frequent harvesting 2.33 (77.78%), and sanitation 2.08 (57.78%). There were four factors affecting the level of PFHS implementation i.e. land area, farming experience, quality of extension workers and production.

Keywords: cocoa, pruning, fertilization, frequent harvesting, sanitation


PENDAHULUAN

Desa Wolokisa merupakan salah satu wilayah pengembangan kakao di Kecamatan Maupongoo Kabupaten Nagekeo. Luas areal pengembangan kakao di Desa Wolokisa mencapai 450 ha dari 8120 ha (Profil Desa Wolokisa Tahun 2019). Tingkat produktivitas kakao di Desa Wolokisa masih sangat rendah mencapai 0,5 ton/ha jika dibandingkan dengan produktivitas Nasional yang telah mencapai 0,9 ton/ha (Direktoral Jenderal Perkebunan 2017-2019).

Rendahnya produksi kakao tersebut dapat disebabkan karena umur tanaman kakao yang sudah tua, yaitu berkisar di atas 25-30 tahun serta rendahnya pengalaman petani dalam pengelolaan budidaya tanaman kakao. Akibat dari sistem budidaya tersebut menyebabkan gangguan hama dan penyakit pada tanaman kakao relative sangat tinggi. Salah satu jenis hama yang mengganggu tanaman kakao petani di Desa Wolokisa yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Kondisi ini merupakan ancaman yang sangat serius bagi keberlanjutan perkebunan kakao petani di Desa Wolokisa. Menurut Kartasapoetra (1987), serangan hama PBK dapat menurunkan produksi perkebunan kakao lebih dari 80%, sehingga sangat merugikan petani. Umumnya setiap kegiatan budidaya tanaman tidak akan luput dari pengganggu yaitu hama dan penyakit. Terdapat banyak jenis hama dan penyakit yang menyerang tanamana kakao. Secara kasat mata yang sering ditemukan adalah hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi kakao terus dilakukan, salah satu paket teknologi yang cukup baik adalah Pemangkasan, Pemupukan berimbang, Panen sering dan Sanitasi (P3S).

Metode P3S adalah salah satu metode untuk menangani dan mengendalikan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dimana dapat memperbaiki tanaman kakao melalui empat cara yaitu pemangkasan, pemupukan berimbang, panen sering dan sanitasi (Heliawaty & Nurlina, 2009). Teknologi P3S merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengendalikan hama yang bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman kakao. Di Desa Wolokisa saat ini sudah di terapkan teknologi tentang P3S untuk mengendalikan hama penggerek buah kakao (PBK) sejak tahun 2012 yang telah dipelopori oleh Yayasan Sahabat Cipta. Ternyata Kehadiran Teknologi P3S belum bisa diterima oleh semua petani di Desa Wolokisa, hal tersebut dilihat pada masih rendahnya produktifitas kakao di desa Wolokisa diduga karena ada factor factor yang mempengaruhi baik dari penyuluh, petani sendiri maupun dari lingkungan social. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Kajian Penerapan Teknologi Pemangkasan, Pemupukan, Panen sering dan Sanitasi (P3S) Pada Tanaman Kakao di Desa Wolokisa Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo.”

TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao oleh petani di Desa Wolokisa Kecamatan Mauponggo Kabupaten
  2. Mengetahui pengaruh hubungan faktor faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao oleh petani di Desa Wolokisa Kecamatan Mauponggo Kabupaten

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.

  1. Data Primer. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber hasilnya, atau yang diperoleh dari petani dilokasi penelitian melalui observasi, penyebaran angket dan wawancara.
  2. Data Sekunder. Data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait dengan penelitian ini.

