Copyright 2019 - Custom text here

ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK TANI DALAM PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK DI KELURAHAN TARUS KECAMATAN KUPANG TENGAH KABUPATEN KUPANG

Analysis of Farmer Participation in The Preparation of Members Groups Definitive Plan Needs Group in the Tarus Village District Of Central Kupang

MARIA ANGGELINA MAU1; JOHNY A. KOYLAL2; M. BASRI2

Hasil Penelitian Tugas Akhir Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering politeknik Pertanian Negeri Kupang 2016

1Mahasiswa Tugas Akhir   2Pembimbing Tugas Akhir


INTISARI.Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi perlu disusun rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis tingkat partisipasi dalam penyusunan RDKK, dan (2) menganalisis hubungan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi. Penelitian dilaksanakan sejak Mei 2015 sampai Januari 2016 di Kelurahan Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang. Responden dalam penelitian ini sebanyak 48 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara berdasarkan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 24,29. Hasil uji t menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK.

Kata Kunci: Tingkat Partisipasi, Luas lahan, dan Penyusunan RDKK.

ABSTRACT. One of efforts to increase the productivity of rice plants is preparing a definitive plan of group needs. The study was to analyze the level of participation in preparing the defenitive plan and to analyze the relationship between land area and the level of participation. The research was conducted from May 2015 to January 2016 in the Village of Tarus, District of Central Kupang, Kupang regency. Data were collected using interview techniques based on questionnaire. Data obtained were analyzed by rank Spearman correlation. The results showed that the level of participation of the farmer group members in preparing the defenitive plan was in light category by average score of 24,29. T-test performed a significant relationship between the land area and the level of participation of the farmer groupsi members in preparing  the defenitive plan of  group needs. 

Keywords: participation, land area, defenitive plan, group needs.


 PENDAHULUAN

Produktivitas padi di Provinsi NTT lebih rendah dari produktivitas padi secara nasional. Hal ini diduga antara lain disebabkan kondisi iklim NTT yang hanya memiliki 4 bulan basah dan 8 bulan kering, keterbatasan modal, dan keterbatasan luas lahan yang dimiliki oleh petani, serta keterbatasan pengetahuan dan keterampilan petani dalam usaha tani. Sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas komoditi pertanian khususnya padi dalam upaya mendukung program ketahanan pangan, maka perlu disusun rencana/sasaran setiap tahun. Adapun rencana/sasaran setiap tahun tersebut adalah Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). RDKK merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota kelompok tani yang memerlukan maupun swadana petani (Deptan, 2007).

Kelurahan Tarus merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Kupang Tengah, Sembilan kelompok tani yang berada di Kelurahan Tarus, hanya 6 kelompok yang menyusun RDKK sejak tahun 2009. Beberapa kendala masih dihadapi oleh kelompok dalam menyusun RDKK antara lain: kemampuan petani dalam menyusun perencanaan yang masih terbatas dan penyusunan RDKK sering diabaikan. Oleh karena itu, peran penyuluh pertanian masih diperlukan dalam penyusunan RDKK. Peran penyuluh pertanian yaitu mendampingi dan membimbing petani dalam menyusun RDKK sehingga rencana yang disusun diharapkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya. Berdasarkan uraian tersebut maka Penulis merasa perlu untuk melakukan kajian tentang tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Menganalisis tingkat partisipasi dalam penyusunan RDKK.
  2. Menganalisis hubungan luas lahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK.

METODE PENELITIAN

Penentuan populasi dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu kelompok tani di Kelurahan Tarus yang telah menyusun RDKK untuk komoditi padi yaitu sebanyak 2 kelompok tani yaitu Kelompok Tani Rukun Tani dan Kelompok Tani Manekat yang berjumlah 159 petani. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 30% dari jumlah pouplasi atau sebanyak 48 sampel.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data kuantitatif menggunakan metode wawancara dan pengamatan langsung terhadap administrasi berdasarkan kuesioner yang telah disusun (Silalahi, 2009). Wawancara adalah percakapan langsung secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan oleh peneliti sebagai pewawancara dengan sejumlah orang sebagai responden atau yang diwawancara untuk mendapatkan sejumlah informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti berdasarkan kuesioner yang telah disusun.