Populasi dan Sampel

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di Desa Wolokisa dengan kriteria adalah petani yang selama ini menggunakan teknologi P3S secara terus menerus, baik laki-laki maupun perempuan. Populasi petani kakao di desa Wolokisa adalah 82 orang. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan sampel acak sederhana (simple rondom sampling), sesuai dengan petunjuk Singarimbun (2005), dengan menggunakan Slovin, sebagai berikut:

n = N/N(d)² + 1

Dimana: n : ukuran atau jumlah sampel penelitian N : populasi, d : tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,1). Berdasarkan pendekatan Sloving diatas, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 45 orang.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

  1. Metode Observasi. Metode observasi digunakan untuk mencari tahu data awal. Observasi ini berhubungan dengan kajian penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao.
  2. Metode wawancara digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari responden secara mendalam. Instrumen yang digunakan berupa pedoman atau panduan wawancara
  3. Kuisioner/Angket. Penyebaran daftar pertanyaan kepada responden dimana isi pertanyaan sesuai dengan apa yang akan diteliti
  4. Metode Kepustakaan. Metode kepustakaan yakni teknik yang digunakan untuk melengkapi semua tulisan ini dimana peneliti mengambil dari berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel dan melalui internet yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

Metode Analis Data

Gedung MPLK 000

Analisis Data Penerapan Teknologi P3S

Tingkat penerapan program P3S dianalisis menggunakan rumus skoring menurut Umar (1999), dengan langkah langkah sebagai berikut:

Menghitung total nilai untuk setiap indikator

= ∑ (total nilai skor dalam setiap pertanyaan)

∑ ( total nilai skor P1 + total nilai skor P2 + total nilai skor Pn)

P adalah pertanyaan dengan 1,2,N adalah pertanyaan.

Gedung MPLK 000

Menentukan nilai skor untuk kategori tingkat penerapan P3S yang meliputi nilai skor maksimum, nilai skor minimum, rentang kelas sesuai dengan jumlah kategori yang ditetapkan. Penentuan Skor Tiap Kategori:

  1. Kategori tinggi diberi skor = 3
  2. Kategori sedang diberi skor = 2
  3. Kategori rendah diberi skor = 1

Interval = (Jumlah skor tertinggi – jumlah skor terendah) : Jumlah kategori

Menyusun tabel acuan kategori tingkat penerapan P3S oleh petani sesuai dengan langkah 2, diperoleh rentang nilai skor untuk setiap kategori tingkat penerapan P3S seperti pada Tabel 1.

Mengitung rata rata skor tingkat penerapan P3S

= (∑skor setiap pertanyaan) ÷ jumlah responden

Analissis Pengaruh Hubungan Dengan Faktor Eksternal dan internal

Analisis hubungan faktor eksternal dan internal menggunakan model regresi berganda untuk mengetahui lebih jauh pengaruh faktor eksternal dan internal petani terhadap tingakat penerapaan teknologi P3S. Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = a +b1X1 + b2X2 + ... +bnXn

Keterangan: Y : Variabel dependen (nilai yang diperdiksikan)/tingkat penerapan. Xn :Variabel dependen/faktor internal dan eksternal, a: Konstanta, b: Koofesien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)

Kembali ke Beranda 02

HASIL PENELITIAN

Pemangkasan dalam sistem P3S

Gedung MPLK 000

Pemangkasan merupakan kegiatan pemotongan (pembuangan) bagian tanaman yang berupa cabang, ranting, dan daun. Selain itu pemangkasan juga merupakan kegiatan pemotongan ranting ranting daun yang terlindung atau kurang mendapat sinar, ranting yang mati, rusak atau terkena penyakit, tunas air dan cabang yang terlalu tinggi.

Dari Tabel 3 dapat dilihat 27 orang (60,00%) responden termasuk dalam kategori sedang, hal ini berdasarkan hasil wawancara kepada petani responden, bahwa petani di Desa Wolokisa kadang kadang bahkan tidak melakukan kegiatan pemangkasan misalnya memangkas tunas air, ranting ranting yang masih mudah, cabang cabang bagian atas sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. Petani responden sebagian besar masih enggan melakukan pemangkasan karena faktor tenaga biaya dan tidak berani mengambil resiko. Faktor tenaga yang disebabkan oleh keadaan topografi penanaman kakao yang dilakukan berada pada daerah daerah yang berbukit sehingga membutuhkan tenaga yang lebih dan ada sebagian petani responden yang tidak berani memangkas tanaman kakao kusunya tunas air, karena merasa rugi. Padahal tindakan pemangkasan akan mampu memperbaiki kondisi kebun dalam menerima sinar matahari dan sirkulasi udara didalam kebun menjadi lebih baik sehingga tidak terjadi kelembaban dan dapat memutus siklus pertumbuhan Penggerek Buah Kakao (PBK) dan juga serangan hama dan penyakit lain, sehingga merangsang pertumbuhan bunga dan buah dan akan meningkatkan produksi tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Karmawati et al., (2010) bahwa pemanfaatan pemangkasan merupakan satu usaha meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Menurut Hairudin (2015), pemangkasan tanaman kakao adalah tindakan pembuangan atau pengurangan sebagian dari organ tanaman yang berupa cabang, ranting dan daun.

Pemupukan dalam sistem P3S

Gedung MPLK 000

Pemupukan merupakan bagian terpenting dari budidaya tanaman kakao sejak awal penanaman sampai tanaman berproduksi. Pemupukan adalah kegiatan menambahkan unsur hara kedalam tanah dan tanaman untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan yang optimal.

Dari Tabel 4 dapat dilihat 28 orang (62,22%) responden termasuk dalam kategori sedang, hal ini dikarenakan petani di Wolokisa kadang kadang bahkan tidak melakukan pemupukan pada tanaman kakao dengan teknik pemupukan yang baik dan benar. Pupuk yang digunakan oleh petani di Desa Wolokisa adalah pupuk organik cair (daun mimba, batang pisang, rebung bambu, air kelapa mudah, air cucian beras dan brotoali), tapi petani kadang kadang tidak memperhatiakan takaran pemupukan, dosis pemupukan, ukuran jarak lubang pemupukan serta pemupukan dengan cara melalui akar dan dan daun. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal, membutuhkan pemberian pupuk dengan dosis, jenis pupuk, waktu dan cara yang tepat. Jika pupuk organik cair diberikan langsung tampa pengeceran dapat berdampak kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman. Menurut Niken dan Baon (2015), upaya untuk menjaga keberlangsungan kakao dilakukan dengan cara meningkatkan efektifitas pemupukan terhadap tanaman kakao.

Pemupukan yang dianjurkan adalah dua kali setahun, namun yang terjadi petani responden kadang kadang bahkan tidak melakukan hal tersebut, karena mereka berpikir dengan tidak dipupuk tanaman mereka masih menghasilkan buah sehinggah mereka pikir untuk apa melakukan pemupukan. Padahal dengan memberikan pemupukan pada tanaman kakao akan tumbuh sehat karena ketersedian unsur hara berkait erat dengan pertumbuhan dan produktivitas optimal. Disamping itu pertumbuhan tanaman yang optimal akan mempengaruhi daya tahan tanaman terhadap serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK)

Panen Sering dalam sistem P3S

Gedung MPLK 000

Panen sering merupakan kegiatan pemetikan buah yang telah masak secara fisiologis pada tanaman tertentu.

Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat 35 orang (77,78%) responden termasuk dalam ketegori sedang, hal ini dikarenakan petani kadang kadang melalukan kegiatan panen sering sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. Padahal bila panen sering dilaksanakan dengan benar, metode ini akan menurunkan tingkat serangan PBK dan akan berpengaruh pada peningkatan kualitas biji kakao (Karmawati dkk., 2010). Responden yang melakukan pemanenan dengan tidak memperhatikan kerusakan bantalan buah tersebut menyebabkan bekas luka menjadi potensi serangan hama dan penyakit. Pemanenan yang dilakukan oleh petani responden hanya menggunakan golok (parang) sehinggah berpotensi besar nerusak bantalan buah, dan ada sebagian besar petani responden yang tidak mengetahui dan menyadari bahwa kegiatan panen minimal sekali seminggu akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan produktivitas usaha tani mereka karena selain itu menghindari kebusukan buah yang sakit dan tidak menulari buah yang sehat. Panen yan sering, bermanfaat untuk memutus siklus hidup hama penggerek buah kakao (PBK) dan mencegah penularan penyakit buah busuh kakao (Asrul, 2013).