Tabel HasilLit Angelina mauUntuk menganalisis tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK menggunakan langkah-langkah menurut Levis (2013) dan diperoleh acuan kategori seperti pada Tabel 1. Untuk menganalisis apakah ada hubungan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK dilakukan dengan menggunakan analisis statistik non parametrik, yaitu uji korelasi rank spearman (rs). Rs adalah ukuran asosiasi dimana kedua variabel (Y dan X) diukur sekurang-kurangnya dalam skala ordinal. Karena peneliti menggunakan sistem skor skala ordinal, maka diputuskan untuk menggunakan uji Korelasi Rank Spearman dengan rumus Siegel (1994 dalam Levis, 2013). Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefesien korelasi yang ditemukan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan yang tertera pada Tabel 2. Pengujian signifikansi koefisien korelasi dapat dihitung dengan uji-t. Nilai t-hitung kemudian dibandingkan dengan nilai t-tabel, untuk taraf kepercayaan 95% (α = 0,05), uji dua pihak, dengan dk = n – 2. Jika t hitung lebih besar dari t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat hubungan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi.

HASIL PENELITIAN

Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan total rata-rata skor 24,29, tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK tergolong dalam kategori sedang. Hal ini diduga disebabkan oleh keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh petani dalam mengadopsi teknologi. Lebih lanjut Todaro dan Smith (2006) menjelaskan bahwa tingkat output petani yang lebih tinggi daripada tingkat konsumsi minimum, ia lebih terbuka terhadap berbagai macam usulan inovasi. Secara terperinci penyebaran responden berdasarkan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK dapat dilihat pada Tabel 3.

Hasil analsis korelasi rank Spearman menunjukkan bahwa nilai koefisien korelas (rs ) sebesar 0,564; artinya tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK berada dalam kategori sedang (nilai rs dibandingkan dengan Tabel 2). Arah hubungan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK mempunyai hubungan positif, dimana, sebesar 31.81% ditentukkan oleh variabel luas lahan dan sisanya 68,19% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Dengan nilai t-hitung sebesar 4,639 kemudian dibandingkan dengan nilai t-tabel 2,021 maka: t-hitung > t-tabel, dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara luas lahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam penyusunan RDKK.

Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa semakin tinggi luas lahan tingkat partisipasi semakin tinggi. Pernyataan di atas didukung oleh penelitian Pujiharto dan Watemin (2008) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi wanita tani pada program PTT padi sawah adalah wawasan tentang PTT, umur, motivasi, luas lahan, dan intensitas penyuluhan. Lebih lanjut Todaro dan Smith (2006) menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat output petani maka ia lebih terbuka terhadap berbagai macam usulan inovasi. Dalam hal ini output diukur berdasarkan luas lahan. Semakin luas lahan petani, maka produksi yang diperoleh semakin tinggi, dengan asumsi harga stabil, pendapatan petanipun semakin meningkat. Dengan demikian petani semakin terbuka terhadap suatu teknologi. 

Berdasarkan hasil penelitian ini maka perlu diadakan sosialisasi dan pelatihan yang sistematis kepada petani tentang cara penyusunan RDKK yang sesuai dengan format tepat sasaran dan kebutuhan kelompok tani. Selain itu, pendampingan tenaga penyuluh pertanian sebagai fasilitator untuk memandu dan membimbing anggota kelompok tani dalam menyusun RDKK juga diperlukan.

 ----- Selangkapnya dapat dibaca di Perpustakaan -----

1Penulis dilahirkan pada 16 Juli 1993. Pada tahun ajaran 1999/2000 Penulis masuk ke SDK Lafaekfera Atambua, dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama Penulis melanjutkan ke SMPN 1 Atambua dan tamat pada tahun 2008. Kemudian melanjutkan ke SMA Kristen Atambua dan tamat pada tahun 2011. Pada tahun yang sama Penulis menempuh pelajaran pertama di Perguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jurusan dan Program Studi yang dipilih Penulis adalah Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) dan Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering (PPLK). Pada tahun 2016 Penulis berhasil menamatkan studi di Politeknik Pertanian Negeri Kupang. 


Silahkan Masuk atau Login menggunakan akun anda untuk akses penuh. Jika belum, silahkan Mendaftar. Email: jurusan.mplk@politanikoe.ac.id