Sanitasi dalam sistem P3S

Gedung MPLK 000

Sanitasi atau pembersihan merupakan tindakan membersihkan areal perkebunan kako dari segalah sampah seperti ranting, cabang dan daun serta bahan lain yang tidak diinginkan misalnya seperti sisa sisa kulit buah hasil panen termasuk juga buah kakao yang terserang hama penyakit, disamping itu juga dilakukan pemebersihan terhadap gula atau rumput.

Berdasarkan Tabel 6, dapat dilihat 26 orang (57,78%) responden termasuk dalam kategori sedang, hal ini dikarenakan petani di Desa Wolokisa kadang kadang atau jarang melakukan kegiatan sanitasi atau pembersihan areal kebun kakao. Salah satu kriteria kegiatan sanitasi yang sangat dianjurkan untuk memutus rantai siklus hidup hama PBK adalah dengan membelah buah buah busuk kemudian membenamkan kulit buah dan dimasukan kedalam rorok dengan ukuran 1 x 1 x 1m dan terletak diantara pohon kakao dimana 1 pohon 1 buah rorak guna menambah zat hara bagi tanaman dan melakukan kegiatan sanitasi setiap tahun dan sesudah panen. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar dkk., (2000) yang menyatakan kulit buah kakao yang dibenamkan kedalam tanah merupakan sumber hara bagi tanaman kakao bahkan bila dijadikan kompos kandungan hara yang bisa diperoleh lebih bagus. Kegiatan ini banyak tidak dilakukan oleh petani responden bahkan ada petani yang tidak sama sekali melakukan hal terssebut. Mereka berpendapat bahwa dengan meletakan buah atau kulit buah disekitar kebun sudah biasa mereka lakukan dan melakukan penimbunan akan mnyebabkan penambahan waktu meraka untuk melalukan budidaya dikebun.

 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penerapan Teknologi P3S

Gedung MPLK 000

Faktor faktor yang diduga mempunyai hubungan penerapan teknologi P3S oleh petani di Desa Wolokisa adalah faktor internal-eksternal yaitu: umur, pendidikan, luas lahan, pengalaman usahatani, sifat inovasi, kualitas penyuluh, dukungan pasar, produksi. Untuk mengetahui hubungan faktor internal-eksternal terhadap hubungan penerapan teknologi P3S dilakukan analisis regresi linear berganda. Dalam analisis yang dilakukan ada empat predikator, yaitu X3 luas lahan, X4 pengalaman usahatani, X6 kualitas penyuluh dan X7 produksi: Tingkat penerapan P3S (Y).

Dari Tabel 7 diatas dapat disimpulkan hasil analisis regresi hubungan antara tingkat penerapan P3S terhadap umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, sivat inovasi, kualitas penyuluh, dukungan pasar dan produksi secara bersama sama diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 10,148 – 0,138X1 + 0,109X2 – 1,637X3 – 1,004X4 + 0,403X5 – 3,710X6 + 0,622X7 + 1689X8

Dimana: Y = Tingkat penerapan P3S,  X1 = Umur, X2 = Tingkat Pendidikan, X3 = Luas lahan, X4 = Pengalaman usahatani, X5 = Sivat inovasi, X6 = Kualitas penyuluh, X7 = Dukungan pasar, X8 = Produksi

Dari delapan faktor eksternal-internal yang memiliki hubungan signifikansi terhadap tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao oleh petani di Desa Wolokisa terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap tingkat penerapan teknologi P3S tersebut yaitu: luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh, produksi.

Hasil analisis regresi linear berganda memperlihatkan bahwa variabel luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh, produksi petani berpengaruh terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao (Y) secara simultan/bersama sama dengan nilai F hitung adalah sebesar 3,842 dan signifikan F sebesar .0,02 < 0,05 (Tabel Anova Model) dengan nilai R-square sebesar 0,461(Tabel Summary). Hasil ini menyatakan bahwa luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh dan produksi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao bahwa R-square sebesar 0,461. Nilai R-square tersebut menunjukan bahwa kontribusi luas lahan, pengamana usahatani, kualitas penyuluh dan produksi terhadap tingkat penerapan teknologi P3S adalah sebesar 46,1%, sisanya dipengaruh oleh variabel variabel lain.

Selanjutnya dijelaskan pengaruh luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh dan produksi terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao:

Luas lahan

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada tabel 21 diatas, dapat diketahui bahwa luas lahan berpengaruh terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao. Hal ini terlihat dari nilai signifikasni untuk pertama X3 terhadap Y adalah sebesar 1,637 (16,3%) dengan signifikan 0,011 < 0,05. Ini berarti bahwa luas lahan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa setiap penambahan pengurangan luas lahan  akan menambah atau mengurangi tingkat penerapan teknologi sebesar 16,3%. Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa luas lahan memberi pengaruh negatif, hal ini berarti semakin sempit luas lahan semakin rendah minat mereka untuk mengadopsi metode P3S. Menurut pernyataan petani responden, luas lahan menjadi alasan mereka mau menerapkan atau tidak menerapkan metode P3S. Semakin rendah luas lahan maka akan semakin rendah pula adopsi metode P3S oleh petani responden, hal ini berhubungan dengan total produksi kakao responden yang setiap tahan kadang naik kadan turun. Secara umum dikatakan, semakin luas lahan yang digarap atau ditanami akan semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut (Rahim, 2007: 36). Pengaruh luas lahan tidak hanya pada tingkat efesiensi usahatani saja, tetapi juga mempunyai dampak pada upaya transfer dan penerapan teknologi dalam pembangunan pertanian.

Pengalaman usahatani

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada tabel 21 diatas, dapat diketahui bahwa pengalaman usahatani petani berpengaruh terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao. Hal ini terlihat dari nilai signifikasni untuk pertama X4 terhadap Y adalah sebesar 1.004 (10,4%) dengan signifikan 0,020 < 0,05. Ini berarti bahwa pengalaman usahatani berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa setiap penambahan pengurangan pengalaman usahatani akan menambah atau mengurangi tingkat penerapan teknologi sebesar 10,4%. Lama atau tidak pengalaman berusaha tani berpengaruh terhadap tingkat keinginan petani untuk mengadopsi metode P3S. Berdasarkan analisis yang dilakukan, pengalaman usaha tani memberi pengaruh negatif, hal ini berarti semakin lama pengalaman usahatani semakin rendah minat mereka untuk mengadopsi metode P3S dalam meningkatkan produktifitas tanaman kakao begitupun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Chapli (2006) dalam pengalaman merupakan pengetahuan dan keterampilan yang diketahui dan dikuasai seseorang sebagai akibat dari pendapatan jumlah dana yang diperoleh dari pemanfaatan produksi yang dimilki, yang dapat mepengaruhi minat seseorang. Petani responden selama ini melakukan kegiatan pemangkasan, pemupukan, panen sering dan sanitasi tetapi tanaman mereka masih tetap terserang hama. Hal ini yang menyebabkan tingkat keinginan petani mengadopsi P3S menjadi semakin rendah. Diduga serangan hama masih terjadi akibat sistem penanaman tumpangsari yang mereka lakukan secara asal.

Kualitas penyuluh

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada tabel 21 diatas, dapat diketahui bahwa kualitas penyuluh petani berpengaruh terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao. Hal ini terlihat dari nilai signifikasni untuk pertama X6 terhadap Y adalah sebesar 3,710 (37,1%) dengan signifikan 0,005 < 0,05. Ini berarti bahwa kualitas penyuluh berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa kualitas penyuluh berpengaruh terhadap tingkat penerapan teknologi sebesar 37,1%. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan kualitas penyuluh memberi pengaruh negatif, hal ini berarti semakin rendah petani mendapatkan penyuluhan maka akan semakin rendah pula keinginan petani responden untuk menerapkan metode P3S. Ketersediaan tenaga penyuluh di Desa Wolokisa menyebabkan intensitas penyuluh yang diterima petani juga rendah. Sebabagian besar petani responden mengukapkan bahwa kadang kadang bahkan tidak pernah mendapat atau mengikuti kegiatan penyuluhan yang diadakan oleh tim penyuluh. Hal inilah yang menyebabkan adopsi terhadap metode P3S dalam kategori sedang. Perlu ada penjelasan dan penggerakan terhadap organisasi organisasi penyuluhan yang ada di Desa Wolokisa untuk meningkatkan dan menggiatkan kegiatan kegiatan penyuluhan lapang yang berhubungan dengan metode P3S pada tanaman kakao. Menurut Kartasapoetra (1994) dalam Erwadi (2012:77) penyuluh pertanian merupakan agen bagi perubahan perilaku petani, yaitu dengan mendorong masyarakat petani untuk merubah perilaku menjadi petani dengan kemampuan yang lebih baik dan mampu mengambil keputusan sendiri, yang selanjutnya akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Produksi

Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji regresi berganda pada tabel 21 diatas, dapat diketahui bahwa produksi petani berpengaruh terhadap tingkat penerapan P3S pada tanaman kakao. Hal ini terlihat dari nilai signifikasni untuk pertama X8 terhadap Y adalah sebesar 1.689 (16,8%) dengan signifikan 0,016 < 0,05. Ini berarti bahwa produksi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S. Nilai koefisien regresi tersebut menyatakan bahwa setiap penambahan pengurangan produksi akan menambah atau mengurangi tingkat penerapan teknologi sebesar 16,8%. Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa produksi memberi pengaruh positif, hal ini berarti semakin tinggi tingkat produksi yan dihasilkan petani maka akan semakin mendorong petani untuk tertarik menerapkan metode P3S begitupun sebalikanya. Berdasarkan pernyataan petani responden bahwa tingkat produksi kakao di Desa Wolokisa setiap tahun kadang naik dan kadang turun, ini akibat dari luas lahan yang sempit dan umur kakao yang sudah tua sehinggah usia ekonomis tanaman semakin rendah. Secara umum dikatakan, semakin luas lahan yang digarap atau ditanami akan semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut (Rahim, 2007: 36).

Dari hasil regresi linear berganda dapat disimpulkan bahwa secara simultan (bersamaan), faktor luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh dan produksi berpengaruh signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao di Desa Wolokisa.

KESIMPULAN

Tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao oleh petani responden di Desa Wolokisa kecamatan Mauponggo kabupaten Nagekeo termasuk dalam kategori sedang dengan masing masing kategori dan presentase yaitu: kategori pemangkasan 2,08 (57,78%), kategori pemupukan 1,67 (62,22%), kategori panen sering 2,33 (77,78%) dan kategori sanitasi 2,08 (57,78%). Secara simultan (bersamaan), faktor luas lahan, pengalaman usahatani, kualitas penyuluh dan produksi berpengaruh signifikan terhadap tingkat penerapan teknologi P3S pada tanaman kakao di Desa Wolokisa. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa untuk meningkatkan penerapan teknologi P3S oleh petani di Desa Wolokisa, perlu pertahankan dan bila perlu peningkatan P3S yang dianggap petani semakin mudah dan diterapkan dengan lebih baik oleh petani.

Kembali ke Beranda 02

E Library

 1Penulis lahir di Boamau Desa Kotagana Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo pada tanggal 17 Mei 1996. Penulis memulai studi tingkat dasarnya pada SDK Lere tahun 2003 selesai tahun 2009, kemudian melanjutkan studi tingkat pertama pada SMPN 2 Mauponggo tahun 2009 dan selesai tahun 2012 dan kemudian penulis melanjut studi tingkat menengah atas pada sekolah SMAN 1 Wolowae tahun 2012 dan selesai pada tahun 2015. Pada bulan Agustus 2016 Penulis di terima sebagai mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang Pada Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering dan selesai pada 7 Oktober 2020.